
"Menahan diri untuk tidak menghubungimu adalah titik akhir dari perjuanganku dalam mengikhlaskanmu" Ahsan menatap pantulan dirinya yang ada di dalam air. Mereka berdua saat ini sedang berada di babancong belakang rumah Shanum. Ahsan meminta izin untuk melaksanakan shalat ashar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan Bu Fatimah.
Shanum mengantarnya, dia berusaha bersikap biasa ketika berinteraksi dengan Ahsan. Dia sudah memberikan alasan yang tepat kepada Bu Fatimah dan Indri yang keheranan karena ternyata mereka berdua saling mengenal. Shanum mengatakan jika Ahsan adalah kakak tingkatnya saat kuliah di Bandung, dia berkata jujur. Mereka pun percaya dan tidak bertanya lebih.
"Tidak selamanya yang terbaik adalah bertahan, terkadang melepaskan juga menjadi hal terbaik ketika bertahan hanya memberi luka" jawab Shanum tegas.
"Kamu selalu saja punya alasan" balas Ahsan ketus dengan tatapan lurus ke depan, tanpa menoleh sedikit pun kepada Shanum yang sudah mulai gelisah dengan keberadaan mereka berdua di sana.
"Aku hanya berusaha realistis, kita tidak bisa memaksakan keadaan sesuai dengan kehendak kita. Semua sudah ada perencanaan yang baik dari Sang Pencipta. Selama ikhtiyar sudah dimaksimalkan, selanjutnya tugas kita adalah mengangkat tangan dan sisanya biarkan Allah yang turun tangan. Apapun hasilnya kita harus menerima dengan lapang dada dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya" Shanum berargumen dengan panjang lebar menepis semua tuduhan Ahsan.
"Bagaimana kabar suamimu?" Ahsan mengalihkan pembahasan. Dia mengambil makanan ikan yang sengaja digantung di atap babancong dan dilemparkannya ke kolam ikan yang tepat berada di depan babancong tempatnya berdiri saat ini.
Deg....Shanum menghela napas berusaha menetralkan perasaan yang selalu berubah tatkala ada yang menanyakan perihal suaminya. Dia berusaha menetralkan mimik muka dan suaranya agar kembali seperti biasa.
"Dia ada di Jakarta, lebaran hari ketiga ibu mertua dan adik iparku akan datang ke Garut. jawab Shanum apa adanya.
"Aku sudah lama tidak bertemu dia. Aku tidak menyangka jika akhirnya kamu menikah dengannya. Kami berteman cukup dekat saat kuliah di Bandung. Dia orang yang baik, aku percaya dia bisa membahagiakanmu" Ahsan berbicara masih dengan ekspresi datar dan pandangan lurus. Kali ini dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini dia pendam sendiri.
"Alhamdulillah, Bang Haqi sangat baik, dia memperlakukanku dengan istimewa. Aku bahagia. Bagaimana kabar Kak Suraya? kalian sudah punya anak?" Shanum membalas ucapan Ahsan dengan ungkapan syukur dan memuji Haqi yang tentu membuat Ahsan langsung merubah raut mukanya namun sayang Shanum tidak melihatnya.
Shanum pun mengalihkan obrolan dengan menanyakan tentang Suraya.
"Ck, aku dan dia....." Ahsan terdengar berdecak, ucapan Ahsan tiba-tiba terjeda saat Bu Fatimah memanggilnya.
"Ahsan, shalatnya sudah Nak?" Bu Fatimah datang dan menghampirinya. Dia melihat-lihat sekeliling halaman belakang rumah Shanum yang tampak nyaman itu.
"Sudah Bu, Ibu mau berangkat sekarang?" Ahsan balik bertanya. Kehadiran Bu Fatimah seketika menghentikan obrolan mereka berdua. Shanum yang menyadari kedatangan Bu Fatimah segera turun dari babancong meninggalkan Ahsan dan hendak mendekati Bu Fatimah namun terlebih dahulu dia berbelok ke area wudhu.
Seiring dengan kedatangan Bu Fatimah, seorang laki-laki yang tak lain adalah Andi pun datang dan memanggil Shanum.
"Shanum, ini ada yang mau bicara dengan kamu" Andi memanggil Shanum dengan akrab, dia bahkan menepuk bahu Shanum yang sedang membetulkan kran air area wudhu yang airnya masih menetes.
Shanum pun menoleh, "Eh Di, sebentar ya aku antar tamuku dulu" ucap Shanum dan dijawab anggukan oleh Andi dengan senyum mengembang di bibirnya membuat seseorang yang sedang menuruni tangga babancong pun sejenak menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam ke arah Andi yang tampak akrab dengan Shanum.
"Ibu, sudah mau pergi?" tanya Shanum ramah pada Bu Fatimah, dia mengelap tangannya yang basah sebelum menyalami Bu Fatimah.
"Iya, ini sudah sore. Insya Allah kapan-kapan Ibu berkunjung lagi ke sini. Pingin ngerasain makan di sini, nyaman banget tempatnya" ujar Bu Fatimah sambil meraih tangan Shanum penuh kelembutan. Bu Fatimah bahkan menatap lekat Shanum dari jarak dekat, dia merasa tidak asing dengan wajah manis penuh senyum itu.
Ahsan dan Bu Fatimah pun berpamitan, Shanum meminta maaf karena tidak bisa mengantar mereka ke depan. Andi sudah mengajaknya untuk berbicara dengan orang yang terhubung di layar gawainya.
Sebelum pergi Ahsan kembali menengok ke belakang melihat Shanum dan Andi yang tampak akrab. Dia terus menatap Andi masih dengan tatapan tajamnya seolah memorinya sedang merekam wajah laki-laki itu. Sementara Andi sangat antusias menunjukkan sesuatu di gawainya, dia tidak menyadari dengan tatapan Ahsan yang sejak tadi penuh dengan intimidasi.
"Shanuuuum........." teriak dua orang yang saling terhubung melalui video call di gawai Andi. Mereka adalah Nia dan Husna, sahabat Shanum waktu bersekolah di SMP Al-Kausar dan sama-sama tinggal di Asrama.
Sontak Shanum meraih gawai di tangan Andi, dia pun tak kalah girang saat melihat wajah kedua sahabatnya di layar gawai itu.
"Aaaaaaa......kalian, aku kangeeenn" pekik Shanum tak kalah histeris saat mereka bertiga sudah bertemu wajah.
Andi yang melihat itu pun turut bahagia, dia tersenyum melihat ketiga sahabatnya bertemu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terpisah jarak.
Shanum pun asik dengan obrolan dengan sahabat-sahabatnya, dia tidak menyadari jika gawai yang digunakannya bukanlah miliknya. Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil meraih gamisnya, sontak Shanum menghentikan obrolan dan menoleh ke arah anak kecil itu.
__ADS_1
"Hp ayah aku" ucapan anak kecil tersebut mengagetkan Shanum, dia memperhatikan gawai yang ada di genggaman tangannya. Shanum benar-benar lupa jika dirinya sedang menggunakan gawai Andi. Dia bahkan belum berkenalan dengan keluarga Andi.
"Adududuh ... maaf adik manis, Teteh lupa. Maaf ya maaf, sebentar ya teteh pamit dulu ke temen-temen teteh" Shanum berjongkok dan meraih anak kecil yang dia yakini anak Andi.
"Nia, Husna aku tutup dulu ya. Aku lupa kalau lagi pake gawainya Andi ini anaknya nanyain" ucap Shanum dengan menampilkan wajah nyengirnya yang sedang memeluk anak perempuan yang ada di sampingnya dan di balas dengan gelengan kepala oleh kedua sahabatnya.
"Beuh... gening geus jadi urang kota ge angeur we pohoan nana mah (beuh...ternyata sudah jadi orang kota juga tetep aja pelupa)" sindir Nia sambil mencebikkan bibirnya.
Shanum hanya nyengir menatap kedua sahabatnya yang sedang mengejeknya. Mereka pun mengakhiri obrolan setelah Shanum menyebutkan nomor teleponnya untuk disimpan oleh mereka berdua.
Assalamu'alaikum, dada...hh" pungkas Shanum seiring layar gawai Andi yang menghitam.
"Namanya siapa cantik?" Shanum beralih menanyai anak perempuan itu.
"Adiba" anak kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun itu pun menjawab dengan suara cadelnya.
"Ayah kamu dimana?" saking asiknya mengobrol dengan kedua sahabatnya Shanum bahkan tidak menyadari kepergian Andi dari sisinya. Adiba pun menunjuk ke arah meja yang diduduki Andi dan keluarganya, Andi pun melambaikan tangan ke arah Shanum.
Shanum menggendong Adiba menuju meja tempat Andi dan keluarga berkumpul. Dia memperkenalkan diri sebagai teman sekolah Andi waktu SMP dan meminta maaf atas keteledorannya memakai gawai Andi. Shanum tidak menyangka Andi yang terkenal paling usil di antara teman-teman prianya ternyata sekarang menjadi kepala desa.
Adzan maghrib berkumandang, setelah bercengkrama dengan istri dan keluarga Andi Shanum pamit untuk berbuka dan mempersilahkan Andi dan keluarganya untuk menikmati hidangan yang telah tersedia di meja mereka.
Waktu menunjukkan pukul tujuh, pengunjung warung sudah mulai surut. Mereka berangsur meninggalkan warung ibu karena sudah waktunya tutup. Andi dan keluarganya pun berpamitan, tidak lupa Shanum memberikan cemilan untuk anak-anak Andi yang berjumlah tiga orang.
"Kapan-kapan main lagi ke sini ya, teteh tunggu" ucap Shanum pada ketiga anak Andi setelah mereka berada dalam mobil.
Andi yang menutup pintu setelah memastikan semua anggota keluarganya masuk pun bersiap memutar ke arah pintu kemudi. Namun sebelumnya dia sempat berbisik setengah mengejek Shanum namun masih terdengar oleh semua.
"Kamu tuh gak pantes dipanggil teteh sama anak-anakku, pantesnya dipanggil uwa" ejek Andi sambil melenggang pergi menuju pintu mobil.
"Panggil teteh ya anak-anak shaleh, dadaa....hh wa'alaikumsalam" Shanum melambaikan tangannya pada mereka dengan mobil yang mulai melaju seiring ucapan salam perpisahan.
Sementara di dalam mobil yang dikendarai Ahsan. Bu Fatimah tampak mencari sesuatu dari tas yang dibawanya.
"Ibu cari apa?" tanya Ahsan yang melihat Bu Fatimah tampak sibuk sendiri. Setelah berbuka bersama dan bercengkrama sebentar melepas kangen dengan teman lama, Bu Fatimah memutuskan untuk pamit karena perjalanan yang mereka tempuh masih sangat jauh. Dan sekarang mereka sudah berada di jalan menuju Garut selatan, Ahsan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana malam dan jalanan yang berkelok menuju Pameungpeuk membuatnya sangat hati-hati mengemudikan mobilnya.
"Ibu cari kertas nomor telepon Neng Zahra, tadi ibu dapat dari Indri" jawab Bu Fatimah tanpa menoleh, tangannya masih mencari-cari secarik kertas yang bertuliskan nomor telepon pribadi Shanum.
Selama ini Bu Fatimah memesan catering ke nomor khusus warung yang hanya aktif pada waktu tertentu. Bu Fatimah sengaja meminta nomor pribadi Shanum dari sepupunya untuk memastikan sesuatu.
"Lho....bukankah selama ini ibu sering berkomunikasi dengan dia?" tanya Ahsan heran.
"Kalau itu nomor yang digunakan khusus untuk urusan warung, lagian selama ini ibu gak tahu siapa yang membalas pesan ibu, Neng Zahra atau Neng Indri" jelas Bu Fatimah.
"Oh" Ahsan pun hanya membulatkan bibirnya.
Suasana pun kembali hening, Bu Fatimah masih mencari-cari kertas itu sementara Ahsan menatap jalanan lurus ke depan.
Dughh....tiba-tiba mobil Ahsan melewati jalan berlobang cukup dalam hingga membuat penumpangnya terlonjak kaget.
"Nak...hati-hati" seru Bu Fatimah dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Maaf Bu, ada lobang gak kelihatan" jawab Ahsan, padahal dia menyadari jika barusan dia sedang melamun memikirkan pertemuannya dengan Shanum.
"Kamu lelah?" tanya Bu Fatimah memastikan keadaan Ahsan. Pasalnya mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh.
"Maaf Bu, aku akan lebih hati-hati" jawab Ahsan penuh penyesalan.
Ahsan mengantar Bu Fatimah dari Bandung, selama ini dia tinggal di pesantren yang ada di Pameungpeuk. Kedatangan Bu Fatimah ke Bandung tidak lain adalah untuk mempersiapkan rumah Akhtar di yayasan. Kabar terbaru yang Bu Fatimah terima dari Ahsan adalah bahwa Akhtar sudah sadar dan sudah bisa pulang ke tanah air. Selama ini Bu Fatimah belum pernah mengunjungi Ahsan di luar negeri, dia pun tidak pernah mendapatkan kabar apa-apa tentang Ahsan dari mantan suami dan mantan sahabatnya itu.
Pak Furqan sama sekali tidak pernah menghubungi Bu Fatimah, keberadaan Bu Sopia bersamanya membuat dia tidak leluasa untuk menghubungi Bu Fatimah. Apalagi Bu Sopia yang pernah mengancam dan selalu mewanti-wanti Pak Furqan agar tidak pernah berhubungan lagi dengan Bu Fatimah.
Namun diam-diam Pak Furqan memberi kabar perkembangan kesehatan Akhtar kepada Ahsan dan memintanya untuk memberi tahu Bu Fatimah. Dia juga meminta Ahsan untuk menjaganya, dia khawatir dengan keselamatan mantan istrinya itu mengingat Sopia bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya.
Ahsan pun menurut, dia dengan senang hati menjaga Bu Fatimah dan menyampaikan semua informasi tentang perkembangan kesehatan Akhtar di luar negeri sana. Foto-foto Akhtar yang dikirim Pak Furqan segera Ahsan kirimkan kepada Bu Fatimah.
Saat mendengar kabar bahwa Akhtar sudah sadar, Bu Fatimah segera menuju ke Bandung. Dia berinisiatif membersihkan dan merapikan rumah dinas Akhtar. Bu Fatimah tidak peduli dengan ancaman Sopia, yang dia pikirkan hanyalah putranya. Bu Fatimah bahagia do'a-do'anya dikabulkan. Sungguh, dia sangat merindukan Akhtar.
Setelah seminggu berada di Bandung, Pak Furqan tak kunjung memberikan kabar kapan Akhtar akan pulang. Bu Fatimah akhirnya memutuskan untuk kembali ke Garut bertepatan dengan acara reuni sekolahnya. Dia pun berinisiatif untuk menjadi donatur konsumsi pada acara reuni itu atas nama sang putra tentunya. Selama ini Bu Fatimah selalu rutin bersedekah makanan atas nama putranya, dengan diiringi do'a Bu Fatimah berharap kesembuhan untuk putra satu-satunya itu.
Do'anya pun terkabul, kini Bu Fatimah sedikit bernapas lega setelah melihat video kiriman Pak Furqan ke nomor Ahsan. Di video itu terlihat Akhtar yang sedang duduk di kursi roda, dia dibawa oleh seorang perawat untuk berjemur di pagi hari. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Akhtar. Dia hanya tampak sedang memandang sesuatu, namun pandangannya terlihat kosong.
Bu Fatimah hanya bisa menangis melihat keadaan putranya saat ini. Akhtar yang selalu tampil gagah dengan tubuh tinggi atletisnya kini tinggallah kenangan. Dia tampak kurus dan rapuh. Kendatipun demikian, Bu Fatimah bersyukur putranya itu kini sudah terbangun dari tidur panjangnya.
"Oya, kamu punya nomor pribadi Neng Zahra?" Bu Fatimah teringat jika tadi Ahsan dan Shanum mengaku sudah saling mengenal.
"Neng Zahra? siapa dia?" Ahsan balik bertanya heran.
"Yang tadi pemilik warung nasi ibu, tadi kan kalian mengobrol, katanya kamu kakak tingkatnya saat kuliah" Bu Fatimah kembali mengingatkan Ahsan.
Ahsan yang baru ngeuh dengan nama itu pun menganggukkan kepalanya.
"Shanum maksud ibu?" tanya Ahsan kembali memastikan
"Shanum?" Bu Fatimah menengok ke samping menunggu jawaban Ahsan.
"Iya Shanum, pemilik warung nasi ibu tadi" Ahsan kembali menjelaskan.
"Bukannya namanya Zahra?" tanya Bu Fatimah lagi, dia kembali mencari-cari kertas pemberian Indri di tasnya.
"Iya Bu, Zahra itu nama akhirnya, nama lengkap dia Shanum Najua Azzahra" sambung Ahsan menjawab keheranan Bu Fatimah.
"Shanum Najua Azzahra" gumam Bu Fatimah, dia tampak mengingat-ingat sesuatu.
"Ko ibu berasa gak asing ya dengan namanya" ujar Bu Fatimah dengan kening masih mengkerut mengingat-ingat.
"Dia teman Akhtar juga Bu" jelas Ahsan.
"Maksud kamu, dia Shanum cinta pertamanya Akhtar?" tanya Bu Fatimah penasaran. Ahsan menganggukan kepalanya tanda membenarkan dugaan Bu Fatimah.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu" ucap Bu Fatimah bahagia mengetahui kenyataan itu. Selama beberapa bulan menunggui Akhtar di rumah sakit, Akhtar sempat sadar dan Bu Fatimah mendengar jika Akhtar bergumam menyebut nama Shanum di bawah alam sadarnya.
"Dia sudah menikah Bu" Ahsan kembali mengingatkan Bu Fatimah fakta tentang Shanum, dia sepertinya bisa menerka pikiran Bu Fatimah jika dirinya berharap Shanum bisa menjadi obat untuk kesembuhan Akhtar
__ADS_1
"Hah!!!" sontak Bu Fatimah pun menutup mulut kaget dengan fakta yang baru saja diketahuinya. Ternyata wanita yang dicintai putranya itu begitu dekat dengan dirinya. Hanya sayang, Bu Fatimah baru ingat jika Shanum sudah menikah.
Dia ingat hal itu yang membuat Akhtar sangat terpuruk hingga menjelang hari pernikahannya. Ditambah kabar tidak enak yang diterimanya tentang Raina, membuatnya semakin hancur hingga akhirnya kecelakaan pun terjadi. Harapan Bu Fatimah Shanum dapat membantu kesembuhan Akhtar pun menguap begitu saja.