Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Tangis


__ADS_3

Hargai penulis dengan cara like, komen dan vote!!


Baru saja tadi sore Zifa mengingat Bita, kini sepupunya itu sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahnya. Bita yang menyadari kedatangan Zifa menoleh dan tersenyum lebar seperti biasanya.


"Kakak ngapain di sini?" tanya Zifa sedikit canggung. Terlalu jahat jika ia tak menyapa Bita.


"Aku mau ngajak kamu jalan setelah maghrib. Siap-siap gih! Soalnya ada yang mau aku bicarakan"


Zifa mengangguk dan berpamitan pada Bita ke kamarnya. Entah kenapa, sangat sulit bersikap seperti biasa sejak ia tahu isi diary Bita yang bercerita tentang perasaan pria tersebut. Zifa berharap hal yang ingin Bita bicarakan adalah menyangkut masalah itu, agar mereka bisa menyelesaikan secepatnya. Bahkan beberapa kali Zifa mengabaikan panggilan dan pesan Bita di ponselnya.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Ningsih dan Juna, Bita dan Zifa kini memilih berjalan kaki mencari tempat makan terdekat.


Selesai makan, keduanya tak langsung pulang. Mereka mampir terlebih dahulu di taman yang ada di komplek perumahan Zifa untuk membicarakan beberapa hal. Sedari tadi, hanya beberapa kata sekedar basa-basi saja yang terucap dari bibir keduanya.


"Apa yang mau Kakak bicarakan?" tanya Zifa membuka suara saat mereka sudah duduk di bangku taman.


"Hari saat kamu datang ke rumah, Kakak kehilangan sesuatu. Maaf, bukannya menuduh kamu. Tapi....orang yang masuk ke kamar aku saat aku berada di sini hanya aku, Papa sama Mama saja" Bita menatap wajah Zifa yang tak terlihat terkejut sama sekali, berarti dugaannya benar. Diary itu ada pada Zifa.


"Maaf. Maafkan Kakak. Kamu boleh marah sama ka..."

__ADS_1


"Aku nggak marah sama Kakak!" potong Zifa. "Aku hanya kecewa, kenapa bisa perasaan itu hadir di hati Kakak, padahal hubungan kita selama ini begitu dekat layaknya saudara kandung. Meski itu bukan salah Kakak, tapi aku masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya" air matanya sudah mengalir. Perasaan Zifa campur aduk, kecewa, sedih, marah, dan merasa bersalah. Ia begitu menyayangkan perasaan Bita yang hadir untuknya, ia kecewa karena selama ini mereka begitu dekat, ia sedih karena Bita pasti begitu menderita selama ini sampai-sampai pria itu menjauh dari keluarganya, ia juga merasa bersalah karena sampai kapan pun ia tak akan pernah bisa membalas rasa Bita.


"Zi, jangan nangis!" ujar Bita pelan, nyaris berbisik. Ia tak tega melihat Zifa menangis karena dirinya. Gadis itu pasti begitu kecewa padanya. Dengan sekali tarikan, ia membawa Zifa ke dalam pelukannya.


"Kakak bodoh Zi, hingga buat kamu sedih. Maafkan Kakak" air mata Bita ikut menetes karena rasa bersalahnya yang begitu besar.


"Iya. Kakak bodoh! Kakak jahat, kenapa menyukai Zi? Kakak benar-benar bodoh, tapi Zi nggak bisa benci Kakak. Zi terlalu sayang sama Kakak, Zi juga nggak mau ngebiarin selamanya Kakak bodoh kayak gini" racau Zifa sambil memukul-mukul dada bidang Bita.


"Iya, iya. Kakak janji nggak akan bodoh lagi. Asal Zi jangan nangis yah? Hati Kakak sakit liat Zi nangis" kedua anak manusia itu menumpahkan tangis mereka bersama. Entah bagaimana hubungan mereka setelahnya, keduanya berharap semuanya akan baik-baik saja tanpa ada pihak yang tersakiti.

__ADS_1


...Like, vote dan komentarnya jangan lupa...


__ADS_2