Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Resepsi (2)


__ADS_3

"Selamat Bro" ucap Ahsan saat bersalaman dengan Haqi


"Thanks, Bro....and sorry gue tikung lo di sepertiga malam" bisiknya pelan di telinga Ahsan dengan nada bercanda dan diakhiri kekehan, namun masih bisa terdengar jelas oleh Shanum.


"Oya, selamat juga atas pertunangan lo dengan Suraya. Sorry waktu itu gue gak bisa datang" lanjut Haqi.


Shanum semakin heran, sebenarnya apa hubungan di antara mereka. Ahsan hanya membalasnya dengan senyuman, dia menepuk bahu Haqi dan beralih hendak menyalami Shanum.


"Terima kasih Kak, sudah hadir" ucap Shanum pelan.


Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan hanya sekilas menatap Ahsan, kemudian segera menundukkan kembali pandangannya.


"Selamat" hanya kata itu yang terucap dari bibirnya.


"Terima kasih, Kak dan selamat juga atas pertunangan Kakak dengan Kak Suraya. Semoga segera bersanding di pelaminan " ucap nya tulus.


Ahsan tidak menjawab dia masih betah menatap Shanum, namun dia sadar wanita yang ada di hadapannya kini telah menjadi milik orang lain. Ahsan berlalu dari hadapan Shanum tanpa kata mengabaikan ucapan selamat dan do'a yang Shanum ucapkan untuknya.


Sungguh ini adalah hal paling menyakitkan yang pernah Ahsan alami dalam hidupnya. Melihat wanita yang sangat dia cintai, dia perjuangkan dalam kurun waktu yang tidak sebentar dan hampir dia nikahi, kini bersanding dengan temannya sendiri.


Ahsan melenggang menuju arah keluar dari halaman rumah Shanum yang sudah disulap menjadi tempat pesta yang megah, dia bahkan mengabaikan panggilan teman-temannya yang sedang berkumpul menikmati hidangan pesta. Arah pandangan Shanum mengikuti kemana langkah Ahsan dan benar saja dia keluar tanpa berbalik sekali pun ke belakang.


"Maafkan aku Kak, inilah jalan yang harus kita tempuh. Aku hanya berusaha mengikuti alur hidupku dengan baik, menikmati setiap prosesnya dan mensyukuri semuanya sebagai nikmat dari Allah untukku. Aku percaya kamu akan menemukan kebahagiaanmu sendiri." bisik Shanum dalam hatinya.


Semua interaksi Shanum dan Ahsan saat dia bernyanyi di atas panggung, bersua di pelaminan dan tatapan Shanum yang mengikuti kemana langkah kaki Ahsan tidak lepas dari pantauan sepasang mata seseorang yang tak lain adalah Liani. Sahabat sekaligus orang yang paling tahu bagaimana perjuangan Ahsan untuk Shanum.


Liani menjadi orang yang paling was-was ketika mengetahui kehadiran Ahsan di resepsi pernikahan Shanum. Dia mengira sudah cukup rapi menyimpan berita tentang pernikahan Shanum dari orang-orang yayasan. Sengaja tidak memberi tahu mereka karena takut beritanya sampai pada Ahsan dan Akhtar, biarlah nanti mereka tahu jika Shanum sudah resmi menikah.


Kehadiran Ahsan saat ini membuatnya tidak bisa lengah. Dia khawatir Ahsan berbuat yang tidak-tidak yang akan mengacaukan resepsi pernikahan Shanum. Liani tahu betul betapa Ahsan sangat mencintai Shanum, tetapi sampai Ahsan pergi meninggalkan tempat resepsi tidak satu pun kekhawatirannya menjadi kenyataan.


Baru saja Liani bernapas lega karena kepergian Ahsan tanpa meninggalkan jejak. Dia sudah dikejutkan lagi dengan kehadiran seseorang di luar prediksinya. Menurut informasi terakhir yang Liani terima Akhtar sedang berada di luar negeri. Dia tidak tahu jika kepulangan Akhtar dipercepat, dan hari ini dia datang ke Bogor karena menerima informasi dari Fauzan adiknya Shanum.


Liani kembali memasang matanya, waspada dengan kehadiran Akhtar. Dia benar-benar menjadi sahabat siaga yang akan melindungi sahabatnya dari berbagai gangguan.


Kedatangan Akhtar tidak hanya menyita perhatian Liani. Shanum pun yang sedang berada di pelaminan dapat melihat dengan jelas kedatangan Akhtar. Pandangannya mengikuti kemana Akhtar melangkah, dan tanpa Shanum sadari kini Akhtar sudah berada tepat di hadapannya.


Haqi menerima ucapan selamat dari Akhtar dengan sukacita. Dia tidak mengetahui jika Akhtar adalah bagian dari masa lalu Shanum yang seharusnya dia waspadai.


Akhtar hanya mengulurkan tangannya tanpa kata, dia pun menerima pelukan Haqi dengan ekspresi yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Terima kasih, Boss. Aku kira kamu tidak akan datang. Maaf aku tidak menyerahkan undangannya langsung padamu, aku dengar kamu sedang berada di luar negeri. Jadi aku menyuruh sekretarisku menyerahkannya pada sekretarismu" jelas Haqi panjang lebar.


Shanum hanya menjadi pendengar, sejak tadi dia sibuk mengondisikan hatinya agar tetap berada di jalan yang lurus tanpa kembali berpindah haluan.


"Oya?" tanya Akhtar. Dia tidak tahu jika Haqi mengundangnya. Sepulangnya dari luar negeri karena urusan bisnis, Akhtar tidak kembali ke kantor. Dia langsung ke kantor yayasan karena hampir seminggu dia tinggalkan. Dan kepulangannya dari luar negeri yang sehari lebih cepat dari jadwal seharusnya bertepatan dengan diterimanya kabar bahwa pujaan hatinya menikah dengan orang lain.


Akhtar semakin syok karena ternyata laki-laki yang menikahi Shanum adalah rekan bisnisnya sendiri.


Akhtar beralih menghadap Shanum, pandangannya sayu. Kesedihan dan penyesalan terlihat jelas di matanya. Shanum menyadari hal itu, dia pun berusaha tenang dan tersenyum pada Akhtar. Dia berharap dapat memberikan ketenangan pada Akhtar, bahwa dia akan baik-baik saja dan berharap Akhtar pun demikian.


Tanpa kata, Akhtar berlalu dari pelaminan dan tampak mencari seseorang. Shanum hanya memandangnya sekilas. Antrian tamu undangan kembali mengular membuatnya sibuk dan kehilangan jejak Akhtar.


Liani hanya menggelengkan kepala melihat semua adegan yang ada di hadapannya. Dia baru saja terlepas dari belenggu kekhawatiran yang mengikatnya. Khawatir Akhtar melakukan hal yang tidak diharapkan. Namun kembali itu hanya sebatas kekhawatirannya.


Liani melihat Akhtar bersama Fauzan, mereka berdua pergi meninggalkan lokasi resepsi pernikahan entah kemana. Setelah mereka berdua menghilang dari pandangannya, Liani beralih melihat Shanum yang tampak sedang mencari-cari seseorang, Liani yakin Shanum pasti mencari Akhtar.


Saat pandangan mereka bertemu Liani memberi kode bahwa Akhtar sudah pergi dan terlihat Shanum bernapas lega, dia tersenyum dan menganggukkan kepala ke arah Liani.


"Siapa sangka di balik tenangnya, ada gemuruh yang sedang berusaha diredam. Siapa sangka di balik senyumnya, ada kesedihan yang sedang berusaha dihapusnya. Sekuat itu dia bisa, keren emang sahabat gue", Liani berbicara sendiri di tengah-tengah pesta resepsi pernikahan Shanum yang semakin ramai karena tamu yang berdatangan semakin banyak.


Acara resepsi pun berakhir bersamaan dengan berkumandangnya adzan Ashar. Tamu undangan sudah menyurut, tinggal beberapa orang keluarga dekat yang masih terlihat berlalu lalang.


Shanum pamit untuk melaksanakan shalat ashar terlebih dahulu karena Haqi masih mengobrol dengan temannya yang datang kesorean.


"Teh!" Fauzan memanggil Shanum beriringan dengan suara pintu yang diketuknya.


Shanum yang baru selesai shalat Ashar pun beranjak dari tempat sujud menuju pintu kamarnya.


"Ya, Dek...ada apa?" tanya Shanum masih berbalut mukena selepas shalat ashar.


"Boleh aku masuk?" tanya Fauzan, tumben-tumbennya dia meminta izin untuk masuk kamar Shanum. Shanum pun tersenyum, dia lupa jika sekarang dirinya sudah menikah dan Fauzan pasti menyadari batasannya.


"Masuklah, Dek" jawab Shanum dengan seulas senyum di bibirnya.


Fauzan pun duduk di kursi yang biasa Shanum gunakan untuk mengerjakan tugas-tugasnya.


"Ada apa, Dek?" Shanum yang melihat wajah sang adik yang murung menjadi khawatir.


"Aku tadi menemani Kak Akhtar, dia frustasi melihat Teteh menikah", jawab Fauzan lesu.

__ADS_1


Deg...tiba-tiba ada sesuatu yang mencubit hati Shanum.


"Sudahlah Dek, itu sudah bukan menjadi urusan Teteh", Shanum berkata lirih dengan suara sedikit parau. Dia mengatakannya dengan menundukkan pandangan, seperti menutupi sesuatu agar tak terlihat oleh Fauzan.


Fauzan menghela napasnya panjang, dia tahu apa yang dirasakan oleh kakaknya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, Akhtar sudah menceritakan semua permasalahan yang menghambat hubungan antara dirinya dengan sang kakak. Semuanya begitu rumit, dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk Akhtar.


"Aku hanya mau menyampaikan amanah ini" Fauzan merogoh saku kemejanya, dia menyodorkan sepucuk surat kepada Shanum.


Shanum menatap surat yang masih di genggaman Fauzan. Dia merasa enggan untuk menerima dan membaca surat yang diyakininya dari Akhtar. Shanum menyadari posisinya saat ini, dia sudah menjadi istri orang tentunya segala gerak langkahnya haruslah berdasarkan keridhoan sang suami agar menjadi berkah dunia akhirat. Tapi kepenasarannya akan isi surat itu ternyata lebih mendominasi.


"Terimalah Teh, aku tahu Teteh pasti penasaran kan dengan isi surat ini?" ujar Fauzan seolah bisa membaca keraguan di wajah Shanum.


"Dek..." Shanum menjeda ucapannya.


"Sepertinya Bang Haqi masih lama ngobrol dengan teman-temannya Teh, tadi ada teman-teman lainnya yang baru datang. Mereka sekarang ada di mushala" jelas Fauzan, mengurai keraguan dan kekhawatiran Shanum.


Perlahan tangan Shanum pun terulur untuk mengambil surat itu. Fauzan beranjak dari tempat duduknya, dia memberikan ruang untuk Shanum. Fauzan pun ingin memastikan jika Haqi masih bersama teman-temannya dan tidak mengetahui perihal surat itu.


Sepeninggal adiknya Shanum menggenggam erat sepucuk surat yang baru saja dia terima. Masih ada sedikit keraguan untuk membukanya. Namun kesendiriannya saat ini tidak ingin dia sia-siakan, perlahan Shanum pun membuka perekat amplof surat itu dan mengeluarkan isinya.


Bismillah


To: Shanum Najua Azzahra


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,


Shanum...


Jika titik akhir takdir kita adalah perpisahan, maka aku akan berusaha untuk menghormati itu.


Akan ku kubur dalam-dalam segala yang pernah menjadi harapan, agar tak ada nestapa di masa depan.


Untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.


Hiduplah dengan baik!


Do'aku untukmu kini hanya satu, semoga bahagia selalu dalam pelukmu dimana pun dan dengan siapa pun itu.


Dengan siapapun!

__ADS_1


From: Akhtar Farzan Wijaya


Shanum menarik napasnya panjang, dia membiarkan oksigen mengisi setiap celah paru-parunya. Membaca surat dari Akhtar membuat nafasnya tercekat, rasa sesak menyergap dadanya. Air mata pun tak terbendung, mengalir begitu saja membasahi mukena yang masih setia membalut tubuhnya.


__ADS_2