
Liani berdiri mematung, kakinya seakan kaku tak mampu melanjutkan langkah setelah mendengar penuturan Ahsan.
Semenjak duduk bersama Ahsan di meja VIP kantin itu, Shanum mengirimi Liani pesan agar segera menemuinya.
Shanum sungguh tidak ingin ada kesalahfahaman, ia merasa tidak nyaman jika harus duduk berdua dengan Ahsan.
Shanum tahu perasaan Ahsan padanya, ia tidak mau Ahsan salah mengartikan kebersediaannya makan berdua.
Shanum tidak ingin memberi harapan palsu, karena sungguh di hatinya tak ada sedikit pun ruang yang bisa menampung nama Ahsan di sana.
“Bu Liani!”, Shanum berdiri menatap Liani dengan khawatir.
Tanpa mempedulikan perkataan Ahsan, dia pamit untuk kembali melanjutkan kegiatannya.
“Pak Ahsan, terima kasih atas traktiran makan siangnya. Saya duluan ya, belum shalat dzuhur.” Ucap Shanum pamit.
Tanpa menunggu jawaban Ahsan dia berlalu meraih tangan Liani yang masih bergeming, meninggalkan kantin menuju masjid.
Liani tersentak, mengikuti Shanum yang setengah menyeretnya keluar dari kantin.
“Ayo kita sholat, belum sholat kan?”, Shanum membuka percakapan.
Mereka sudah sampai di halaman Masjid.
Shanum berlalu menuju tempat wudhu khusus wanita, mengabaikan Liani yang masih berada dibawah alam sadarnya.
“Eh…Shanum!” sontak Liani menyusul Shanum.
Selesai melaksanakan kewajiban dzuhurnya, Shanum merasa lebih tenang.
Ia sudah siap jika Liani mengintrogasinya. Mengklarifikasi pernyataan Ahsan saat makan siang tadi.
Dan benar saja, setelah keluar dari Mesjid langsung Liani menarik tangan Shanum dan membawanya ke arah taman.
“Jelaskan padaku!”, Liani memulai investigasinya..
“Apa?”, jawab Shanum santai.
“Tentang Pak Ahsan yang sudah nembak kamu sampai tiga kali dan tetap kamu tolak.” Seru Liani kembali mengingatkan Shanum.
Shanum menarik napasnya dalam, udara panas siang ini terasa semakin menyengat bagi Shanum, sepertinya ia butuh pasokan oksigen lebih untuk mengisi paru-parunya.
“Apa yang harus aku jelaskan? Bukankah kamu tadi mendengar semuanya?”
Shanum berusaha tenang menjawab pertanyaan Liani yang penuh kepenasaran.
“Iya, aku ingin dengar langsung dari kamu, benarkah semua itu?, tanya Liani.
“iya”, jawab Shanum singkat.
“Tapi kenapa?”, Liani semakin penasaran.
“Kenapa apanya?”, Shanum balik bertanya.
“Kenapa kamu selalu menolaknya?, kamu terlalu jahat untuk menolak laki-laki sebaik dia, Num.”
__ADS_1
“Jangan sampai nanti kamu menyesal setelah benar-benar kehilangannya, karena dia lebih memilih menyerah setelah lelah memperjuangkanmu.” Liani berbicara tanpa jeda.
Shanum kembali menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya dengan pelan.
Hatinya membenarkan ucapan Liani, tapi ia pun tidak bisa memungkiri kalau hatinya masih terpaut pada orang yang sama dari masa lalunya.
*Biarlah semua berjalan dengan skenario-Nya, berrlalu dengan apa yang sudah ditakdirkan-Nya dan berakhir dengan ketetapan terbaik-Nya*, batinnya.
Ting…
Ting…
Notifikasi pesan di gawai mereka berdua berbunyi bersamaan.
Shanum lebih dulu membuka gawainya. Dilihatnya chat yang masuk di grup panitia kegiatan akhir tahun.
Ternyata pengumuman agar semua panitia segera kembali berkumpul di aula tempat acara dilaksanakan.
“Ayo, kita balik ke aula”, ajak Shanum.
“Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku”, tukas Liani
“Insyaa Allah nanti”, jawab Shanum
“Janji ya, kamu hutang penjelasan sama aku”, pungkas Liani mengakhiri investigasinya siang itu.
Mereka beranjak dari taman menuju aula untuk kembali melanjutkan aktivitas yang terjeda.
Waktu menunjukkan pukul 16.00.
Semua persiapan untuk acara nanti malam sudah selesai.
Semua panitia harus sudah berada di posisinya masing-masing tiga puluh menit sebelum acara dimulai.
Acara akan dimulai pukul 19.00,
Shanum memastikan semua persiapan yang berhubungan dengan tugasnya malam nanti sudah siap.
Shanum bersama dua rekannya bertanggung jawab di bagian acara.
Mengecek kesiapan MC dan para pengisi acara, mengkoordinasi semua pihak yang beroperasi pada saat acara berlangsung dan memastikan semua acara berjalan sesuai rundown yang sudah dikonsep.
Sebelum meninggalkan gedung untuk bersiap, Shanum mencari Liani yang terpisah darinya karena berbeda tugas yang diembannya.
Liani bertanggung jawab di bagian dokumentasi, diapun sedang memantau persiapan tim dokumentasi.
Mengecek kesiapan alat dokumentasi sesuai kebutuhan dan memastikan petugas mendokumentasikan setiap peristiwa penting dan dianggap perlu.
Shanum berjalan ke arah Liani untuk mengajaknya kembali ke rumah dinas. Tapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
“Shanum”, serunya…
Shanum memutar arah kakinya sembilan puluh derajat menghadap sumber suara itu,
“Kak Ahsan”, ucapnya lirih.
__ADS_1
Ahsan berjalan mendekati Shanum.
“Maafkan aku, jika apa yang aku ungkapkan tadi membuatmu tidak nyaman."
"Jujur aku jadi merasa sangat egois, aku gak mau kamu berubah memperlakukanku."
"Melihatmu bersikap seperti tadi ternyata rasanya lebih sakit daripada saat ditolak.”
Ahsan mengungkapkan kegalauannya.
Sepanjang menuntaskan persiapan untuk acara nanti malam, Shanum tak sedikit pun melirik ke arah Ahsan.
Padahal Ahsan sengaja memantau tim Shanum lebih lama agar bisa berinteraksi dengan Shanum.
Ahsan merasa tak enak hati mengakhiri makan siangnya dengan kepergian Shanum yang tiba-tiba setelah dia mengungkapkan isi hatinya.
Dan ternyata benar saja, Ahsan semakin merasa bersalah ketika melihat Shanum hanya fokus pada pekerjaannya.
Mengabaikan keberadaannya yang seolah tak terlihat.
Beberapa kali Ahsan berusaha hendak memulai pembicaraan dengan Shanum, tapi Shanum dengan cepat mengalihkan fokusnya terlihat menghindari interaksi dengan Ahsan.
Ahsan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Merutuki kecerobohannya. Mulai kewalahan menghadapi sikap dingin Shanum.
Saat briefing terakhir pun Ahsan masih berusaha mencari perhatian Shanum, namun lagi-lagi Ahsan merinding.
Shanum menanggapi setiap pertanyaan Ahsan sebagai ketua pelaksana kegiatan dengan serius, ia berbicara formal dengan nada yang datar.
Sangat mengerikan bagi Ahsan, dia tahu jika Shanum sudah mode seperti itu berarti ada yang salah dengan dirinya.
“Sama-sama, Kak.” Jawab Shanum dengan yang sudah mulai kembali normal.
Saat berdua Shanum tak sungkan memanggil Ahsan Kakak.
“Tapi kamu jangan berubah, Num. Jangan seperti tadi, aku ngeri Num dicuekin sama kamu”, keluh Ahsan.
“Habis Kakak juga gitu sih, Kak Ahsan kan tau kalau aku tuh paling gak suka sama pemaksa, memaksakan kehendak sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain”, tukas Shanum.
“Oke..oke, sekali lagi aku minta maaf, aku janji gak bakalan memaksakan diri lagi”. Ahsan kembali meminta maaf.
“Tapi kamu jangan berubah ya sama aku”, pinta Ahsan.
Shanum mengangguk dan melempar senyum cerianya pada Ahsan sambil mengacungkan jempolnya.
Ahsan lega akhirnya Shanum yang ceria dan selalu membuatnya nyaman telah kembali.
Simpan, diam dan rasakan.
Mungkin hanya itu yang bisa Ahsan lakukan saat ini pada cinta yang tak kunjung hilang untuk Shanum.
Memaksakan diri malah tak baik untuk kesehatan hubungannya dengan Shanum.
Saat ini takdirnya dengan Shanum masih sebatas teman, ia harus bersyukur untuk itu.
Karena bahagia dimulai dari bersyukur, bersyukur menerima setiap ketetapan dan berlapang dada untuk mengikhlaskan.
__ADS_1
Karena hanya dengan ikhlas dan rela, yang mampu membuat hati lega.
*Sabar ya Ahsan, semua usaha gak harus ada hasilnya sekarang. Tenang, semua ada prosesnya, semua ada waktunya. Nikmati prosesnya, hargai waktunya, kuatkan lagi usahanya dan syukuri hasilnya, "Apapun Itu”. * Ahsan bermonolog dalam hatinya.