Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 24: Aneka Rasa


__ADS_3

Syukuran aqiqah yang diadakan di kediaman rumah kedua orang tua Shanum itu sengaja menggunakan tema semi outdoor. Warung nasi ibu dan halaman depan rumah yang biasa digunakan parkir para pengunjung warung nasi ibu sengaja disulap menjadi area syukuran, dengan dekorasi yang sederhana namun terlihat elegan.


"Anak adalah seorang imitator ulung, mereka adalah mesin fotokopi yang sangat canggih.


Pengasuhan yang sukses bukanlah dilihat dari perilaku dan akhlak anak semata. Namun pengasuhan yang sukses adalah dilihat dari perilaku dan akhlak orang tua itu sendiri"


"Karena anak itu sejatinya, biidznillah, dibentuk dari perilaku orang tua bukan dibentuk dari harapan dan keinginan orang tua.


Sejauh mana orang tua memperbaiki akhlak dan perangai mereka sendiri, maka sejauh itu pula Allah akan memperbaiki akhlak dan perangai anaknya"


"Untuk Nak Akhtar dan Nak Shanum, pesan terakhir saya adalah libatkan selalu Allah dalam segala hal maka Allah akan membimbing dan menunjukan jalan yang tepat untuk kita tempuh dalam mendidik anak-anak hingga tumbuh sesuai harapan dan do'a kita"


"Demikian nasihat singkat yang dapat saya sampaikan, pada akhirnya marilah kita berdo'a semoga Allah memberikan kekuatan hati agar diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankan setiap ketentuan-Nya"


Ustadz yang didaulat untuk mengisi acara ini pada syukuran aqiqah pun mengakhiri tausiyahnya setelah membaca do'a kifaratul majelis dan mempersilahkan pemandu acara untuk kembali melanjutkan acara berikutnya.


Semua rangkaian acara inti sudah selesai, tiba saatnya di acara pamungkas yaitu ramah tamah.


Akhtar dan Shanum berdiri berdampingan dengan baju berwarna senada, riasan tipis menghiasi wajah Shanum, Rida sengaja mendandani sang kakak dengan make up flawless yang membuat aura kecantikan Shanum pasca melahirkan semakin terpancar.


Senyum selalu mengembang di wajah keduanya. Tampan dan cantik, tampak serasi. Ucapan syukur terus terucap dari lisan keduanya. Kebahagiaan yang tiada tara kini tengah mereka rasakan. Bahkan semua orang pun tertular oleh kebahagian Akhtar dan Shanum.


Bayi kembar dengan panggilan Kakang Izzu dan Ceuceu Izza tak kalah menjadi pusat perhatian. Merekalah selebritis sebenarnya hari ini. Semua orang tampak gemas melihat bayi kembar yang menginjak usia tiga minggu itu.


Bu Fatimah dengan bangganya memamerkan cucu laki-lakinya yang begitu menggemaskan kepada teman-temannya, begitu pun Bu Hana ditemani Mami Ratih yang turut hadir bersama sang putri Hasna, menggendong Ceuceu dan dikerumuni sanak saudara yang juga ingin bertemu dengan bayi kembar itu.


Mami Ratih dan Hasna adalah orang yang sangat antusias dengan berita kelahiran bayi kembar Shanum. Mereka pun meninggalkan semua aktivitasnya di Jakarta dan segera menuju ke Garut untuk bertemu dengan bayi kembar itu.


Bagi mami Ratih Shanum sudah dianggap seperti anaknya sendiri, kehilangan putra semata wayang yang sempat membuatnya terpuruk terobati dengan kasih sayang tulus yang diberikan Shanum padanya dan putri bungsunya. Kebahagiaan Shanum adalah juga kebahagiaannya, keluarga Shanum yang begitu hangat membuat Mami Ratih semakin bersyukur, merasa sangat beruntung karena kini menjadi bagian dari mereka.


"Terima kasih sayang" Akhtar menggamit pinggang Shanum dari samping dan merapatkan ke tubuhnya saat semua tamu terlihat sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan.


"Sama-sama, Aa....terima kasih juga" Shanum pun menoleh dengan senyum mengembang di bibirnya, dia pun mengusap rahang tegas suaminya penuh kelembutan.


"Masih banyak orang kali, bisa gak nanti aja mesra-mesraannya" Liani yang sejak tadi menunggu tamu selesai menyalami tuan dan nyonya rumah dengan cepat menghampiri dua insan yang sedang mereguk kebahagiaan itu,

__ADS_1


"Isshhh...kamu, dasar" Shanum mendelik saat mendengar Liani menggodanya, wajahnya merona karena ketahuan, hampir saja Akhtar akan menciumnya. Berbeda dengan Akhtar yang tampak tidak peduli, dia bahkan mengabaikan keberadaan Liani. Tatapannya hanya tertuju pada Shanum, tangannya tidak tinggal diam. Meraih tangan Shanum dan menggenggamnya erat bahkan tak ragu mengecup punggung tangan Shanum saat istrinya itu mengobrol dengan sahabatnya.


"Lusa aku pergi, pinginnya kamu bisa ngantar aku sampai ke bandara. Tapi melihat kamu yang belum pulih benar aku gak apa-apa jika kamu gak nganterin sampai bandara, do'ain aku ya" Liani merentangkan dua tangannya hendak memeluk Shanum, saat ini mereka sudah duduk di salah satu meja untuk bersama menikmati hidangan,


Shanum yang satu tangannya digenggam suaminya mencoba melepaskan diri untuk menyambut pelukan sahabatnya itu. Akhtar yang sedang berbicara dengan Ghifar yang duduk bersebrangan dengannya hanya menoleh dan dengan terpaksa melepas genggaman tangannya,


"Kak Ahsan sudah tahu?" tanya Shanum pelan, dia tahu jika salah satu alasan sahabatnya pergi adalah karena pria labil itu.


Liani menggelengkan kepalanya, menandakan jika pris belum mengetahui perihal rencana kepergiannya ke luar negeri. Ahsan sama sekali tidak mengetahui jika dirinya sudah mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai tenaga pendidik di yayasan yang Ahsan pimpin melalui kepala sekolah tempatnya mengajar.


Kesibukan Ahsan di luar membuatnya sangat jarang berada di kantor yayasan, dia pun memercayakannya semua urusan yayasan pada pengurus harian karena dirinya juga harus mengurus perusahaan sepeninggalnya Pak Furqan dari yayasan itu pasca skandal masa lalu Bu Sopia terungkap.


Saat ini saja, Ahsan tidak bisa hadir di acara syukuran aqiqah bayi kembar Akhtar dan Shanum. Semalam Ahsan menelepon Akhtar, mengabari dan meminta maaf jika dirinya tidak bisa datang karena masih berada di luar kota untuk pengembangan cabang yayasan yang baru.


"Kamu sungguh tidak mau memperjuangkan lagi perasaanmu? aku tahu di hatimu masih ada cinta untuk dia" Shanum menelisik dalam melalui tatapan matanya terhadap Liani jika apa yang dikatakannya tidaklah salah,


"Bukan tidak mau berjuang, prinsipku kalau sudah tidak dihargai, ya pergi" ucap Liani lirih, begitu kentara dirinya seakan berat untuk mengucapkan kalimat itu,


"Baiklah, apapun keputusanmu aku akan do'akan semoga itu adalah yang terbaik. Sebagai sahabatmu, insya Allah aku akan dukung selama itu baik. Pergilah dengan tenang, fii amanillah" ucap Shanum dengan wajah sendu, Shanum menyeka sudut matanya yang tiba-tiba menghangat,


"Bukan aku menyerah, aku hanya lelah jika terus bertahan tapi tidak pernah dipedulikan. Aku sadar ternyata selama ini dia hanya singgah" jawaban Liani begitu dalam, Shanum meraih tangan sahabatnya itu dan menggenggamnya seolah mengalirkan kekuatan, dia turut merasakan kesakitan yang dirasakan sahabatnya itu.


"Sudah ah, lebih baik sekarang kita puas-puasin kangen-kangenan. Karena mungkin nanti, bertemu, bercerita lalu tertawa adalah masa yang akan sangat aku rindukan" ujar Liani dengan senyum yang dipaksakan karena sebenarnya dirinya pun tidak mampu menahan desakan air matanya, mereka pun kembali berpelukan.


Sementara di halaman samping rumah orang tua Shanum yang tampak asri karena di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman obat, seorang wanita cantik dengan balutan hijab berwarna soft pink sedang menerima telepon. Dia terdengar berbicara dengan intonasi meninggi, menunjukkan jika dirinya sedikit kesal dengan orang yang menghubunginya,


"Ya sudah terserah kamu, aku gak akan maksa dan gak mau maksa. Lakukan apapun yang kamu inginkan dan enggak perlu khawatirin aku. Sepertinya mulai sekarang aku sudah terbiasa untuk itu semua. Aku tutup ya takut ganggu kamu lebih lama lagi, Assalamu'alaikum"


"Huuhh..." seorang gadis yang tak lain adakah Hasna mantan adik ipar Shanum mengeluarkan nafasnya kasar sesaat setelah mematikan sambungan teleponnya, dia kembali menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan kali ini, dia terus melakukannya beberapa kali tampak berusaha menetralkan rasa yang ada di hatinya,


"Kamu akan terbiasa tanpa kabar, tanpa pesan dan tanpa sapa,


dan perlahan-lahan waktu akan membawamu pada satu titik untuk bisa tersenyum dan berkata aku baik-baik saja" suara seseorang yang tiba-tiba menghentikan aksinya.


Hasna menoleh ke sumber suara, dia tidak menyadari jika semua perilakunya sedang diawasi oleh seseorang,

__ADS_1


"Kak Ghifar" sapa Hasna dengan wajah merona karena malu, baru saja seseorang memergoki aksinya.


Panggilan Hasna terhadap Ghifar berubah saat mereka sering bertemu dalam acara keluarga. Hasna yang mengenal Ghifar sebagai rekan bisnisnya dan selalu bersikap formal saat bertemu, kini semakin fleksibel bahkan cenderung lebih santai karena ternyata Ghifar adalah teman Shanum mantan kakak ipar yang berasa kakak kandung. Tak jarang Hasna bahkan menunjukkan sifat aslinya sebagai anak bungsu dan adik manja di hadapan Ghifar saat dirinya bermanja-manja pada Shanum.


"Sejak kapan kakak ada di sini?" tanya Hasna panik, pasalnya sejak menerima telepon dari tunangannya Hasna sudah marah-marah karena sudah tahu apa yang akan dikatakan tunangannya itu, ini buka kali pertama tunangannya itu bersikap seperti itu.


Sejak resmi bertunangan beberapa bulan yang lalu, tunangannya itu kian menunjukkan banyak perubahan. Biasanya prioritasnya adalah Hasna namun kini tidak lagi, tunangannya selalu saja punya alasan untuk tidak menepati janjinya dan itu sudah terjadi berkali-kali membuat Hasna hampir kehilangan kesabaran menghadapi tunangannya itu.


"Pada dasarnya orang lain tidak akan pernah peduli padamu kecuali kamu menguntungkan baginya" perkataan Ghifar membuat Hasna mengernyitkan dahi, dia bahkan mengabaikan pertanyaan Hasna dan malah berkata yang membuatnya bingung,


Bukan tanpa alasan Ghifar mengatakan demikian, selama ini Ghifar mengetahui jika tunangan Hasna adalah bukan laki-laki yang baik untuk Hasna menurutnya. Perasaan terpendam yang dimilikinya terhadap gadis itu membuat Ghifar ingin selalu menjaganya. Dia bahkan mengetahui setiap update keadaan Hasna dari orang kepercayaannya.


"Kak Ghifar bicara apa, aku gak ngerti" Hasna kembali menegur Ghifar yang masih menatapnya lekat,


"Aku berada di sini sejak wajahmu berubah masam setelah melihat layar telepon karena ada panggilan dan berlari ke sini" jelas Ghifar membuat Hasna membulatkan matanya karena itu artinya Ghifar mendengar setiap perkataan yang diucapkannya dengan marah pada tunangannya di telepon, dia oun menundukkan wajahnya karena malu,


"Maaf, aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya mengkhawatirkanmu" ucap Ghifar sambil memalingkan wajahnya saat Hasna mendongak mendengar perkataannya,


"Jangan menyiksa diri sendiri dengan memaksa bertahan dengan orang dimana usaha dan kerja keras tidak pernah dihargai" ucapan Ghifar kembali terasa menohok di hati Hasna, dia seolah tahu apa yang dirasakan Hasna selama ini,


Hasna menatap lekat Ghifar yang masih memalingkan wajahnya, dia tahu jika dirinya sedang diperhatikan saat ini.


Suasana masih tampak ramai, menjelang makan siang masih tampak beberapa tamu yang datang, mereka kebanyakan adalah rekan bisnis Akhtar yang sejak awal sudah meminta izin tidak bisa hadir di acara inti.


Setelah menikmati beberapa camilan, Akhtar dan Shanum kembali ke tempat semula. Mereka masih harus menyambut tamu yang datang.


Semua orang terlihat larut dalam suka cita apalagi saat bersua dengan si kembar yang jadi selebritis hari ini. Walaupun ada beberapa hati yang sedang terluka namun senyuman selalu mampu menyamarkannya.


Akhtar memeluk Shanum dari belakang saat tamu-tamu yang baru datang beralih ke stand makanan,


"Aa, malu ih banyak orang" Shanum berusaha melepaskan tangan Akhtar yang melilit perutnya, namun tangan kekar itu tak kunjung lepas.


Akhtar malah menjatuhkan dagunya di atas bahu Shanum, dia pun berbisik tepat di telinga Shanum,


"Terima kasih untuk semuanya, Sayang. Terima kasih sudah mau bertahan sampai sejauh ini dan menjadi rumah paling nyaman untuk ku tempati, aku bahagia. I love you forever Shanum Najua Azzahra, tetaplah temani aku hingga ke surganya" kecupan hangat di pipi Shanum menjadi pamungkas bisikan kata cinta Akhtar,

__ADS_1


Hati Shanum menghangat, kebahagiaan menyeruak di dadanya. Dicintai balik oleh orang yang kita cintai adalah the best happines in love.


__ADS_2