Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Do'a Seorang Ibu


__ADS_3

Dua orang dengan usia yang tak lagi muda dengan jejak-jejak kecantikan dan ketampanan yang masih terlihat jelas tengah berdiri di jendela kaca yang membatasi ruangan tempat seseorang terbaring lemah tak berdaya.


Tak ada suara di ruangan itu selain bunyi patient monitor yaitu alat yang memiliki fungsi untuk memberikan informasi mengenai keadaan pasien. Dari alat tersebut banyak sekali selang yang terpasang ke tubuh pasien, sehingga bisa diketahui secara real time keadaan pasien tersebut.


Hanya helaan napas yang terdengar dari dua orang dengan wajah sendu yang sedang memandangi tubuh yang terbaring lemah itu. Saat ini mereka dipertemukan karena sebelumnya menerima kabar jika putra mereka sempat drop kondisinya. Biasanya, Bu Fatimah selalu menghindar jika Pak Furqan datang menjenguk Akhtar.


Sudah hampir lima bulan tubuh lemah yang semakin kurus itu terbaring. Kecelakaan yang menimpanya tepat di hari yang seharusnya dia mengucapkan ijab qabul telah membuatnya tak sadarkan diri dan dirinya masih enggan terbangun hingga saat ini.


"Maaf!" ucap lelaki paruh baya yang masih terlihat muda itu yang tak lain adalah Pak Furqan Wijaya Ayah Akhtar.


Wanita paruh baya yang tepat berada di sampingnya menolehkan wajahnya sejenak ke arah laki-laki itu. Sedetik kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah semula. Menatap sendu sang putra yang sedang terbaring lemah tak berdaya.


"Maaf untuk apa?" tanya Bu Fatimah dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Untuk kesalahan yang sama yang kembali aku lakukan" jawabnya lirih, ada nada penyesalan yang dalam dalam ucapannya.


"Maaf, untuk masa lalu yang kelam yang terjadi antara kita. Aku tahu aku adalah laki-laki tidak tahu diri yang telah menyia-nyiakan wanita baik sepertimu. Aku menyesal Fatimah, aku sungguh menyesal. Hanya karena ego dan ambisi aku kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupku"


"Penyesalan ini sungguh menyiksaku, dan aku pastikan kali ini aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku, aku telah kehilangan istri sebaik kamu padahal dulu aku berjanji jika aku akan selalu membahagiakanmu, dan aku tidak ingin itu terulang"


"Aku tidak mau hidupku semakin dipenuhi penyesalan dan rasa bersalah dengan kehilangan Akhtar. Akhtar adalah satu-satunya hal berharga yang kau tinggalkan untukku yang masih bisa aku jaga. Sejujurnya selama ini hidup yang aku jalani bertolak belakang dengan hatiku. Maafkan aku Fatimah, maafkan aku" nada suaranya semakin merendah seiring isak kecil yang berusaha dia tahan namun masih terdengar oleh Bu Fatimah.


Bu Fatimah terdiam mendengar semua yang dikatakan mantan suaminya itu. Dia tidak menyangka jika selama ini mantan suaminya itu menanggung beban rasa sesal yang sangat besar setelah berpisah dengannya.


"Maafkan aku Fatimah, maafkan semua kesalahanku. Aku telah membuatmu banyak mengeluarkan air mata dan memberimu luka serta rasa sakit. Sampai sekarang hidupku tidak tenang, aku hidup dengan perasaan bersalah yang terus menghantuiku. Maafkan aku Fatimah, maafkan aku" Pak Furqan kembali mengulang-ngulang permintaan maafnya.

__ADS_1


Sudah lama dia ingin mengungkapkan isi hatinya tetapi belum juga menemukan waktu dan kesempatan yang tepat. Hingga hari ini mereka bersama menunggui putra mereka dan Pak Furqan tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.


Bu Fatimah masih belum bersuara. Dia masih tidak menyangka jika mantan suaminya akan mengungkapkan isi hatinya. Pikirannya melayang pada masa lalu saat mereka masih bersama. Pak Furqan adalah laki-laki yang baik yang memperlakukan Bu Fatimah begitu istimewa.


Bahkan orang tua Bu Fatimah yang begitu selektif memilih calon pendamping untuk putrinya pun terpesona dengan kepribadian dan budi pekerti Pak Furqan sehingga menerimanya menjadi menantu saat dia mengutarakan maksudnya untuk meminang Bu Fatimah.


Hingga akhirnya orang tuan Bu Fatimah rela melepas putri sulung kebanggaan keluarga mereka untuk hidup bersama Pak Furqan. Namun sayang ternyata menantu kebanggaannya itu pun akhirnya membuat mereka kecewa.


"Fatimah....Fatimah.... Fatimah..." panggilan Pak Furqan menyadarkan Bu Fatimah dari lamunannya.


"Hah, iya?" Bu Fatimah tampak gugup saat mendengar Pa Furqan memanggilnya beberapa kali. Dia menoleh ke arah mantan suaminya, tatapan mereka bertemu, sejenak tatapan mereka saling mengunci seolah sedang menyelami perasaan dan pikiran masing-masing.


Sedetik kemudian Bu Fatimah sadar jika yang dilakukannya salah, dia dengan segera menunduk mengalihkan pandangannya dari Pa Furqan yang masih menatap Bu Fatimah dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Semua sudah terjadi dan sudah berlalu cukup lama. Aku rasa tidak perlu ada pembahasan apapun lagi tentang masa lalu di antara kita. Semua yang terjadi di masa lalu sudah menjadi suratan dan takdir untuk kita. Aku sudah menerimanya dengan sadar dan lapang dada bahwa semua adalah takdir yang sudah Allah tetapkan untukku. Akang tidak perlu khawatir, aku sudah memaafkan Akang dan juga Sopia"


"Semua yang pernah terluka, akan melewati fase mengingat tanpa air mata dan aku sudah melewati fase itu Kang. Aku sudah ikhlas dengan semua yang pernah terjadi padaku di masa lalu. Karena ternyata ikhlas itu bukan pilihan tapi keharusan agar ada nilai ibadah dalam setiap hal yang kita lakukan"


"Jadi mulai sekarang hiduplah dengan bahagia Kang, Akang tidak perlu terus hidup dalam perasaan bersalah. Hilangkan perasaan itu, karena aku sudah ikhlas dan aku sudah memaafkan Akang" lanjut Bu Fatimah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Pak Furqan yang mendengar jawaban Bu Fatimah yang begitu tulus justru membuat hatinya semakin merasa bersalah. Dia benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh karena sudah menyia-nyiakan kesempatan saat memiliki wanita salehah yang kini telah menjadi mantan istrinya.


Seandainya waktu bisa diulang dia ingin kembali ke kehidupannya yang dulu dengan Bu Fatimah. Hidup berumah tangga yang sederhana tetapi penuh kehangatan, kebersamaan, kenyamanan dan ketenangan.


Berbeda dengan kehidupan rumah tangganya saat ini. Harta dia miliki, jabatan dia pun punya. Tetapi hatinya terasa hampa, perempuan yang dulu membuat dirinya tertarik hingga berpaling dari Bu Fatimah ternyata hanya cantik fisiknya saja namun hatinya penuh dengan ambisi duniawi dan betapa tinggi egonya, dia selalu memaksakan apa yang menjadi kehendaknya tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya bahkan tidak peduli saat orang lain terzalimi karena ulahnya. Dia sangat jauh berbeda dengan Bu Fatimah yang lembut, penurut, peduli, penuh kasih dan bersahaja.

__ADS_1


"Fatimah, andai waktu bisa diulang, aku ....." ucapan Pak Furqan terhenti, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada wanita di hadapannya itu. Fatimah memiliki hati yang begitu luas.


"Terkadang kita tidak akan pernah tahu nilai dari sebuah momen sampai ia berubah menjadi sebuah kenangan. Simpan masa lalu untuk bukti dan berikan tawa dan senyum untuk masa depan" Bu Fatimah kembali mengarahkan pandangan kepada Akhtar yang masih terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit yang sudah hampir lima bulan dia tempati.


"Fatimah, aku sadar kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal, aku...." ucapan Pak Furqan kembali terjeda saat Bu Fatimah menatapnya dengan tajam.


"Cukup, hapus versi lamaku di pikiranmu, aku bukan orang itu lagi" sela Bu Fatimah dengan nada yang tegas, membuat nyali Pak Furqan menciut.


Dia tidak berani melanjutkan kata-katanya. Bu Fatimah tampak fokus menatap putranya dengan lisan yang tidak berhenti berdzikir dan berdo'a memohon kesembuhan untuk putranya.


Suasana ruangan kembali hening dan hanya bunyi patient monitor yang terdengar memenuhi ruangan itu.


"Fatimah, kenapa kamu tidak menikah lagi?" pertanyaan konyol itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Pak Furqan. Bu Fatimah bahkan mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan konyol itu.


"Apakah kamu trauma?" lagi-lagi Pak Furqan menyampaikan pertanyaan yang menohok di hati Bu Fatimah. Namun kemudian Bu Fatimah tersenyum menanggapinya, Bu Fatimah menengok ke arah Pak Furqan.


"Bukan trauma, hanya takut endingnya sama. Karena kecewa telah mengajariku untuk sulit percaya lagi" jawab Bu Fatimah tegas.


Degg....kali ini jawaban Bu Fatimah begitu menohok di hati Pak Furqan, dia menatap Bu Fatimah lebih dalam dengan tatapan penuh penyesalan.


"Harapanku sekarang hanya satu, semoga semua hal yang sedang diupayakan saat ini untuk putraku Akhtar Farzan tidak berakhir mengecewakan" ucapnya pilu, dia kembali menatap Akhtar dan tanpa terasa air mata kembali mengalir membasahi pipinya.


Pak Furqan pun mengikuti arah pandangan Bu Fatimah. Dia menatap putra kebanggaannya dengan mata yang juga sudah berembun.


"Wijaya, Akhtar Farzan Wijaya....Fatimah, dia juga adalah putraku" sela Pak Furqan yang mendengar Bu Fatimah menyebut nama putranya tanpa Wijaya yang merupakan nama akhir dirinya.

__ADS_1


Bu Fatimah hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Pak Furqan. Pandangannya tetap fokus pada sang putra, hatinya terus bermunajat memohon kepada Sang Pemilik Hidup untuk kesembuhan putranya.


"Ya Allah, aku adalah seorang Ibu yang telah Engkau amanahi untuk mengandungnya, melahirkannya, menyusuinya, membesarkannya dan mendidiknya agar menjadi seperti yang Engkau perintahkan. Kini putra yang Kau amanahkan padaku sedang terbaring tak berdaya. Aku mohon, dengan otoritasku sebagai Ibu aku berdo'a, meminta pada-Mu sembuhkanlah putraku, hilangkanlah sakitnya, berikanlah kesembuhan karena Kau adalah Maha Penyembuh. Sungguh Ya Rabb, tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Engkau, sembuhkanlah putraku dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin" do'a Bu Fatimah dalam hatinya.


__ADS_2