
Tiga pemuda yang menghipnotis kaum hawa dengan penampilan dan ketampanannya kini tengah berdiri di atas pentas. Ahsan yang memang hobi bernyanyi menjadi penggerak dari aksi trio ini. Dengan paksa menarik Ghifar yang belum pernah bernyanyi di hadapan banyak orang untuk naik ke atas panggung menemaninya bernyanyi. Tidak lupa dia pun memanggil Akhtar dari pusat suara sehingga para pengunjung yang semakin siang semakin ramai dan didominasi ibu-ibu muda pun turut memanggil sang owner untuk naik ke atas pentas.
Dengan langkah gontai Akhtar pun terpaksa berjalan menuju ke atas panggung karena teriakan para pengunjung tak juga berhenti. Sejak tadi pandangannya mencari-cari sosok wanita yang selalu ada di pikirannya namun saat akan melangkah untuk mencarinya selalu terjegal dengan beberapa tamu yang mengajaknya berbincang atau sekedar berfoto. Ada sesuatu yang kurang yang Akhtar rasakan sejak pagi hingga siang ini karena belum melihat Shanum.
Selama kegiatan grand opening ini Shanum benar-benar hanya berperan di belakang panggung. Dia sudah menyiapkan orang-orang terlatih untuk tampil ke depan memberikan pelayanan kepada setiap tamu yang datang. Padahal Akhtar berharap saat dirinya memotong tumpeng sebagai simbol resminya mebel FDF ini dibuka Shanum berada di sampingnya. Namun ternyata Indri yang Shanum utus untuk mendampingi pembawa tumpeng ke depan dan menyerahkan pisau berbahan plastik yang diikat pita berwarna merah kepada Akhtar.
Intro dari sebuah lagu milik Yopi and The Nuno menjadi pembuka penampilan mereka di atas panggung. Banyak pengunjung yang menghentikan aktivitas mereka yang sedang berbelanja atau sekedar melihat-lihat karena mendengar suara merdu dari pusat suara.
Sejak saat pertama melihat senyumannya
Jantung berdebar-debar, inikah pertanda?
Ahsan mengawali lagu itu dengan dihadiahi tepuk tangan yang meriah dari para pengunjung. Liani bahkan menghentikan aktivitasnya yang sedang menjaga stand utama ketika mendengar Ahsan bernyanyi. Dia ingin menyaksikan langsung penampilan laki-laki yang selama beberapa bulan ini sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Dan benar saja, laki-laki itu tengah menatap ke arahnya dan melambaikan tangan saat mereka beradu tatap.
Ahsan pun mempersilahkan Akhtar untuk melanjutkan.
Namun ternyata salah, harapanku pun musnah
Sejak aku melihat kau selalu dengannya
Suara tepukan dan teriakan semakin heboh mengisi setiap sudut gedung itu saat terdengar Akhtar menyanyi. Akhtar pun segera menyerahkan micnya kepada Ghifar.
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Ahsan kembali menyambung lagu,
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Tangan Ahsan terulur mempersilahkan Akhtar melanjutkan lagunya.
Mungkin 'ku harus pergi untuk melupakannya
Dalam hati berkata takkan sanggup pergi, wow-wow-wow
Dan mereka bertiga pun bernyanyi bersama menuntaskan lagu itu.
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Telah 'ku coba menghapus bayang-bayang indah
Tetapi selalu aku merindu lagi, oh
Oh, mengapa 'ku tak bisa
'Ku tak bisa, 'ku tak bisa
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Tuhan, tolong, tolong aku
Jatuh cinta pada kekasih orang
Ingin lupa 'ku tak bisa
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Sayang, sayang, dia ada yang punya
__ADS_1
Sayang, sayang, dia ada yang punya, wow-wow
Sumber: Musixmatch
Disambut riuhnya tepuk tangan tamu undangan yang masih menikmati aneka furniture yang dipajang di sana serta pengunjung yang semakin ramai, mereka turun dari atas panggung dengan senyum yang merekah dari Ahsan dan Ghifar. Berbeda dengan Akhtar yang berwajah datar. Sejak naik ke atas panggung dia tidak menikmati lagu apa yang dinyanyikannya. Pandangannya terus beredar mencari keberadaan Shanum.
Liani yang sejak tadi sudah berdiri menyaksikan penampilan Ahsan, tersenyum bahagia saat melihat Ahsan yang berjalan ke arahnya.
"Gimana penampilan aku?" tanya Ahsan yang menghentikan langkahnya tepat di hadapan Liani.
"Eummhh ...." Liani tampak pura-pura berpikir. "Aku sih yess" ucapnya diiringi kekehan.
Ahsan semakin melebarkan senyumnya, dia senang mendapat pujian dari wanita yang akhir-akhir ini selalu membuatnya nyaman itu.
"Oke, aku traktir makan nanti. Kita keliling Garut sebelum pulang" ujarnya, tanpa sadar tangannya terulur mengusap puncak kepala Liani yang terbalut jilbab berwarna mocca sangat pas dipakai Liani yang terlihat semakin manis.
Sontak, Liani terhenyak kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Ahsan, tubuhnya serasa dialiri arus listrik yang membuatnya menegang seketika.
Ahsan tidak menyadari perbuatan sepelenya telah membuat gadis yang ada di hadapannya mati kutu.
"Lapar, makan yuk!" dengan polosnya Ahsan mengajak Liani. Merasa tidak mendapat jawaban Ahsan menatap Liani dan memperhatikan dengan lekat.
"Kamu kenapa?" Ahsan sedikit panik karena melihat wajah Liani yang memucat. "Kamu sakit?" tanyanya lagi.
'malah nanya kenapa, gak tahu gitu kalau aku begini gara-gara dia. Ngapain juga dia pake ngelus kepala aku, bikin baper aja' batin Liani.
"Li, kamu sakit? istirahat aja yuk ke atas" ucapan Ahsan kali ini berhasil mengembalikan kesadaran Liani. Dia buru-buru menetralkan hatinya.
"Hah, gak apa-apa Kak, aku baik-baik saja. Kakak mau makan? Ayo aku antar" ucap Liani cepat, dia tidak mau Ahsan curiga dengan perubahan suasana hati dan tubuhnya karena perlakuannya tadi.
Liani pun membawa Ahsan ke area food court yang bertempat di halaman belakang gedung. Dipasang tenda yang menutupi seluruh area halaman belakang agar tamu undangan nyaman saat menikmati hidangan di sana. Deretan meja bundar dikelilingi kursi yang sudah terbungkus kain berwarna gold melingkar rapi dan bersih membuat suasana sangat nyaman. Berbagai stand aneka makanan yang menggugah selera pun terhidang di sana.
Akhtar tampak sudah duduk di salah satu meja bersama para tamu VIP, mereka menikmati hidangan dengan lahapnya. Tidak hanya aneka produk furniture yang langsung di desain oleh sang owner yang menjadi bahan perbincangan mereka. Tapi juga menu makanan yang tersaji sungguh memanjakan lidah. Mereka menanyakan darimana vendor catering yang Akhtar pesan untuk acara ini. Akhtar pun menjelaskan, dengan mata berbinar dia mempromosikan warung nasi ibu milik Shanum. Ada kebanggaan di hatinya saat bercerita tentang Shanum, Akhtar semakin merindukan pemilik warung nasi ibu itu.
"Pak Akhtar, saya sangat tertarik dengan semua menu ini. Biasanya saya jarang habis lo kalau makan di acara-acara seperti ini. Tapi ini sampai habis sama dessertnya, haha....." orang itu mengangkat cup puding yang sudah tandas.
"Kebetulan minggu depan saya ada acara kantor. Boleh saya bertemu dengan pemiliknya?" seorang pemuda yang menjadi tamu undangan Akhtar berbicara terang-terangan bahwa dia tertarik dengan masakan dari warung nasi ibu, dan ingin bertemu dengan Shanum.
Akhtar memandang pemuda yang baru saja selesai menghabiskan satu cup puding itu. Dia memperhatikan secara seksama penampilan pria itu. Dia tidak mengenal semua tamu yang hadir saat ini, hanya jika melihat dari penampilannya sepertinya dia orang yang cukup penting di Garut. Hatinya menolak jika harus mempertemukan dia dengan Shanum, dari gayanya pria itu terlihat masih sangat muda dan sepertinya belum menikah, pikirnya.
'Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan. Kenapa tidak rela jika dia berkenalan dengan Shanum. Toh aku pun tidak berhak atas Shanum' Akhtar membatin.
"Iya Pak, bisa Pak. Sebentar saya panggilkan" jawab Akhtar, dia mencari petugas catering yang bisa dimintai tolong untuk memanggilkan Shanum.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" petugas catering yang masih sepupu Shanum pun menanyakan keperluan Akhtar memanggilnya.
"Iya, Kang. Ini ada tamu yang ingin bertemu pemilik catering warung nasi ibu, bisa dipanggilkan?" jawabnya cepat.
"Oh...mangga Pak" jawab petugas itu dan berlalu dari hadapan Akhtar untuk mencari Shanum.
Tidak menunggu waktu lama, Shanum datang diantar oleh pemuda yang Akhtar mintai bantuan tadi.
"Assalamu'alaikum. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Shanum mendekat ke arah Akhtar karena sepupunya bilang jika Akhtar mencarinya.
Akhtar menoleh, dia yang sedang larut dalam obrolan dengan rekan-rekan bisnisnya tidak menyadari kedatangan Shanum.
Sejenak pandangannya terpaku, riasan tipis yang dipakai Shanum membuatnya pangling. Balutan hijab berwarna peach yang ditata dengan modist namun tetap menjuntai menutupi bagian dada dan punggungnya dipadukan dengan gaun berwarna mint yang begitu elegan sangat pas dipakai Shanum. Akhtar kembali terpesona dengan wanita yang masih ada di hatinya itu.
"Pak" panggilan Shanum menyadarkannya Akhtar, dia memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu ketahuan menatap Shanum begitu dalam.
"Ya, maaf mengganggu ya?" tanya Akhtar basa-basi, tersenyum ramah.
"Tidak Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Ini ada tamu yang ingin bertemu, dia tertarik dengan menu-menu di warung kamu" Akhtar menunjuk seseorang yang sudah berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Shanum.
Shanum pun beralih menatap orang yang ditunjuk Akhtar. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda menerima salam dari pria itu.
"Oh, maaf" pria itu pun menarik kembali tangannya.
"Saya Aditya, Aditya Darmawan. Direktur utama Bank BRI cabang Garut. Panggil saja saya Aditya, senang bertemu dengan ?...." ucapannya terhenti menunggu Shanum memperkenalkan diri.
"Saya Shanum" lanjut Shanum singkat.
"Saya senang bertemu dengan Teh Shanum, saya tertarik dengan masakan dari warung nasi teteh, boleh minta kartu namanya?" pria yang bernama Aditya itu pun mengutarakan maksudnya.
"Boleh Pak, sebentar" Shanum pun merogoh tas selempangnya mencari kartu nama warung nasi ibu miliknya.
Akhtar pura-pura mengabaikan keduanya, dia kembali melanjutkan obrolan dengan rekan bisnisnya yang lain tetapi pendengarannya ditajamkan fokus pada pembicaraan dua orang di sampingnya.
Ekspresinya langsung berubah ketika Aditya mengajak Shanum untuk mengobrol di meja yang lain, dia pun menoleh. Tanpa sadar menatap tajam pada Shanum dengan tatapan penuh intimidasi karena mendengar Shanum yang mengiyakan ajakan Aditya.
__ADS_1
Aditya pamit pada Akhtar, dua orang itu berlalu dari meja tempat awal mereka berbincang. Tatapan Akhtar mengikuti kemana arah mereka pergi, sejujurnya hatinya tidak rela jika Shanum berduaan dengan Aditya.
Sementara di meja VIP, Bu Hasna dan Bu Fatimah masih larut dalam obrolan tentang kehidupan masing-masing yang mereka jalani saat ini.
"Gimana? bisa gak kalau kita adakan makan malam keluarga dan anak-anak harus ikut biar nanti mereka bertemu" Bu Fatimah kembali mengusulkan ide untuk mempertemukan Akhtar dengan adiknya Shanum.
"Fatim, maksud kamu apa? kamu mau menjodohkan anak kamu dengan anakku?" tanya Bu Hana kembali memastikan. Beliau menyendok puding yang ada di depannya kemudian menyuapkannya.
"Iya, boleh ya? Neng Zahra udah nikah, jadi aku mau jodohin Akhtar dengan adiknya Neng Zahra. Kan udah aku bilang enggak dapet kakaknya adiknya juga bolehlah. Bisa ya....?" jelas Bu Fatimah dengan wajah memelas.
"Huuhh....." Bu Hana membuang napasnya kasar, dia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan sahabatnya itu. Selama ini Shanum selalu menutupi status pernikahannya. Bu Hana tidak mau anak sulungnya kecewa jika tahu kalau dia memberi tahu Fatimah tentang keadaan Shanum yang sebenarnya.
"Ayolah Han, kamu tahu kan aku sangat ingin melihat putraku bahagia. Sudah cukup dia menderita selama ini. Sudah cukup dia berkorban selama ini" bujuk Bu Fatimah dengan wajah semakin memelas, dia bahkan menggenggam erat tangan Bu Hana hingga kesulitan saat kembali akan mengambil pudingnya.
"Fatim, aku mau makan ini tanggung" sela Bu Hana karena Bu Fatimah terus memegangi kedua lengannya.
"Upss...maaf, hehe..Aku gak nyadar" Bu Fatimah pun melepaskan genggaman tangannya, dia meraih satu cup puding untuk dimakannya.
"Wiih....enak banget pudingnya. Kamu yang bikin?" tanya Bu Fatimah sambil kembali menyuapkan puding ke mulutnya.
Bu Hana menggelengkan kepalanya. "Bukan, ini si Teteh yang bikin, aku juga baru mencobanya. Ternyata enak, lembut banget. Dia bilang katanya mau coba resep puding baru, ternyata ini hasilnya" jelas Bu Hana.
"Neng Zahra?" Bu Fatimah memastikan jika si teteh yang dimaksud Bu Hana adalah Shanum. Bu Hana hanya menganggukan kepalanya.
"Waahh....hebat neng zahra, tadi juga aku coba risolnya enak banget, kejunya lumer di mulut tapi gak bikin eneuk, bikinan Neng Zahra juga?" Bu Fatimah kembali memuji makanan yang menjadi dessert hari ini.
"Iya, pokoknya semua makanan itu" Bu Hana menunjuk ke arah deretan stand dessert yang tampak dikerubungi para tamu. "Semuanya si teteh yang buat, aku mah spesialis lauk pauknya aja" Bu Hana menceritakan semua hasil masakan Shanum dengan bangga.
"Aahhh...kamu mah bikin baper orang aja, Han. Aku makin nyesel dulu gak cegah Kang Furqan jodohin Akhtar, mungkin sekarang Akhtar masih sama Neng Zahra" Bu Fatimah kembali menyayangkan nasib putranya.
"Jadi sekarang boleh ya anak gadis kamu buat aku satu, aku yakin Akhtar akan suka" Bu Fatimah kembali membahas perihal perjodohan Akhtar dengan adiknya Shanum.
"Kamu yakin Akhtar bakal nerima? Gak kapok main jodoh-jodohin anak? bukankah kamu tahu jika keterpaksaan akan membuat mereka menderita?" sindir Bu Hana.
"Tapi kan ini mah lain, aku yakin putrimu baik-baik" Bu Fatimah kembali beralibi.dengan wajah cemberut.
Bu Hana kembali menghela napas panjang. Mungkin sudah saatnya sekarang dia untuk jujur tentang keadaan putri sulungnya.
"Fatim, aku mau bicara serius dengan kamu" Bu Fatimah menghentikan gerakannya yang akan menyuapkan puding ke mulutnya. Dia menatap lekat sahabatnya itu, menunggu apa yang akan dikatakannya. Terlihat Bu Hana berbicara dengan menunjukkan wajah yang lebih serius.
"Sebenarnya...." Bu Hana menjeda ucapannya. Dia menengok ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan seseorang.
"Sebenarnya apa, Han? kamu nyari siapa?" Bu Fatimah semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Bu Hana.
Bu Fatimah menarik napasnya dalam, mengisi paru-parunya yang seolah kehabisan oksigen.
"Sebenarnya, putriku dua-duanya sudah menikah" Bu Fatimah mengernyitkan kening. Mencerna apa yang dikatakan Bu Hana.
"Rida adiknya Shanum lebih dulu menikah, dia mendahului kakaknya karena calon suami dan keluarganya mendesak ingin segera dihalalkan. Besanku waktu itu mau ibadah haji, dan mereka ingin sebelum berangkat putranya sudah mempunyai istri yang akan mengurusnya, maklum anak tunggal. Shanum menyetujuinya, dia tidak keberatan jika harus dirunghal sama Farida, aku sempat menolak tidak ridha kalau Shanum dirunghal. Tapi Shanum meyakinkan aku kalau dia ikhlas dan ridha, dari dulu dia memang selalu begitu. Mendahulukan kebahagian orang lain dibanding dirinya sendiri"
"Aku sempat sedih berkepanjangan karena masalah itu, namun Shanum selalu membuatku kembali tersenyum. Dia selalu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, dirinya bahagia dan bilang kalau dia akan segera menikah" Bu Hana menghela napas menjeda ucapannya. Ada tetesan bening yang jatuh dari sudut matanya saat menceritakan tentang Shanum. Bu Fatimah menyodorkan tisu untuk sahabatnya itu.
"Suatu hari seorang laki-laki yang mengaku teman Shanum datang ke rumah, tepatnya pemuda itu datang saat pernikahan Rida. Dia mengaku sebagai teman dekat Shanum. Dia meminta izin pada Kang Imran untuk mendekati Shanum lebih dari sekedar teman, dia bilang dia ingin menjadikan Shanum sebagai istrinya. Aku senang akhirnya putri sulungku akan segera menikah. Aku hampir gak kuat mendengar omongan tetangga yang aneh-aneh tentang Shanum, kamu tahu kan bagaimana mitos yang berkembang di daerah kita jika anak perempuan dirunghal sama adiknya?" Bu Hana mengusap air mata yang tanpa sadar kembali menetes di pipinya. Bu Fatimah hanya menganggukkan kepala, masih setia mendengarkan curahan hati sahabatnya itu. Di hatinya timbul rasa iba untuk Shanum.
"Hanya beberapa kali dia datang, setelahnya pemuda itu tak pernah datang lagi ke Bogor. Aku sempat bertanya pada Shanum tentang kabar pemuda itu. Menanyakan kapan dia akan menikahinya, usianya sudah sangat pantas untuk menikah. Shanum bilang kalau pemuda itu akan menikah dengan orang lain. Aku sempat marah bisa-bisanya dia mempermainkan putriku. Namun Shanum bilang jika selama ini mereka hanya berteman baik, pemuda itu memang pernah mengajaknya menikah tapi Shanum menolaknya"
"Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, Kang Imran mengingatkanku agar jangan memaksakan kehendak pada putri sulungku itu. Dia terlalu baik selama ini. Sejak menginjak remaja dia sudah tinggal jauh dariku, keadaan ekonomi kami saat itu sedang sulit. Dia bersedia tinggal di asrama untuk menghemat ongkos.
"Lagi-lagi saat itu dia kembali menenangkan aku, mengatakan jika dia sangat menyayangiku dan ingin melihat aku selalu tersenyum. Di bilang Ibu jangan khawatirkan Shanum, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk Shanum jadi ibu tenang saja katanya" Air mata Bu Fatimah kembali lolos begitu saja. Tidak banyak orang yang lalu lalang di sekitar mereka berdua, tempat duduk VIP memang sengaja dibuat lebih privat agar keluarga lebih leluasa menikmati santap siangnya.
"Kamu tahu Fatim, hatiku sakit sekali mendengar dia bilang seperti itu, rasa bersalah menyelimuti hatiku. Sejak saat itu aku tidak berani lagi menanyakan tentang kapan dia akan menikah. Biarlah dia sendiri yang memutuskan"
"Dan kamu tahu Fatim siapa pemuda itu?" Bu Fatimah terhenyak, penasaran.
"Siapa?"
"Dia adalah Nak Ahsan, keponakanmu"
Deg...Bu Fatimah terhenyak kaget, dia tidak menyangka.
"Shanum bilang sejak dia kuliah di Bandung, Nak Ahsan sangat banyak membantu. Shanum bisa kuliah karena mendapat beasiswa dan terkadang terjadi keterlambatan dalam prosesnya. Di sanalah Nak Ahsan berperan, Shanum bilang dia sudah menganggap Nak Ahsan seperti kakaknya sendiri. Aku tidak tahu kelanjutan hubungan mereka seperti apa"
"Tidak lama setelah itu, datang lagi seorang pemuda yang masih saudara jauh Adam suaminya Rida, namanya Haqi. Dia pun mengutarakan maksudnya untuk berkenalan lebih dekat dengan Shanum, dan anehnya saat itu putriku langsung menerimanya. Keluarganya pun datang ke rumah melamar secara resmi. Rencana pernikahan mereka akan digelar satu bulan setelah lamaran. Namun entah ada angin apa putriku meminta agar prosesi pernikahan dipercepat"
"Alhasil pernikahan Shanum dan Haqi berlangsung seminggu setelah lamaran. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan putriku meminta pernikahannya dipercepat. Dan ternyata Fauzan anak bungsuku bilang jika Shanum sedang menghindari mantan kekasihnya yang terus menemuinya padahal dia sudah bertunangan dengan wanita lain. Akhirnya aku mengerti keputusan Shanum"
"Aku senang akhirnya kedua putriku sudah menemukan pasangannya masing-masing, Jongjon (tenang). Shanum dibawa ke Jakarta sehari setelah menikah. Setiap hari dia menghubungiku, aku bisa melihat dia bahagia dengan rumah tangganya. Tapi....." Bu Hana kembali menghela napas, mengeluarkan rasa yang menghimpit dadanya setiap kali mengingat peristiwa yang menimpa putrinya itu
" Tapi... seminggu setelah putriku tinggal di Jakarta, kami menerima kabar jika suaminya kecelakaan dan koma" Bu Hana tersedu menahan tangis. Dia kembali membayangkan nasib putrinya yang menyedihkan.
"Dan....se...setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit. Suami....suami Shanum meninggal, hiks...." Bu Hana tak kuasa lagi menahan tangisnya, dia tersedu.
__ADS_1
Bu Fatimah yang hanya melongo menunjukkan kekagetannya. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya karena kaget. Namun kemudian Bu Fatimah menurunkan tangannya dan memeluk Bu Hana. Hatinya merasakan iba yang semakin dalam, betapa berat cobaan hidup yang dihadapi oleh wanita cantik yang ternyata putri dari sahabatnya. Jujur, Shanum membuat dirinya tertarik dan langsung menyukainya sejak pertemuan pertama mereka.