Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Pulang


__ADS_3

Menjelang senja Shanum tiba di Kota Hujan. Bogor, kota yang pada awal abad ke-5 masehi merupakan pusat Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya yang terkenal bernama Purnawarman.


Beberapa kerajaan lainnya pun ada yang memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan.


Di saat yang sama Bogor adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu.


(wikipedia)


Jarak dari Bandung ke Bogor sekitar 181 kilometer dengan durasi perjalanan sekitar 2 jam 41 menit via tol. Pergi dari Bandung selepas Ashar Shanum tiba di Bogor menjelang Maghrib.


Shanum turun dari travel yang ia tumpangi tepat di hadapan rumahnya, rumah bercat putih dengan halaman yang cukup luas itu tampak asri, rumah lama namun tampak terawat dengan baik. Rumah peninggalan orang tua Ibunya itu sengaja tidak dirubah sedikit pun untuk kenang-kenangan hanya dicat ulang.


Tenang dan damai yang Shanum rasakan ketika sampai di tempat ini. Di kota yang bermotto "Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga" yang artinya 'Segala di masa kini adalah pusaka masa silam, dan ikhtiyar hari ini adalah untuk masa depan', dia seakan mendapat angin segar untuk bernapas lebih tenang dan siap menghadapi kenyataan.


Shanum percaya, dirinya hari ini adalah hasil pilihannya di masa lalu, dan semua yang ia usahakan hari ini akan ia tuai di masa mendatang.


Melangkahkan kaki membuang segala pilu yang menyesakkan dada, ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


Membuka pagar bercat putih, mengamati seluruh bagian luar rumah itu.Raut berseri di penghujung senja menghiasi wajah Shanum.


"Assalamu'alaikum".... krekkkkkk...


Shanum membuka pintu rumahnya, tampak ruang tamu yang tidak terlalu luas langsung terhubung dengan ruang tengah tempat sekeluarga berkumpul.


Shanum tersenyum lebar melihat semua anggota keluarganya sedang berkumpul. Kebahagiaan menyeruak di dadanya. Dia disuguhi pemandangan indah yang sungguh menetramkan jiwa.


Keluarga memang tempat pulang paling nyaman untuknya. Mungkin rumahnya memang tak bergelimang harta benda atau perkakas mewah, tapi melihat bergelimangnya kasih sayang antara sesama anggota keluarga itulah harta yang paling berharga dan kemewahan yang tak terhingga dalam keluarganya.


Mendengar ada seseorang membuka pintu dan mengucapkan salam, orang-orang yang ada di ruang keluarga pun menoleh.


"Aaaaaaa.....Teteh....." Teriak adik perempuan Shanum. Farida berlari menyongsong kedatangan Shanum di susul dengan Fauzan adik laki-laki Shanum.


Mereka berpelukan erat, menumpahkan rasa rindu selama satu bulan tak berjumpa.


Shanum beralih menyalami Ibu dan Bapaknya dengan takdzim. Mereka semua bahagia akhirnya keluarga mereka dapat berkumpul lengkap.

__ADS_1


Shanum sangat menikmati keberadaannya di Bogor, waktu dua hari ini benar-benar ia habiskan dengan keluarganya. Jalan-jalan dengan adik-adik dan Ibunya. Berkumpul menghabiskan hari dengan saling bercerita kegiatan yang telah dilalui masing-masing.


Kedua orang tua Shanum bahagia melihat ketiga anaknya rukun, mereka tanpa ragu bergiliran saling berbagi cerita. Salah satu hal terpenting keberhasilan orang tua dalam mendidik anak-anaknya adalah ketika anak-anaknya mampu menceritakan setiap emosi yang mereka rasakan.


Selama di Bogor Shanum sengaja tidak mengaktifkan gawainya. Tiga hari sudah berlalu, saatnya dia harus kembali ke Bandung.


Acara pembubaran panitia kegiatan akan dilaksanakan besok di Pangandaran. Berdasarkan kesepakatan mereka akan berangkat dini hari nanti dari Bandung. Berkumpul di gedung utama yayasan dan berangkat menggunakan bis dengan fasilitas VIP.


Pagi ini Shanum masih berada di Bogor, ia tampak enggan untuk kembali ke Bandung. Ia masih bergelung di balik selimut. Sehabis Subuh tadi dia kembali merebahkan tubuhnya menikmati detik-detik terakhir keberadaannya di Bogor karena setelah ini ia harus bersiap dengan berbagai kegiatan awal tahun pelajaran baru.


"Teh...Teteh" Ibunya memanggil.


"Ya Bu, masuk aja" Shanum menjawab tanpa beranjak dari atas tempat tidurnya.


"Euleuh si Teteh betah keneh eta na simbut (Euleuh, Si Kakak (perempuan) masih betah dalam selimut) ?" Ibunya kembali bersuara melihat kelakuan anak sulungnya itu yang bertingkah seenaknya tidak seperti biasa.


"Biarin atu Bu, kali-kali Teteh bangun siang. Biar gak kangen sama nih ranjang, Tetehkan mau ke Bandung lagi, jadi sekarang dipuas puasin dulu menikmati ranjang ini." Shanum menanggapi sang Ibu tanpa membuka matanya malah mengeratkan selimut.


" Teteh, kata Bapak ada yang mau diomongin sebelum teteh berangkat", ucap ibu Shanum serius.


"Ada apa emangnya Bu?" tanya Shanum.


"Teteh ditunggu Bapa di depan" jawab ibunya kemudian.


Shanum beranjak dari ranjangnya, berjalan mengikuti ibunya yang telah lebih dulu keluar dari kamar. Sebelum menemui Bapaknya Shanum terlebih dahulu membersihkan dirinya.


Kini Shanum sudah duduk berhadapan dengan Bapak dan Ibunya. Dia menatap Bapak penuh hormat, siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan Bapaknya.


"Teteh, sebelum teteh ke Bandung lagi Bapak mau membicarakan soal adikmu" ucap Bapa mengawali obrolan mereka.


"Beberapa hari yang lalu Bapak sudah sampaikan ke Teteh, kalau Bapak dan Ibu kedatangan keluarga calon adikmu. Kedatangan mereka bermaksud melamar." Bapak menghela napas menjeda ucapannya....


"Tapi sebelumnya, Bapak ingin tanya ke Teteh saat ini apa Teteh sudah ada calon?"


Deg.....sudah Shanum duga Bapaknya pasti akan membahas hal ini.

__ADS_1


Shanum melemparkan senyum manisnya sebelum menjawab pertanyaan Bapak.


"Maaf Pak untuk saat ini Teteh belum memikirkan hal itu lagi. Tapi Bapak dan Ibu jangan khawatir, Insyaa Alloh teteh baik-baik saja. Kalaulah memang ada yang mau melamar Rida dalam jangka waktu dekat ini dan Rida bersedia, sudah siap menjalin hubungan yang lebih serius Teteh enggak masalah kok Pak", jelas Shanum penuh kehati-hatian pada Bapak dan Ibunya.


" Tapi Ibu berharap Rida menikah setelah terlebih dahulu teteh menikah" Ibu menimpali.


Aku tersenyum menanggapi perkataan Ibu.


"Ibu, menikah itu ketepatan bukan kecepatan. Teteh tidak ingin memaksakan diri menikah cepat hanya karena umur sudah menua. Usaha pasti ada, tapi jika Allah belum mengiyakan kita tidak bisa memaksakan kehendak. Insyaa Alloh Teteh baik-baik saja Bu." ucapku dengan lemah lembut, meyakinkan Bapak dan Ibu bahwa aku baik-baik saja.


Shanum manatap Bapak dan Ibunya dengan tatapan yang lembut. Dia melangkah meraih kedua tangan orang tuanya. Tersenyum dengan tulus meyakinkan keduanya bahwa dirinya baik-baik saja.


"Bapak, Ibu....tenang ya, jangan berpikir berlebihan tentang Teteh, Insyaa Alloh Teteh akan baik-baik saja dan mendukung apapun pilihan Rida, Teteh akan sangat bahagia ketika melihat adik-adik bahagia. Bapak dan Ibu pun harus bahagia, yang Teteh butuhkan saat ini adalah untaian do'a Ibu dan Bapak, do'akan Teteh selalu ya Bu, Pak."


Shanum terus berusaha menyakinkan kedua orang tuanya, sungguh dia tidak mau mereka khawatir. Walaupun Shanum tahu orang tua mana yang tak sedih ketika melihat anak gadisnya dirunghal (didahului) nikah oleh adiknya.


Pembicaraan ketiganya selesai, akhirnya Shanum dapat meyakinkan kedua orang tuanya. Shanum kembali ke kamarnya untuk bersiap karena harus segera kembali ke Bandung.


Sesampainya di kamar, dia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya dengan berat, seolah melepaskan semua beban yang menghimpit dadanya.


Ingatan tentang Akhtar kembali menyerangnya, orang yang selama ini ia tunggu dan kembali dengan kejutan yang menyesakkan dada dan juga Ahsan orang yang selalu ada untuknya.


Tentang Akhtar, Shanum sudah tak mengharapkan apa pun. Dia tidak menyerah hanya saja tidak ingin memaksakan sesuatu yang dia rasa itu sudah tidak mungkin lagi.


Jika pasti, menunggu pun tidak masalah. Jika pasti berkorban sebesar apapun tidak apa-apa. Tapi sudah cukup, berkas-berkas masa lalu tentang Akhtar sudah waktunya Shanum lipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya.


Karena semua sudah menjadi masa lalu, masa yang telah berlalu dan habis. Kesedihan tidak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tidak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali karena ia memang sudah tidak ada.


Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.


Walaupun Shanum sadar satu yang pergi tidak akan sama dengan seribu yang datang.


'Aku tidak menyesal Akhtar dan aku pun tidak merasa menjadi yang paling tersakiti, karena nyatanya aku pun menjadi luka untuk orang lain.'


'Maaf Bu, Pa Teteh tidak jujur sama Bapak dan Ibu, Teteh takut merusak suasana, jika harus mengatakan apa yang di rasa.'

__ADS_1


Shanum hanya mampu mengatakan semua itu dalam hatinya.


__ADS_2