
Ahsan yang sedang berkumpul dengan Akhtar dan teman-teman SMAnya menyunggingkan senyum saat mendapati sosok yang sejak tadi dia cari tengah duduk bersama teman-temannya di meja yang tidak jauh tempatnya berada.
Sekarang waktunya menikmati hiburan yang mengisi pesta ini, semua panitia pun dibolehkan untuk turut menikmati pesta dan duduk di meja yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.
Dia mengirim pesan pada Shanum,
'Have fun!' pesan terkirim dan langsung bercentang dua berwarna biru.
Ahsan sumringah ketika melihat pesannya langsung terbalas.
My Shanum:
'👍😊🙏'
Ahsan:
❤️
Senyum Ahsan semakin lebar, dia pun langsung membalas pesan Shanum sambil melihat ke arah Shanum yang sedang menunduk melihat gawainya mereka pun saling melempar senyum.
"Ada apa Bro, senyum-senyum sendiri?" tanya Reno salah satu teman SMAnya. Sontak semua yang ada di meja itu melihat ke arah Ahsan termasuk Akhtar.
"Hah?", Ahsan yang kurang fokus tampak gugup melihat semua mata tertuju padanya.
"Lu kenapa? dari tadi kita ngobrol lu malah senyum-senyum sendiri", ulang Reno.
"Ah, enggak apa-apa. Gue cuman lagi nongkrongin anak orang yang udah bikin gue gak bisa tidur mulu", jawab Ahsan lugas.
"Maksud lo?" tanya teman Ahsan yang lainnya, dia adalah Robby. Mereka semua tahu kisah percintaan Ahsan. Dulu mereka memang saling terbuka satu sama lain perihal urusan asmara.
"Lu lagi nungguin Suraya?" tanyanya lagi. Akhtar yang mendengar pertanyaan temannya untuk Ahsan pun turut menghentikan aktifitasnya sejenak dan melirik Ahsan.
"Ishhhh", desis Ahsan.
" Apaan sih lo, dia mah udah ke laut. Gue udah punya gebetan baru, sehidup sesurga deh pokoknya", jawab Ahsan mantap.
"Oya?" teman yang lainnya yang bernama Rio menimpali.
"Yakin lo? kok gue gak yakin ya? secara lo dulu bucin akut sama Suraya, sampe-sampe ke toilet aja diikutin, haha....." ledek Rio.
__ADS_1
Saat ini Ahsan memang sedang duduk dengan tiga orang teman sekelasnya waktu SMA di Yogya. Reno, Robby dan Roy, Ahsan sering memanggil mereka dengan sebutan triple R, sedangkan Ahsan dan Akhtar dipanggil duo A oleh mereka.
Mereka bertiga memang sangat tahu bagaimana Ahsan sangat menyanjung Suraya. Dia memperlakukan Suraya bak seorang putri yang benar-benar harus dia jaga. Teman-temannya itu pun sering meledek Ahsan yang terlihat lebih mendekati seperti bodyguard dibanding kekasih.
Mereka bertiga datang atas undangan dari Akhtar langsung. Walau pun Akhtar adik kelas mereka, tapi dulu mereka cukup akrab, mengingat Akhtar dan Ahsan selalu bersama saat istirahat di sekolah tentunya bersama mereka pula. Mereka pun sering menghabiskan waktu bersama saat di luar sekolah.
Akhtar yang mendengar ledekan temannya pun penasaran dengan tanggapan Ahsan. Diam-diam dia memasang telinganya tajam, ingin mendengar apa yang akan Ahsan katakan tentang Suraya. Awalnya dia pun mengira bahwa Ahsan tidak mungkin berpaling dari Suraya, namun ternyata dia salah dan malah mencintai perempuan yang sama dengannya.
Akhtar sudah merelakan Shanum bersama Ahsan, karena mendengar perjuangan Ahsan selama ini untuk mendapatkan Shanum. Dia pun memilih untuk tidak mengatakannya pada Ahsan, kalau gadis pujaan yang bertahun-tahun bertahta di hatinya bahkan sampai saat ini adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang dicintai sepupunya itu.
Ahsan yang hendak menyangkal pertanyaan dan pernyataan temannya itu terpotong oleh suara riuh yang tiba-tiba dari arah pintu masuk aula. Mata mereka pun tertuju ke sana. Ahsan melihat dengan mata kepalanya sendiri kedatangan seorang gadis yang pernah bertahta di hatinya, tapi itu dulu sebelum gadis itu benar-benar meninggalkannya dan memilih pergi mengejar cita-citanya di negeri orang. Sekarang yang ada di hatinya hanyalah Shanum, dia pun sudah tidak peduli dengan kehadiran gadis itu.
"Woww.....amazing, ck..ck..ck..lihat San, doi berubah banget sekarang. Makin cantik dan makin aduhay..." ucap Reno yang terus memandang ke arah gadis yang sedang dikerubungi itu.
"Gue kira dia masih di luar negeri kayanya lu bakalan rugi San, kalo bener-bener ngelepas dia. Lihatlah dia semakin cantik aja", timpal Roy.
Mereka berlima pun sesaat memerhatikan kedatangan Suraya yang membuat setengah dari isi aula ini meriuh. Pasalnya yang hadir adalah teman-teman kuliahnya dulu saat dia masih berkuliah di Indonesia, dan Suraya adalah termasuk jajaran mahasiswi idola di kampusnya dulu. Dia sengaja meminta Raina untuk mengundang teman-temannya yang sebagian besar juga kenal dengan Rania, sekaligus ingin merayakan kepulangannya ke Indonesia. Raina dan Suraya adalah saudara sepupu yang cukup dekat.
"Ehemmm..." Ahsan berdehem, mencoba mengalihkan perhatian mereka yang masih tertuju pada Suraya.
"Lu ngundang dia, Bro?", tanyanya sinis pada Akhtar. Yang di jawab Akhtar hanya dengan gerakan gelengan kepala dengan mengerdikan bahunya. Ahsan pun sebenarnya sudah mengira pasti ini ulah Raina, karena mereka adalah saudara sepupu.
"Asal kalian tahu, dia udah gue lupain. Sekarang gue bener-bener udah beralih dari dia, bukan hanya mata gue tapi juga hati gue dan kalian jangan coba-coba ngebahas perihal dia di sini, gue gak mau calon istri gue mendengarnya dan jadi gak nyaman", ancamnya.
Dari dulu Ahsan adalah yang paling bisa diandalkan diantara mereka berempat. Bukan hanya di sekolah Ahsan menjadi pemimpin, tapi di luar sekolah pun Ahsan kerap dipercaya untuk menjadi penentu kebijakan ketika harus mengambil keputusan tentang hal apapun dalam persahabatan mereka dan mereka oun kembali fokus dengan obrolan mereka yang sempat tertunda tanpa memerdulikan kehadiran Raina yang membuat heboh suasana.
"Cek...cek..." suara seseorang dari atas panggung menyita perhatian semua orang. Ahsan yang merasa tak asing dengan suara itu pun menoleh. Dia kaget melihat seseorang yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya tengah berdiri dengan percaya diri di atas panggung.
Semua yang dilakukan gadis itu disaksikan oleh semua orang. Ahsan terdiam tak mampu berkata-kata mendengar apa yang dikatakan gadis itu di atas panggung, sungguh sangat membuatnya geram.
Dia merasa gadis itu sedang mempermainkannya, tapi dia tak peduli pikirannya langsung tertuju pada Shanum. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Shanum yang juga mendengar semua perkataan gadis di atas panggung itu. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan gadis itu, di pikirannya hanya ada Shanum, Shanum dan Shanum.
Wajah Ahsan pucat seketika, saat melihat Shanum diam tak ada pergerakan sedikitpun. Dia bisa membayangkan kekecewaan Shanum terhadapnya. Baru tadi siang dia mendapat angin segar dengan perubahan sikap Shanum, dan hari ini dia kembali melihat wanita itu diam tanpa ekspresi.
Kaget, merasa dibohongi, dikhianati, kecewa, sakit hati....jelas Shanum kembali rasakan saat ini. Lagi-lagi dia harus ditampar keras oleh kenyataan, dan dipukul mundur dengan keadaan. Seseorang yang dianggap sebagai pelipur setiap laranya, kenyataannya membuat lukanya kembali menganga. Dia kembali dibuat trauma oleh orang yang mengaku pernah trauma.
Tidak hanya Ahsan yang fokus melihat Shanum, tapi juga Akhtar. Mendengar semua yang dikatakan gadis itu di atas panggung sungguh memancing kemarahannya. Tangannya mengepal, wajahnya memerah dia tampak sedang menahan diri untuk tidak menumpahkan kemarahannya di sini.
Akhtar kecewa ternyata sahabat sekaligus sepupunya itu belum selesai dengan masa lalunya. Tapi sudah berani-beraninya melangkah jauh dengan Shanum, dan kini Shanum gadis yang harus terpaksa dia lepaskan karena keadaan, dan merelakannya bersama sahabat sekaligus sepupunya itu kembali harus terluka karena ulah laki-laki yang awalnya dia percaya mampu membahagiakannya.
__ADS_1
Pandangan Ahsan pada Shanum terputus ketika seseorang datang dan langsung memeluknya. Sontak Ahsan terkaget, dia pun segera menepis tangan yang sudah melingkar di lehernya. Dia refleks berdiri dari duduknya, dan menghempaskan gadis yang tiba-tiba memeluknya itu.
"Hubby...", ucap gadis itu merintih.
"Ck..." Ahsan berdecik, dia kembali memalingkan wajahnya dan kembali menatap Shanum. Tanpa menunggu lagi, dia melangkah meninggalkan semua orang yang berdiri melingkar di mejanya. Semua yang duduk di meja itu kaget saat melihat Ahsan menepis tangan gadis itu dengan kasar, mereka tidak menyangka Ahsan akan berprilaku seperti itu. Serempak mereka pun berdiri dari tempat duduk masing-masing. Khawatir Ahsan melakukan hal-hal yang tidak diharapkan.
Langkah Ahsan pun terhenti tepat di depan meja Shanum dan teman-temannya.
"Shanum, aku bisa jelaskan!", suara Ahsan menyadarkan Shanum dari lamunannya, dia baru sadar jika di hadapannya kini sudah berdiri laki-laki yang dia perhatikan dari tadi. Dia tidak sadar saat laki-laki itu berjalan ke arahnya.
Shanum menarik napas panjang berusaha menetralkan perasaannya. Kalau soal acting menutupi perasaan dia adalah jagonya. Shanum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tanpa sepengetahuan Ahsan, gadis yang tadi memeluknya ternyata mengikuti kemana arah Ahsan berjalan. Dia pun sudah berdiri di samping Ahsan dan merangkul lengan Ahsan dengan manjanya.
"Hubby, kamu kenapa sih?" tanyanya tanpa dosa.
Ahsan kembali menepis tangan gadis yang merangkul lengan kanannya.
"Lepaskan", ucapnya ketus.
"Kita sudah selesai, Suraya. Kamu tidak pantas bersikap seperti ini padaku", jelas Ahsan.
"Maksudmu apa, By?" tanya gadis itu dengan nada yang meninggi.
Shanum yang melihat suasana mulai memanas, dia pun segera mengambil peran.
"Maaf Pak Ahsan, mungkin kita bisa bicara lain waktu. Sekarang silahkan Bapak selesaikan dulu urusan Bapak", Shanum berusaha menengahi, dia bicara dengan tenang.
"Eh, kalian ada urusan? mereka bawahan kamu By?" tanya gadis itu tiba-tiba, menatap Ahsan dan beralih menatap Shanum dan teman-temannya bergantian.
Shanum tersenyum dan menganggukan kepalanya membuat Ahsan membulatkan matanya. Ahsan terlihat akan mengelak tapi dia kalah cepat dengan gadis itu.
"Oh, kenalkan aku Suraya, Suraya Laila calon istri Pak Ahsan atasan kalian", Suraya mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman ke arah Shanum.
Semua orang yang ada di meja itu menatap Shanum, penasaran dengan apa yang akan dilakukan Shanum. Mereka yang tergabung dalam kepanitiaan sangat tahu jika akhir-akhir ini Ahsan dan Shanum terlihat dekat dan lebih sering bersama.
Shanum pun mengulurkan tangannya menerima uluran tangan Suraya dengan tersenyum ramah dia pun memperkenalkan dirinya.
"Shanum", ucapnya singkat.
__ADS_1
Suraya beralih bersalam dengan teman-teman Shanum yang lain, termasuk Liani yang menunjukkan wajah judesnya.
"Tidak", Ahsan tiba-tiba mengeluarkan suara. Semua orang pun menatapnya, menunggu kelanjutan ucapannya.