Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Kegundahan Bu Fatimah


__ADS_3

Akhtar bergegas menuju kediamannya yang cukup jauh dari taman komplek rumah dinas guru jika ditempuh dengan jalan kaki.


Dia setengah berlari, berharap segera sampai karena khawatir dengan sang Ibu yang meneleponnya dengan suara yang bergetar.


"Bu, Ibu....Bu...", ucapnya tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Bu, Ibu.....Ibu.....hah.." Akhtar bernapas lega saat mendapati sang Ibu berada di dapur sedang memasak menyiapkan untuk makan malam.


"Assalamu'alaikum, Nak.." ucap sang Ibu menyindir sang anak yang berteriak memanggilnya semenjak memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam, maaf Bu aku buru-buru, khawatir dengan Ibu", jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Akhtar memeluk ibunya yang sedang memasak dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu sang Ibu.


"Aku khawatir Bu, aku takut terjadi sesuatu dengan Ibu" , rengeknya


"Kamu ini, memangnya apa yang kamu pikirkan saat Ibu menelepon tadi, hah?" tanya sang ibu yang merasakan kegundahan sang anak yang sedang memeluknya. Ibu Fatimah dapat merasakan jika anaknya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Tadi aku mendengar suara Ibu seperti menangis saat menelepon, aku pikir terjadi sesuatu pada Ibu. Aku takut Ibu pergi lagi." ucapnya dengan nada sedih.


Deg, Ibu Fatimah tersentak mendengar perkataan putranya, dia memang berencana akan meminta izin pada sang putra untuk tinggal jauh dari kota ini menjadi ragu, takut sang putra tidak mengizinkan, takut sang putra batinnya kembali terluka.


Ibu Fatimah sudah bertekad akan pergi dan tinggal jauh dari kota ini, dia tidak ingin kembali berhubungan dengan masa lalunya.


Keberadaannya di sini hanya membuat dia kembali terhubung dengan masa lalu yang telah susah payah dia kubur. Dia tidak ingin keberadaannya di lingkungan yayasan menambah masalah baru dengan kesalahfahaman antara dirinya dengan mantan sahabatnya yang kini menjadi istri dari mantan suaminya itu.


Kedatangan mantan suaminya yang menyerahkan surat-surat bukti kepemilikan dirinya dan putranya atas beberapa aset ternyata diketahui oleh Sopia.


Selepas kepergian mantan suaminya dari rumah itu, tidak berselang lama Sopia datang menemuinya. Dia meminta penjelasan maksud dan tujuan kedatangan suaminya ke kediaman Akhtar dan menemui mantan istri suaminya itu.


Selama ini ternyata Sopia menyuruh seseorang untuk memata matai suaminya dan Ibu Fatimah. Dia juga mengetahui jika selama Fatimah berada di lingkungan yayasan suaminya beberapa kali menyuruh orang untuk meminta Fatimah menemuinya. Dan dia pun tahu jika hari ini suaminya datang langsung menemui Fatimah.


Kabar yang diterima dari orang suruhannya sontak membuatnya marah, tanpa pikir panjang Sopia bergegas menuju kediaman Akhtar untuk menemui Fatimah.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu membuat Bu Fatimah tersadar dari lamunannya, di tangannya masih dia genggam map yang ditinggalkan oleh mantan suaminya tadi. Ibu Fatimah segera menyimpan map itu ke kamarnya, dia tidak ingin hal itu diketahui orang lain. Dia sendiri akan memberitahukan hal itu kepada putranya.


Fatimah meyakini orang yang datang bukanlah putranya, karena jika sang putra tidak mungkin mengetuk pintu dengan cukup keras.


Fatimah membuka pintu itu, dia kembali terperanjat saat melihat orang yang berada di hadapannya.


"Sopia?" ucapnya lirih.


"Iya ini aku. Bisa aku masuk?" Sopia berbicara dengan formal.


"Silahkan", jawab Fatimah. Dia membuka daun pintu lebih lebar dan mempersilahkan Sopia masuk.


"Nyaman juga rumah ini, pantas saja Akhtar selalu menolak saat aku memintanya untuk tinggal di rumah utama", Ujar Sopia seolah menunjukkan perhatiannya pada putra sambungnya di hadapan Fatimah.


"Sejak dulu dia memang sudah mandiri, aku percaya kamu mendidiknya dengan baik. Walaupun pada akhirnya aku yang menjamin semua pendidikan dan masa depannya." sindir Sopia

__ADS_1


Fatimah menatap Sopia tajam, dia mencoba menyelami maksud ucapan Sopia. Dia tahu sejak dulu sahabatnya itu memang memiliki watak yang keras dan mau menang sendiri. Banyak teman-teman yang tidak bertahan lama dekat dengannya. Dan hanya Fatimah yang selalu sabar dan penuh kelembutan menghadapi Sopia.


Sopia pun nyaman dengan Fatimah, hingga mereka pun menjadi sahabat dekat bahkan sudah seperti saudara. Fatimah selalu menjadi pendengar yang baik bagi setiap keluh kesah Sopia.


"Aku tahu Kang Furqan baru saja datang dari sini. Aku kira kamu mengerti maksud kedatanganku kesini." jelas Sopia.


Fatimah menghela napasnya, dia mulai faham arah pembicaraan Sopia dan maksud kedatangannya.


"Iya benar, Kang Furqan baru saja datang kemari. Dia menanyakan kabarku selama ini dia meminta maaf atas semua yang terjadi di antara kami di masa lalu." jawab Fatimah jujur, namun dia tidak mengatakan perihal surat-surat aset itu.


"Hanya itu?" timpal Fatimah. Nada bicaranya menunjukkan kalau Sopia meragukan jawaban Fatimah.


"Sopia, kamu tidak perlu khawatir. Meskipun dulu kami pernah punya hubungan, tapi itu sudah menjadi masa lalu untukku. Masa yang tidak akan pernah kembali di masa kini dan di masa yang akan datang" jelas Sopia.


"Jika kamu mengira kedatanganku kembali untuk seperti yang kamu prasangkakan padaku, kamu salah besar. Hingga saat ini aku berada di sini hanya demi putraku. Akhtar putraku." Fatimah mengatakannya dengan penuh penekanan.


"Baguslah kalau begitu, aku percaya kamu bisa mewujudkan ucapanmu. Aku pegang kata-katamu."


"Tapi sepertinya aku tidak bisa percaya kepada Kang Furqan ya?" sindir Sopia.


"Aku rasa Kang Furqan masih akan melakukan banyak hal untuk bisa dekat lagi dengan kamu. Dan aku tidak bisa membiarkan itu" ucapnya tegas.


"Jadi kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri?" tanya Fatimah telak.


Sopia tidak menjawab, dia menatap Fatimah dengan tajam. Meski usianya yang sudah kepala lima menuju enam tapi tidak membuat aura kecantikannya luntur. Dia selalu tampil sempurna, sepintas orang tidak akan percaya jika usianya sudah hampir senja.


"Aku hanya tidak ingin ada duri dalam rumah tanggaku. Selama beberapa tahun ini hidupku sudah cukup tenang dan bahagia dengan suami dan juga anak-anakku. Aku bahkan memperlakukan Akhtar dengan baik selama ini. Aku tidak ingin kehadiranmu hanya akan membuat ketentraman dan kenyamanan keluargaku terganggu. Aku rasa kamu faham maksudku."


Fatimah hanya geleng-gelengkan kepala mendengar semua perkataan Sopia. Dia tidak habis pikir begitu dangkalnya pemikiran mantan sahabatnya itu, mungkin itu yang sejak dulu membuat orang lain tidak bertahan lama dekat dengannya bahkan cenderung hanya memanfaatkan kekayaannya. Dan hanya Fatimah yang selalu mampu bersabar menghadapinya, dia selalu memberi ruang pada Sopia untuk mengekspresikan dirinya sendiri.


"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Fatimah langsung pada pokoknya.


" Haha....." Sopia tertawa, dia tau sahabatnya itu memang paling mudah diperdayai pikirnya.


"Aku yakin kamu sendiri tahu jawabannya" jawab Sopia tegas.


"Kamu ingin aku pergi?" tanya Sopia memastikan.


"Iya, harus aku jelaskan lagi? sentak Sopia. Fatimah terperangah.


"Aku sudah jelaskan bahwa keberadaanku di sini hanya demi putraku. Tidakkah kamu berpikir dari sisi seorang Ibu? bukankan kita sama-sama seorang Ibu?" tanya Fatimah dengan penuh kelembutan.


"Aku tidak peduli, aku bilang aku memang percaya padamu tapi aku tidak percaya pada Kang Furqan. Kamu tahu,..." Sopia menjeda ucapannya, dia memejamkan matanya sekejap.


"Selama aku menjadi istrinya dia tidak pernah memberikan hatinya untukku. Aku memang memiliki raganya tapi tidak hatinya. Di hatinya hanya ada kamu Fatim, hanya ada kamu." intonasi Sopia mulai meninggi


"Namamu selalu yang dia sebut dalam setiap mimpi tidurnya, dan aku sakit mendengarnya Fatim, aku sakit. Bahkan di saat aku yang berada dipelukannya, aku yang menuntaskan hasratnya tapi namu kamu yang ada dalam gumamannya." Sopia kembali menghentikan ucapannya, matanyaulai mengembun.


"Aku benci itu Fatim, aku benci. Aku benci Kang Furqan yang masih mencintai dan mengenang kamu, Aku benci kamu yang mendapatkan cinta begitu besar dari Kang Furqan. Padahal apa lebihnya kamu? apa kurangnya aku? Selama ini aku sudah memberikan segalanya untuk Kang Furqan. Aku selalu tampil cantik di hadapan Kang Furqan. Tapi semua itu tidak juga membuatnya tertarik padaku, karena pada akhirnya hanya nama kamu yang dia sebut bahkan di setiap pelepasannya. Aku benci itu Fatim, aku benci, aku benci kamu."


Sopia berteriak histeris saat mengatakan semuanya, nafasnya terlihat turun naik lebih cepat. Wajahnya memerah, matanya berembun hingga akhirnya jebollah tanggul air matanya. Sopia menangis tersedu sedan setelah mengungkapkan semua isi hatinya. Terlihat sekali betapa rapuhnya dia.

__ADS_1


Fatimah mematung, tubuhnya seakan kaku. Lidahnya kelu, air matanya pun mengalir begitu saja, rasa iba menyeruak.dalam dadanya. Dia tidak menyangka selama ini Sopia memendam semuanya sendiri.


Di balik keangkuhannya ternyata jiwanya tetaplah rapuh. Sisi lain dari Sopia yang sejak dulu hanya diketahui Fatimah. Hanya di hadapan Fatimah Sopia bisa mengungkapkan semua isi hatinya. Meluruhkan semua keangkuhan yang melekat di dirinya dan tampil menjadi dirinya sendiri.


Suasana hening, sesekali hanya terdengar isakan tangis dari dua wanita yang dulunya bersahabat itu. Meraka masih anteng menikmati luka batinnya masing-masing.


Waktu hening cukup lama, Fatimah sadar dirinya terlalu terbawa suasana hingga bayangan masa lalu yang sudah dia kubur dalam-dalam itu kembali membayanginya. Segera dia berusaha menetralkan suasana hatinya.


"Sopia...." panggilnya lirih.


"Tidak Fatim, aku tidak mau mengalah. Aku tidak percaya dengan yang namanya karma. Kang Furqan adalah milikku dia akan jadi milikku selamanya...hiks" ucapnya dengan suara bergetar karena air matanya masih terus mengalir.


Fatimah menarik napasnya dalam, berusaha kembali menetralkan perasaannya.


"Aku akan pergi Sopia!" ucapnya mantap.


Seketika tangis Sopia terhenti. Dia mendekat ke pada Fatimah.


"Benar kamu akan pergi?" tanyanya sumringah.


Fatimah menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, Sopia pun memeluk Fatimah erat.


"Terima kasih Fatim, terima kasih. Aku tahu kamu memang paling tidak bisa melihat aku bersedih." ucap Sopia tanpa tahu malu.


Dia berdiri dari tempat duduknya, merapikan pakaian dan dandanannya yang acak-acakan kerena aksinya barusan.


"Fatim, pokoknya aku pegang kata-katamu, aku percaya kamu akan mewujudkan ucapanmu. Kamu tahu aku bisa melakukan apa saja jika kamu melanggar janjimu." ucapnya tegas.


Sopia memakai kaca mata hitamnya dan berjalan menuju pintu, dia keluar dengan angkuhnya tanpa peduli pada seseorang yang selalu terkorban karena ambisinya.


Fatimah hanya mengusap dadanya, berkali kali dia beristighfar. Ternyata Sopia tetaplah Sopia, egois, penuh ambisi dan selalu ingin menang sendiri.


"Dia menyindir, tapi sindirannya cocok untuk dirinya sendiri." gumam Fatimah lirih.


Fatimah segera membereskan kekacauan yang terjadi akibat ulah Sopia. Dia tidak ingin Akhtar memergokinya.


Waktu sudah sore, Fatimah segera mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Ashar, kehadiran Sopia membuatnya melewatkan waktu Sholat Ashar lebih dari satu jam. Setelah suasana dirasa sudah kondusif, Fatimah meraih gawai yang dia simpan di meja kecil dekat tempat tidurnya. Dia mendial nomor sang putra.


***


Kegiatan memasak yang penuh drama pun akhirnya selesai. Selama memasak Akhtar terus menempel pada Ibu Fatimah. Dia tak beranjak sedikitpun dari dapur seakan takut sang ibu pergi.


"Sebentar lagi maghrib, kita shalat berjamaah di rumah ya Nak? Setelah itu kita makan." pinta Bu Fatimah.


Akhtar hanya mengangguk, dia asik mengunyah tempe goreng buatan sang Ibu yang dia comot saat baru di angkat dari penggorengan.


Selesai makan malam, Akhtar dan Ibu Fatimah duduk di ruang tengah. Akhtar menyalakan televisi untuk membersamai kebersamaan mereka.


Ibu Fatimah melihat ke arah putranya, dia mencoba menelisik raut wajah putranya. Dia ingin mengutarakan maksudnya saat keadaan sang putra benar-benar tenang. Dia tidak mau Akhtar salah faham dengan keinginannya itu. Tetapi dia pun belum sanggup jika harus jujur perihal kedatangan ayah dan ibu sambung Akhtar.


"Nak..." ucap Bu Fatimah ragu...

__ADS_1


__ADS_2