Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Okey


__ADS_3

Nih aku udah up dua bab sekaligus. kalian bakalan aku anggap jahat kalau nggak like, vote dan komen😦


Zifa memperhatikan gedung yang menjulang tinggi di depannya. Gedung dengan papan pengenal 'LION CORP' dan berlambang kepala Singa yang memperlihatkan taringnya. Zifa merasa, nama dan lambang perusahaan ini pasti memiliki arti penting. Apa mungkin pemilik perusahaan ini ingin membuat saingannya gentar hanya dengan mendengar namanya? Atau apa. Zifa sedikit penasaran. Majalah bisnis semalam tak ia baca, ia hanya sekedar membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas tersebut.


Setelah masuk ke dalam, Zifa kemudian berbicara sebentar dengan resepsionis. Kemudian gadis itu diarahkan ke sebuah ruangan.


"Baiklah, berkas-berkas Ibu nanti akan kami proses lebih lanjut mengingat banyaknya pelamar di bidang yang sama dengan Ibu. Pihak perusahaan akan kembali menghubungi Ibu jika Ibu diterima di perusahaan ini"


Zifa mengangguk, kemudian berpamitan. Saat sampai di parkiran, ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk.


"Halo, Nar!" Sapanya pada si penelpon.


"Wa'alaikumsalaam, Zifa!" Sindir Nara. "Kamu itu yah, udah dewasa. Masa ngawalin pembicaraan di ponsel masih selalu lupa pakai salam dulu" tambahnya.


Zifa terkekeh pelan "Iya, iya maaf. Assalaamu'alaikum Nara, yang sebentar lagi bakal jadi Nyonya Azraf Abdullah"


Terdengar suara tawa Nara di seberang sana. "Wa'alaikumsalaam, Zifa yang dari dulu sampai sekarang masih betah dengan status jomblonya" balas Nara.

__ADS_1


Zifa berdecak kesal. "Udah ah. Sekarang serius, kenapa nelpon?"


"Kita ketemuan yuk. Kamu udah janji loh Zi, kalau mau bantuin aku ngurus pernikahan. Aku mau bahas masalah itu"


Zifa ingat, ia kemudian langsung menyetujui perkataan Nara. Keduanya bertemu di sebuah restoran yang sebelumnya sudah mereka sepakati.


"Tega banget yah kamu Zi, udah seminggu di sini tapi kamu nggak pernah hubungin aku" semprot Nara pada Zifa, padahal gadis itu baru saja datang dan belum sempat duduk. Ternyata Nara sampai lebih cepat dari Zifa.


Zifa meringis pelan "Maaf Nar. Seminggu ini aku nyegarin pikiran aku dulu tanpa mikirin apapun. Makanya aku belum hubungin kamu" jelas Zifa. Keduanya kemudian saling memeluk karena sudah lama tak berjumpa.


"Oh yah, kok pakaian kamu rapi banget kayak orang mau kerja. Kamu udah dapat pekerjaan?" Tanya Nara setelah mempersilahkan Zifa duduk.


Nara menatap Zifa lamat-lamat. "Serius kamu lamar kerjaan di sana?" Tanya Nara memastikan.


Zifa mengangguk "Iya. Papa aku yang rekomendasiin. Jadi, aku pikir perusahaan itu pasti bagus banget" jawab Zifa sesuai kenyataan.


Nara membulatkan mulutnya membentuk huruf 'o'.

__ADS_1


"Oh yah, kamu nggak nyelidikin dulu siapa pemilik perusahaan itu gitu?" Tanya Nara. Zifa memutar bola matanya malas. "Ngapain? Nggak penting juga kali Nar. Lagian, aku percaya aja sama Papa. Mana mungkin Papa nyaranin perusahaan yang pemiliknya seorang mafia. Yah, meskipun nama perusahaannya agak buat aku ngeri sih"


Nara menggeleng. "Yah bukan gitu juga. Maksud aku, setidaknya kamu cari tahu dulu gitu. Tapi, emang benar sih. Nggak penting juga kamu tahu. Toh belum tentu kamu bakal ketemu sama pimpinannya di kantor nanti" Yah, tak dapat dipungkiri, pertemuan antara staf biasa dengan seorang big bos yang super sibuk tentu saja kemungkinannya sangat kecil.


"Ngomong-ngomong, gimana persiapan pernikahan kamu?" Zifa kemudian memilih langsung membahas pernikahan Nara. Lagipula, mereka kan bertemu di sini untuk membahas pernikahan Nara, buka pekerjaan Zifa.


"Besok temanin aku ngambil gaun aku, sama seragam keluarga juga. Oh yah, gaun untuk kamu juga udah selesai dijahit" jelas Nara.


Zifa menatap Nara bingung "gaun untuk apa?"


"Yah, kamu ngiringin aku dong ke pelaminan. Jadi brides maid gitu"


"Harus yah, kayak gitu?" Tanya Zifa sedikit sangsi.


"Iya, harus banget malah. Kamu ingat, kita dulu banget pernah berjanji untuk menikah di waktu yang sama. Tapi takdir berkata lain, aku harus mendahului kamu. Jadi, sebagai gantinya, kamu harus selalu mendampingi aku sampai pernikahan aku selesai" Nara mengatakan itu dengan suara yang sedikit rendah.


Zifa ingat, dulu mereka memang pernah mengucapkan janji itu. Kalau tidak salah itu saat mereka SMP. Bahkan mereka mengucapkannya sebelum mengenal apa arti cinta. Meski itu hanya janji konyol di masa kecil, tapi ternyata Nara memang berharap hal itu menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Okey" akhirnya Zifa hanya pasrah saja.


__ADS_2