
“Bu, Bu Shanum…..”, panggil seseorang menyadarkan Shanum dari lamunannya.
“Eh…iya, ada apa, Pak?”,
Seseorang yang memakai ID card panitia menyerahkan ID card atas nama Shanum. Beliau adalah Pak Andi sesama panitia yang satu tim dengannya.
Shanum kaget, kenapa ID card itu ada padanya.
“Kenapa ID card saya ada di Pak Andi?”, tanya Shanum
“Maaf Bu, tadi saya menerimanya dari Pak Ahsan, katanya beliau menemukannya terjatuh dan meminta saya mengembalikannya pada Ibu,” jawab orang itu.
“Oh…terima kasih, Pak” ucap Shanum tulus.
“Bu, acara selanjutnya sambutan yang akan disampaikan oleh Ketua yayasan baru. Ibu tidak mau ke depan mendengarkan sambutan pimpinan baru kita?”, tanya Pak Andi pada Shanum.
“Apa? sudah acara kelima ya?”,
Shanum kaget, ia tidak menyangka dirinya larut dalam lamunannya cukup lama. Tadi saat Ahsan menemuinya, sang MC baru saja membuka acara.
Berarti Shanum pun tidak mendengarkan sambutan Ahsan sebagai Ketua Panitia.
“Gimana Bu, mau ke depan?”, Pak Andi mengulangi pertanyaannya.
“Iya, Pak. Ayo!,” jawab Shanum mengambil langkah lebih dulu dan diikuti Pak Andi.
Di atas panggung tampak berjejer para pria yang mengenakan stelan jas lengkap.
Shanum yang berada di samping panggung hanya dapat melihat sebagian wajah orang-orang itu.
Satu wajah yang sangat ia kenali, dia adalah Ahsan.
Shanum mengedarkan pandangannya, berharap bisa menemukan Liani atau teman-teman guru yang lainnya untuk bergabung. Namun tampaknya mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Sementara Shanum yang bertugas memastikan semua kegiatan di rundown acara berjalan dengan semestinya, terlihat lebih santai.
“Kami persilahkan Bapak H. Muhammad Furqan Wijaya, untuk menyerahkan estafet kepemimpinan yayasan secara simbolis, ditandai dengan penyerahan plakat kepada Ketua Terpilih dan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima jabatan”, terdengar MC menyampaikan acara selanjutnya.
Dua orang pria berjas tampak maju ke depan, menuju meja yang di atasnya sudah disiapkan berita acara serah terima jabatan untuk mereka tanda tangani.
Selanjutnya disusul dua orang yang turut menandatangani berita acara tersebut menjadi saksi. Salah satunya adalah Ahsan.
Shanum masih di posisinya semula, ia memandang ke arah Ahsan dengan nanar.
Tak menyangka ternyata seniornya itu menduduki posisi penting di yayasan itu.
Selintas perasaan insecure menghampirinya, ia yang berniat mencoba membuka hati untuk seniornya itu merasa tak cukup laik untuk bisa bersanding dengan Ahsan.
Dari kejauhan, Ahsan sepertinya tahu kalau Shanum sedang memandangnya. Dia melemparkan senyuman manisnya pada Shanum.
Shanum tersentak, kaget campur malu karena terciduk sedang memandangi Ahsan begitu dalam.
Belum sempat kekagetannya menghilang, ia dikagetkan lagi dengan suara MC yang mempersilahkan ketua yayasan baru untuk menyampaikan sambutannya.
“Kepada yang terhormat, Bapak Akhtar Farzan Wijaya disilahkan untuk menyampaikan sambutannya”, MC mempersilahkan ketua yayasan baru untuk menyampaikan sambutannya.
Disambut riuhnya tepuk tangan dari semua orang yang berada di gedung itu.
Kecuali Shanum, ia terpaku dalam posisinya. Menatap lurus ke depan memandangi wajah orang yang baru saja disebut namanya berjalan dengan gagahnya menuju podium.
Shanum memantung, di hadapannya kini berdiri sosok yang selama ini dia rindukan, walaupun dia melihatnya dari samping dan tampak banyak perubahan yang terjadi pada tubuh lelaki itu tapi garis wajahnya tetap sama.
Laki-laki yang saat ini sedang menyampaikan salam pembuka pada pidatonya itu adalah laki-laki yang selama ini ia rindukan.
Laki-laki yang sepuluh tahun yang lalu menyatakan kalau ia mencintainya dan setahun kemudian pamit pergi tanpa kabar.
Namun hingga kini, bayangannya masih berlalu lalang di pikiran shanum, namanya pun masih bertahta indah di singgasana hatinya.
Shanum bergeming cukup lama, tak sedikitpun beranjak dari posisinya. Menatap lurus ke depan memandangi dari samping wajah yang kini tampak berbeda, terlihat lebih tampan dan semakin memesona siapa saja yang melihatnya.
Shanum baru tersadar saat seorang gadis berjalan ke atas podium hendak menghampiri lelaki yang telah mengakhiri pidatonya dengan salam penutup.
Perempuan cantik sedang melenggang di atas panggung dan mengambil tempat tepat di samping kiri lelaki itu, sedikit menghalangi penglihatan Shanum.
“Inilah Raina Farha Diani, perempuan cantik dan cerdas yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di negeri Kangguru dan telah siap untuk mengabdikan diri dan berbagi ilmunya di yayasan kita ini. Insyaa Allah dia akan membawa yayasan ini menjadi lebih maju, dia adalah putri sahabat tercinta s
kami.”
‘’Selain akan mengabdikan dirinya di yayasan, Ananda Raina juga akan mengabdikan hidupnya mendampingi putra kebanggaan kami,Akhtar Farzan Wijaya,”
Suara Ketua Yayasan lama menggema mengisi setiap sudut gedung tempat acara berlangsung.
Dhuaarrrrrrrrr….. bak suara petir menggelegar, Shanum terpaku di tempat, pikirannya melayang.
Baru saja ia mendapat setitik sinar menerangi jalan penantian cintanya, namun batu besar kemudian menghantamnya. Ia luruh, hatinya hancur, perasaannya tak karuan.
Suara tepuk tangan yang riuh menyambut pengumuman sang Ketua Yayasan menyadarkannya.
Balik kanan, perlahan ia langkahkan kakinya menuju backstage. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak berkali lipat dari biasanya, pikirannya kacau tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Air mata yang sudah susah payah ia tahan sejak di samping panggung akhirnya mengalir dengan derasnya.
Tanpa suara Shanum menangis sendiri. Menangisi sesuatu yang seharusnya tidak ia tangisi. Air matanya mewakili betapa rasa sakit yang ia rasakan sangatlah dalam.
Mencintai dalam penantian yang berujung dengan kesakitan.
Keadaan sudah tak memihak cintanya. Cinta monyet yang memberinya kenangan manis kini berakhir dengan perayaan luka.
__ADS_1
Shanum menyadari derap langkah seseorang sedang menuju ke arahnya.
Segera ia beranjak, tanpa menoleh dan tidak tahu siapa yang datang Shanum melenggang menuju toilet tanpa mempedulikan seseorang yang memanggil namanya.
Dari suaranya dia tahu kalau Ahsan yang datang.
Selama berada di atas panggung perhatian Ahsan tertuju pada Shanum. Semua ekspresi dan gerakan yang Shanum lakukan saat berada di samping panggung tidak luput dari perhatian Ahsan.
Shanum yang memilih pergi saat puncak acara, mengundang kecurigaan Ahsan.
Ahsan melihat Shanum seperti sedang tidak baik-baik saja, dia khawatir Shanum sakit.
Melihat raut wajah Shanum yang sendu dan tampak pucat semenjak berdiri di samping panggung semakin membuatnya khawatir.
Setelah foto bersama dan memberikan ucapan selamat, Ahsan segera turun dari atas panggung.
Pikirannya dipenuhi dengan Shanum, ingin segera memastikan keadaannya.
Ahsan menuju backstage, langkah kakinya kian melambat ketika terlihat punggung Shanum yang bergetar, Ahsan tahu Shanum sedang menangis.
Tapi kenapa?, dengan segera Ahsan mempercepat langkahnya menuju Shanum, ingin menenangkannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Walaupun Ahsan tidak tahu apa yang membuat Shanum sampai menangis tersedu-sedu.
Ahsan kian mendekat, tapi Shanum dengan cepat melenggang pergi menjauhinya.
“Shanum”, panggil Ahsan, tak ada jawaban.
“Shanum”, kembali Ahsan memanggil.
Kali ini dengan suara lebih keras karena Shanum semakin mempercepat langkahnya.
Ahsan semakin khawatir, dengan cepat ia mengikuti Shanum takut terjadi apa-apa dengannya.
Cukup lama Ahsan menunggu di depat pintu toilet wanita. Sempat beberapa tamu undangan wanita memandanginya dengan heran. Tapi Ahsan tidak peduli, pikirannya sudah dipenuhi dengan kekhawatirannya pada Shanum.
“Pak Ahsan,” Liani datang menghampirinya, menatap heran mengapa Ahsan ada di depan toilet wanita.
“Bu Liani,” Ahsan tersentak, sejenak ia menatap Liani yang memandangnya bingung. Tapi kemudian Ahsan tersenyum dan melanjutkan bicaranya.
“Bu Liani, jangan salah faham, saya tadi mencari Shanum sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja, saya melihat dia sedang menangis, seperti sedang kesakitan gitu. Saat saya memanggilnya dia malah berlalu ke toilet, saya sudah lama menunggu tapi Shanum tak kunjung keluar. Saya khawatir terjadi apa-apa padanya. Tolong Bu Liani masuk dan cari Shanum.” Jelas Ahsan panjang lebar menjelaskan keadaan Shanum dengan paniknya.
Liani yang awalnya akan menegur Ahsan karena berada di depan toilet wanita, jadi tak kalah panik. Dengan buru-buru ia memasuki toilet dan mengecek setiap pintunya, memanggil-manggil nama Shanum.
Merasa ada yang memanggilnya, Shanum kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha menetralisir perasaannya agar terlihat baik-baik saja.
Ia tak mau sahabatnya itu mendapatinya dalam keadaan seperti tadi, sungguh itu akan mengundang kecurigaan Liani.
Setelah dirasa cukup tenang, Shanum membuka pintu toilet. Tersenyum ke arah sahabatnya yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.
Bulir keringat yang tampak di kening dan ujung hidung sahabatnya itu menandakan kalau ia sangat panik dan khawatir.
Liani berlari menghampiri Shanum dan memeluknya, tanpa sadar dia menangis di pelukan Shanum. Shanum heran ada apa dengan shabatnya itu.
Liani tersentak, buru-buru dia menghapus air mata yang tanpa sadar keluar dari matanya. Masih dengan sisa air mata di pipinya, Liani beralih menatap Shanum tajam.
“Kamu yang kenapa?” sentaknya….”Aku khawatir tahu,… mendengar omongan Pak Ahsan tentang kamu, pikiran aku jadi kemana-mana, dia bilang kamu sakit dan berlari ke toilet. Aku takut kamu kenapa napa, tadi kamu baik-baik saja, makanya aku panik banget pas denger kalau kamu menangis kesakitan”, cerocos Liani.
Kembali ia memeluk Shanum, lalu melepaskan pelukannya dengan cepat beralih meraba kening Shanum. Lalu memutar tubuh Shanum, memindainya dari atas sampai bawah memastikan tidak ada luka atau apapun di tubuh sahabatnya itu.
“Hey, ayolah….aku baik-baik saja”, Shanum tertawa melihat tingkah Liani.
“Beneran kamu enggak apa-apa?” Liani kembali memastikan.
“Tapi tadi kata Pak Ahsan kamu….” Ucapannya menggantung. Karena melihat ada laki-laki yang masuk ke dalam toilet wanita tempat mereka berada.
Ahsan sudah tidak bisa menunggu lagi, setelah terlihat toilet sepi dan dia meyakini kalau di dalam hanya ada Shanum dan Liani akhirnya dia memberanikan diri masuk ke dalam toilet wanita.
Dan betapa terkejutnya Ahsan, melihat dua orang wanita yang sedang tertawa melihatnya terburu-buru masuk ke toilet wanita sambil melirik ke kiri dan ke kanan seperti yang takut ketahuan.
“Kalian…..” Ahsan geram. “Aku khawatir menunggu di luar, kalian malah asyik tertawa di sini”, Ahtar berucap sambil bertolak pinggang.
Shanum dan Liani yang sejak tadi menahan tawanya, akhirnya meledak menertawakan Ahsan.
“Maaf, Kak.” Shanum membuka suara,
“Ayo keluar!”, ajak Ahsan dengan nada datarnya.
Shanum dan Liani berjalan mengikuti Ahsan keluar dari toilet wanita. Lagi-lagi ada beberapa tamu undangan yang berpapasan dengan mereka menatap heran ke arah Ahsan.
“Semua ini gara-gara kalian, lihat Ibu-Ibu itu menatapku penuh curiga”, Ahsan meluapkan kemarahannya.
Shanum dan Liani yang melihat hal itu, malah saling tatap dan kompak menutup mulut dengan tangannya menahan tawa, karena takut Ahsan semakin marah.
Sampai di backstage, Ahsan menatap mereka berdua dengan tajam. Masih tampak kesal dan khawatir berpadu diwajahnya.
“Kalian berdua, ikut aku!”, perintah Ahsan tegas.
Tanpa menunggu jawaban mereka, Ahsan berlalu keluar dari ruang itu. Menuju ruangan yang tadi pagi digunakan untuk berkumpul panitia menerima arahan darinya.
Shanum dan Liani hanya pasrah mengikuti Ahsan. Sesekali mereka saling lirik, bertanya-tanya apakah gerangan yang akan dilakukan Ahsan kepada mereka.
Ahsan sudah duduk dengan gagahnya di kursi pimpinan rapat, menatap Shanum dan Liani yang masih berjalan ke arahnya.
“Duduk!”, titahnya menyuruh Shanum dan Liani duduk di kursi yang ada di hadapan mejanya.
Mereka berdua duduk berhadapan dengan Ahsan. Saat seperti ini Shanum jadi teringat ketika masih kuliah. Waktu itu Ahsan pernah memanggilnya ke ruangan BEM karena melakukan kesalahan saat mengonfirmasi waktu pada pengisi acara.
Suasana hening, mereka bertiga larut dalam pikirannya masing-masing. Namun tiba-tiba….
__ADS_1
“Kakak!”, Shanum memanggil Ahsan dengan intonasi yang tegas sambil menggebrak meja di depannya.
Ahsan terkaget begitu pula dengan Liani. Liani tidak menyangka Shanum berani melakukan itu. Selama ini yang ia tahu Shanum selalu bersikap tenang dan mampu mengontrol emosi. Wajah Liani ketakutan, takut Ahsan semakin marah karena ulah Shanum.
Berbeda dengan Ahsan yang berusaha menyembunyikan senyum bahagianya, karena melihat Shanumnya telah kembali.
Dulu Shanum adalah orang yang paling mampu mengendalikan emosi Ahsan, di saat semua orang diam karena takut padanya, Shanum berbeda ia berani menyuarakan pemikirannya dan dengan keukeuh mempertahankan argumennya karena cukup berdasar dan membuat Ahsan menerimanya.
Áhsan sudah tak mampu menahan tawanya, akhirnya dia tergelak juga melihat ekspresi Shanum yang tampak menggemaskan di matanya.
Shanum mengerucutkan bibirnya, karena lagi-lagi Ahsan mengerjainya. Liani heran melihat kelakuan mereka berdua.
“Sebenarnya ini ada apa?”, Liani memberanikan diri bersuara dengan nada bergetar, masih tampak ketakutannya.
Hahahahaha………Shanum dan Ahsan sudah tidak bisa menahan diri lagi melihat Liani yang ketakutan.
Liani tampak geram, karena merasa dipermainkan oleh mereka berdua.
“Kalian sebenarnya kenapa?”, dengan berani Liani bertanya lagi sudah tak nampak ketakutan di wajahnya yang ada tinggallah kekesalan karena merasa dipermainkan.
“Maaf, Li” cicit Shanum mengakhiri tawanya.
“Maaf Bu Liani, saya tidak bermaksud mempermainkan Bu Liani. Tadi saya memang melihat Shanum menangis, dan saya sempat khawatir. Tapi sepertinya kita berdua yang di kerjain. Lihat saja dia malah tertawa lepas begitu”, Ahsan menimpali, menunjuk dengan dagunya ke arah Shanum, yang ditunjuk hanya memalingkan muka sambil mengulum senyumnya.
“Bu Liani bisa tenang sekarang, biar saya yang akan menghukum Shanum karena sudah mengerjai kita. Sekarang, silahkan Ibu kembali melanjutkan tugas”, ucap Ahsan kembali ke mode tegas gaya memimpinnya.
Liani menarik napas panjang, merasa heran dengan drama yang terjadi di depannya. Dia memandangi Shanum memastikan kembali keadaan sahabatnya itu. Shanum faham kekhawatiran Liani.
“Gak apa-apa Li, aku baik-baik saja. Sebentar lagi aku menyusul. Sepertinya acara hiburan dan ramah tamah sudah dimulai. Ada yang mau aku bicarakan dulu dengan Kak Ahsan”, Shanum menjelaskan, meyakinkan Liani bahwa dirinya baik-baik saja.
Sepeninggalnya Liani, suasana kembali hening.
Ahsan menatap Shanum dengan tatapan yang sulit di artikan, yang pasti ada kekhawatiran di matanya.
Dia tahu tadi Shanum hanya mengalihkan perhatian sahabatnya, dia tidak mau orang lain tahu dengan kesedihan dan kesakitan yang dia rasakan. Cukup kebahagiaan yang ia bagi dengan orang lain.
Liani mungkin akan mudah percaya, tapi tidak dengan Ahsan. Ahsan faham betul dengan Shanum walaupun dia pun kadang tidak habis pikir dengan Shanum yang selalu merasa tidak enakan jika harus berbagi duka dan luka dengan orang lain.
Ahsan tahu saat ini Shanum sedang tidak baik-baik saja, tapi diapun tidak tahu pasti apa yang menyebabkan tambatan hatinya itu terluka. Ahsan tidak akan bertanya, karena tahu Shanum tidak akan menjawabnya.
Biarlah nanti Shanum yang memintanya sendiri untuk menjadi pendengar, saat ini Ahsan hanya perlu ada dan meyakinkan Shanum bahwa semua akan baik-baik saja.
“Aku hanya ingin mengucapkan sama-sama”, Ahsan memecah keheningan
Sebelum menanggapi ucapan Ahsan Shanum menarik napasnya panjang seakan ingin mengisi setiap sudut paru-parunya, agar sesak yang ia rasa segera menghilang.
“Sama-sama apa?”, tanya Shanum heran.
Akhtar tersenyum menatap Shanum dalam,
“Aku ingin mengucapkan sama-sama, karena kamu sudah mengucapkan terima kasih padaku” jawab Ahsan.
“Kapan aku berterima kasih pada Kakak?”, tanya Shanum heran.
“Tadi, saat di backstage, telingaku masih cukup normal untuk mendengarkan gumamanmu, Num”, jelas Ahsan.
Tadi Ahsan pergi ketika sudah mencuri kesempatan untuk berswafoto dengan Shanum, dia sebenarnya kembali bermaksud untuk mengembalikan ID Card Shanum yang ia temukan tergeletak di lantai. Shanum belum menyadari kalau ID Cardnya terjatuh.
Tetapi, saat kembali ke backstage dia mendapati Shanum kembali sedang melamun.
Dengan langkah diam-diam Ahsan menghampiri Shanum, dan tak sengaja dia mendengar Shanum menyebut namanya lengkap, dan mengucapkan kalimat yang membuatnya berbunga bunga sepanjang pagi itu.
Sampai kebahagiaannya menguap ketika melihat Shanum tidak baik-baik saja.
“Apa harus aku mengulang kalimat itu?”, tanya Ahsan menggoda Shanum.
“Kakak!”, Shanum merajuk, pipinya merona menahan malu. Ahsan suka itu, lagi-lagi menggoda Shanum menjadi hiburan tersendiri untuknya.
“Shanum”, Ahsan mulai berbicara serius.
“Ya?”
“Saat logika dan perasaanmu tidak sejalan, langitkan saja. Selebihnya ikhlaskan, biar Semesta mengambil bagiannya.”
Shanum tak mampu berkata-kata mendengar Ahsan sudah berbicara dengan serius.
“Segelap apapun malam, bintang akan bersinar menjadi penerang dan petunjuk. Seperti itu pun harapan, sekecil apapun ia akan membimbingmu keluar dari putus asa.”
“Rasanya aku turut sakit, melihatmu menangis seperti tadi. Aku tidak akan memintamu mengatakan apa yang membuatmu menangis. Aku hanya ingin kamu tahu, kalau aku ada di sini.” Ucap Ahsan penuh ketulusan.
“Kakak bantu aku, aku lelah”, ucap Shanum lirih. Mendongakkan kepala, menahan sesuatu yang mulai tak tertahan hendak keluar dari sudut matanya.
Ahsan menghela napasnya, menatap Shanum dengan tatapan yang dalam. Ia melihat ada beban berat di diri Shanum yang selama ini ia pendam sendiri. Ahsan tak mau mengira-ngira, seiring waktu biarlah Shanum yang mengungkapkan.
“Jangan memaksa diri untuk membuka hati kalau kamu memang masih nyaman untuk sendiri. Jika aku bisa hadir sebagai teman, perlakukan aku selayaknya seorang teman.” Ucap Ahsan bijak.
“Jika masa lalumu memang membuatmu tak ingin ada siapapun untuk menjadi penghuni hatimu, nikmatilah. Tapi seiring berjalannya waktu mungkin saja, Allah memang mengirimku untuk menghapus lukamu.” Sambung Ahsan.
“Kamu tahu, Num……Titik perempuan berhasil move on itu bukan ketika dia mampu mencari pengganti yang baru. Tetapi disaat dirinya sudah berdamai dengan dirinya sendiri tanpa harus mencari seorang pengganti.”
“Percayalah, disaat kamu ikhlas dengan keadaanmu, di situlah Allah merencanakan kebahagiaan untukmu.” Pungkas Ahsan.
Shanum menunduk, meresapi setiap kata-kata yang Ahsan ucapkan. Hatinya membenarkan bahwa semua masalah hatinya adalah berawal dari dirinya sendiri.
Lagi-lagi Ahsan mampu membuat hatinya menghangat, merasa lebih baik dan lebih siap menghadapi kenyataan.
Shanum mendongak, menatap Ahsan dengan sendu. Pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
*Lihatlah, Akhtar……penantianku akan dirimu, ternyata telah melalaikanku. Hingga tak terlihat olehku lelaki baik yang selama ini selalu ada untukku. Ikhlas itu berat, tapi harus diusahakan. Aku lega, setidaknya pernah berjuang dengan kesabaran. Lalu dipukul mundur dengan penuh kesadaran*, bisik Shanum dalam hatinya.