
Liani yang baru saja menyelesaikan shalat Ashar segera keluar untuk menjemput Shanum. Pesan terakhir yang dikirim Shanum mengatakan bahwa dirinya baru saja turun dari travel dan sedang berjalan menuju rumah dinas.
Liani membuka pintu pagarnya, dan heran melihat banyak barang di depan pintu pagar rumah dinas Shanum. Dia mengenali barang-barang itu adalah milik Shanum.
Liani mengambil barang-barang itu dan langsung membawanya ke teras rumah Shanum karena pintu pagar sudah terbuka. Liani mencoba membuka pintu rumah dinasnya namun ternyata masih terkunci. Dia merogoh saku cardigannya mengambil gawai untuk menghubungi Shanum.
Tuut...tuut...tuut....
Panggilan terhubung namun tidak diangkat oleh Shanum. Liani pun tidak menyerah dia mengirim pesan pada Shanum.
'Num, kamu dimana? kenapa barang-barang kamu ada di luar? aku udah di teras rumah kamu nih'
Pesan terkirim dan bercentang dua namun warnanya masih abu menandakan bahwa pesan belum dibaca.
Liani mengulang kembali panggilannya, berkali kali dia terus menghubungi nomor Shanum tetapi tak kunjung ada jawaban, hingga akhirnya gawainya pun tidak aktif.
Liani panik, dia berlari ke sana kemari mencari keberadaan Shanum di sekitar rumah dinas. Selanjutnya dia berburu dari rumah ke rumah yang berdekatan dengan rumah dinas mereka. Liani menanyakan Shanum kepada semua orang. Namun tak ada satu pun rumah yang kedatangan Shanum.
Liani berlari ke gerbang untuk menanyakan Shanum ke Pak Satpam yang bertugas hari ini.
"Aasalamu'alaikum, Pak" Liani datang dengan napas terengah-engah karena berlari
"Wa'alaikumsalam, Bu. Ibu kenapa?" Pak Satpam bertanya heran karena melihat Liani yang kecapean.
"Bapak...Bapak...Bapak melihat Bu Shanum tidak?" tanya Liani dengan napas yang masih terengah.
"Iya Bu, saya lihat. Tadi Bu Shanum turun dari travel dan masuk ke dalam. Mungkin sekarang sudah sampai di rumahnya." ujar Pak Satpam.
"Bapak lihat dia pergi lagi enggak?" keluar gerbang gitu?"
"Enggak Bu, dari tadi saya tidak melihat Bu Shanum lewat lagi. Kalau saya lihat pasti saya tanya beliau mau kemana" jawab Pak Satpam yang memang tidak melihat kepergian Shanum.
Pak Satpam sangat mengenal Shanum, dia sering memberinya makanan saat berjaga.
Liani memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing. Dia buntu harus kemana lagi mencari sahabatnya Shanum. Yang membuat curiga Liani, kenapa Shanum meninggalkan barang-barang bawaannya dari Bogor begitu saja di depan pagar, bukankah ini mencurigakan?, pikirnya.
"Ya sudah Pak, kalau nanti lihat Bu Shanum kabari saya ya. Saya pamit mau balik dulu", ucap Liani dengan nada yang lesu, dia mengusap keringat yang mengucur di dahinya karena berlari tadi.
"Mudah-mudahan perkiraanku benar, Liani bersama Pak Ahsan", batin Shanum.
Dia berjalan lunglai kembali menuju rumah dinasnya.
Waktu sudah menjelang Magrib, belum ada tanda-tanda Shanum pulang. Liani dengan setia menunggu di teras rumah dinas Shanum, dia terus mencoba menghubungi Shanum namun nomornya tak kunjung aktif.
Adzan maghrib pun tiba, Liani semakin panik karena Shanum belum juga ada kabar. Akhirnya dengan terpaksa Liani mencari nomor Ahsan di kontaknya. Tanpa menunggu lagi dia pun menghubungi Ahsan.
"Assalamu'alaikum" panggilan langsung tersambung.
"Wa'alaikumsalam. Iya Bu Liani, ada yang bisa dibantu?" jawab Ahsan di ujung teleponnya.
"Maaf Pak apa saya mengganggu?" tanya Liani memastikan keadaan Ahsan.
"Enggak juga, saya cuma lagi kumpul-kumpul aja dengan teman-teman", jawab Ahsan santai.
Saat ini dia memang sedang mengobrol santai dengan teman-temannya termasuk Akhtar. Selesai rapat yayasan mereka memutuskan ngopi sambil mengobrol santai di kantin yayasan.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya hanya mau menanyakan tentang Shanum. Apakah dia sedang bersama Bapak?" tanya Liani hati-hati, dia sebenarnya ragu menanyakan tentang Shanum pada Ahsan.
"Shanum? enggak, kan saya juga nanya sama kamu kapan Shanum kembali" tanya Akhtar balik.
Akhtar yang mendengar Ahsan menyebut nama Shanum dengan wajah panik menjadi penasaran.
"Jadi maksud Bapak dari tadi Bapak belum bertemu Shanum?" intonasi bicara Liani mulai meninggi.
"Maksud kamu apa? Shanum udah balik dari Bogor?" tanya Ahsan tak kalah panik.
"Iya Pak, Shanum kayanya udah balik dari tadi sore. Tapi sampai sekarang dia enggak ada di rumah dinasnya. Tadi sore saya hanya menemukan barang-barang bawaan Shanum, itu pun di depan pagarnya. Saya udah nanya ke semua guru yang tinggal satu blok dengan kami tapi gak ada yang kedatangan Shanum."
"Saya juga udah nanya ke Pak Satpam yang jaga hari ini, tapi Pak Satpam katanya hanya lihat Shanum masuk ke komplek, dia gak lihat Shanum keluar lagi. Saya kira Shanum bareng Bapak. Makanya saya biarin dari tadi, tapi jam segini belum balik juga mana gak ada kabar lagi, saya coba hubungi nomornya juga gak aktif." jelas Liani panjang lebar.
"Kenapa kamu baru ngabarin sekarang?" teriak Ahsan panik.
Sontak semua teman-teman Ahsan yang sedang bersantai kaget sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi. Terutama Akhtar, dia langsung memberondong Ahsan dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa? ada apa dengan Shanum? apa yang terjadi? Shanum kenapa?" tanya Akhtar tak kalah panik.
Setelah mengakhiri teleponnya dengan Liani Ahsan pun menceritakan kepada Akhtar dan teman-teman yang lainnya perihal Shanum sesuai dengan keterangan yang dia dengar dari Liani. Mereka berempat pun serempak meninggalkan kantin dan segera menuju rumah dinas Liani.
Akhtar yang terlihat paling panik, dia terlihat menelepon seseorang. Selama di perjalanan menuju rumah dinas Shanum Akhtar terus menghubungi orang itu
Mendengar penjelasan Ahsan dia jadi teringat dengan ancaman Suraya waktu itu. Dia pun teringat Raina yang akan melakukan apa saja untuk bisa tetap bersamanya.
Akhtar kalut sendiri, pikirannya kacau dia benar-benar khawatir takut terjadi sesuatu pada Shanum. Mengingat track record Suraya selama ini dia memang selalu mendapatkan apa yang dia mau dengan cara apapun.
Sementara di tempat lain...
Di sebuah rumah yang tampak sederhana namun rapi, seorang wanita tengah terduduk ketakutan di sebuah sofa. Sudah lebih dari tiga jam dia berada di sana seorang diri. Dua orang yang tadi membawanya pergi entah kemana.
Suara kumandang adzan isya menjadi tanda untuk Shanum bahwa waktu berlalu sudah cukup lama. Dia ingat kedatangannya ke yayasan tepat saat adzan ashar berkumandang, dia sudah melaksanakan Shalat Jamak sebelum keberangkatannya kembali ke Bandung.
Dia pun melaksanakan shalat magrib di ruangan itu sendirian dengan bertayamum terlebih dahulu karena saat dia akan mencari kamar mandi, pintu ruangan tempatnya kini berada ternyata terkunci.
Suara langkah yang semakin mendekat terdengar di telinga Shanum.
Ceklek...
Pintu ruangan tempat Shanum berada terbuka. Tampak Suraya dan Raina sedang tersenyum mengejek saat melihat Shanum hendak melaksanakan shalat Isya.
"Hai......" Suraya dan Raina berjalan masuk ke ruangan tempat Shanum menunggu.
"Gimana? sudah sadar apa kesalahanmu?" tanya Suraya santai dia tampak tidak merasa bersalah sama sekali.
"Sebenarnya apa mau Kakak? Kenapa harus seperti ini? tidak bisakah kita duduk bersama dan bicara baik-baik?" tanya Shanum penuh kelembutan.
"Hahaha......." Suraya dan Raina tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Shanum.
"Kamu tahu? berapa kali aku sudah mengingatkan?" Suraya bertanya dengan posisi berjalan mengitari Shanum yang terduduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Sejak awal sudah aku ingatkan, lepaskan Ahsan sepenuhnya. Tapi ternyata kamu malah masih menyambut kedatangannya dengan baik. Kamu tahu apa yang Ahsan katakan padaku? hah?...."
"Sampai kapanpun dia akan memperjuangkan kamu dan tidak akan pernah bisa mencintai aku lagi seperti dulu" teriak Suraya tepat di telinga Shanum.
__ADS_1
"Kamu senang? kamu bahagia mendapat cinta yang begitu besar dari Ahsan, hah? iya? bangga? senang? jawab!" Suraya terus mencecar Shanum dengan berteriak.
"Aku benci, aku benci sesuatu yang menjadi milikku diganggu orang, aku benci!" teriak Suraya lagi.
"Dan kamu..." telunjuk Suraya tepat berada di depan wajah Shanum.
"Kamu sudah mengganggu milikku, dan aku pastikan bahwa kamu akan menyesalinya!" Suraya bicara menggebu-gebu penuh dengan kebencian.
Shanum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Suraya. Dia tidak menyangka Suraya yang di awal perjumpaannya begitu baik dan terlihat dewasa ternyata memiliki sisi lain yang menakutkan.
Prok ...prok...prok...Suraya tiba-tiba bertepuk tangan.
"Ha..ha...ha..." dia kembali tertawa.
"Kamu memang keren, sangat luar biasa....bahkan tidak hanya Ahsan yang kamu goda tapi juga Akhtar. Ray, giliran Lu" ujar Suraya pada Raina yang sejak tadi hanya tersenyum mengejek melihat Shanum ketakutan.
"Aku tahu kalau Mas Akhtar masih mengirimi kamu pesan. Kamu tahu apa yang dia katakan waktu aku meminta penjelasan tentang pesan-pesan itu?" tanya Raina pada Shanum. Dia berbicara dengan suara pelan, tangan kanannya menjepit dagu Shanum agar menatapnya.
Shanum pun terpaksa mendongak, kuku jari tangan Raina yang panjang sedikit melukai dagunya sehingga Shanum pun sempat meringis dibuatnya. Dia hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Raina.
"Mas Akhtar bilang karena dia masih sangat mencintai kamu, dia meminta aku mundur dari perjodohan kami dan membiarkan dia kembali bersamamu." Raina menjeda ucapannya.
"Kamu tahu? betapa sakitnya aku mendengar jawabannya, dia bahkan mengatakannya tanpa ragu sedikit pun."
"Aku bertahun-tahun selalu mengejar cintanya tapi tidak pernah mendapat balasan. Dia bahkan tidak pernah melirikku sedikit pun."
"Sekarang dia sudah ada digenggamanku. Perjuangan panjangku berbuah manis, tinggal selangkah lagi aku bisa memiliki Mas Akhtar seutuhnya. Tetapi kamu datang dan mengacaukan semuanya. Mas Akhtar selalu punya alasan untuk menunda pernikahan kami, dan aku yakin kalau sebenarnya itu karena kamu." Suara Raina terdengar semakin pilu.
"Sekarang aku minta sama kamu ....tolong lepaskan Mas Akhtar, menjauhlah darinya. Pergilah dari kehidupan kami. Biarkan aku dan Mas Akhtar bahagia" Raina mengungkapkan isi hatinya dengan penuh keharuan. Dia terlihat begitu mengiba, membuat Shanum semakin merasa bersalah.
"Sudahlah Ray, sekarang mari kita langsung ke intinya", sela Suraya.
Prok...prok...prok...
Suraya menepuk tangannya tanda memanggil seseorang.
Ceklek...
Pintu ruangan tempat mereka berada terbuka. Menampakkan sesosok laki-laki dengan perawakan tinggi yang tidak tahu siapa.
"Masuk!" titah Suraya pada laki-laki itu.
Laki-laki itu pun menurut dan menutup kembali pintu ruangan itu.
"Sejak awal aku sudah katakan padamu. Mau mengundurkan diri baik-baik atau diberhentikan secara tidak hormat" Suraya kembali berbicara tegas.
"Jika kamu tidak bersedia mengundurkan diri berarti pilihanmu jatuh pada pilihan kedua."
"Kamu lihat dia?" Suraya menunjuk laki-laki yang baru saja masuk itu.
"Dia yang akan menemanimu tidur malam ini, dan aku dan Raina akan menjadi penontonnya. Hahaha...." ancam Suraya.
"Besok, kamu tinggal lihat di berita...haha....." Suraya mengakhiri ancamannya dengan tawa yang terdengar mengerikan untuk Shanum. Dia mengeluarkan gawainya, seolah bersiap akan merekam.
Shanum bergidik ngeri mendengar ancaman Suraya, air matanya terus mengalir tidak berhenti sejak kedatangan Suraya dan Raina ke tempat itu.
__ADS_1
Kehadiran laki-laki yang tidak dikenalnya dan ancaman Suraya membuatnya semakin takut. Dia tidak bisa membayangkan jika Suraya dan Raina melancarkan aksinya, menyuruh laki-laki itu untuk merudapaksanya dan menyebarkan aib itu.
Shanum menangis tersedu, dia belum mampu berkata-kata. Mendengar semua ancaman Suraya benar-benar membuatnya syok. Dia sangat ketakutan, tidak menyangka Suraya akan senekad ini.