Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Masa Sih?


__ADS_3

Like, Vote dan Komennya jangan lupa😊


"Gimana? rasa Baksonya sebanding nggak sama harga Novel tadi?" Tanya Bima saat Zifa menyuapkan sesendok Bakso ke dalam mulutnya.


Zifa terdiam, seolah mencerna rasa makanan yang memasuki mulutnya. Matanya seketika berbinar, ia memakannya dengan lahap tanpa menjawab pertanyaan Bima. Zifa benar-benar bersumpah, Bakso ini sangat-sangat enak.


Tak sampai lima belas menit, makanan tersebut sudah ludes membuat Bima melongo. Bahkan ia lupa memakan makanannya karena memperhatikan cara makan Zifa yang mengerikan.


"Bim, boleh nambah nggak?" tanya Zifa dengan wajah memelasnya.


Bima menatap Zifa horor. Belum selesai keterkejutannya tentang cara makan Zifa, kini gadis itu kembali membuatnya terkejut dengan minta nambah lagi.


"Kamu.......nggak makan berapa hari?" tanya Bima membuat Zifa melongo. Zifa tersadar, wajah Bima tak lagi datar seperti biasanya.


"Kamu kenapa Bim? kok jadi aneh? kamu kerasukan yah?"


Bima kembali mendatarkan wajahnya. "Harusnya aku yang bilang gitu! Udah makan kayak orang dikejar, minta nambah lagi. Itu perut apa gentong sih, kok isinya banyak?"


Zifa merasa terhina akan perkataan Bima. Tapi mau bagaimana lagi, ia memang makannya banyak. Zifa juga tak mungkin marah, ia masih ingin Bima membelikannya Bakso tersebut.

__ADS_1


"Ayolah Bim! Baksonya benaran enak. Beliin satu lagi yah?" rengeknya sambil menggoyang-goyangkan tangan Bima yang berada di atas meja.


Bima menghela nafasnya pelan. "Mang! Satu lagi Baksonya"


"Dua Mang!" ralat Zifa. Bima menatap Zifa tajam "tadi katanya satu. kamu mau balas dendam?" Matanya memicing curiga.


"Enggak kok! Karena Baksonya enak dan mumpung kamu yang bayar, aku mesannya satu lagi untuk dibawa pulang" ujar Zifa santai.


"Dasar maruk!" cibir Bima.


"Bodo amat Bim, yang penting kamu bayarin aku nggak masalah kamu ngomel!" ujar Zifa tak peduli.


.....................................................


"Wa'alaikaumussalaam Zifa" Zifa menepuk jidatnya karena lupa mengucapkan salam "Assalaamu'alaikum Nara"


"Wa'alaikumussalaam. Gimana tadi? lancar nggak pendekatannya?" tanya Nara.


Zifa terlihat berfikir sejenak "Enggak tahu" jawabnya seadanya.

__ADS_1


"Zi, jangan bilang kamu nggak manfaatin waktu yang aku dan Azraf kasih tadi. Aku sama Azraf udah capek-capek loh Zi, nyusun rencana" selidik Nara.


"Enggak, bukan gitu! Aku cuma nggak tahu aja apa semua yang aku lakukan bareng dia tadi itu bisa dibilang pendekatan atau enggak! Yang jelas, dia sedikit berbeda sih dari sikapnya yang kemarin" ralat Zifa agar Nara tak salah paham.


"Berbeda gimana?" tanya Nara penasaran.


"Yah ternyata bukan cuma wajahnya aja yang nyebelin Nar. Tingkahnya juga. Bayangin yah Nar, dia beli Novel dan nyuruh aku yang bayar. Tingkat kepedeannya juga luar biasa banget, dia nyombongin kegantengannya masa, di depan aku!" ujar Zifa berapi-api.


"Maksud kamu?"


Akhirnya Zifa menceritakan semuanya pada Nara. Mulai dari kenarsisan Bima, sampai tentang ejekan Bima saat mereka makan bakso tadi.


"Zi, Kamu nyadarin sesuatu nggak sih?"


"Apa?" tanya Zifa balik. Nyadarin apaan emang? pikirnya.


"Bima kalau bersama kamu terlihat lebih leluasa. Tingkahnya berbeda" Nara menjelaskan kesimpulan yang ia ambil saat Zifa menceritakan harinya bersama Bima tadi.


"Iyakah? Bedanya di mana? Orang dia tetap sama kok, sama-sama nyebelin" sangkal Zifa. Ia tidak ingin mempercayai pikiran Nara begitu saja. Takutnya ini hanya rencana Nara agar ia makin semangat mendekati Bima.

__ADS_1


"Terserah deh, kalau nggak percaya. Kita liat aja ke depannya. Aku mau laporan dulu sama Bebeb aku" ujar Nara sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


"Masa sih? Kok aku jadi deg-degan yah? Ini jantung aku kenapa sih?" gumam Zifa.


__ADS_2