
Dua orang gadis cantik dengan penampilan serba wah tengah duduk di sebuah ruang cafe mewah yang biasanya hanya dikunjungi orang-orang berroda empat dan berdompet tebat.
Bagaimana tidak dikatakan wah, kostum yang dipakai kedua gadis itu jelas terlihat adalah barang-barang branded dengan harga selangit untuk ukuran orang biasa. Hal itu menunjukkan jika mereka bukan dari kalangan biasa.
Dua cangkir minuman kekinian sudah bertengger di meja tempat mereka bertemu.
"Sepertinya kamu pun harus hati-hati dengan dia. Aku baru tahu ternyata Akhtar pun bagian dari masa lalunya", ucap gadis yang tak lain adalah Suraya.
"Maksud Kakak?" tanya Raina, yang menerima pesan dari Suraya untuk bertemu di tempat ini.
Dan di sinilah mereka sekarang berada. Mereka sepakat untuk bertemu karena Suraya akan memberikan berita penting untuk Raina.
" Shanum, guru yang mengajar di SMA Bina Insani ternyata adalah perempuan yang sudah membuat Ahsan berpaling dariku. Kemarin malam Ahsan bersikukuh tidak akan menerimaku kembali karena dia sudah mempunyai tambatan hati dan akan segera menikahinya."
"Aku penasaran siapa perempuan itu dan ternyata dia adalah Shanum, wanita yang Ahsan temui saat di pesta setelah menolak pelukanku waktu itu. Dia mengatakan padaku kalau Shanum adalah calon istrinya."
"Awalnya aku tidak percaya, aku pikir mungkin dia sengaja mau ngeprank aku karena dulu aku pergi tiba-tiba dan datang juga tiba-tiba. Tapi setelah kami berbicara serius ternyata Ahsan sungguh-sungguh dengan ucapannya."
"Aku tidak bisa menerimanya begitu saja dan aku pun tidak akan membiarkannya. Aku menyuruh seseorang mencari tahu tentang dia dan setelah tahu sedikit informasi tentangnya aku datangi Shanum ke rumah dinasnya. Tanpa basa-basi aku langsung memintanya untuk meninggalkan Ahsan."
"Awalnya aku kira akan sulit untuk berbicara dengannya, tapi ternyata dia cukup tahu diri dengan posisinya, hah..." Suraya menyeringai saat berbicara hal itu pada Raina.
"Ternyata Shanum gadis yang polos, dia sangat mudah percaya dengan aktingku yang pura-pura sedih jika harus kehilangan Ahsan dan dia percaya. Dengan gampangnya dia bilang akan melepaskan Ahsan dan membiarkan kami bersatu dan hidup bahagia. Aah....ternyata semudah itu memang untuk kembali bersama Ahsan, hahaha..." Suraya tertawa keras hingga beberapa pengunjung melirik ke arahnya namun dia tampak tidak peduli.
"Jadi maksud Kakak, sekarang posisi Kakak sudah aman dengan Kak Ahsan?" tanya Raina.
"Entahlah....tapi yang pasti aku tetap harus waspada. Aku percaya kalau Shanum akan menepati janjinya, tapi aku tidak percaya Ahsan akan menerima keputusan Shanum begitu saja. Aku tahu laki-laki seperti apa Ahsan. Dia akan rela melakukan apa saja untuk orang yang dia cintai, termasuk Shanum", ucapnya dipenuhi aura kebencian.
"Dan kamu pun harus waspada, karena bisa saja Akhtar pun kembali berpaling darimu" Suraya mengatakan informasi yang dikatakannya penting itu kepada Raina.
"Kenapa aku juga harus waspada?" tanya Raina yang belum memahami kemana arah pembicaraan Suraya.
"Shanum adalah perempuan yang selama ini Akhtar cintai." jelas Suraya membuat Raina menganga.
Dia tidak percaya ternyata Akhtar yang sejak dulu selalu mengatakan ke semua wanita yang mendekatinya termasuk Raina bahwa dia sudah memiliki kekasih adalah benar adanya. Dan kini gadis itu ada di dekatnya.
"Kakak serius?" tanya Raina kembali memastikan.
"Iya, aku mendengarnya sendiri saat Ahsan mengatakannya." jawab Suraya pasti.
"Hah....ini tidak bisa dibiarkan, pantas saja selama acara pertunangan Akhtar tidak fokus dengan acara kami. Berkali-kali aku mendapatinya sedang memandangibpanitia kegiatan. Awalnya aku pun mengira kalau dia sedang memantau kinerja bawahannya, eeh...ternyata gadis itu."
"ck..ck..ck...luar biasa, ternyata dunia ini memang sempit", tutur Raina menjelaskan hasil temuannya saat bersama Akhtar selama acara pertunangannya kemarin.
"Wah..wah...wah...sepertinya dia belum tahu berhadapan dengan siapa, Kak"
"Benar, dia tidak tahu kalau kita bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, hahaha..."
"Lalu sekarang apa rencana Kakak? Apa yang akan Kakak lakukan pada gadis itu?
__ADS_1
"Untuk saat ini aku masih percaya Shanum akan melakukan apa yang dia katakan, jadi tidak ada hal signifikan yang harus aku lakukan selain terus memantaunya. Aku baru akan bertindak kalau dia mulai macam-macam", ucap Suraya dengan mimik muka serius.
"Baiklah kalau begitu, sekarang aku pun tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan pastikan kalau Akhtar akan tetap menjadi milikku dan tidak ada satu orang pun yang bisa merebutnya dariku." ucap Raina tak kalah tegas.
Mereka berdua beradu tos minuman mereka masing-masing, pertanda kerja sama untuk saling menjaga laki-laki yang mereka cintai agar tidak berpaling sudah dimulai. Apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan apa yang menurut mereka sudah menjadi miliknya.
***
Dua minggu berlalu, semua berjalan seperti biasanya. Shanum menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa selalu dengan penuh semangat dan wajah ceria, dia terlihat baik-baik saja.
Semenjak peristiwa dua minggu yang lalu yang terjadi di rumah dinasnya Shanum berusaha untuk selalu tampil ceria, dia tidak mau menunjukkan kerapuhan dirinya. Di mata orang lain Shanum seolah tidak sedang memiliki masalah apa-apa.
Hanya Liani yang tahu bagaimana Shanum menjalani hari-hari beratnya. Tak jarang dia sering mendapati Shanum tengah melamun atau menampakkan wajah sembab seperti sudah habis menangis. Tapi dia pun tidak bisa berbuat banyak.
Dia tahu Shanum sedang berusaha menguatkan dirinya, dia dapat merasakan betapa besar kekecewaan dan kesakitan yang dirasakan Shanum setelah dua kali gagal dalam hubungan percintaannya. Orang yang berharap akan menjadi obat untuk lukanya, justru malah menambah luka baru dalam hatinya.
Suatu hari Liani pernah memergoki Shanum sedang menangis sendiri di kamarnya. Dia tidak sengaja masuk karena pintu rumah Shanum tidak terkunci. Suara tangisan Shanum di atas sajadahnya terdengar sangat pilu.
Liani pun turut menitikkan air mata karena tak kuat mendengar suara tangisan Shanum yang penuh dengan kepiluan. Dia berdo'a dengan rintihannya, meminta pada Sang Pemilik Hatinya agar dikuatkan.
"Ya Rabb, kuatkan aku untuk menerima dan menjalani semua yang tertakdir untuk hidupku dengan baik. Sungguh tidak ada penyesalan sedikitpun dalam diriku. Aku hanya kurang beruntung bertemu seseorang"
Liani tak kuasa mendengarnya dengan segera dia meninggalkan rumah dinas Shanum. Liani sungguh mengagumi sosok sahabatnya itu. Penderitaan batin yang sahabatnya rasakan bukanlah main-main, mungkin jika dirinya yang berada di posisi Shanum belum tentu dia mampu setegar itu, tapi Shanum tetaplah Shanum yang selalu berprasangka baik dengan setiap yang terjadi padanya, selalu menampilkan senyumnya dan memendam dukanya.
***
Sementara di tempat lain...
Tuutt.....Akhtar menelepon seseorang.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya di ujung telepon.
"Bisa ke ruangan aku sekarang?"
"...."
"Oke, aku tunggu"
Akhtar meletakkan kembali gagang telepon di atas mejanya.
Ting...
Bunyi notifikasi pesan masuk di aplikasi pesan di gawainya terdengar saat Akhtar baru jasa mendaratkan kembali bokongnya di kursi kebesarannya. Dia raih gawainya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
08xxx.....
'Sayang, kamu lagi dimana?'
Ahsan menautkan alisnya membaca pesan dari nomor yang tidak dia kenal. Dia pun mengira-ngira siapa orang yang mengirimkan pesan dengan panggilan seperti ini. Mungkin kah orang yang salah kirim? pikirnya. Ibunya tidak biasa memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
Dia kemudian mengklik bagian foto pengirim pesan tersebut. Seorang gadis cantik berhijab merah dengan latar laut biru menampakkan senyum manisnya di foto itu. Dan ternyata pengirimnya adalah Raina, wanita yang dua hari yang lalu telah resmi menjadi tunangannya.
"Ck..." Akhtar berdecak mengingat sang pengirim pesan, dia membaca kembali pesan itu dan bergidik merasa geli sendiri saat Raina yang menyebutnya dengan panggilan itu.
Akhtar lupa kalau dia belum sempat menyimpan nomor Raina di kontak gawainya.
Dengan rasa enggan dia pun menyimpan nomor tersebut di daftar kontaknya dengan nama Raina kemudian meletakkan kembali gawainya di atas meja kerjanya, dia lupa belum membalas pesan yang dikirim tunangannya itu.
Derrtt.....Derrttt...Derrttt....
Tidak lama gawainya kembali berbunyi, kali ini bunyi dering panggilan masuk.
"Assalamu'alaikum"
'Wa'alaikumsalam, sayang kenapa pesan aku gak dibales?'
"Iya maaf aku belum lupa membalas pesanmu" ucapnya menjawab pertanyaan dari seberang teleponnya.
'Kamu lagi dimana?'
"Aku di kantor yayasan"
'Sibuk gak?'
"Lumayan"
'Siang ini kita makan siang bareng ya? aku akan datang ke ruanganmu dan kita pergi bersama.'
"Sorry, siang ini aku ada janji dengan Ahsan. Ada urusan penting yang harus aku segera bahas dengannya siang ini juga"
'Kalau gitu sekalian aja ngebahasnya sambil makan siang rame-rame. Kak Suraya juga bakalan dateng ke sini buat ngajak Kak Ahsan makan siang. Pokoknya satu jam lagi aku ke sana ya. Assalamu'alaikum'
Raina menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu persetujuan Akhtar. Akhtar hanya bisa menghela napas panjang.
Waktu makan siang pun tiba, kini mereka berempat sedang berada di kantin khusus yayasan, hanya Guru dan Karyawan yang berada di sana. Yayasan sengaja memisahkan kantin pegawai dengan kantin peserta didik untuk menghindari penumpukkan pengunjung pada saat jam istirahat.
Fasilitas di kantin yayasan lebih lengkap dibanding kantin peserta didik. Terdapat ruang makan VIP di kantin itu. Hal ini dikarenakan pengunjung kantin yayasan bukan hanya guru dan karyawan tapi juga tamu-tamu yayasan dan rekan bisnis sang pemilik yayasan yang biasa melakukan pertemuan di kediaman pribadi atau lingkungan yayasan.
Mereka duduk di meja khusus pimpinan di ruang makan VIP. Tak ada yang berani menempati meja di area itu, karena area itu memang dikhususkan untuk pimpinan.
Di meja lain karyawan dan guru pun tengah asik menikmati makan siang mereka. Shanum pun tampak berada di antaranya. Meja yang Shanum tempati tepat berhadapan dengan meja di ruang makan VIP yang ditempati Akhtar dan Ahsan, sehingga dengan jelas Shanum dapat melihat kebersamaan mereka begitupun sebaliknya.
Raina yang mengetahui Shanum berada di sana dengan sengaja Raina merangkul tangan Akhtar yang berada di sampingnya dia lebih mendekatkan tempat duduknya dengan Akhtar. Suraya yang mendapat kode dari Raina pun melakukan hal yang sama. Mereka asik melihat-lihat menu yang ada di kantin itu.
Saat makanan datang, Raina dan Suraya dengan sengaja menampilkan kemesraan mereka berdua. Raina menyuapi Akhtar dengan makanan pilihannya begitu pun Suraya menyuapi Ahsan.
Dengan wajah datar Akhtar maupun Ahsan terpaksa mengikuti keinginan mereka. Mereka menikmati makan siang mereka dengan penuh kehangatan.
Tanpa mereka sadari Shanum dan Liani menyaksikan semuanya. Shanum tersenyum ramah dan menganggukan kepalanya saat tatapannya bertemu dengan Suraya. Suraya semakin mendekatkan dirinya kepada Ahsan seolah menunjukkan bahwa Ahsan hanya miliknya.
__ADS_1
Shanum kembali menikmati makanannya tanpa menghiraukan mereka. Setelah selesai dengan makan siangnya dia pun berlalu meninggalkan kantin. Ketika melintasi di samping ruangan makan VIP yang terhalang kaca, Akhtar tanpa sengaja melihat kepergian Shanum. Dia menghentikan aktivitasnya dan menatap kepergian Shanum yang semakin menjauh. Dia menangkap sesuatu yang aneh diantara Raina dan Suraya yang saling tersenyum setelah kepergian Shanum.