
Resepsi dengan tamu yang mengular tak berhenti datang silih berganti. Terlihat wajah lelah Shanum namun tetap menampilkan senyum manis menyambut setiap tamu yang datang.
"Sayang, capek ya?" Di sela-sela tamu lengang, Akhtar melihat Shanum tampak sedikit pucat sedikit panik. Dia meraba kening dan pipi istrinya yang terlihat bulir-bulir keringat di sana.
"Gak apa-apa, cuman agak lemes aja" jawab Shanum
"Tapi kamu berkeringat gini, Yang. Istirahat aja ya? kita ke kamar?" Akhtar memberi pilihan pada Shanum, wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Gak usah, aku mau minum aja" tolak Shanum, dia kembali berdiri menyalami tamu yang datang. Akhtar pun melambaikan tangannya saat melihat Indri berdiri di dekat pelaminan.
"Ada apa A?" tanya Indri yang melipir ke samping pelaminan menerobos beberapa tamu yang masih mengantri untuk bersalaman memberikan ucapan selamat pada kedua pengantin.
"Tolong ambilkan air minum hangat ya buat Teteh"
"Iya A" Indri sigap menerima perintah Akhtar dan segera menuju dapur hotel untuk meminta disiapkan air hangat untuk Shanum sesuai permintaan Akhtar.
Tepat pukul tiga sore resepsi pun usai, Shanum mengangkat gaun berwarna silver yang menjuntai menyapu lantai. Dia tampak kesusahan saat turun dari pelaminan, beberapa menit yang lalu Akhtar pamit untuk menemui teman-temannya yang datang kesorean karena jarak yang cukup jauh, Bali.
Liani pun datang untuk membantu, dia tahu jika Akhtar sedang bersama teman-temannya karena Ahsan pun ikut serta.
"Susah ya? sini aku bantu" Liani meraih gaun Shanum yang menyapu lantai.
"Iya, makasih ya" ucap Shanum. Setelah berbincang dengan Bapak dan Ibunya juga Ibu Fatimah dan Mami Ratna Shanum pun pamit untuk berganti pakaian.
Shanum ditemani Liani memasuki kamar yang telah disiapkan khusus oleh pihak hotel sebagai kamar pengantin. Kamar yang luas dengan tempat tidur king size, buket bunga mawar merah besar terpajang rapi di atas nakas samping tempat tidur. Satu set sofa yang berhadapan dengan TV Led enam puluh inci menambah fasilitas mewah di kamar hotel itu. Selain itu terdapat juga mini bar yang di atasnya telah tersedia aneka minuman yang siap seduh.
Liani berdecak kagum dengan fasilitas kamar hotel yang serba lux itu dia belum berhenti mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.
"Masya Allah, keren banget Neng ini kamar. Gak nyangka aku, dalamnya semewah ini padahal dari luar biasa aja ini hotel" Liani berbicara tanpa melihat Shanum yang masih kesulitan dengan gaun pengantinnya, sementara dia sudah terlebih dahulu menjatuhkan bokongnya di sofa yang terdapat di kamar itu.
"Semuanya A Akhtar yang menyiapkan, aku gak ikutan. Nanti juga kalau kamu menikah pasti gak jauh beda. Selera mereka kan gak jauh, hampir sama" sahut Shanum, dia menyimpan high heels dan menggantinya dengan sendal yang tersedia di hotel. Merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah, memejamkan matanya seolah menikmati empuknya tempat tidur. Shalat Ashar sudah dia jamak saat dzuhur tadi.
"Aku gak tahu Neng" tiba-tiba wajah Liani sendu saat Shanum berbicara tentang pernikahannya.
"Kenapa?" tanya Shanum penasaran. Dia pun kembali membuka matanya, memiringkan badan menghadap Liani.
__ADS_1
Liani menarik napasnya dalam, dia menatap ke arah jendela kamar yang langsung terhubung dengan kolam renang privat.
"Sampai saat ini Mas Ahsan belum pernah menyatakan cintanya padaku. Aku juga enggak tahu mau dibawa kemana hubungan kami ini. Sebagai perempuan aku butuh kepastian, dan sampai saat ini aku belum cukup keberanian untuk menanyakannya langsung. Aku takut, takut menyalah artikan semua perlakuannya selama ini padaku, Neng" Liani berkata lirih, ada kesedihan di matanya saat dia mengatakan semua itu pada Shanum.
Shanum bangun dari rebahannya, menurunkan kakinya dia berjalan menuju sofa tempat Liani duduk. Sebagai orang yang dekat dengan Liani Shanum mengerti keadaan hati sahabatnya saat ini. Berada dalam ketidakpastian sesuatu yang meresahkan. Shanum pun memeluk Liani dari samping dan mengelus bahunya, berusaha menenangkannya.
Mereka pun larut dalam obrolan, saling bercerita keadaan hati mereka masing-masing saat ini. Shanum lupa juga tubuhnya masih berbalut baju pengantin. Dia yang merasa semua yang terjadi padanya saat ini masih seperti mimpi. Tidak menyangka jika cinta monyetnya berujung pernikahan, setelah sekian banyak tanjakan dan turunan ujian cinta mereka akhirnya disaat Allah berkehendak tak ada satu pun yang bisa mencegah.
Titik lelah perjuangan mereka kini diganti bahagia, diamnya mereka kini diganti dengan senyuman, usahanya diganti dengan keberhasilan dan do'anya Allah ijabah tepat pada waktunya. Nikmat mana yang kau dustakan. Seseorang yang ditakdirkan untuk berada di hidupnya, kembali ke dalam hidupnya. Meskipun dia telah menjauh. Jauh di mata dekat di do'a, tidak bersama namun Allah jaga.
Begitupun Liani, dia ceritakan semua kegalauan dan kegelisahan hatinya. Dia yang untuk pertama kalinya mendapat perhatian begitu dalam dari lawan jenis merasa sangat bahagia. Namun kenyataan mengembalikan kewarasannya, jika hubungan mereka belum memiliki status yang jelas. Liani tidak mau berharap terlalu tinggi, takut jika akhirnya dia terhempas.
Shanum merangkul bahu sahabatnya itu, dia terus membesarkan hati sahabatnya jika jodohnya sudah tertulis dan meyakinkan pasti dia adalah orang baik dan yang terbaik, siapapun orangnya. Merekapun saling merangkul dan saling mendo'akan.
"Assalamu'alaikum, sayang" disaat bersamaan tiba-tiba Akhtar masuk ke dalam kamar. Sontak keduanya pun menoleh. Akhtar jadi kikuk sendiri saat di kamar ternyata tidak hanya terdapat istrinya tapi juga ada Liani.
"Maaf" susul Akhtar.
"Saya yang minta maaf Pak, tadi sempat bantu Neng Zahra bawain bajunya soalnya susah jalan" Liani beranjak dari tempat duduknya, dia pun memberi kode pada Shanum jika dia akan pamit. Shanum pun menganggukkan kepalanya.
"Sayang, maaf tadi kamu kesusahan ya jalannya? teman-teman menahanku untuk pergi, mereka bilang kangen katanya. Semenjak pulang dari Mesir kita belum pernah bertemu lagi. Aku panik pas lihat ke pelaminan kamu udah gak ada" Akhtar menjelaskan apa yang dilakukannya hingga lama meninggalkan Shanum,
"Gak apa-apa, A. Terus sekarang dimana mereka?" tanya mereka.
"Ghifar mengajak mereka ke hotel lain buat istirahat" Akhtar mendekat ke arah Shanum yang sudah berdiri menghadap cermin bersiap untuk membersihkan riasan di wajahnya.
Greppp.....
Tangan kekar tiba-tiba melilit di pinggang Shanum, membuatnya terhenyak. Akhtar semakin menempelkan tubuhnya ke punggung Shanum, dia menjatuhkan dagunya di bahu Shanum, menatap lekat wanita yang kini telah halal menjadi miliknya, sesekali menciumi bahu dan kepala Shanum yang masih berbalut jilbab. Kembali menatap wajah sang istri yang sudah merona menahan sesuatu yang tak biasa di tubuhnya karena pelukannya. Semua masih serasa mimpi bagi keduanya.
"Kenapa jilbabnya belum dibuka heumm?" tanya Akhtar dengan suara sedikit berbeda, mereka saling menatap di cermin
"Belum' jawab Shanum singkat, dia berusaha menahan gejolak rasa yang semakin menyelimuti tubuhnya. Menghindari tatapan lelaki halalnya yang menatapnya berbeda, sangat mendamba.
"Kenapa heumm?" Akhtar menggesek-gesekkan hidungnya di bahu Shanum membuat Shanum semakin merasakan tubuhnya yang tiba-tiba memanas.
__ADS_1
"Aku buka ya?" tangan Akhtar perlahan terulur melepas jarum yang ada di dagu Shanum, kedua tangannya memegang ujung kerudung bagian depan dan melepaskannya perlahan dari kepala Shanum, disusul dengan jilbab bagian dalam yang langsung Akhtar lepas tanpa bertanya lagi.
Jantung Shanum bertalu semakin cepat, walaupun ini bukan pengalaman pertama untuknya namun rasa yang ada di hatinya saat ini sangat berbeda, dadanya dipenuhi rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, sangat bahagia.
Rambut hitam panjang yang dicepol menampakkan leher jenjang yang putih mulus, mata Akhtar tertuju pada leher jenjang yang seolah menantang untuk dia susuri setiap incinya. Tidak menyangka di balik jilbab yang selalu terulur panjang menutupi hampir seluruh tubuhnya terdapat keindahan yang luar biasa.
Shanum hanya pasrah saat Akhtar mulai menempelkan bibirnya di leher kanannya, dia dapat melihat dengan jelas dari cermin mata Akhtar yang terpejam saat mengecup lehernya hingga membuat gelenyar aneh merambah ke seluruh tubuhnya.
"A, geli..." Shanum berusaha menghindar, dia menahan bibir Akhtar yang kembali akan mencium lehernya.
"Sayang...." panggil Akhtar dengan suara serak. Kabut gairah sudah terpancar jelas di matanya.
"Aku mau ganti baju dulu, mau mandi sebentar lagi magrib" Shanum mencoba mengalihkan perhatian Akhtar. Dia tahu kini Akhtar tengah menginginkannya.
"Aku masih kangen, Yang" Akhtar memeluk Shanum dari belakang semakin erat, dia pun menjatuhkan kembali dagunya di bahu Shanum. Mereka pun saling beradu tatap dalam cermin.
"Iya, aku tahu" jawab Shanum dengan mengulum senyum. "Sekarang aku mau ganti baju dulu ya" bujuk Shanum.
Dia mencoba melepas tangan kekar yang membelit di pinggangnya, namun Akhtar semakin erat memeluknya.
"Di sini saja bukanya" Akhtar yang melihat jika di kursi meja rias sudah ada baju tidur berinisiatif untuk membantu Shanum mengganti bajunya.
"Malu, A" jawab Shanum dengan wajah yanag semakin memerah. Dia tidak bisa membayangkan jika harus membuka baju pengantinnya di hadapan Akhtar.
"Kenapa harus malu, aku ingin melihat tubuhmu. Bukankah kita sudah halal untuk saling melihat" Akhtar menaik turunkan alisnya, tangan kirinya memegang bahu Shanum yang masih membelakanginya sementara tangan kanan mulai meraih resleting gaun pengantin yang perlahan dia turunkan. Shanum pasrah.
Terlihat punggung dengan kulit putih mulus yang kini sudah halal untuknya. Akhtar begitu lamban menarik resleting itu, sengaja agar bisa menikmati punggung mulus itu lebih lama.
Saat semua sudah terbuka, Akhtar pun segera memutar tubuh Shanum agar menghadapnya, Shanum pasrah tak kuasa menolak, tatapannya kini tertuju pada bibir Shanum. Perlahan wajahnya mendekat dan semakin dekat.
Shanum memejamkan matanya saat jarak antara mereka sudah sangat terkikis.
"Allahu Akbar...Allahu Akbar..." kumandang adzan magrib menghentikan aksi Akhtar. Dia pun terhenyak memundurkan kembali wajahnya. Shanum tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia secepat kilat mengambil baju ganti yang sudah di siapkannya di kursi depan meja rias, terbirit-birit lari menuju kamar mandi dengan memegangi gaun pengantin yang menjuntai.
Akhtar tergelak melihat tingkah istrinya itu. Dia pun menatap pantulan dirinya di dalam cermin, kedua sudut bibirnya terangkat melukiskan senyum bahagia, membayangkan apa yang baru saja terjadi. Dia pun kembali tergelak, karena aksinya terjeda adzan.
__ADS_1