
Zifa menatap Bima yang sedang menunggunya di parkiran dengan pandangan yang sulit diartikan. Jatuh cinta pada Bima? Ckk! Zifa nggak percaya dengan teori 'benci jadi cinta'.
"Kenapa natap aku kayak gitu?" tanya Bima heran.
Zifa menggeleng, menepis semua perkataan Nara yang terus berputar di kepalanya. "Nggak. Ayo pulang!" Ujarnya sambil mengambil helm yang terkait di belakang motornya.
"Dasar aneh!" cibir Bima. Zifa menghela nafas pelan. Ia akui hari ini memang dirinya sangat aneh gara-gara kalimat Nara.
"Udah, nggak usah banyak mencibir. Kamu nggak tahu azab orang yang suka mencibir?"
"Apa emangnya?" tanya Bima menanggapi perkataan konyol Zifa.
"Bibirnya doer tergesek jalanan aspal!" jawabnya serius membuat Bima tersenyum kecil. Bima akui, bersama Zifa ia jadi sering tersenyum. Dengan gadis itu, ia seolah menjadi sosok Bima yang baru.
"Ngaco!"
"Enggak, benar kok!" kekeh Zifa.
"Iya, emang enggak benar. Lagian siapa yang bilang benar?" balas Bima. Zifa memukul bahu cowok itu karena kesal. "Udah, bisa aja jawabnya. Jalan sekarang, aku udah naik ke boncengan kamu dari beberapa menit lalu loh! Masa motornya diam aja!" sindir gadis itu.
__ADS_1
Bima tersenyum kecil "Oh, udah naik yah? nggak berasa masa? aku pikir cuma boncengin angin"
Zifa semakin kesal dibuatnya. Dengan kekuatan penuh, ia memberikan tinjuan pada bahu Bima. Bukannya kesakitan, Bima malah tergelak dibuatnya. Semua tak luput dari pandangan Nara dan Azraf yang memang sengaja memperhatikan keduanya dari jauh.
"Semakin ke sini, Bima semakin bersikap hangat yah ke Zifa" ujar Nara. Azraf mengangguk "Iya. Ternyata yang mampu naklukin si beruang kutub hanya si induknya Singa"
Nara memukul lengan Azraf "Ckk! Sahabat aku itu bukan induk singa yah! Lagian, kamu berani ngata-ngatain dia pas di belakang. Giliran di depan Zifa nyali kamu menciut"
Azraf tertawa mendengar perkataan pacarnya itu "Ya iyalah. Aku udah bilang, sahabat kamu itu kan induknya singa. Mana ada manusia berani sama induk singa"
Nara menggeleng pelan "Tapi kan kamu Unta Arab, masa nggak berani sama Singa?" balas Nara tak mau kalah. Ia mengungkit nama panggilan Zifa pada Azraf.
Kembali ke Zifa dan Bima. Zifa turun dari boncengan saat Bima memarkirkan motornya di garasi rumah Zifa. Zifa bingung kenapa motor Bima masih tetap di sana, kalau kempes kenapa nggak dipanggilin orang bengkel? pikirnya.
"Kok motor kamu masih di sini?" tanyanya heran. Bima menggeleng pelan, cowok itu menatap Zifa seolah kasihan akan cara berpikir cewek itu.
"Ya iyalah masih di sini. Emangnya dia bisa jalan sendiri?"
Zifa menatap Bima dongkol. Astaga, mana bisa ia jatuh cinta sama cowok modelan kayak gini? tiap waktu bisanya cuma mancing emosi Zifa saja. Ia yakin, dirinya salah menjelaskan pada Nara sehingga cewek itu salah menafsirkan perasaannya.
__ADS_1
Ia kembali terheran saat Bima menghidupkan motornya dan mengeluarkan motor tersebut dari garasi rumahnya. Ban motor itu terlihat baik-baik saja. Tak terlihat bocor atapun kempes.
"Loh, motor kamu kok nggak apa-apa? Udah selesai diperbaiki yah?"
Bima memandang Zifa lamat-lamat. Apa otak cewek galak ini memang seloading ini?
"Motor aku nggak kenapa-napa" jawabnya santai.
"Terus? kata kamu tadi kempes?" Zifa memang tak terlalu memperhatikan ban motor tersebut saat Bima tadi pagi menunjuknya.
"enggak tuh! nih, buktinya" ucapnya sambil melirik ke arah ban motornya.
"terus?"
"Itu hanya alasan biar kita bisa bareng ke sekolah, sama pulangnya juga" jawabnya kemudian meninggalkan Zifa tanpa berpamitan.
Zifa tersadar saat Bima sudah menjauh. Ia memegang pipinya yang tiba-tiba memanas. "Kok aku kepanasan kayak gini yah?" gumamnya sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
Like, vote dan komennya jangan lupa😊
__ADS_1