Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Pahlawan di Hari Bahagia


__ADS_3

Keadaan rumah dinas Shanum yang masih gelap membuat Liani yang berada di sebrang rumah dinas Shanum heran. Tidak biasanya sahabatnya itu belum pulang jam segini.


Liani mengambil gawainya dan mendial nomor Shanum. Tidak buruh waktu lama, terdengar ucapan salam dari orang yang dihubunginya.


"Wa'alaikumsalam" jawabnya


"Kamu masih di sekolah?" tanya Liani pada Shanum.


"... "


"Tapi kenapa lampunya belum nyala?"


"..."


"Ouh gitu, ya udah deh nanti habis Isya aku ke rumah kamu ya. Ada yang mau aku ceritain"


"..."


"Oke, assalamu'alaikum", Liani mengakhiri percakapannya di telepon dengan Shanum.


***


Malam minggu yang cerah, pas untuk orang-orang yang mau hang out. Seperti dua gadis yang saat ini tengah tertawa berdua merayakan keberhasilannya. Seperti baru saja mendapat lotre, mereka tertawa bahagia tanpa peduli sekeliling yang terlihat mulai memerhatikan tingkah mereka.


Suraya dan Raina, mereka janjian bertemu di tempat saat ini mereka berada. Tujuan mereka adalah merayakan keberhasilannya telah menakut-nakuti Shanum.


Balasan yang diterima dari Shanum menandakan gadis itu sangat membutuhkan pekerjaannya. Bagaimana tidak, untuk Shanum mengajar adalah hidupnya. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya diberhentikan dengan tidak hormat. Reputasinya buruk dan akan membekas seumur hidupnya. Mengajar di tempat bonafid seperti saat ini adalah bonus untuknya.


'Aku akan lebih keras menghindarinya, tolong Kakak juga jaga baik-baik kekasih Kakak. Pastikan kalian selalu bersama, agar dia tidak berkesempatan menemuiku, aku pun ingin tenang dalam bekerja.'


Pesan yang yang dikirim Shanum dirasa cukup mewakili keadaannya yang merasa terganggu dengan kedatangan Ahsan menemuinya.


Hari-hari pun berlalu, Shanum lebih tenang menjalani aktivitasnya. Ahsan tak lagi menemuinya begitupun Suraya tak lagi mengiriminya pesan-pesan yang penuh ancaman. Hanya Akhtar yang masih selalu mengirimi Shanum pesan, tetapi Shanum tidak pernah membalasnya.


Weekend terakhir di bulan ini adalah weekend yang cukup panjang, tanggal merah di hari Jumat dan Senin menjadi hadiah libur panjang untuk para pegawai yayasan. Kebanyakan dari mereka lebih memilih kembali ke tempat asalnya, atau sekedar mengunjungi keluarga. Begitu pun dengan Shanum, dia memilih pulang ke Bogor.

__ADS_1


Kepulangannya kali ini bukan hanya sekedar melepas rindu, tetapi juga untuk menghadiri pernikahan adiknya. Shanum sengaja mengajukan cuti selama tiga hari setelah weekend agar bisa membantu persiapan pernikahan adiknya dengan maksimal.


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan balutan kebaya brokat modern berwarna putih ditaburi hiasan payet swarovski yang memberi kesan mewah serta dipadukan dengan kerudung berwarna senada dengan bertahtakan mahkota. Hiasan yang paling sering digunakan oleh pengantin wanita. Selain memang terlihat cantik dan fancy, mahkota juga menambah kesan elegan pada penampilan sang pengantin. Tak terkecuali bagi Farida mahkota menjadi salah satu aksesoris pilihannya dan kali ini mahkota pilihan Shanumlah yang dipakainya.


Farida berjalan dengan anggunnya menuju tempat dilaksanakannya ijab qabul. Shanum dengan setia mendampingi Farida, sang adik tercinta selama prosesi sakral itu.


Acara sakral yang diselimuti keharuan itu pun usai. Farida adik pertama Shanum telah sah menyandang status sebagai istri. Shanum turut berbahagia melihat kebahagiaan sang adik. Tanpa sungkan Shanum membantu memenuhi semua kebutuhan Farida. Sementara Farida sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir.


Di sela-sela aktivitasnya melayani tamu undangan yang datang dan sesekali memastikan keadaan adiknya di atas pelaminan, tanpa sengaja Shanum mendengar bisik-bisik para tetangga tentang dirinya. Mereka banyak yang membicarakan Shanum karena Shanum belum menikah dan malah didahului sang adik. Usianya kini sudah dibilang sangat cukup untuk menikah semakin membuat spekulasi negatif berkembang di lingkungan masyarakat.


'itu teh Shanum, kakaknya


dia mah belum nikah, jomblo.'


'kasihan dirunghal (didahului), pipilih teuing sigana mah (terlalu pemilih kayaknya)'


'gak ada yang maueun mereun, dulu ge pernah hampir mau nikah malah meninggal calon suaminya'


Dan masih banyak lagi bisikan-bisikan para tetangga yang terdengar langsung oleh telinga Shanum.


Shanum hanya menghela napas. Sebenarnya dia tidak peduli dengan perkataan mereka yang Shanum pikirkan hanyalah perasaan Ibunya, dia khawatir Ibu mendengarnya dan membuatnya semakin kepikiran. Ibu mana yang tak sakit hati mendengar anaknya menjadi bahan cibiran.


Hari semakin siang, tamu undangan pun semakin ramai. Alunan musik dari band yang mengisi hiburan menampilkan lagu-lagu sundaan membuat acara semakin meriah. Semua tampak bahagia, Ibu pun tersenyum bahagia menyambut tamu-tamunya. Shanum lega, setidaknya kebahagiaan terpancar di wajah ibu hari ini, membuat sang adik tidak lagi merasa bersalah.


Di antara riuhnya para tamu yang datang, penglihatan Shanum tiba-tiba menangkap kehadiran seseorang yang tak asing baginya. Kehadirannya bahkan menjadi pusat perhatian semua orang. Tidak hanya para tamu yang tiba-tiba menghentikan semua aktivitasnya, pengisi hiburan pun tak kalah heboh menyambut kedatangannya.


Shanum terhenyak saat sosok yang akhir-akhir ini dia hindari kini telah berada di hadapannya. Dia yang saat itu sedang memantau persediaan makanan pada stand dessert yang lokasinya berdekatan dengan tempat duduk para tamu dengan jelas melihat bagaimana kehadiran orang itu menjadi pusat perhatian.


Mobil sedan mewah terparkir tepat di halaman rumah yang kini sudah menjelma menjadi tempat pesta nan megah, dia turun dari mobil itu dengan gagahnya. Pilihan kostum yang dipakainya membuat aura ketampanannya semakin bertambah. Kombinasi kemeja, jas semi formal, crop pants yang di padu dengan sepatu loafer membuat semua orang semakin terpesona. Tambahan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya semakin membuat dia terlihat tampan dan gagah.


Shanum menghentikan aktivitasnya, dia menatap dengan tajam orang yang datang dan terus mendekatinya.


"Assalamu'alaikum" dia menyapa sambil membuka kaca mata hitamnya dengan diiringi senyuman termanisnya.


Shanum melebarkan matanya ketika melihat ucapan salam itu tidak hanya diiringi senyuman manis yang selalu membuatnya merasa terhibur, tetapi juga uluran tangan kekar yang menggenggam sebuket bunga mawar merah membuat semua orang iri dengan perlakuan sang pria kepada Shanum.

__ADS_1


Shanum pun dengan sungkan menerima bunga itu. Wajah Shanum semakin merona ketika seorang MC dari atas panggung menyorakinya dan disusul sorakan lainnya dari para tamu.


"Ngapain Kakak ke sini?" tanya Shanum sinis, dia masih tidak bisa menerima kehadiran Ahsan di tengah-tengah keluarganya.


"Assalamu'alaikum" ucap Ahsan mengulangi sapaan salam yang tadi diabaikan oleh Shanum.


"Wa'alaikumsalam" jawabnya masih dengan nada ketus.


"Perasaan aku gak ngundang Kakak deh"


"Num, kamu jangan gitu dong... aku jauh-jauh datang bukannya disuruh masuk dan disuguhi minuman malah diusir lagi, aku jadi sedih" Ahsan merajuk, ekspresi wajahnya pun dibuat sesedih mungkin di hadapan Shanum.


Di tengah obrolan mereka yang masih menjadi pusat perhatian sebagian tamu, Bapak Shanum datang menghampiri.


"Shanum, itu temannya? kenapa tidak di ajak masuk? tanya Bapak.


"Oh iya Pak, kenalkan ini teman Shanum di yayasan eh atasan Pak, atasan Shanum" jawab Shanum gugup.


Ahsan yang mendengar Shanum memperkenalkannya sebagai atasan terlihat tidak senang. Dia berharap dapat memperkenalkan dirinya sebagai calon mantu.


"Saya Ahsan Pak, temannya Shanum waktu kuliah dan sekarang sama-sama bekerja di tempat yang sama" ucap Ahsan memperkenalkan diri dengan sopan.


Bapak hanya manggut-manggut, beliau pun meminta Shanum agar mengajak Ahsan ke dalam menemui ibu dan kedua mempelai di pelaminan.


Kehadiran Ahsan di tengah-tengah pesta pernikahan adiknya benar-benar membawa berkah untuk keluarga Shanum. Kedatangannya yang tiba-tiba sontak membungkam mulut semua orang yang sejak pagi berbisik-bisik membicarakannya. Perlahan spekulasi negatif tentang Shanum berangsur menghilang.


Shanum tersenyum miris saat melihat sambutan keluarganya begitu antusias terhadap Ahsan. Dia menarik napasnya panjang. Memikirkan entah apa harapan keluarganya pada Ahsan dan entah apa yang akan terjadi jika kehadiran Ahsan saat ini di kediamannya di Bogor diketahui oleh Suraya.


Tidak ada hal bisa Shanum lakukan saat ini. Dia berupaya agar terlihat biasa-biasa saja, menerima kehadiran Ahsan dan melayaninya dengan baik sebagai tamu.


Melihat Ahsan yang begitu mudah menyesuaikan diri dengan keluarganya, bahkan terlihat langsung akrab dengan Fauzan adik bungsu Shanum membuatnya bersyukur. Lagi-lagi Ahsan datang sebagai pahlawan dalam hidupnya. Sejak dulu Ahsan memang sudah sering terlibat dalam berbagai masalah kehidupan Shanum walaupun dia lebih sering melakukannya diam-diam.


"Terima kasih Kakak, kau memang luar biasa. Selalu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan" gumamnya Shanum lirih.


"Terima kasih saja tidak cukup" suara seseorang mengagetkan Shanum.

__ADS_1


Ternyata Ahsan mendengar gumaman Shanum, dia pun tersipu karena ketahuan memuji Akhtar secara terang-terangan. Saat dirinya pamit hendak mengambilkan makanan untuk Ahsan, ternyata Ahsan mengikutinya.


"Jika beberapa tahun ke belakang aku selalu menyebut namamu dalam do'a, semoga tahun ini aku bisa menyebut namamu tepat disampingmu menggenggam erat tangan ayahmu" bisik Ahsan tepat di telinga Shanum yang terus membelakanginya.


__ADS_2