Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Dilema


__ADS_3

Dua hari yang menyenangkan berada di Bogor. Waktu yang terasa sangat singkat untuk Shanum. Namun dua hari yang terasa lama untuk Akhtar dan Ahsan.


Berbanding terbalik dengan Shanum. Kedua pria mapan dan tampan itu menjalani dua hari terlama dalam hidupnya.


Akhtar gelisah, hatinya gusar memikirkan kenyataan yang baru ia ketahui.


*flashback


Dua hari yang lalu...


Terbangun dengan lesu karena semalam matanya tak kunjung terpejam. Berkas ditangannya masih erat ia genggam.


Semalam tak lepas, ia dekap dengan erat lembaran daftar riwayat hidup wanita yang selalu ada di hatinya.


Akhtar berulang kali menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, berusaha melepas semua yang membelenggu hatinya.


Dia mengacak rambutnya, geram, menahan sesal dan kesal di hatinya mengetahui kenyataan bahwa Shanum berstatus belum menikah.


Curriculum Vitae Shanum yang semalam dia terima dari bagian kepegawaian membuat hatinya sesak, napasnya tercekat, dadanya seakan menyempit. Dia tak mampu berkata-kata.


Hatinya bergetar merasakan bahagia bercampur kepedihan yang mendalam saat membaca curriculum vitae itu. Foto yang menempel di lembaran cv itu jelas adalah foto wanita pujaan hatinya, Shanum Najua Azzahra.


Terngiang kembali kata-kata yang ia lontarkan untuk Shanum.


**Kukira kau cukup tangguh untuk itu,


*mampu seperti ikan yang menjaga terumbu karangnya


*dan seekor lebah yang menjaga sarangnya.


*Tapi aku sadar, kadang memang kita harus menerima dengan lapang dada bahwa bagi sebagian orang memang kita tidak penting untuk mereka


**Ekspektasiku terlalu tinggi,


*saat mengharapkan bahagia dari manusia maka sisakan satu ruang untuk menyimpan kecewa adalah benar adanya,


*karena ternyata hilangku tak dicari,


*hadirku pun tak dinanti


*dan kembaliku pun tak diharapkan.


*Ternyata mencintai sendirian rasanya semenyakitkan ini.


Akhtar mengusap wajahnya mengingat kembali kata-kata yang dia ucapkan saat pertama kali bertemu Shanum. Ada amarah dan kecewa dalam setiap kalimat yang meluncur begitu saja dari lisannya.


Menyesal, tidak menelusuri tentang Shanum lebih jauh. Informasi yang dia dapatkan dari Andi sahabatnya saat ke Garut bahwa Shanum sudah menikah cukup meyakinkan. Dia percaya begitu saja dengan informasi yang diberikan sahabatnya itu.


Akhtar tildak berpikir kemungkinan-kemungkinan lainnya. Hingga menyimpulkan, Shanum tidak menunggunya dan memilih bersama yang lain.


Terlintas juga kilasan acara pengumuman tentang dirinya dan Raina. Akhtar tak kuasa membayangkan bagaimana kecewa dan sakitnya Shanum mendengar pengumuman yang disampaikan Ayahnya.


*Selain akan mengabdikan dirinya di yayasan, Ananda Raina juga akan mengabdikan hidupnya mendampingi putra kebanggaan kami, Akhtar Farzan Wijaya,

__ADS_1


"Astaghfirulloh ...aku sungguh sudah sangat menyakiti Shanum", gumamnya.


Pantas saja kata-kata Shanum saat pertemuan pertama mereka seolah menyerang balik Akhtar, menunjukkan betapa Shanum pun merasa terluka dan kecewa.


Dan yang tak kalah penting yang mengusik pikiran Akhtar selama dua hari ini adalah tentang pernyataan Ahsan yang memperkenalkan Shanum sebagai calon istrinya.


*Bro, kenalin ini calon makmumku, Shanum Najua Azzahra,”


*Sayang, kenalin ini Akhtar, Akhtar Farzan Wijaya. Sahabatku juga ketua yayasan baru kita dan ini Raina sahabatku juga sekaligus calon istri Akhtar.


"Aaaaarghhh...." teriak Akhtar kembali mengacak rambutnya.


"Kenapa jadi begini sih?", gumamnya.


Sebenarnya di satu sisi hati Akhtar sangat bahagia mendapati kenyataan bahwa ternyata Shanum belum menikah.


Artinya masih ada kesempatan untuknya bisa kembali bersama Shanum. Selama janur kuning belum melengkung, bukankah jalan untuk mereka bersama masih terbuka lebar.


Sementara di sisi lain, Akhtar pun dipusingkan dengan kenyataan bahwa dirinya pun sudah bukan orang bebas sekarang.


Seantero yayasan sudah tahu bahwa Raina adalah calon istrinya. Bahkan rencananya dalam waktu dekat acara pertunangan mereka pun akan segera diresmikan.


Akhtar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia kembali bersama Shanum dan meninggalkan Raina begitu saja.


Tidak hanya keluarga besar yang akan menentang keputusannya tapi juga Shanum pasti akan terkena imbasnya. Dia tidak ingin nama baik Shanum rusak karena dicap sebagai pelakor alias perebut laki orang.


Kenyataan lain yang masih sulit Akhtar terima adalah tentang Ahsan.


Dan kenapa harus Ahsan? orang dekatnya, orang yang selama ini selalu menemani dan mensupport dia, Ahsan selalu menemaninya di saat dirinya sendiri dan kesepian.


Bahkan dalam keadaan terpuruk saat mengetahui fakta menyakitkan tentang Shanum dari salah satu sahabatnya di Garut, Ahsanlah yang selalu mensupportnya.


Sungguh Akhtar pun ingin Ahsan bahagia dengan hidupnya, Akhtar tahu kisah percintaan sepupunya itu pun tidaklah berjalan mulus.


Akhtar tahu kalau Ahsan sedang mengejar cintanya yang masih belum mampu ia gapai.


Apakah selama ini yang Ahsan kejar adalah Shanum?


tapi....bukankah selama ini Ahsan sedang menunggu seseorang?


lantas mengapa dia memperkenalkan Shanum sebagai calon makmumnya?


Kenapa harus Shanum, kenapa harus Shanumnya?


Berbagai pertanyaan terus memenuhi pikiran Akhtar. Dia merasa teka-teki ini terlalu rumit untuk bisa dia pecahkan sendiri. Dia harus segera mencari jalan keluarnya.


flashback off


Hidupnya sungguh kacau selama dua hari ini. Pikirannya tidak bisa lepas dari Shanum, Shanum dan Shanum.


Berbekal nomor telepon yang dia dapat dari curriculum vitae, Akhtar terus menghubungi Shanum. Akhtar butuh penjelasan, tapi sayang sejak malam itu gawai Shanum masih belum aktif.


Berdasarkan informasi yang dia dapat dari orang kepercayaannya, dia tahu kalau Shanum pulang ke Bogor. Saat ini tidak ada hal lebih yang bisa dia lakukan, selain terus mengiriminya pesan dan menunggu Shanum membalasnya.

__ADS_1


Akhtar terus memantau gawainya, tidak membiarkan gawai itu jauh darinya walau sebentar.


Setiap menit bahkan detik dia membuka aplikasi whattsapp, membaca kembali pesan yang sudah dia kirim untuk Shanum tapi ternyata dua hari sudah berlalu pesannya masih centang abu satu.


Bahkan Akhtar mengabaikan chat dan panggilan masuk dari banyak orang termasuk Raina.


Hari ini hari ketiga sejak Akhtar mengirim pesan untuk Shanum. Keresahannya semakin menggebu tatkala mendapati kabar jika Shanum belum juga kembali.


Bukannya dini hari nanti semua panitia akan pergi ke Pantai Pangandaran? lantas kenapa Shanum belum kembali? batinnya.


Pagi itu Akhtar terus mondar-mandir di ruangan kantornya. Sudah tiga hari ini Akhtar bahkan tidak pergi ke perusahaan. Dia terus berada di kantor yayasan.


Ruangan Akhtar di kantor yayasan berada di lantai dua. Jendela ruang itu tepat menghadap gerbang utama untuk memasuki wilayah yayasan, sehingga dapat melihat dengan jelas siapa saja yang datang dan keluar.


Akhtar bahkan langsung memantau cctv gerbang utama yang terhubung ke komputer yang ada di ruangannya.


Tidak ada yang Akhtar lakukan di kantor itu selain memandangi gawainya, menatap komputer memantau cctv pintu gerbang utama dan sesekali melihat langsung keadaan gerbang utama dari jendela kantornya. Berharap kedatangan Shanum segera, kembali ke rumah dinasnya.


Sementara di bagian bumi lainnya yang tak jauh dari tempat Akhtar berada, Ahsan pun sedang merasakan kegundahan hatinya.


Sudah dua hari Ahsan tidak bisa menghubungi Shanum. Pesan-pesan yang dia kirim sejak dua hari yang lalu tak satupun yang bercentang biru. Semuanya bahkan bercentang abu satu.


Menurut informasi yang dia dapat dari Liani, Shanum sedang pulang ke Bogor. Menyusul Shanum ke Bogor, bukanlah hal yang sulit untuknya. Ingin sekali dia melakukannya. Tapi Ahsan mengerti kalau Shanum menonaktifkan gawainya berarti Shanum benar-benar tidak ingin diganggu.


Sudah hari ketiga Shanum pergi. Acara pembubaran panitia akan dilaksanakan besok di Pantai Pangandaran. Mereka akan berangkat dini hari nanti, supaya bisa sampai di Pangandaran menjelang matahari terbit.


Tapi Ahsan belum mendapatkan informasi apapun tentang Shanum. Sungguh dia khawatir, Shanum tidak turut serta acara itu.


Liani yang menjadi sasaran Ahsan mengorek informasi tentang Shanum bahkan sudah jengkel, gawainya tidak pernah berhenti berdering karena ulah Ahsan yang terus mengiriminya pesan menanyakan perihal Shanum.


Jangankan Ahsan, Liani sendiri sahabat dekat Shanum bahkan tidak mempunyai akses untuk menghubungi Shanum selama hampir dua hari ini.


Selama dua hari ini pun Ahsan tidak banyak beraktivitas. Dia hanya memantau gawainya, membaca pesan yang dia kirim untuk Shanum yang masih bercentang satu warna abu, lalu mengirimi Liani pesan menanyakan tentang Shanum.


Setiap pagi hingga menjelang siang Ahsan menghabiskan waktunya di taman tempat Shanum biasa bersantai dengan novel-novelnya.


Dia pulang ke rumah dinasnya saat matahari sudah hampir di atas kepala dan kembali ke taman saat senja menjelang.


Duduk sendiri di taman itu hingga bentangan jingga di langit perlahan menghilang.


Ahsan sudah seperti orang yang tidak punya kegiatan selain melakukan dua hal itu. Padahal biasanya, di hari-hari senggang seperti ini dia selalu mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat seperti menulis jurnal, mengisi seminar atau sekedar ngegowes dengan komunitas sepedanya.


Tapi kali ini Ahsan benar-benar kehilangan semangatnya, dia masih tak enak hati belum menjelaskan tentang dirinya yang memperkenalkan Shanum sebagai calon makmum kepada sepupu dan sahabatnya.


Ahsan tahu, malam itu Shanum marah karena aktingnya begitu meyakinkan. Padahal bukan tanpa alasan Ahsan melakukan itu.


Dia hanya ingin membuat sahabat sekaligus sepupunya itu tenang karena melihat dirinya pun bahagia sudah mempunyai calon pendamping. Mengingat percakapan mereka beberapa hari yang lalu bahwa Akhtar tak enak hati akan bertunangan sementara Ahsan belum juga mendapatkan cintanya.


Padahal sungguh bukan seperti itu, Ahsan tidak tahu kalau sebenarnya keresahan hati Akhtar bukanlah karena hal itu. Justru dengan apa yang Ahsan lakukan menambah keresahan dan kegalauan sepupunya semakin menggebu.


Malam sejak acara yayasan berakhir, Akhtar dan Ahsan belum pernah bertemu lagi. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing, tenggelam dalam pikiriannya sendiri-sendiri.


Tanpa mereka tahu bahwa yang ada dalam pikiran mereka adalah orang yang sama.

__ADS_1


__ADS_2