Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Aku Tak Ingin Berlebihan


__ADS_3

'Assalamu'alaikum Mas, ada yang mau aku sampaikan. Penting!'


Pesan pun terkirim, sesaat setelah kesepakatan secret missionnya dengan dua wanita yang berbeda generasi dengannya usai diproklamirkan.


Liani tak henti-hentinya mengembangkan senyum, melihat Akhtar di hadapannya dia membayangkan jika sahabatnya Shanum akan segera mendapat kebahagiaan yang sempat tertunda karena takdir lain.


Saat adzan maghrib bergema, kumpulan bersama orang-orang berpengaruh menurut Liani, pun berakhir. Dirinya yang sehabis shalat akan membantu Shanum untuk membereskan perabotan urung kareng dijegal oleh Ahsan yang penasaran dengan kabar penting yang Liani maksud. Akhtar dan Ghifar sudah memasuki ruang khusus karyawan untuk melakukan rapat evaluasi, hingga tak ada alasan untuk dirinya menunda-nunda.


Ahsan mengajak Liani untuk pergi dari sana, berdalih menepati janjinya untuk mengajak wanita itu keliling Garut sebelum pulang. Awalnya Liani menolak, merasa tak enak hati jika harus meninggalkan Shanum yang sedang beres-beres. Namun setelah Ahsan meyakinkan jika Shanum baik-baik saja karena banyak pegawai catering yang membantu, Ahsan juga meminta bantuan Mang Jaja penjaga mebel untuk membantu Shanum, Liani pun luluh. Dia mengajak Ahsan untuk pamit terlebih dahulu pada Shanum.


"Maaf ya aku gak bisa bantu, Neng. Mas Ahsan minta di temani beli nasi goreng katanya" Liani memeluk Shanum, setengah berbisik karena berbohong jika Ahsan minta ditemani untuk membeli nasi goreng. Dengan suara lirih Liani meminta maaf yang tidak bisa menolak ajakan Ahsan.


"Gak apa-apa atuh, sok aja jalan. Kesempatan lho buat lebih deket, hihi..." Shanum membalas pelukan Liani dengan erat, dia terkikik di balik punggung sahabatnya itu.


"Ishhh...kamu tuh ya" Liani melepas pelukannya dan beralih memukul pelan lengan atas Shanum yang terus mengejeknya.


"Kak, aku titip sahabatku ya. Awas jangan sampai lecet" ujar Shanum, dia mengacungkan telunjuknya ke arah Ahsan yang sudah duduk nyaman di belakang kemudi dan diacungi jempol oleh Ahsan.


"Kita mau kemana, Mas?" setelah lima menit keluar dari area parkir mebel FDF, Liani pun bertanya tujuan mereka. Dia sibuk mengedarkan pandangannya mengamati setiap jalan yang dilalui untuk pertama kalinya.


"Eumhh...kemana ya? kamu maunya kemana?" Ahsan balik bertanya, sekilas dia pun menoleh ke arah Liani yang masih mengamati setiap hal yang mereka lalui di perjalanan.


"Lho ko nanya aku yang ngajak kan kamu aku gak tahu, ini pertama kali aku ke Garut" tukas Liani dia menghentikan pengamatannya dan sedikit merubah posisi menatap Ahsan.


"haha....biasa aja Neng liatnya" canda Ahsan yang sekilas menatap Liani yang menatapnya kesal.


"Oke, sekarang yang aku lihat di Garut lagi berjamuran cafe nih. Tadinya aku mau ngajak kamu makan di ceplak, daerah pengkolan gitu. Tapi kayaknya kurang kondusif kalau kamu bilang mau ngomongin sesuatu yang penting, jadi kita ngafe aja ya?" Ahsan akhirnya menentukan pilihan yang diangguki Liani. Selang dua puluh menit mereka pun sampai di sebuah cafe di sekitar jalan Guntur.


"Mau makan dulu atau ngobrol dulu?" Ahsan kembali memberi pilihan, makanan dan minuman pun sudah dipesan.


"Kita sambil ngobrol aja ya, Mas. Aku gak tahan pingin bilang ini ke kamu" Liani berbicara dengan ekspresi menggemaskan di mata Ahsan. Dia tersenyum lebar menyambutnya.


"Widiihh....gak sabaran amat neng" goda Ahsan, perbincangan mereka pun terhenti sejenak saat seorang pelayan cafe mengantarkan pesanan minuman mereka. Secangkir kopi late untuk Ahsan dan jeruk hangat untuk Liani.


Liani pun menarik napas panjang. Mempersiapkan cadangan udara agar tak terjeda atau kekurangan oksigen saat menyampaikan berita penting ini. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi setelah dirinya bicara nanti, Ahsan akan mendukung misinya atau kembali melanjutkan misi hatinya.


"Serius amat?" Ahsan memicingkan matanya melihat tingkah Liani, dia sedikit tergelak saat melihat raut wajah Liani yang berubah tegang.


"Mas, kamu temenan sama Bang Haqi kan?" Liani mengawali perbincangan serius mereka dengan pertanyaan yang serius pula.


"Ya, suami Shanum kan? kita satu angkatan. Waktu kuliah kami pernah tergabung di beberapa komunitas. Emangnya kenapa?" Ahsan menyeruput kopinya, dia menunggu jawaban dari Liani yang tampak ragu-ragu.


"Mas memangnya gak tahu kabar terbaru tentangya?" pertanyaan Liani kembali penuh teka-teki menurut Ahsan, dia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya akan disampaikan Liani.


"Enggak, aku terakhir ketemu pas dia nikah. Kita emang punya grup alumni seangkatan, tapi gak pernah komunikasi secara pribadi juga. Emangnya kenapa sih kamu tanya-tanya tentang Haqi?"


"Jadi....jadi Mas Ahsan enggak tahu kalau Bang Haqi, suaminya Shanum....." Liani menjeda ucapannya, dia menatap lekat wajah Ahsan yang kini berjarak cukup dekat dengannya.

__ADS_1


"Suaminya Shanum apa? yang tuntas dong ngomongnya'' Ahsan masih terlihat santai, dia asik menikmati kopinya.


"Suaminya Shanum sudah meninggal" telak Liani.


Tik....tik....tik....


Detak jarum jam seakan terdengar jelas di telinga Ahsan, dia menghentikan gerakannya. Terpaku, mencerna apa yang dikatakan Liani. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini dia tahu jika Haqi memang jarang muncul di grup, tapi beberapa kali dia pernah membaca postingannya tentang agama atau berita terkini. Tidak sadar jika sudah sangat lama Haqi tidak pernah lagi memposting apapun di grup alumni.


Ahsan menatap Liani tajam, ada keraguan di matanya. Ragu akan kebenaran berita yang diperoleh Liani.


"Darimana kamu dapat kabar itu?" Ahsan masih menatap Liani tajam, tidak ada wajah ramah saat dia menanyakan itu. Dia berbicara dengan serius.


Liani menghela napas, tatapan Ahsan kepadanya saat ini membuat hatinya menyimpulkan jika besar kemungkinan laki-laki yang ada di hadapannya ini akan kembali mengejar cintanya, Shanum.


"Bu Hana yang memberitahukan semuanya padaku. Dia bilang suami Shanum meninggal sudah lama, sudah hampir mau setahun. Selama ini Shanum selalu menyembunyikan statusnya dari siapapun. Hanya keluarga dekat yang tahu keadaan sebenarnya. Semua kejadian yang menimpa Bang Haqi begitu cepat dan terjadi seminggu setelah menikah"


"Semua anggota keluarga memaklumi jika selama ini Shanum menutupi statusnya. Mereka mengira dia masih belum bisa menerima kepergian suaminya. Apalagi usia pernikahan mereka yang baru beberapa hari, siapa pun akan sulit menerima jika baru seminggu menikah namun sudah berstatus janda"ada sesuatu yang berusaha Liani tahan di matanya saat mengatakan itu.


"Namun akhir-akhir ini Bu Hana tahu alasan kenapa Shanum sampai saat ini masih menyembunyikan statusnya" Liani menjeda ucapannya, dia menatap Ahsan penuh selidik. Mencoba mendalami isi hati dan pikirannya. Tatapan mereka beradu, Ahsan yang sejak awal memang sudah menatap Liani semakin dalam memandangi wanita itu. Menunggu kelanjutan cerita yang akan disampaikannya.


"Alasan utama Shanum menyembunyikan statusnya karena dia tidak mau jika Mas Ahsan atau Pak Akhtar kembali goyah. Sejak dulu dia paling tidak suka dengan yang namanya orang ketiga. Dan satu yang harus kalian tahu, alasan Shanum mendadak memilih menikah dengan Bang Haqi karena saat itu Raina datang mengancamnya" Ahsan membulatkan matanya, merasa geram saat mendengar nama Raina, dia pun memalingkan wajahnya karena tak mau Liani melihat kemarahannya pada Raina.


"Aku sudah mengatakan tentang keadaan Pak Akhtar yang sebenarnya pada Shanum" Ahsan mendongak hingga Liani kembali menghentikan ucapannya, menelisik keadaan hati Ahsan melalui raut wajahnya.


"Responnya biasa saja, bahkan nyaris datar tanpa ekspresi, prihatin atau bahagia. Aku kira dia seperti itu karena memang masih berstatus istri orang. Tapi ternyata setelah aku tahu kenyataan yang sebenarnya hari ini, aku tahu jika Shanum belum bisa membuka hati pada siapapun karena merasa tidak percaya diri dengan statusnya saat ini" lanjutnya.


Ahsan meraih gawainya, dia mencari nama seseorang di kontaknya. Tak lama sambungan telepon pun terhubung. Ahsan hanya memberi isyarat kepada Liani jika dia akan menjauh untuk menelepon. Dari tempat duduknya Liani bisa melihat Ahsan tampak berbicara serius dengan orang yang berada di seberang telepon. Entah apa yang mereka bicarakan, namun dari raut wajahnya terlihat Ahsan seperti menyesali sesuatu.


Sepuluh menit berlalu, Liani sudah menghabiskan makanan yang dipesannya. Dia abaikan Ahsan yang masih asik menelepon, sikapnya saat ini sudah cukup untuk Liani menyimpulkan jika di antara mereka hanya sebatas hubungan teman. Liani tidak mau terlalu tinggi berekspektasi, dia yang belum pernah dekat dengan laki-laki manapun selain sebatas teman, faham betul bagaimana mengantisipasi rasa sebelum benar-benar tumbuh di hatinya hingga akhirnya jatuh.


"Lho...sudah habis?" Ahsan menyimpan gawainya tepat dihadapannya. Dia kembali dengan ekspresi wajah lebih baik dari sebelumnya. Liani hanya mengangguk, dia kembali menyeruput jeruk hangat setelah menghabiskan sepiring nasi goreng seafood kesukaannya.


"Kamu benar kejadian Haqi sudah lama. Aku heran bisa-bisanya Shanum menyembunyikan ini semua dari kita bahkan kamu sahabat dekatnya sendiri tidak diberitahunya. Aku ragu sebenarnya kalian bersahabat gak sih?" Ahsan sudah kembali dengan wajah jenakanya, bermaksud bercanda untuk menggoda Liani. Namun pertanyaan Ahsan justru tidak terdengar bercanda di telinga Liani.


Liani menarik napas panjang, dia mengembalikan sedotan yang sudah mau sampai di bibirnya. Menatap Ahsan, yang ditatap asik menikmati nasi goreng kambingnya.


"Aku mungkin memang bukan sahabat yang baik buat Shanum. Makanya aku tidak pernah punya sahabat sedekat dengan Shanum sebelumnya. Aku tahu betul mempertahankan sesuatu itu tidaklah mudah. Maka dari itu aku tidak suka kehilangan siapa pun dalam hidupku. Tapi siapa pun yang ingin kehilangan aku, akan aku permudah jalannya" Liani kembali menghela napas, dia menyeruput air jeruk yang sudah tak hangat lagi di hadapannya.


"Makanya dari dulu aku gak pernah punya pacar, bukannya tidak laku tapi nyari yang sefrekuensi itu susah. Apalagi yang bisa bertahan sampai akhir. Mungkin secangkir kopi lebih jujur, dia hitam tanpa harus berpura-pura putih. Dia pahit tanpa harus berlaga manis" sruuutttt.....Liani menghabiskan jeruk hangatnya.


Mendengar semua yang dikatakan Liani membuat Ahsan menghentikan suapan nasi goreng kambingnya. Dia menatap gadis yang ada di hadapannya lekat. Bertanya-tanya mengapa tiba-tiba dia berbicara seserius itu padahal tadi Ahsan hanya bermaksud untuk bercanda.


"Maksud kamu apa? kenapa jadi seserius ini?"


"Mas, aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Alasan kenapa aku mengatakannya kepadamu, karena aku berharap kamu bisa membantu Pak Akhtar untuk kembali mendapatkan cintanya. Tapi pilihan ada di tangan kamu, apakah memberi tahu Pak Akhtar dan membantunya atau kalian kembali akan sama-sama berjuang untuk mendapatkan cinta Shanum"


"Aku sudah selesai, pinjam kunci mobilnya ya?aku duluan. Mas yang bayar kan?" Liani mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja, dia berlalu meninggalkan Ahsan yang masih melongo heran dengan tingkah gadis di hadapannya itu yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Liani pergi tanpa menunggu jawaban Ahsan.

__ADS_1


Setelah cukup jauh Liani berjalan, Ahsan tersadar jika dia ditinggalkan. Segera dia meminum air putih yang ada di hadapannya dan berlalu menuju kasir untuk membayar.


"Hah....kamu kenapa ninggalin?" Ahsan memasuki mobil dengan napas ngos-ngosan, dia berlari saat menuju parkiran.


"Mas kan belum selesai makannya" jawab Liani enteng, dia fokus dengan game di gawainya yang dia mainkan sejak memasuki mobil tadi.


"Kamu marah?" Ahsan memiringkan badannya menghadap Liani.


"Enggak, kenapa harus marah? gak ada alasan juga buat aku marah. Ayo cepetan kita balik ke mebel kasihan Shanum di sana sendirian, aku mau bantu dia beres-beres biar jadi sahabat baiknya" sindir Liani, dia masih kesal dengan pertanyaan Ahsan yang menurutnya gak bisa dianggap bercanda saat suasana serius seperti tadi.


"Huuhh....." Ahsan membuang napasnya kasar, kini dia faham kenapa Liani berubah sikapnya.


"Kalau kamu tersinggung dengan pertanyaan aku tentang persahabatan kalian, aku minta maaf. Sorry, aku cuman bercanda tadi. Dan kalau kamu berkata seperti tadi karena mengira aku akan kembali memperjuangkan Shanum, kamu salah!"


"Aku sudah banyak berpikir, jika selama ini sepertinya rasa yang ku miliki untuk Shanum bukanlah cinta seperti pria pada wanita pada umumnya.Tapi aku lebih menyayanginya seperti adikku sendiri."


"Sejak kuliah dulu aku selalu menginginkan Shanum baik-baik saja, berusaha membantu setiap dia berada dalam kesulitan. Aku ingin Shanum dapat menggapai impiannya. Tidak ada perasaan marah atau kesal saat aku menyatakan cinta dan ditolak mentah-mentah olehnya. Padahal waktu itu sudah banyak yang aku lakukan untuk membantu dia"


"Aku selalu membantunya diam-diam, walau akhirnya Shanum mengetahuinya juga. Dia pernah marah dan mengembalikan semua uang yang pernah aku bayarkan untuk membantunya. Tapi anehnya aku gak kapok, aku gak marah atau kesal sama sekali sama dia. Aku masih terus memantaunya dari kejauhan. Memastikan semua kegiatannya lancar dan dia baik-baik saja"


"Bahkan saat aku tahu jika setelah wisuda dia akan menikah dengan laki-laki lain, aku bahkan menyusulnya ke Bogor. Mencari tahu laki-laki seperti apa yang akan menikahinya. Aku tidak ingin Shanum bersama dengan orang yang salah. Aku tahu betul bagaimana dia menjalani kehidupannya yang penuh perjuangan itu"


"Sepertinya Allah memang sudah menyiapkan aku untuk menjaga Shanum. Agar saatnya tiba Akhtar sudah siap untuk kembali menjaganya"


Liani menyimpan gawai di atas pangkuannya. Dia mencerna setiap kata yang Ahsan ucapkan, belum mampu bersuara.


"Tadi aku menelepon Yusup. Dia temanku yang dekat dengan Haqi. Dia juga mengenal baik Akhtar karena dulu kami sering bersama. Aku hanya memastikan kabar yang aku dengar darimu karena selama ini di grup alumni tak ada satu orang pun yang memposting tentang kecelakaan Haqi. Kamu benar, semuanya terjadi sangat cepat. Menurut informasi gawai Haqi turut hancur saat kecelakaan itu terjadi"


"Saat kita pergi tadi aku sudah mengabari Akhtar jika Shanum sendirian menunggu jemputan Pak Imran. Aku yakin saat ini Akhtar sudah mengantar Shanum. Sekarang aku akan menelepon dia memberitahukan kabar ini padanya. Sudah saatnya Akhtar meraih kebahagiaannya, cintanya begitu besar pada Shanum dan aku pun yakin Shanum masih sangat mencintai Akhtar. Mana mungkin aku tega memisahkan mereka" Ahsan tersenyum bahagia menatap Liani ketika mengatakan hal itu.


"Lalu bagaimana dengan kebahagiaan Mas, benarkah Mas tidak ingin mencoba meraihnya sekali lagi?" Liani kembali memastikan keadaan hati Ahsan sebenarnya, dia menatap lurus ke depan tak berani beradu tatap saat mengatakannya.


"Saat ini Mas sedang meraih kebahagiaan Mas sendiri, Alhamdulillah kebahagiaan itu pun berangsur berdatangan saat ini" jawab Ahsan lembut, masih meninggalkan teka-teki untuk Liani. Kebahagiaan mana yang dimaksud Ahsan sebenarnya.


"Issshhh...gak diangkat juga teleponnya" Ahsan menggerutu, berkali-kali mencoba menelepon Akhtar namun tak kunjung mendapat jawaban.


"Kirimi pesan saja, nanti juga dibaca" usul Liani masih dengan nada ketus.


"Oke, manis. Mas akan mengiriminya pesan" goda Ahsan berusaha mencairkan suasana.


"Sudah!" Ahsan menyimpan gawainya


"Sekarang kamu jangan marah lagi ya? nanti Mas sedih lho...." canda Ahsan masih berusaha menggoda Liani. Liani hanya mengangkat bahunya sebagai respon.


"Ayolah, manis....aku gak tahan kalau lihat kamu marah, nanti aku sama siapa dong mainnya, hehe..." Ahsan memohon dengan ekspresi menggemaskan, dia berlagak seperti anak kecil yang enggan kehilangan teman bermainnya.


"Maafin aku ya ? jangan marah lagi." pintanya. Liani pun mengangguk, senyum kembali terbit di bibir Liani.

__ADS_1


"Aku tidak layak untuk marah, Mas. Jujur aku cemburu, tapi aku sadar diri kalau aku gak punya hak. Kamu terlalu tinggi untuk aku raih sendiri. Aku tidak ingin berlebih-lebihan perihal cinta, aku pun tak ingin berlebihan perihal perhatian dan kerinduan, sebab di balik setiap yang berlebihan itu ada tamparan yang menyakitkan dan kekecewaan yang melukai kepercayaan" ucap Liani yang hanya berani dia bisikkan dalam hatinya.


__ADS_2