
Subuh menjelang....
Kumandang adzan dan kokokkan ayam saling bersahutan membangunkan segenap penghuni alam raya untuk bangun dan menyongsong hari baru dengan mengawalinya menyembah Sang Pencipta.
Shanum terbangun, matanya mengerjap-ngerjap mulai mengumpulkan nyawa yang masih berseliweran. Dia hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun gerak tubuhnya terbatas karena sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
Deg...Shanum terkejut dia kaget ada laki-laki tidur bersamanya, namun sedetik kemudian dia ingat bahwa dirinya kini telah menikah dengan laki-laki yang saat ini sedang memeluknya erat.
Shanum meraba tangan kekar yang melingkar di perutnya itu dan hendak menyingkirkannya namun ternyata sang empunya menyadarinya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Abang, bangun sudah subuh" ucapnya pelan.
"Heummhh..." Haqi hanya bergumam, matanya masih enggan terbuka, semalam mereka mengobrol sampai larut, sekitar jam dua mereka baru mengakhiri obrolan dan akhirnya terlelap dengan posisinya masing-masing yang cukup berjarak. Namun entah bagaimana ceritanya saat terbangun Shanum mendapati suaminya memeluknya erat dari belakang karena posisi tidurnya yang membelakangi Haqi.
"Abang, mau shalat subuhnya terlambat? gak malu sama ayam?" Shanum kembali membangunkan Haqi, kali ini dengan sedikit membubuhkan kalimat sindiran.
Mendengar itu Haqi terbangun, dia menyadari jika saat ini dia tidur di rumah mertuanya. Semalam mereka baru saja melewati malam pertama sebagai sepasang suami istri. Malam pertama yang berbeda dengan malam pertama pengantin pada umumnya, namun cukup berkesan bagi Haqi karena semuanya masih serasa mimpi.
Haqi pun terpaksa melepas pelukannya pada Shanum, dia meregangkan otot-otot tubuhnya dan mulai mengumpulkan nyawanya. Kesempatan ini tentu saja tidak dibiarkan begitu saja oleh Shanum, dia segera beranjak dari tempat tidur dan setengah berlari menuju kamar mandi.
Haqi pun demikian, mendengar adzan subuh akan segera berakhir, dia segera bangun dan menyusul Shanum ke kamar mandi untuk berwudhu.
Tok...tok...tok...
"Dek, bisa lebih cepat? Abang takut ketinggalan shalat subuh berjamaah" Haqi mengetuk pintu kamar mandi dan berbicara sedikit keras karena takut tidak terdengar oleh Shanum yang sedang menyalakan kran air yang terdengar cukup deras.
Tidak lama Shanum pun keluar dengan wajah yang sudah tampak bersih dan semakin berseri di mata Haqi.
Sejenak pandangan mereka bertemu, Haqi selalu terpesona dengan wajah Shanum yang tampak cantik alami tanpa polesan apapun.
"Bang, mau wudhu kan?" pertanyaan Shanum memutuskan pandangannya.
"Iya, iya...aku mau wudhu" jawabnya gugup. Haqi pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Sesuai dengan rencana awal, Shanum akan berangkat bersama Haqi ke Jakarta hari ini. Setelah sarapan dan menyiapkan segala keperluannya Shanum dan Haqi pamit pada semua anggota keluarga. Ada kesedihan yang menyelinap di hati Shanum saat harus kembali meninggalkan kampung halamannya.
Beberapa bulan ini cukup membuat Shanum berkesan, berada di sana membuat Shanum merasa berarti. Selain dia dapat membersamai kedua orang tuanya, dia pun bisa mengamalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya untuk kepentingan masyarakat sekitar dan lingkungan. Banyak yang kehilangan Shanum ketika mereka mengetahui jika Shanum akan ikut suaminya setelah menikah.
Seperti pagi ini, di halaman rumah Shanum sudah berjejer beberapa warga termasuk kepala desa, mereka sengaja datang untuk mengantar kepergian Shanum ke Jakarta. Selama beberapa bulan ini Shanum sudah banyak berkontribusi untuk kepentingan dan kemajuan desa mereka. Wajar jika saat ini mereka sangat kehilangan sosok pemudi potensial seperti Shanum.
Haqi melajukan mobilnya perlahan meninggalkan halaman rumah Shanum diiringi lambaian tangan semua anggota keluarga dan warga-warga yang turut mengantar kepergian Shanum.
"Bismillahi tawakaltu 'alallah, laa haula walaa quwwata illabillah, semoga Allah membimbing setiap langkahku, sehingga apapun yang aku lakukan berbuah berkah dan apapun yang aku usahakan berbuah indah. Semua yang telah terjadi semoga semakin hilang dan akan tenggelam dengan semua kenangan. Selamat tinggal masa lalu, salam hangat untukmu masa depan" ucap Shanum dalam hatinya.
Pikirannya sudah melayang ke tempat baru yang akan dia datangi dan tinggal bersama orang-orang baru yang kini telah menjadi keluarganya.
***
Sementara di Bandung....
Semenjak kepulangannya dari Bogor, sikap Akhtar berubah seratus delapan puluh derajat. Dia berubah semakin dingin dan mudah marah. Akhtar semakin fokus pada pekerjaannya tanpa peduli pada hal lain.
__ADS_1
Raina yang mengetahui jika Shanum sudah menikah, semakin intens mendatangi Akhtar. Dia mendesak Akhtar untuk fokus pada persiapan pernikahan mereka, menurut rencana hasil musyawarah kedua keluarga mereka, pernikahan akan dilaksanakan satu minggu lagi.
Akhtar tidak banyak mengeluarkan suara. Dia pasrah dan menerima begitu saja semua keputusan hasil musyawarah kedua keluarga itu. Semua persiapan pernikahan dia serahkan sepenuhnya kepada sang ayah dan ibu tirinya.
Seperti hari ini ... Raina datang ke kantor Akhtar untuk mengajaknya melakukan fitting baju pernikahan mereka. Sesampainya di ruangan Akhtar, Raina diberitahukan oleh sekretaris Akhtar bahwa dia harus menunggu karena Akhtar sedang memimpin rapat penting. Raina pun dengan ramah mengiyakan informasi yang disampaikan sekretaris itu dan memilih menunggu di ruangan Akhtar.
Semua orang di perusahaan maupun di yayasan sudah mengetahui bahwa satu minggu lagi akan dilaksanakan pernikahan Akbar yang akan menjadi pernikahan termewah tahun ini. Pasalnya kedua mempelai merupakan putra dan putri dari keluarga terkenal dan berpengaruh di kota Bandung. Jika pesta pertunangan mereka dulu saja begitu mewah dan dihadiri banyak tamu apalagi sekarang pesta pernikahan.
"Boss...tunanganmu sudah menunggu sejak satu jam yang lalu" suara Ghifar memecah keheningan sebuah ruangan yang tampak kosong. Seorang pria nan gagah tengah berdiri menghadap kaca besar dan tebal sebagai dinding ruangan yang berada di lantai paling atas gedung itu. Dari sana dia bisa melihat keindahan pemandangan kota Bandung.
Rapat sudah berakhir sejak tiga puluh menit yang lalu, namun tampaknya dia masih ingin berada di ruangan itu tanpa gangguan apapun, dari siapapun.
Akhtar berbalik, menatap tajam sahabat sekaligus asistennya itu. Suara Ghifar membuatnya terganggu. Ghifar yang melihat ekspresi Bossnya begitu menakutkan, segera mengalihkan pandangannya ke arah meja besar yang tadi digunakan rapat.
"Ballpoint aku ketinggalan kayaknya" dia berjalan ke arah meja dan pura-pura mencari sesuatu untuk menghindar dari tatapan Akhtar yang penuh dengan intimidasi.
"Dimana dia?" tanya Akhtar dengan nada datar.
"Hah..?" Ghifar mendadak gugup.
"Di..di ruangan Boss" jawabnya gugup.
"Katakan padanya aku tunggu di parkiran" perintah Akhtar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ghifar. Dia berlalu begitu saja menuju pintu keluar meninggalkan Ghifar yang bengong sendiri.
"Ck...kumat lagi" gumam Ghifar
Ghifar pun segera keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan Akhtar tempat dimana Raina menunggu.
Sekali-kali dia menerima ajakan Suraya yang datang mengajaknya untuk sekedar makan siang. Tetapi sungguh, di wajahnya tak ada lagi semangat dan keceriaan dalam menjalankan aktivitasnya.
Liani sebagai orang yang paling tahu tentang perjuangan Ahsan sangat miris melihatnya. Tetapi dia pun tidak mampu membantu apa-apa, hanya jadi pengawas dari kejauhan.
Berbeda dengan dua orang pria yang saat ini sedang merasakan momen kurang indah dalam hidupnya. Shanum saat ini tengah dirundung bahagia, pasalnya kedatangannya ke Jakarta benar-benar mendapat sambutan yang luar biasa. Sebuah pesta sederhana menurut mereka sudah disiapkan menyambut kedatangan Shanum dan Haqi ke rumah keluarganya.
Pesta dengan tema vintage diadakan di halaman belakang rumah yang tampak megah dengan halaman depan yang cukup luas dan ternyata memiliki halaman belakang lebih luas dengan kolam renang dan taman yang membuat orang yang berada di sana semakin nyaman.
Shanum menarik napasnya dalam-dalam saat memasuki rumah itu, dia segera dibawa oleh sang adik ipar ke sebuah kamar yang sudah terdapat dua orang gadis cantik yang sudah siap dengan peralatan make upnya. Rupanya mereka adalah MUA yang sudah disiapkan khusus untuk merias Shanum.
"Dek..." ucap Shanum memanggil adik iparnya.
"Teteh tenang aja, silahkan duduk yang manis. Masih capek ya, maaf ya.... Mami yang merencanakan semuanya. Para tamu undangan sebentar lagi datang dan teteh harus sudah siap" jelas Hasna adik ipar Shanum.
Perjalanan Bogor- Jakarta memang tidak terlalu memakan banyak waktu kurang lebih satu jam mereka sudah sampai di halaman rumah mewah di kawasan perumahan elit di Jakarta. Saat Shanum turun dari mobil yang membawanya, dia langsung disambut oleh Ibu mertua dan adik iparnya dan langsung diseret ke kamar tempatnya saat ini berada.
Sekitar jam sepuluh Shanum sudah selesai dirias. Dia di bawa ke taman belakang tempat dilaksanakannya pesta penyambutan. Dan alangkah terkejutnya Shanum saat mendapati semua anggota keluarga intinya pun berada di sana tidak lupa Liani sahabat terdekatnya pun turut hadir di sana.
Bapak, Ibu, dua adik dan adik iparnya sudah berdiri dengan senyum mengejek karena berhasil membuat Shanum terkejut, begitupun dengan Liani yang langsung merentangkan tangannya menyambut kedatangan Shanum yang akan menuju pelaminan. Rupanya selepas kepergian Shanum dan Haqi mereka pun segera masuk mobil yang sudah disiapkan Adam dan meluncur menuju Jakarta.
"Congratulation ya Sist....saatnya bahagia sekarang" ucap Liani penuh haru. Dia bahagia akhirnya sahabatnya bersama orang yang tepat.
Menurutnya Shanum layak mendapatkan semua kebahagiaan ini. Pendamping yang memperlakukannya sangat istimewa, keluarga yang begitu sangat menyayanginya. Semuanya pantas Shanum dapatkan setelah semua perjuangan dan kepedihan hidup yang dia lalui selama ini.
__ADS_1
Semua anggota keluarga Haqi dari pihak Ibu, almarhum ayahnya, teman-teman, tetangga dan karyawan perusahaannya semua hadir dan turut berbahagia dengan kebahagiaan putra sulung yang jadi kebanggaan keluarga itu. Pesta yang cukup mewah menurut Shanum.
Acara berjalan lancar dari awal sampai akhir. Kejutan demi kejutan Shanum terima dengan sempurna. Mulai dari pesta penyambutan, kehadiran keluarga tercinta dan sahabatnya serta berbagai hadiah dari semua anggota keluarga yang sudah memenuhi kamar tempat Shanum tadi di rias.
Hari pun mulai redup menandakan malam segera datang. Keluarga Shanum pamit untuk kembali ke Bogor malam ini juga. Liani pun pamit untuk kembali ke Bandung karena tiket kereta yang dia pesan akan berangkat pukul tujuh malam ini. Keluarga yang lainnya pun satu persatu berpamitan untuk kembali ke tempat masing-masing.
Jarum jam menunjukan pukul sembilan malam. Ibu Ratna, mami dari Haqi dan Hasna yang merupakan ibu mertua Shanum pun pamit lebih dulu untuk beristirahat disusul oleh Hasna yang tampak sudah lelah karena acara kejutan siang tadi semuanya dia yang merencanakan.
"Dek" panggilan Haqi menghentikan langkah Hasna yang akan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Ya, Bang?" tanya Hasna, dia pun berbalik kembali menghadap Haqi yang sedang duduk berdampingan dengan Shanum di ruang keluarga.
"Terima kasih ya" ucap Haqi tulus. Dia tahu semua kejutan untuknya dan Shanum adalah ide adik satu-satunya dan langsung dieksekusi olehnya sendiri.
"Sama-sama Abang, aku sayang Abang dan Teteh. Jangan lupa nomor rekening aku udah dikirim ya...hehe.. night Abang, night Teteh" balasnya dengan nada manja dan penuh canda, Hasna pun melambaikan tangannya dan kembali melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Haqi hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban adiknya, begitu pun Shanum yang sedikit tergelak mendengar jawaban adik iparnya. Tinggallah Haqi dan Shanum yang masih anteng di ruangan itu.
"Sudah ngantuk? kita ke kamar yuk" ajak Haqi yang dijawab Shanum dengan anggukan kepala.
Mereka pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Haqi yang saat ini akan menjadi kamar mereka berdua.
Sesampainya di kamar Shanum mencari baju ganti yang akan dia dan Haqi gunakan untuk tidur malam ini. Dia pun melihat Haqi sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Tidak lama Haqi keluar lengkap dengan pakaian tidur yang tadi sudah dipilihkan Shanum, giliran Shanum yang memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Lima belas menit berlalu, Shanum keluar dari kamar mandi dan mendapati Haqi sudah berada di atas tempat tidur. Dia terus memandangi Shanum hingga membuatnya salah tingkah. Perlahan Shanum pun naik ke atas tempat tidur.
"Dek, bolehkah malam ini Abang melihat Adek tanpa jilbab? dan kalau boleh Abang minta Adek enggak perlu pakai jilbab jika sedang di kamar berdua dengan Abang" Haqi mengutarakan keinginannya sejak malam pertama mereka di Bogor, namun baru terucapkan malam ini.
Shanum pun mengangguk, dengan malu-malu dia pun membuka hijab instan yang biasa dia gunakan ketika akan tidur namun Haqi menahan pergerakan tangan Shanum.
"Biarkan Abang yang membukanya, Dek" pintanya, kedua tangannya terulur meraih hijab yang membungkus mahkota indah istrinya dan siap dilepas.
Perlahan jilbab Shanum pun terlepas, menampakkan rambut hitam dan panjang yang terikat rapi. Dengan penuh kelembutan, tangan Haqi pun meraih ikat rambut Shanum dan dengan hati-hati melepaskannya.
Rambut panjang dan hitam kini terurai indah menambah kecantikan wajah Shanum. Shanum menundukkan wajahnya karena malu, pipinya terasa semakin memanas. Pengalaman pertamanya memperlihatkan salah satu auratnya di hadapan laki-laki asing yang kini telah halal atasnya.
Haqi meraih dagu Shanum, tatapan mata yang penuh cinta dan kekaguman kini beralih ke arah bibir mungil Shanum yang tampak merah alami. Perlahan ibu jarinya mengusap bibir itu.
"Boleh?" tanyanya lirih. Shanum hanya menganggukkan kepala tanda mengizinkan apa yang akan Haqi lakukan.
Haqi pun semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Shanum. Dia menempelkan bibirnya ke bibir Shanum, perlahan mengecupnya kemudian menghisapnya penuh kelembutan.
Shanum merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik. Dia diam membeku tak tahu harus melakukan apa, membiarkan benda kenyal itu terus bersentuhan dengan bibirnya.
Haqi menghentikan aksinya, dia menatap Shanum dengan senyum yang berkembang di bibirnya. Dia menyadari kalau ini adalah pengalaman pertama untuk Shanum, dan betapa berbangganya dia menjadi laki-laki pertama yang merasakan manisnya bibir wanita salehah yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Buka sedikit bibirnya Dek dan ikuti apa yang Abang lakukan" Haqi memberi intruksi pada Shanum yang dibalas dengan anggukan oleh Shanum.
Haqi kembali menjalankan aksinya, menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Shanum. Tangan Haqi perlahan meraih tengkuk Shanum dan menahannya. Ciuman mereka pun semakin dalam, Shanum mulai mengikuti apa yang dilakukan Haqi. Mereka menikmati malam kedua mereka dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan.
__ADS_1