Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Life Must Go On


__ADS_3

Pagi baru menjelang. Realita kehidupan kembali menyapa. Rutinitas dan dinamika hidup kembali berkejaran meminta untuk diselesaikan segera.


Empat bulan sepuluh hari...


Hari ini adalah hari dimana Shanum telah selesai masa iddahnya. Masa iddah adalah suatu tenggang waktu tertentu yang harus dihitung oleh seorang perempuan semenjak ia berpisah dengan suaminya. Baik perpisahan itu disebabkan karena talak maupun karena suaminya meninggal dunia, dan dalam masa tersebut perempuan itu tidak dibolehkan menikah dengan laki-laki lain.


Perempuan ber-iddah karena suaminya meninggal ketentuan masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari, dengan catatan tidak hamil, baik pernah berhubungan maupun tidak.


Shanum menatap pantulan dirinya di depan cermin. Selama masa iddah dia tidak pernah keluar rumah. Aktivitasnya hanya sebatas lingkungan rumah. Dapur dan taman menjadi tempat favorit Shanum untuk menghabiskan waktunya.


Tidak mudah untuk Shanum menjalani hari-harinya selama masa iddah ini. Setiap malam dia harus berperang melawan gejolak yang ada di dadanya tatkala dinding kamar seakan menjadi bioskop yang memutar film kebersamaannya dengan Almarhum suaminya.


Selama enam malam mereka tidur bersama di kamar itu dan selama itu pula setiap malam menjelang tidur mereka lewati dengan membaca buku bersama dan tertawa bersama karena Haqi yang selalu menggodanya dengan tangannya yang bergerilia saat Shanum membacakan buku favorit suaminya itu hingga berakhir dengan ciuman dan pelukan hangat sampai mata mereka terlelap.


"Abang adalah laki-laki pertama yang menyentuh bibir ini" gumam Shanum saat akan mengoleskan lip gloss ke bibirnya.


Selama masa iddah dia tidak pernah sekali pun memakai alat-alat kecantikan yang dulu dibawakan oleh Haqi saat pernikahan mereka. Baru hari ini dia kembali menyentuh bedak dan menyapukannya tipis ke wajahnya diakhiri dengan mengoleskan lip gloss ke bibirnya untuk menyamarkan wajah pucatnya.


"Selama lima belas hari aku menyandang status sebagai seorang istri. Istri dari Baihaqi Abdillah. Tetapi hari ini statusku sudah berubah aku adalah seorang janda..." Shanum menghela napas menjeda ucapannya. Dia masih anteng berbicara sendiri di depan cermin.


"Aku janda tapi masih perawan" lanjutnya lirih.


Matanya tiba-tiba berembun ketika rekaman kata-kata terakhir sang suami kembali terngiang di telinganya.


'Aku ingin kamu bersiap-siap untuk nanti malam'


Shanum kembali teringat Almarhum suaminya, dan di saat-saat seperti itu hanya lantunan dzikir dan do'a yang mampu dia panjatkan untuk sang suami sebagai pengobat kerinduannya.


Shanum keluar dari kamarnya, dia menapaki anak tangga satu per satu. Di bawah terlihat Ibu mertua dan adik iparnya sudah siap. Rencananya hari ini mereka akan pergi mengunjungi makam Haqi.


Hembusan angin menyejukkan mereka yang saat ini tengah duduk melingkari sebuah makam orang tersayang.


Shanum berdo'a dengan khusuk, begitu pun dengan ibu mertua dan adik iparnya. Mereka larut dalam kekhusu'an do'a yang mereka panjatkan untuk almarhum Haqi.


Telah tiba saat waktu kau tinggalkan kami


Kerana takdir Yang Maha Esa


Telah menetapkan


Sedih rasanya hati ini bila mengenangkan


Kau sahabatku kau teman sejati


Tulus ikhlasmu luhur budimu


Bagai tiada pengganti


Senyum tawamu juga katamu


Menghiburkan kami


Memori indah kita bersama


Terus bersemadi


Kau sahabatku kau teman sejati

__ADS_1


Sudah ditakdirkan kau pergi dulu


Di saat kau masih diperlukan


Tuhan lebih menyayangi dirimu


Kupasrah di atas kehendak Yang Esa


Ya Allah, tempatkannya


Di tempat yang mulia


Tempat yang Dikau janjikan nikmat untuk hambaMu


Sahabatku akan ku teruskan perjuangan ini


Walau ku tahu kau tiada di sisi


Perjuangan kita masih jauh beribu batu


Selagi roh masih di jasad hidup diteruskan


Sedih rasa hati ini mengenangkan dikau


Bagai semalam kau bersama kami


Moga amanlah dan bahagia


Dikau di sana


Moga di sana kau bersama para solihin


Kau sahabatku kau teman sejati


Telah tiba saat waktu


Kau tinggalkan kami


Kerana takdir Yang Maha Esa


Telah menetapkan


Sedih rasanya hati ini


Bila mengenangkan


Kau sahabatku kau teman sejati


Lagu Hijjaz


Kau Sahabat Kau Teman


Sumber: Musixmatch


Penulis lagu: Munif Ahmad


Lirik Kau Sahabat Kau Teman © Universal Music Sdn. Bhd

__ADS_1


Shanum berusaha menahan diri agar air matanya tidak terjatuh.


"Abang, hadirmu adalah salah satu hal indah yang datang dalam hidupku. Kamu hadir menjadi obat dari setiap lukaku. Kamu hadir jadi penerang dalam jalan gelap yang sedang kususuri hingga kutemukan kembali arah yang benar dan aku sangat bersyukur untuk itu'


"Abang, kamu memang bukan yang pertama yang pernah hadir dalam hatiku, tapi darimu aku belajar banyak hal. Bahwa yang hadir akan pergi, yang mekar akan layu, yang jatuh akan bangkit dan yang dekat akan berjarak"


"Semua ada waktunya, manusia hanya menunggu gilirannya masing-masing. Dan aku menyadari semua itu adalah proses untuk mendewasakan. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa, karena aku tahu sejauh apapun aku berandai-andai di dunia ini, tidak ada kemungkinan yang paling indah dari apa yang sudah ditakdirkan oleh Sang Khaliq"


"Abang, denganmu aku sadar bahwa takdir bisa mengubah yang tidak cinta menjadi cinta, namun cinta tidak bisa mengubah yang bukan takdir menjadi takdir. Terima kasih untuk lima belas hari yang berharga dalam hidupku. Hanya do'a yang bisa ku panjatkan, semoga kau bahagia di sana"


"Abang, aku rindu ...."


Shanum terus berbicara dalam hatinya, sesekali dia pun menyeka air mata yang tak tertahankan mengalir begitu saja membasahi pipinya.


Bu Ratna dan Hasna yang melihat Shanum begitu sangat kehilangan merasa iba. Mereka pun merasakan hal yang sama. Setegar apapun, seikhlas apapun kehilangan akan selalu meninggalkan duka.


Selesai berdo'a Shanum, ibu mertua dan adiknya pergi meninggalkan makam itu, langkah mereka begitu gontai. Sesekali Shanum pun kembali menengok ke belakang tempat suaminya beristirahat dengan tenang. Ada kerinduan yang masih membuatnya merasakan sesak, karena ternyata rindu yang paling sakit adalah merindukan orang yang telah tiada.


"Mami, Dek....ada yang mau teteh sampaikan" selesai menikmati makan malam, semenjak kehadiran Shanum sudah menjadi kebiasaan di keluarga itu untuk menghabiskan waktu bersama di ruang tengah sebelum kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Seperti malam ini Shanum bersama ibu mertua dan adik iparnya tengah berkumpul di ruang tengah yang selalu dijadikan tempat berkumpul semua anggota keluarga saat mereka bersantai sambil menonton televisi. Dulu mereka berempat mengobrol saling berbagi cerita tentang apa yang sudah mereka lewati satu hari itu, dan sepeninggal Haqi mereka tetap melakukan kebiasaan itu.


Beberapa hari setelah kepulangannya dari makam almarhum suaminya Shanum memikirkan banyak hal tentang langkah selanjutnya yang harus dia tempuh.


"Mami, teteh sudah memutuskan untuk kembali ke Bogor" ucap Shanum penuh dengan kehati-hatian saat dia mengatakannya.


Shanum memutuskan untuk kembali ke Bogor, dia akan melanjutkan rutinitasnya di sana seperti sebelumnya. Dan setelah diskusi panjang antara dirinya dengan adik ipar dan ibu mertuanya, akhirnya mereka mengizinkan Shanum untuk kembali ke Bogor dengan syarat harus sering mengunjungi mereka.


Shanum ingat amanah yang diberikan almarhum suaminya untuk menjaga orang-orang tersayangnya, akan dia laksanakan semampunya. Dia sudah menganggap mereka seperti keluarga kandungnya. Shanum berjanji akan selalu mengunjungi mereka.


Shanum kembali ke Bogor dijemput oleh adiknya. Fauzan diminta Hasna untuk datang ke Jakarta dengan kendaraan umum agar nanti bisa kembali ke Bogor menggunakan mobil yang sudah disiapkan almarhum kakaknya untuk istrinya itu.


Shanum sudah berulang kali menolak karena merasa tak enak hati menerima semua pemberian almarhum suaminya. Namun ibu mertua dan adik iparnya terus memohon dengan sangat agar Shanum menerima semua yang telah menjadi haknya karena itu sudah menjadi amanah almarhum.


Siang menjelang sore Shanum dan Fauzan berpamitan untuk kembali ke Bogor. Pelukan hangat dan air mata menjadi akhir kebersamaan mereka, lambaian tangan adik ipar dan ibu mertuanya mengiringi kepergian Shanum kembali ke Bogor.


"Dek, kita berhenti dulu di rest area ya, shalat ashar dulu sambil istirahat" ucap Shanum pada adiknya setelah cukup lama mereka melakukan perjalanan.


"Iya, Teh" jawab Fauzan tanpa menoleh, dia fokus menatap jalanan mengendarai mobil itu.


Setelah shalat dan beristirahat sebentar sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah Shanum pesan di kantin yang ada di rest area tersebut mereka kembali bersiap melanjutkan perjalanan. Keduanya kini tampak sudah lebih segar dan siap melanjutkan perjalanan.


Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba Shanum mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.


"Shanum.....Shanum...." panggil orang itu.


Shanum pun tidak jadi membuka pintu mobilnya, dia menengok ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara orang yang memanggil namanya.


"Dek, ada yang manggil teteh?" tanya Shanum pada Fauzan, dia memastikan jika dirinya tidak salah mendengar.


"Iya Teh, tuh" jawab Fauzan sambil menunjuk ke arah belakang Shanum dengan dagunya.


Sontak Shanum pun membalikkan badannya.


"Assalamu'alaikum" ucap orang itu


"Wa....wa'alaikumsalam" jawab Shanum gugup saat melihat siapa orang yang tadi memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2