
Selepas shalat maghrib Fatimah duduk di sopa ruang tamunya, dia menunggu dua orang yang akan memberinya penjelasan. Dia sudah lebih tenang setelah melaksanakan shalat, berusaha tegar dengan kenyataan yang akan dihadapinya.
Sopia dan Furqan duduk berdampingan di kursi yang berbeda, mereka berhadapan langsung dengan Fatimah. Ketiganya masih terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Fatimah menatap tajam mereka berdua bergantian, suasana rumah seketika mencekam.
Fatimah menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha menetralkan perasaannya.
"Aku hanya akan menjadi pendengar, silahkan kalian berbicara", ucap Fatimah memecah keheningan.
Furqan tampak bersiap untuk menjelaskan, dia menatap lekat wajah perempuan yang sudah lima belas tahun menjadi istrinya itu. Perempuan yang bersedia menjadi makmumnya di saat dirinya bukan siapa-siapa, bersedia menerimanya apa adanya, bersedia berjuang bersamanya dari nol, bersedia meninggalkan kedua orang tuanya, selalu mendukung dan mendo'akannya hingga seperti inilah dia sekarang.
Hatinya teriris mengingat semua perjuangannya dengan sang istri yang dengan setia selalu menemaninya. Sungguh tidak pernah terpikir untuk menduakan dan mengkhianati istrinya, namun keadaan memaksa untuk melakukannya, menikahi perempuan yang mengaku tengah mengandung anaknya karena peristiwa yang tidak terduga, dan parahnya perempuan yang dia nikahi adalah sahabat baik sang istri.
"Maafkan Akang, Dek", ucapnya dengan suara yang bergetar. Fatimah masih setia mendengarkan kelanjutan ucapan suaminya.
"Akang harap Adek bersedia menerima poligami ini", lanjutnya dengan suara yang masih bergetar. Fatimah terdengar menghela napas.
"Maafkan aku Fatim, laki-laki yang menikahiku adalah suami kamu", timpal Sopia.
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu kami sama-sama saling mencintai", lanjutnya tanpa ragu.
Fatimah kembali menarik napas panjang, berusaha menghilangkan sesak dalam dadanya.
"Maaf jika aku berbohong, sebenarnya usia pernikahan kami sudah hampir tiga tahun dan kami sudah dikaruniai seorang putri yang sangat cantik sesuai dengan harapan Kang Furqan." Tutur Sopia menjelaskan.
Deg....jantung Fatimah berdebar semakin kencang, Fatimah menatap Furqan dengan tatapan tajam. Furqan yang melihat itu, beranjak dari tempat duduknya dan bersimpuh di kaki Fatimah.
"Maafkan Akang, Dek..hiks.." Furqan menangis di pangkuan Fatimah. Fatimah yang sudah berlinang air mata tak kuasa lagi menahan tangisnya, akhirnya pertahannya runtuh. Air matanya terus mengalir tanpa suara.
"Maafkan Akang, Dek..hiks..." hanya kalimat itu yang terus terlontar dari mulut Furqan, dia tidak tahu harus berkata apalagi untuk mengakui pengkhianatannya kepada sang istri.
"Fatim, bicaralah...aku tidak tega melihat Kang Furqan seperti itu, aku harap kamu bisa berpikir realistis. Mungkin memang inilah takdir kita, harus hidup dengan lelaki yang sama. Mari hidup bersama-sama dengan baik. Aku rela walau harus menjadi istri kedua."
"Selama ini aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri, kamu selalu ada di masa-masa sulitku, aku sangat berterima kasih padamu untuk itu. Aku menyayangimu dan juga Akhtar, mari kita hidup bersama dengan mencintai laki-laki yang sama."
"Apa yang dilakukan Kang Furqan bukanlah sesuatu yang ilegal, tidak hanya negara yang membolehkan beristri lebih dari satu tetapi agama pun menganjurkannya. Dia telah menyelamatkan kehormatanku dengan menikahiku, dia lelaki yang baik, bertanggung jawab, perhatian dan sangat pengertian sulit untukku untuk tidak jatuh cinta pada suamimu."
"Ayolah Fatim, aku percaya kamu lebih faham tentang ilmu agama, dan aku rasa kamu tidak ingin berdosakan dengan menentang syariatnya?"
"Aku harap kamu tidak serakah, Kang Furqan terlalu sempurna untuk kamu miliki sendirian. Dan kembali aku tegaskan kalau kami sudah saling mencintai sejak lama, mungkin lebih tepatnya aku, aku yang lebih dulu jatuh cinta pada suamimu, bahkan saat kalian masih tinggal di rumah dinas yayasan dan aku bahagia ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan" Sopia berbicara panjang lebar, dia tampak biasa-biasa saja saat mengakui semua perasaannya, wajahnya bahkan tidak menunjukkan rasa bersalah karena sudah mengkhianati kepercayaan sahabatnya.
Fatimah yang mendengarkan penuturan Sopia semakin merasakan sakit yang tak terelakkan, dia meremat dua tangannya, menahan sesuatu yang rasanya ingin meledak di dadanya.
"Sopia, cukup!", bentak Furqan yang geram dengan apa yang lakukan Sopia. Menurutnya pernikahan mereka sudah menjadi pukulan telak untuk Fatimah, apalagi jika harus ditambah dengan pengakuan cinta Sopia yang terdengar sangat berlebihan di telinga Furqan. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Fatimah dikhianati oleh dirinya dan sahabatnya.
Furqan yang menyadari ucapan Sopia keterlaluan mendongakkan kepala menatap sang istri yang masih membisu. Hanya air mata yang berbicara, betapa dia merasakan kesakitan yang luar biasa karena pengkhianatan suami dan sahabatnya.
__ADS_1
"Dek..." Furqan kembali memanggil Fatimah. Furqan dapat merasakan suhu tubuh Fatimah yang memanas sementara kedua tangannya terasa dingin.
"Aku tidak bisa memutuskan saat ini. Sekarang lebih baik kalian pergi sebelum putraku kembali." Fatimah kembali bersuara dengan tegas.
"Dek..."
"Pergilah Kang, berikan aku waktu untuk memahami semua ini. Aku tidak bisa berbicara sekarang tentang apa yang sudah kalian perbuat, sungguh aku sama sekali belum bisa mencernanya. Jadi lebih baik Akang pergi dan bawa Sopia", ucap Fatimah memotong ucapan suaminya.
"Fatim..." ucapan Sopia pun terhenti karena Fatimah memilih bangun dari duduknya dan berlalu ke kamarnya tanpa memedulikan mereka berdua.
Menangis adalah hal yang bisa dilakukan Fatimah saat ini, dia membekap mulutnya sendiri dengan bantal yang dipeluknya, tidak ingin suara tangisnya terdengar ke luar kamar. Hal yang sangat menyakitkan, ketika kita terluka oleh orang yang tidak pernah terbayang akan memberikan kita luka.
***
Seminggu sudah berlalu, Fatimah masih belum memutuskan. Furqan dan Sopia terus mengiriminya pesan, dan Fatimah hanya membacanya tanpa memberi balasan.
Furqan:
'Dek, maafkan Akang. Izinkan Akang menjelaskan semua alasannya, Dek.'
'Dek, Akang tahu ini sangat sulit bagi kita, Akang harap kamu bisa bijak menghadapi ini semua. Semuanya memang sudah menjadi takdir kita.'
'Dek, izinkan Akang menemuimu ya?'
'Dek, Akang punya alasan mengapa melakukan semua ini dan menyembunyikannya darimu. Jadi izinkan Akang menjelaskannya langsung padamu.'
'Dek, maafkan Akang, Akang sangat mencintaimu, Dek.'
Sopia:
'Fatim, maafkan aku, aku tidak bermaksud berbohong padamu'
'Fatim, aku sangat mencintai Kang Furqan begitu pun kamu, aku tahu kamu pun sangat mencintainya. Banyak orang yang bisa rukun hidup dalam lingkaran poligami, termasuk kita. Insyaa Alloh kita akan baik-baik saja.'
'Fatim, ayolah....selama ini kamu lebih dewasa dalam bertidak. Angkatlah teleponku atau balaslah pesanku'
'Fatim...'
Dan masih banyak deretan pesan-pesan masuk dari mereka berdua yang hanya dibaca Fatimah.
Saat ini dia sudah memutuskan langkah apa yang akan diambilnya. Senin pagi, dia sudah menyelesaikan tugasnya, menyiapkan sarapan, mengantar Akhtar sekolah dan membereskan rumah. Fatimah mengambil gawainya dan mengirim pesan pada seseorang.
'Aku tunggu di rumah sekarang!'
Ting, pesan terkirim.
__ADS_1
Saat ini dia sudah duduk berhadapan dengan suaminya. Furqan sangat senang saat mendapat pesan dari Fatimah, dia segera melajukan mobilnya dari yayasan menuju rumahnya dengan Fatimah.
"Dek, maafkan Akang." Furqan mengawali percakapannya dengan kata maaf yang tak bosan dilontarkan. Fatimah masih diam, dia belum bersuara saat Furqan meminta maaf padanya.
"Dek, Akang tahu ini salah, ampuni Akang, Dek. Sungguh Akang melakukan ini terpaksa, Akang dijebak. Akang tidak sadar kalau perempuan yang tidur di rumah dinas saat Akang lembur adalah Sopia. Hingga sesuatu yang tidak Akang sadari terjadi dan beberapa minggu kemudian Sopia datang dan mengaku sedang mengandung." Furqan berusaha menjelaskan kronologisnya.
"Maafkan Akang, Dek Akang khilap. Akang sudah berdosa padamu. Akang harap Adek bisa menerima ini sebagai takdir kita Dek, Akang janji akan berlaku adil pada kalian berdua. Akang sangat mencintaimu dan Akhtar, Akang tidak mau kehilangan kalian berdua." Furqan mengatakan semuanya dengan nada bergetar, sesekali tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Ck..." Fatimah berdecak mendengar kata-kata yang dilontarkan suaminya.
"Kalau cinta kenapa selingkuh?" tanya Fatimah ketus.
Furqan terlonjak mendengar pertanyaan Fatimah, "Maafkan Akang, Dek. Akang tidak bisa mengendalikan diri", jawabnya lirih.
"Cinta adalah anugerah dari yang Maha Kuasa, kita tidak bisa memilih untuk mencintai siapa, tetapi iman dan ilmu akan menuntun kita untuk mencintai dengan benar",
"Jika dengan mengetahui sesuatu membuatku sakit hati, sebenarnya aku lebih memilih untuk tidak mengetahuinya. Hatiku tidak bisa dibohongi, Akang mulai berubah sejak aku melahirkan Akhtar dan akhir-akhir melihat Akang sering datang berdua dengannya aku pun sempat menaruh curiga, tapi aku tepis pikiran itu karena hanya akan menyakiti diriku sendiri. Sebab, menurutku mencintai bukan seni menyakiti diri sendiri.Terkadang ketidaktahuan lebih baik daripada memenuhi kepenasaran yang ujung-ujungnya menyakitkan",
"Selama ini, aku sudah berusaha menemani Akang dengan sabar, tapi ketika sudah hasil nikmatinnya dengan yang lain, hha..." Fatimah tertawa sumbang saat mengatakannya.
"Gak apa-apa, itu bukan jodoh namanya, karena setiap orang punya porsi masing-masing dalam hidup seseorang, dan porsiku mungkin hanya untuk menemani Akang berjuang." Fatimah melipur laranya sendiri.
Furqan semakin menundukkan kepalanya, dia tak kuasa harus bertatapan dengan Fatimah, wanita baik hati yang telah menemaninya namun dia khianati.
"Aku tahu Akang adalah sumber surgaku, keridhoan Akang yang akan menentukan aku laik atau tidaknya memasuki Surga. Tapi maaf, surga yang Akang tawarkan saat ini masih terlalu berat untuk aku gapai. Aku belum mampu Kang, Akang belum mendidikku untuk Ikhlas menerima hal itu. Aku tidak akan memberi pilihan kepada Akang karena aku sadar aku bukan pilihan. Aku tahu Akang pria yang baik, yang bertanggungjawab dengan setiap keputusan Akang. Dan maaf, aku memilih mundur dari medan jihad ini." Napas Fatimah tercekat, rasa sakit yang menyelinap semakin menusuk ulu hati.
"Aku hanya berpesan, untuk ke depannya tetaplah jujur dalam hubungan, karena hal yang disembunyikan, akan menghancurkan. Tidak akan ada hubungan yang akan bertahan lama, jika sebuah ketulusan dibalut dengan kecurangan. Tidak ada kisah yang berakhir manis jika kepercayaan dipupuk dengan kebohongan". Fatimah tampak berusaha menahan agar tak bersuara saat air mata terus mengalir di pipinya.
"Tapi Dek, Akang sangat mencintaimu dan Akhtar. Akang tidak bisa kehilangan kalian berdua." Sela Furqan.
"Bisa Kang, Akang pasti bisa. Waktu akan membuat Akang terbiasa dengan ketidakhadiran kami, toh selama ini Akang sudah mencobanya. Selama beberapa tahun ini kami sudah menjadi yang kedua untuk Akang. Walaupun dia dan anaknya bersedia menjadi yang kedua, nyatanya selama ini kamilah yang selalu menjadi yang kedua. Bahkan mungkin kami menjadi urutan terakhir dalam urutan prioritas Akang."
"Aku tidak akan meminta apa-apa dari Akang, berikan waktu aku setahun ini untuk berbenah di rumah ini. Setelahnya aku akan membawa Akhtar bersamaku. Dan aku harap saat itu surat perpisahan kita sudah keluar dari pengadilan." Ucap Fatimah berusaha tenang saat mengatakannya, padahal hatinya bergemuruh hebat.
"Kamu mau kemana Dek? Rumah ini adalah milikmu, kita membelinya atas namamu. Kalau memang perpisahan ini yang kamu inginkan, Akang tidak akan memaksa. Akang sadar kesalahan Akang sudah sangat menyakitimu. Tapi Akang janji akan tetap mencukupi semua kebutuhan hidup kalian. Jadi tolong jangan membuat Akang semakin merasa bersalah dengan meninggalkan rumah ini", ucap Furqan memelas.
"Tidak perlu Kang, setelah hari ini kewajiban Akang hanya terhadap Akhtar. Aku masih punya orang tua Kang, aku akan membawa Akhtar ke Garut, aku pun masih punya cukup tenaga untuk bisa berikhtiyar memenuhi kebutuhan hidupku. Jika suatu saat nanti Akang ingin bertemu Akhtar silahkan saja, aku tidak akan menghalangi. Akang tetap ayah Akhtar dan aku tidak akan menentang kodrat itu."
"Sekarang tolong Akang jatuhkan talak padaku, untuk urusan surat-surat , Abah dan Umi, biar aku yang mengurus." Fatimah kembali memberi ultimatum.
Furqan tercengang, dia tidak menyangka perempuan lemah lembut yang selalu berkata iya kepadanya, kini kembali menjadi Fatimah yang tegas, dan penuh kharisma. Dulu itulah salah satu yang membuat Furqan tertarik pada Fatimah.
"Akang tenang saja, selama aku mampu aku tidak akan mengatakan apapun kepada Akhtar, meskipun aku sangat kecewa pada Akang, tapi aku akan selalu memandang Akang dari sisi baik Akang, maafkan semua kesalahan dan kekuranganku selama menjadi istri Akang dan terima kasih telah memberi banyak pelajaran tentang hidup, salah satunya tentang mendewasakan diri. Dengan cara mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik dan menerimanya dengan lapang dada tanpa harus menghakimi dan membenci siapapun sumbernya." Pungkas Fatimah.
Furqan semakin menunduk, perasaan bersalah telah menyia-nyiakan wanita sebaik Fatimah semakin menggunung. Dia tidak mampu lagi berbuat banyak selain menyesali apa yang telah menjadi keputusannya.
__ADS_1