
"Saya tahu cinta memang memabukkan tapi setidaknya kalian tahu tempat. Masih banyak tempat lain untuk bermesraan selain di perusahaan saya!" ujar Bima sambil berjalan mendekat ke arah dua orang itu masih dengan tatapan tajamnya.
Bima beralih menatap Zifa membuat gadis itu tak nyaman. Zifa merasa tatapan Bima seperti sedang mengadili orang yang kedapatan berbuat mesum.
"Maaf, Pak kalau kelakuan kami sedikit mengganggu. Tapi kami bukan...."
"Maaf Pak! Maaf sekali lagi, saya janji tidak akan mengulanginya lagi" potong Zifa saat Bita akan menjelaskan. Ia terlanjur kesal saat melihat tatapan Bima yang seolah sedang menuduhnya. Lagipula, apa untungnya menjelaskan pada bosnya itu coba? Dan jika Zifa membiarkan Bima menganggap Bita pacarnya, maka Zifa akan merasa senang karena dengan begitu Zifa secara tak langsung membuktikan kalau ia mendapatkan pengganti yang jauh di atas Bima.
"Baik, kali ini saya maafkan. Tapi lain kali jika saya mendapati kejadian yang sama, maka saya tidak akan segan-segan memberi kamu sp satu"
Zifa melotot mendengar penuturan Bima. kenapa berpelukan saja konsekuensinya sampai segitunya? Lagipula, ini sudah jam pulang kantor kali. Meskipun Zifa mengakui kesalahannya karena mereka masih ada di area kantor sih.
"Ya nggak sampai sp satu juga kali Pak! Memangnya kesalahan saya sefatal itu sampai harus keluar sp?" sungut Zifa tak terima. Sementara Bita malah asik memperhatikan perdebatan antara bos dan sekertaris itu.
"Ini perusahaan saya, jadi suka-suka saya!" ujar Bima terdengar sangat arogan.
Zifa menatap Bima dan tersenyum mengejek "Saya baru tahu kalau pemimpin Lion Corp yang dibangga-banggakan banyak orang selama ini ternyata hanyalah orang yang suka memanfaatkan jabatannya!"
__ADS_1
"Ckk. Saya bukan memanfaatkan jabatan, tapi saya berdiri di jalan yang sesuai dengan hak dan jabatan saya. Seumpama saya di rumah, saya melarang pembantu saya menyuci pakaian saya itu hak siapa?"
"Hak Bapak!" jawab Zifa.
"Kalau saya menyuruh pembantu saya memasak makanan kesukaan saya itu hak siapa?" tanya Bima lagi.
"Hak Bapak!"
"Kenapa?"
"Karena itu rumah bapak dan mereka bekerja untuk Bapak, jadi mereka harus mematuhi aturan Bapak!" jawab Zifa lugas.
Zifa menyentakkan kakinya kesal karena kalah berdebat. Ia menoleh pada Bita yang berdiri di sampingnya "Kak, nggak mau belain aku gitu?" rengeknya.
Bita menggeleng "Enggak. Itu urusan antara Bos dan Karyawannya, dan aku orang luar nggak boleh ikut campur!" jawabnya acuh.
"Baguslah kalau kamu sadar diri untuk tidak ikut campur. Kalau tidak, besok pagi sudah ada amplop berisi sp satu di atas meja kerja kekasihmu itu" setelah mengatakan itu Bima berbalik meninggalkan keduanya.
__ADS_1
Zifa menggeram kesal setelah kepergian Bima, sedangkan Bita menatap pria itu penasaran. Kenapa ia merasa ada sesuatu antara Zifa dan bos gadis itu?
"Ayo Kak, kita pergi" ajak Zifa. Ia beberapa kali menarik nafas panjang agar emosinya akan kearoganan Bima tadi segera menghilang.
"Kita mampir ke mana dulu gitu yah Kak!" pinta Zifa saat Bita sudah menjalankan Mobilnya.
Bita menggeleng "Kita langsung pulang, ta..."
"Kok gitu?!" potong Zifa. Bita menghela nafas pelan menghadapi gadis yang kini sedang kesal itu. "Dengarin dulu Dek! Kita pulang dulu, kamu mandi sama ganti pakaian. Selesai maghrib baru kita jalan-jalan"
Zifa mengangguk senang. "Okey, siap Bos"
Bita menggeleng "Aku bukan Bos kamu kali Zi" keduanya kemudian terkekeh.
"Tapi Zi, kok Bos kamu segitu banget yah tadi. Tingkahnya arogan banget dan sedikit kekanak-kanakan"
Zifa menoleh pada Bita yang kini tengah mengemudi "Dia emang gitu. Andai aku bukan bawahannya aku bakal bejek-bejek muka datarnya itu" Zifa kembalu merasa kesal mengingat tingkah Bima tadi.
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊