Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
New Rival


__ADS_3

Shanum menghilang di balik pintu kamarnya. Liani hanya melongo melihat kelakuan Shanum yang mencurigakan menurutnya, dia sangat penasaran dengan pengirim pesan itu tapi dia pun tidak mau memaksa.


Dia berharap Shanum akan mau berbagi apa pun yang dirinya alami dengannya dan menghadapinya bersama. Sudah cukup selama ini Shanum menghadapi semuanya sendirian, sebagai seorang sahabat yang baik Liani ingin hadir dalam hidup Shanum dalam keadaan suka maupun duka.


Masuk ke dalam kamar, Shanum segera menutup pintunya. Bersandar di balik pintu dia mendekap gawainya erat, enggan membaca pesan masuk yang dimaksud Liani tadi tapi dia pun penasaran.


Perlahan dia membuka layar gawainya yang sudah sempat padam. Menggeser layarnya dan mengklik aplikasi whattsapp dan membuka pesan dari nomor yang sama beberapa hari lalu...


*Terima kasih sudah kembali.


*Aku bahagia.


Pesan yang singkat namun membuat hati Shanum berdebar tak karuan. Hati dan akalnya berperang, hatinya ingin sekali membalas pesan yang ia yakini dari Akhtar.


Tapi akalnya masih berfungsi dengan baik, dia tidak mau memberi harapan sekecil apapun walau hanya dengan membalas pesan. Apalagi menjadi orang ketiga diantara hubungan Akhtar dan Raina.


Ingin sekali akal mengiyakan bisikan hatinya yang meyakini kalau Akhtar masih mencintainya, namun dia tahu percaya diri itu baik tapi sadar diri jauh lebih baik.


Shanum kembali memilih mengabaikan pesan itu dan melanjutkan aktivitasnya melaksanakan shalat dzuhur.


"Maaf ya Li", Shanum keluar dari kamarnya setelah selesai dengan rakaat siangnya. Dia shalat sendiri karena tahu Liani sedang berhalangan. Shanum mendekati Liani dan meminta maaf.


"It's Oke, aku mah setia menunggu kalau kamu mau cerita", ucap Liani santai.


"Pesan tadi sepertinya dari Akhtar, Li" Shanum merunduk saat mengatakannya, dia tidak mau membuat sahabatnya itu salah faham.


"Hah, serius?" pekik Liani seolah tidak percaya.


"Mau ngapain dia?", tanya Liani penasaran.


Shanum menggeser layar gawainya, membuka pesan dari nomor yang tidak dia simpan dan memperlihatkannya pada Liani.


'Assalamu'alaikum'


'Shanum....'


'Ini aku'


'Akhtar Farzan Wijaya'


**


'Terima kasih sudah kembali


'Aku bahagia


Liani membaca deretan pesan yang dikirim Akhtar, dia berdecak sedikit kesal.


"Ckkk....apa ini maksudnya?"


"Apa dia memang masih mengharapkan kamu, Num?"


"Terus kenapa dia malah tunangan sama Bu Raina?"


"Sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa sih dulu?"


Shanum menghela napas mendengar Liani memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Sepertinya kalian memang harus bicara. Selesaikan semuanya sekarang sebelum ada kelanjutan-kelanjutan yang tidak sesuai harapan",

__ADS_1


"Mulai sekarang kalau ada sesuatu yang bikin tekanan batin, tinggalin. Kita terlalu muda untuk stres yang tidak perlu", pungkas Liani.


Shanum hanya tersenyum getir menanggapi ucapan Liani, dia tahu sahabatnya itu sangat peduli dengannya. Shanum pun merenungi setiap ucapan Liani. Memikirkan kembali apa yang akan dia putuskan selanjutnya.


***


Sementara di tempat lain, Akhtar tampak tidak senang dengan kehadiran Raina. Setelah memastikan Shanum masuk ke dalam rumah dinasnya tanpa Ahsan. Akhtar pun bergegas menuju mesjid untuk berjamaah shalat dzuhur dan kembali ke kantornya.


Di luar dugaan ternyata di ruangannya sudah ada Raina yang menunggu dengan membawa bekal makan siang.


"Assalamu'alaikum, Mas" ucap Raina saat melihat kedatangan Akhtar.


"Wa'alaikumsalam" jawab Akhtar cuek langsung menuju meja kerjanya dan membiarkan pintu ruangannya terbuka.


"Mas, aku nelponin kamu dari kemarin gak diangkat-angkat, pesan aku juga gak dibalas, kamu baik-baik saja kan, Mas? Aku khawatir lho.." Raina mendekati meja Akhtar dan mengungkapkan kekhawatirannya, kini mereka duduk berhadapan.


"Aku bawain makan siang buat kita, Mami yang masakin khusus buat calon mantu, hhe .. sengaja aku bawa ke sini biar kita bisa makan berdua di sini", lanjut Raina tanpa menunggu jawaban Akhtar.


Akhtar melengos mendengar penuturan Raina, kalimat calon mantu yang diucapkan Raina sungguh tidak nyaman terdengar di telinganya.


"Mas, aku tutup pintunya ya?" Raina beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.


"Eh jangan ditutup!" Pekik Akhtar saat Raina sudah memegang pegangan pintu dan akan menutupnya.


"Kenapa?" tanya Raina heran.


"Enggak apa-apa cuma gak enak aja kita berduaan dalam satu ruangan tertutup kita bukan mahram", jawab Akhtar mencari alasan yang tidak bisa disanggah oleh Raina.


Raina tahu dari dulu Akhtar sangat menjaga batasan pergaulan dengan lawan jenis, itulah salah satu sebab yang membuat Raina sangat menginginkan Akhtar menjadi kekasihnya. Akhirnya Raina menuruti perintah Akhtar, walau pun hatinya sedikit dongkol.


"Belum Mas belum mahram, lagian sebentar lagi kita kan akan jadi mahram", ulang Raina memperjelas.


Akhtar kembali melengos, dia memilih membuka laptopnya tidak mau berdebat dengan Raina.


"Aku ada pekerjaan penting sekarang. Jadi kalau kamu mau makan silahkan makan saja", Akhtar masih berusaha menghindar makan siang berdua dengan Raina.


"Tapi aku sengaja lho Mas bawain kamu makan siang", ucap Raina dengan suara sedikit parau dia terlihat sedih karena penolakan dari Akhtar.


Akhtar menghela napas panjang melihat situasi ini, dia pun jadi tak tega dan memilih beranjak menuju sopa di ruangannya.


"Kalau begitu kita makan di sini saja" ajak Akhtar


"Baik Mas" jawab Raina dengan antusias dia membawa bekal makan siang yang dibawanya kemudian menatanya di meja, dikeluarkannya dua piring dan dua sendok yang sengaja dia bawa dari rumah.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.


"Assalamu'alaikum" Ahsan datang ke ruangan Ketua yayasan dan mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam" Akhtar dan Raina kompak menjawab.


"Ciee...kompak bener nih calon manten jawab salamnya, udah sehati ya?!" ejek Ahsan sambil nyelonong masuk dan duduk di sopa samping Akhtar.


"Apaan sih kamu" Akhtar melempari Ahsan dengan bantal sopa.


"Hehe...woles bro, sorry kalau aku ganggu" balas Ahsan.


"Enggak, syukurlah kamu datang pasti belum makan siang kan? ayo kita makan siang bareng", ucap Ahsan sambil menyodorkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya yang sudah diisi Raina sementara Akhtar memilih mengambil kotak bekal lainnya.


Ahsan tidak menolak, dengan senang hati dia menikmati makan siangnya. Sementara Raina tampak kurang menikmati karena rencananya gagal untuk makan siang berdua dengan Akhtar.

__ADS_1


Selesai makan siang Akhtar dan Akhsan bersiap menuju ruang sekretariat panitia, kedatangan Ahsan ke ruangan Akhtar sengaja untuk memberitahukan perihal rapat hari ini.


Niatnya hanya sekedar menyampaikan pemberitahuan tapi nyatanya Akhtar turut serta dalam rapat itu karena dia tahu agenda rapat hari ini adalah fiksasi acara yang akan di adakan di Pangandaran.


Akhtar sengaja mengikuti rapat itu, selain untuk menghindari Raina dia juga tahu kalau bagian acara adalah tanggung jawab Shanum, itu artinya Shanum akan hadir pada acara rapat hari ini dan Akhtar bisa bertemu dengan Shanum lagi.


***


Ting..


Bunyi pesan masuk di gawai Shanum membuyarkan lamunannya. Dia beralih menatap gawainya dan membuka aplikasi pesan.


*Ahsan


'Kakak tunggu kamu di sekretariat, teman-teman tim acara sudah di sini'


Ternyata pesan dari Ahsan, hampir saja Shanum lupa kalau saat ini dia harus menyiapkan acara untuk di Pangandaran nanti.


"Li, aku lupa Kak Ahsan dan teman-teman tim acara sudah menunggu di sekre, aku harus kesana. Kamu bisa ikut kan?"


"Hah, ngapain?


"Nemenin aku lah", tukas Shanum.


"Ooh..oke..oke, tapi aku mau mandi dulu kamu duluan aja ya, nanti aku nyusul", jawab Liani.


Mereka berdua pun beranjak dari tempat duduknya masing-masing dan pergi ke tujuan yang berbeda.


Shanum berjalan menuju kantor sekretariat panitia kegiatan yayasan kemarin. Lokasinya masih di gedung kantor utama yayasan, sehingga dia pun harus berjalan melewati deretan rumah dinas guru dan dosen.


Sesekali perjalanannya terhenti karena bertemu dengan rekan sejawat yang menyapa dan mengajaknya ngobrol walau hanya sekedar bertanya kabar.


"Assalamu'alaikum, Bu Shanum.


"Wa'alaikumsalam", Shanum menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang laki-laki nan gagah tengah tersenyum padanya.


"Mau kemana Bu?" tanyanya.


"Eh Pak Arga, saya mau ke gedung kantor yayasan", jawab Shanum.


"Ooh kebetulan saya juga mau ke sana, ada berkas yang harus saya urus." tutur Arga.


Diperjalanan menuju gedung kantor yayasan mereka terus mengobrol.


"Num, kenapa gak milih jadi dosen?" tanya Arga tanpa memanggil Shanum dengan panggilan formal.


Saat berdua mereka memang cukup akrab. Arga adalah teman sekelas Shanum saat kuliah S2 dulu. Mereka adalah mahasiswa pejuang beasiswa dan sama-sama sebagai mahasiswa perantau membuat mereka merasa senasib sepenanggungan.


Banyak teman-teman seperjuangan Shanum dan Arga yang mengikuti seleksi untuk menjadi pendidik di yayasan tersebut, tapi hanya mereka berdua yang lolos pada tahun itu.


Tidak banyak yang tahu kalau Shanum dan Arga adalah teman yang cukup dekat. Perbedaan level tempat mereka mengabdi membuat mereka pun jarang bertemu.


"Kayaknya aku belum cukup ilmu untuk jadi dosen, Ga'' jawab Shanum santai.


"Kamu tuh, siapa bilang? ngejek aku kamu?" kilah Arga yang menganggap jawaban Shanum tidak logis bahkan seperti mengejeknya. Arga bahkan memukul pelan bahu Shanum dengan map yang dipegangnya. Arga tahu Shanum memiliki kompetensi yang laik untuk menjadi dosen.


"Hahaha.....kenapa emangnya?" Shanum tergelak dan balik bertanya kepada Arga.


"Masih nanya lagi", sentak Arga kembali memukulkan map yang dipegangnya ke bahu Shanum.


"Aku tuh belum percaya diri untuk jadi dosen sebelum aku bisa lulus S3, Ga. Kalau kamu kan sekarang lagi kuliah lagi, aku seneng banget dengernya pas dapat info kamu lulus beasiswa S3", jawab Shanum menjelaskan alasannya.

__ADS_1


Selama perjalanan obrolan mereka terus berlangsung, kadang diselingi gelak tawa yang menunjukkan mereka sangat akrab. Saking asiknya tak terasa mereka sudah sampai di depan ruang sekretariat panitia. Tanpa mereka sadari di depan ada dua orang yang menatap mereka tajam dengan tangan terkepal.


__ADS_2