
Hari-hari yang dilalui oleh Shanum semakin terasa hampa tanpa kehadiran Haqi bersamanya. Dia seakan masih merasakan kehadiran Haqi di setiap sudut kamar yang mereka tempati selama enam malam tetapi berujung hanya sebatas halusinasi.
Shanum masih tinggal bersama ibu mertua dan adik iparnya di Jakarta. Bapak, Ibu dan adik-adik Shanum pun masih enggan meninggalkan Shanum untuk kembali ke Bogor. Adam yang juga merupakan sepupu Haqi terpaksa pulang pergi Bogor Jakarta selama seminggu ini karena permintaan sang istri yang masih ingin menemani kakaknya.
Permintaan terakhir yang disampaikan mendiang suaminya dalam mimpi ternyata juga dia pernah sampaikan pada adik iparnya.
Tok...tok...tok...
"Teh? boleh aku masuk?" suara ketukan pintu kamarnya menghentikan Shanum yang sedang membaca Al-Qur'an selepas shalat isya.
Shanum masih berada di atas sejadah. Setelah mengakhiri tadarusnya, dia beranjak menuju pintu.
"Dek, masuklah" ucap Shanum saat melihat pintu itu sudah terbuka karena memang tidak dikunci.
"Teteh sudah ngajinya? aku ganggu gak?" tanya Hasna yang merasa tak enak karena saat dia membuka pintu kamar Shanum terdengar Shanum langsung mengakhiri ngajinya.
"Sudah, enggak kok, enggak ganggu. Ada apa?"
jawab Shanum meyakinkan Hasna jika kehadirannya tidak mengganggu.
"Aku minta maaf sebelumnya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama Teteh" ucap Hasna tampak ragu saat ia mengatakan akan mengatakan sesuatu.
"Katakan, Dek jangan ragu" ujar Shanum memastikan.
"Sebelum Abang meninggal sebenarnya Abang sudah menyiapkan sesuatu buat Teteh, setelah Abang selesai mengurus urusan perusahaan rencananya dia mau memberikan kejutan ini sama Teteh" Hasna memberikan sebuah map yang dia bawa ketika memasuki kamar Shanum.
Shanum menerima map itu, dia menatap map itu lama. Merasa enggan untuk membukanya, namun rasa penasaran akan isi map yang diberikan adik iparnya membuat Shanum perlahan membuka map itu.
Lembar pertama yang Shanum lihat adalah foto sebuah rumah yang tampak minimalis bernuansa modern dengan halaman yang luas di penuhi tanaman-tanaman yang membuat suasana rumah tampah sejuk dan asri.
Di lembaran kedua Shanum pun melihat foto sebuah mobil dengan flat nomor cantik B 54 NUM, sepertinya Haqi sudah menyiapkan semua ini jauh-jauh hari.
Lembar berikutnya Shanum pun membaca dokumen kepemilikan rumah dan mobil itu atas nama dirinya. Dia kembali menutup map itu dan menyerahkannya kembali pada Hasna.
"Maaf, Dek. Teteh tidak bisa menerimanya" ucap Shanum, dia menggelengkan kepalanya saat menyerahkan kembali map itu kepada Hasna.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu kembali terdengar oleh Shanum, dia mendongak ke arah pintu kamarnya yang sudah sedikit terbuka.
"Boleh Mami masuk?" ternyata Mami Ratna yang mengetuk pintu. Dia sengaja menyusul putrinya saat Hasna bilang akan menyampaikan amanah Haqi untuk Shanum.
"Mami, silahkan masuk" Shanum berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Mami Ratna untuk duduk di sopa yang ada di kamarnya yang kemudian disusul oleh dirinya dan Hasna yang awalnya duduk di tepi ranjang.
"Teteh, menolak Mi" ucap Hasna lesu.
Mami Ratna menatap Shanum dengan penuh kelembutan. Dia sudah menduga jika wanita pilihan putranya ini adalah wanita istimewa yang tidak mudah tergiur oleh kekayaan. Beberapa kali Mami Ratna menerima kedatangan wanita yang mendekati Haqi putranya tapi tak satu pun yang cocok di hatinya karena pada akhirnya kekayaan Haqi yang membuat mereka tertarik. Entah mengapa berbeda dengan saat dirinya menerima kiriman foto Shanum dari putranya, Mami Ratna langsung menyetujui rencana putranya yang akan meminang Shanum.
Mami Ratna tersenyum saat Shanum menatapnya.
"Kenapa Teteh menolaknya?" tanya Mami Ratna lembut.
"Maaf, Mi...aku merasa tidak pantas menerimanya" jawab Shanum pelan. Dia tidak mau jawabannya menyinggung perasaan ibu mertuanya.
Mami Ratna kembali tersenyum.
"Teteh... kalau boleh Mami bercerita, sejak kepergian mendiang ayahnya Haqi dan Hasna Mami sangat kehilangan dan kehadiran mereka berdua benar-benar menjadi sumber kekuatan untuk Mami. Haqi tumbuh menjadi pemuda yang baik dan bertanggung jawab, dia benar-benar menjaga Mami dan Hasna"
"Suatu hari Haqi pernah bilang jika dia menginginkan seorang istri yang tidak hanya bisa mendampingi dirinya di dunia dan akhirat tapi juga bisa memuliakan Mami dan menjaga Hasna supaya saat Haqi harus jauh dari Mami dan Hasna, istri Haqi bisa menjaga dan menyayangi Mami dan Hasna. Sepertinya perkataan Haqi saat itu terbukti sekarang, hiks...ðŸ˜" Mami Ratna tidak kuat menahan dirinya untuk tidak menangis saat menceritakan tentang harapan putranya.
Dia kemudian menggenggam erat tangan Shanum dan menatapnya dalam,
"Tolong, tetaplah jadi putri Mami. Jangan tinggalkan Mami dan Hasna ya? Mami yakin apa yang terjadi pada Haqi sudah diatur sebaik mungkin oleh Yang Maha Kuasa, Dia mengambil Haqi dari kami dan mengirimkan kamu sebagai gantinya" Mami berkata dengan suara parau karena disertai isakan tangis yang masih belum berhenti. Dia menatap Shanum dengan tatapan memohon.
Hasna yang berada di samping Shanum pun memeluk Shanum dari samping dan menyenderkan kepalanya di bahu Shanum dengan air mata yang berderai.
"Aku sayang teteh seperti Abang yang sangat menyayangi Teteh" ucap Hasna penuh haru.
Shanum sangat terharu mendengar permintaan dari ibu mertua dan adik iparnya. Dia berjanji dalam hatinya jika dia akan menganggap mereka seperti keluarga kandungnya.
__ADS_1
"Kamu simpan ini dengan baik, ini semua adalah bentuk kasih sayang dan kewajiban Haqi sebagai suamimu. Terimalah, jangan buat Haqi sedih. Mami yakin dia akan kecewa jika tahu kamu menolaknya" Mami mengambil map yang tadi diserahkan Shanum dari Hasna, dia menyerahkannya kembali kepada Shanum.
"Teteh, aku juga menemukan ini di laci meja kerja Abang di kantor. Sepertinya ini privasi yang disimpan Bang Haqi selama ini, aku rasa teteh lebih berhak mengetahuinya lebih dulu" Hasna menyerahkan sebuah buku diary yang berukuran tidak terlalu besar.
Shanum menerima buku itu dengan tangan yang bergetar.
"Mami tinggal dulu ya, kalau sudah selesai segera kamu istirahat" Mami Ratna seolah mengerti jika Shanum membutuhkan privasi untuk membaca buku yang tadi siang ditemukan Hasna di laci meja kerja Haqi di kantornya.
Hasna yakin menyerahkan buku itu kepada Shanum setelah dia sempat membaca beberapa tulisan tangan Haqi di buki itu tentang Shanum.
Shanum menjawab perkataan Mami Ratna dengan anggukan kepala. Dia pun beranjak dari sopa menuju tempat tidurnya.
Perlahan tangan Shanum mengusap sampul buku yang disinyalir milik suaminya. Dia perlahan membuka sampul itu dan tampaklah halaman pertama buku itu menampilkan namanya yang terukir indah dengan huruf yang besar.
2 Oktober ...
*Shanum Najua Azzahra*
~Allah lah yang menanamkan rasa cinta di hati kita, jadi jangan bertanya padaku mengapa aku mencintaimu.~
Dari tanggal dan tinta yang sudah tampak memudar Shanum tahu jika tulisan namanya di buku itu tertulis saat dirinya masih kuliah di Bamdung. Shanum ingat, hari itu adalah hari terakhir Shanum mengikuti perkemahan sebagai rangkaian akhir kegiatan ospek.
10 November ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah~
22 Desember ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Terkadang banyak yang ingin ditulis dan diungkapkan, tapi hati berbisik "sudahlah, Allah lebih tahu segalanya~
11 Januari ...
"Shanum Najua Azzahra"
22 Februari ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Waktu yang akan menjelaskan tentang rasa yang ada di hatiku untukmu~
1 Maret ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Hal terbaik adalah berprasangka baik terhadap segala hal. Tuhan, terima kasih Kau masih memberi mata ini kesempatan untuk dapat melihat senyumnya, dan telinga ini masih dapat mendengar suaranya~
5 April ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Kelak yang sejauh waktu sahur dan iftar, akan sedekat keda adzan dan iqamah. Semoga itu kita~
30 September ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Di dunia ini tiada satupun yang bisa kita dapatkan tanpa perjuangan, semakin sulit perjuangan yang dijalani, lazimnya semakin manis pula hasilnya. Semoga begitu pun dengan perjuanganku untukmu~
30 Desember ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Merelakan bukan berarti menyerah, tapi lebih kepada menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Izinkan aku memilih mencintaimu dalam diam~
Deg ... melihat tanggal tertulisnya kalimat itu, Shanum teringat jika di hari itu adalah hari ketika Ahsan menyatakan cintanya.
__ADS_1
13 Januari ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Entah kenapa, sudah ditampar kelas ketidakpastian, masih saja memeluk erat sebuah harapan. Entah mengapa tidak ada yang menyenangkan hari ini. Sedang di fase mencoba mengikhlaskan~
13 Maret ..
"Shanum Najua Azzahra"
~Terlepas berbalas atau tidak, kekuatan dari sebuah cinta yang tulus akan selalu mengalahkan segalanya~
2 April ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Kepadamu Ya Allah ku titipkan sebuah mimpi yang telah lama kuharapkan~
5 April ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Tuhan tidak pernah melarangku mengaguminya, tapi Tuhan melarangku untuk memilikinya. Pada akhirnya aku harus menjauhimu, karena keharusan bukan keinginan~
23 Juni ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Masih ada harapan yang pantas ditunggu, tidak perlu ragu, tetap langitkan do'a-do'a. Sebab do'a adalah selingkuhan yang paling baik untuk cinta yang direbut oleh jarak. Perjuangkan aja dulu, perkara jodoh atau bukan itu urusan nanti ~
18 Agustus ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Untukmu, masih ku ikhtiyarkan dan do'akan, semoga Allah takdirkan. Terwujud tidak terwujud tetaplah bersujud. Jangan dulu berhenti, jangan dulu menyerah. Ikuti aja dulu permainannya bagaimana, hahaha....~
Deg... Shanum kembali merasakan ada sesuatu yang mencubit hatinya, hari yang tertulis di lembaran itu adalah saat dia memutuskan untuk kembali ke Bogor setelah resign dari yayasan. Dia tidak menyangka jika Haqi ternyata masih mengharapkannya.
24 Desember ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Senja mengajarkan kita bahwa keindahan tak harus selalu datang di awal~
Adalah hari dimana Adam memberi tahu Shanum ada seseorang yang bermaksud meminangnya.
17 Januari ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Yakin saja pertemuan itu tidak akan salah tempat, tidak akan salah waktu apalagi salah orang~
Adalah hari ketika Haqi datang untuk pertama kalinya menemui keluarga Shanum untuk mengutarakan maksudnya hatinya.
23 Januari ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Jangan dipaksa, sainganmu itu masa lalunya~
Deg, deg, deg ... sesuatu kembali menghantam dada Shanum saat membaca kalimat itu. Kalimat itu Haqi tulis tepat di hari pernikahannya.
31 Januari ...
"Shanum Najua Azzahra"
~Terima kasih sudah menjadi jawaban dari do'a-do'aku. Terima kasih sudah bersedia menemani perjalanan hidupku. Terima kasih sudah memberi apapun yang terbaik. Aku tahu tidak ada yang lebih baik dari kamu ketika berusaha mencintaiku. Aku mencintai dan menyayangimu dengan segenap jiwa dan ragaku, percayalah apapun keadaanmu tak akan mengubah cinta dan sayangku untukmu, Shanum Najua Azzahra, istriku tersayang~
Tangan Shanum bergetar, dadanya semakin bergemuruh saat membaca kalimat terakhir yang tertulis di buku catatan itu. Hari itu adalah hari dimana dia menerima telepon dari suaminya agar bersiap-siap untuk nanti malam, dan tepat di hari itu kecelakaan pun terjadi.
__ADS_1
Shanum tak mampu lagi menahan isak tangis, dia meredam rasa yang bergemuruh di dadanya. Selama membaca setiap kalimat yang Haqi tulis air matanya tidak berhenti mengalir membasahi pipi hingga pangkuannya.
"Abang ... ketakutan terbesarku bukan kehilanganmu, tapi bagaimana aku melewati hari-hari setelah sebelumnya selalu kau temani. Biar Allah saja yang faham, bagaimana hati ini merindukanmu. Hikss.....ðŸ˜" Shanum berbicara pada dirinya sendiri.