
Akhtar berjanji untuk tidak akan menghubungi Shanum selama berada di Bali. Dia menyibukkan diri dengan proyeknya di sana. Seorang pemilik cafe mewah memintanya untuk menangani design interior sekaligus melengkapi furniture di cafe yang baru saja dibangunnya. Akhtar diberi waktu dua minggu untuk menyelesaikan pekerjaannya, sang pemilik cafe menginginkan grand opening cafenya bertepatan dengan ulang tahun istrinya, tepatnya dua minggu yang akan datang.
Akhtar terpaksa menerima permintaan pelanggannya untuk langsung ke Bali. Kepuasan pelanggan menjadi prioritasnya. Apalagi pelanggannya itu pun tidak lain adalah rekan bisnisnya selama ini. Akhtar sangat menghormati keinginan pelanggannya itu.
Akhtar bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan profesional agar selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Kesibukannya sedikit mengalihkan pikirannya dari Shanum. Walau bagaimanapun satu hari yang dia lalui tanpa menghubungi Shanum terasa sangat lambat bagi Akhtar saat ini.
Sementara di Garut, aktivitas Shanum sudah kembali normal. Hari ini dia terlihat lebih santai karena sudah melimpahkan tugas utamanya pada Indri. Sore ini Shanum berjanji akan menjemput Fauzan adiknya ke stasiun, Fauzan sengaja menggunakan kereta menuju ke Garut. Motornya dia tinggalkan di Bogor atas permintaan sang Kakak.
Sejak warung nasi ibu rame, Fauzan diminta berhenti bekerja di apotek dan juga cafe milik temannya. Shanum memintanya untuk melanjutkan pendidikan, setelah satu tahun terjeda karena keinginannya adalah untuk bisa menghasilkan uang sendiri. Membuat Fauzan mantap memilih untuk bekerja.
Melihat semangat yang dimiliki adik bungsunya, Shanum pun meminta agar Fauzan kembali melanjutkan pendidikan sesuai keinginannya yaitu di bidang kesehatan. Lulus dari SMK Farmasi di Bogor, Fauzan bercita-cita untuk menjadi apoteker dan membuka apotek sendiri. Sungguh mulia cita-cita adiknya itu, yang terjeda karena keadaan, sebagai kakak Shanum punya keinginan untuk membantu sang adik meraih cita-citanya. Dia pun meminta Fauzan untuk resign dari tempatnya bekerja sekarang dan datang ke Garut.
"Teh, jam berapa A Fauzan datangnya?" Indri bertanya sambil mengecek beberapa pesan masuk dari pelanggan yang memesan catering untuk esok hari. Pukul tiga belas adalah waktunya close order.
"Katanya sih habis ashar perkiraan dia sampe ke stasiun Garut. Insya Alloh jam duaan teteh berangkat ya, In" sahut Shanum, dia merapikan beberapa kertas yang berserakan di mejanya.
"Oke, teh...hati-hati ya, tenang aja kalau warung mah aman terkendali" ucap Indri menggebu, sepupunya yang satu itu memang selalu bisa diandalkan. Meskipun usianya terbilang masih muda tapi pemikiran dan tindakannya selalu penuh perhitungan. Dia bahkan menjadi andalan di keluarganya, anak ketiga dari lima bersaudara itu terkadang menjadi penentu keputusan dalam keluarga.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga belas, warung sedang rame-ramenya pengunjung. Saat jam makan siang memang waktu yang sibuk untuk semua orang di warung nasi ibu. Tidak jarang Shanum pun turut turun langsung melayani pembeli yang datang.
Setelah memastikan semua pengunjung sudah menerima makanan sesuai dengan pesanannya, Shanum mencari ibu untuk pamit. Dia tidak mau sang adik menunggu lama, apalagi mengingat jika Fauzan berangkat sebelum dzuhur dari Bogor, pasti dia belum makan siang hari ini. Dia harus tepat waktu menjemput Fauzan, pikirnya.
"Bi Isah, ibu kemana?" tanya Shanum saat melihat di dapur hanya ada Bi Isah.
"Ibu sedang di toilet neng" jawab bi Isah menghentikan sebentar aktivitasnya yang sedang mengupas kentang. Akhir-akhir ini pesanan sambel goreng kentang mustopa sedang banyak-banyaknya. Shanum sampai menyetok beberapa kuintal kentang di rumah.
Shanum pun memutuskan menunggu sang ibu di meja makan, dia meraih toples kacang bawang yang ada di atas meja makan itu. Tiba-tiba di ingatannya terlintas bayangan Akhtar, dia lupa untuk menanyakan hampers berisi beberapa toples cemilan yang dia berikan untuk pria itu saat grand opening mebelnya, apakah dia makan atau tidak.
Berbicara tentang Akhtar, tidak terasa satu minggu sudah pria itu tidak menghubunginya. Dia menepati janjinya untuk memberi waktu pada Shanum untuk berpikir. Ada kerinduan yang menyelusup di dada Shanum, kebersamaan terakhir mereka membuat Shanum merasa semakin dekat dengan Akhtar. Akhtar memberinya waktu selama dua minggu untuk memberikan jawaban atas lamaran pribadinya. Artinya tinggal satu minggu waktu yang tersisa untuk Shanum berpikir.
Liani hampir setiap hari mengingatkannya untuk jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan, membuka hati dan melanjutkan hidup dengan cinta yang lain. Tentang Haqi, biarlah dia menempati tempatnya sendiri di hati Shanum. Hampir setiap hari mereka berkomunikasi via telepon. Liani yang selalu menceritakan apa yang dialaminya di yayasan termasuk Ahsan yang semakin perhatian dan posesif namun belum juga memberinya kepastian tentang hubungan mereka. Begitu pun sebaliknya, Shanum terbuka tentang hubungannya dengan Akhtar.
"Teh, mau kemana?" Pak Imran datang, dia mampir pulang dari pabrik karena belum makan siang. Kesibukan di pabrik membuatnya menunda makan siang.
"Bapak belum makan?" Shanum mengabaikan pertanyaan Pak Imran, dia beralih menatap bapaknya yang duduk setelah mengambil piring dari rak piring.
"Belum teh, ini mau. Teteh sudah makan? ayo bareng" jawab Pak Imran santai.
"Idih Bapak kenapa baru makan siang jam segini?" tanya Shanum panik, dia adalah orang yang paling cerewet perihal sarapan dan makan siang pada semua orang di rumahnya, pasalnya hal itu sangat penting menurut Shanum. Dia selalu memastikan semua orang sudah sarapan sebelum memulai aktivitasnya dan beristirahat, shalat serta makan siang tepat waktu sebagai amunisi siang sebelum kembali beraktivitas.
"Bapak tadi nanggung ngobrol dengan Pak Kades, katanya beliau teman kamu ya?" Shanum mengangguk mengiyakan.
"Beliau mau kerja sama untuk pemenuhan kebutuhan bantuan beras untuk warga yang berhak mendapatkannya" jelas Pak Imran.
"Terus Bapak terima?" perbincangan mereka terhenti saat bu Hana datang membawa air teh hangat untuk suaminya.
"Masih Bapak pikirkan, belum didiskusikan juga dengan Mang Ujang dan Mang Dadi" jawab Pak Imran, beliau menghentikan sejenak suapannya dan meraih teh tawar hangat yang disodorkan istrinya.
"Teteh mau kemana?" pertanyaan Bu Hana mengembalikan ingatan Pak Imran yang menanyakan hal yang sama namun belum mendapat jawaban dari putrinya itu.
"Mau jemput Fauzan tea Bu, dia akan tiba ba'da ashar di stasiun Garut katanya" jawab Shanum.
"Hati-hati bawa mobilnya teh" seru pak Imran setelah mengetahui tujuan Shanum dan dijawab anggukkan kepala oleh Shanum, dia memasukkan kembali beberapa kacang bawang ke dalam mulutnya setelah menjawab pertanyaan ibunya.
"Teh, Nak Akhtar apa kabar? kok gak pernah ke sini" Bu Hana memancing putrinya untuk berbicara, sebenarnya dia sudah tahu jika Akhtar sedang ke Bali. Dia sekalian pamit saat datang ke rumah, Bu Fatimah juga bercerita tentang tujuan kepergian putranya ke Bali. Mereka berdua semakin intens berkomunikasi, mereka berdua senang jika misi mereka sudah hampir menuju finish tanpa harus banyak amunisi karena Akhtar yang langsung mengeksekusinya sendiri.
Shanum menarik nafasnya berat, seakan akan ada beban yang menghimpit di dadanya. Dia memang belum menceritakan tentang lamaran yang Akhtar lakukan secara pribadi pada kedua orang tuanya.
"A Akhtar memberi waktu pada teteh selama dua minggu untuk memberi jawaban, Bu. Waktu dia terakhir ke sini, dia...dia.. melamar teteh secara pribadi Bu" ucap Shanum ragu-ragu, dia menunduk tampak malu untuk bercerita merasa jika itu terlalu cepat.
Pak Imran dan Bu Hana saling memandang. Mendengar penuturan putrinya sulungnya senyuman pun terbit di bibir keduanya.
"Terus teteh mau jawab apa?" tanya Bu Hana berusaha mengorek isi hati putrinya.
"Enggak tahu Ibu, teteh bingung" jawab Shanum dengan wajah memberenggut.
"Seminggu yang lalu Nak Akhtar meminta izin sama Bapak dan Ibu untuk mendekati teteh, dia bilang dia tidak mau kehilangan kesempatan lagi, kali ini dia gak mau kalah start" Pak Imran akhirnya bersuara, dia pun terkekeh diakhir ucapannya.
Shanum kembali menarik napas dalam, dia menutup toples yang sejak tadi ada di pangkuannya dan menyimpannya kembali di atas meja makan.
"Apa tidak terlalu cepat, Pak? lusa adalah kepergian Abang tepat satu tahun. Teteh gak enak sama Mami dan juga Hasna, saat ini mereka mungkin masih berduka" Shanum akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya selama ini, dia tidak ingin apa yang dilakukannya menyinggung perasaan dua orang yang sangat menyayanginya itu.
"Ibu yakin kalau mereka pun menyayangi teteh dan ingin teteh bahagia" Bu Hana berdiri dari tempat duduknya dan mendekati putrinya. Dia mengelus bahu Shanum yang masih duduk dengan menundukkan kepalanya.
Bu Hana memang sempat menghubungi mertua putrinya itu, dia pun menyampaikan jika saat ini ada laki-laki yang bermaksud meminang Shanum. Bu Ratna sangat antusias meresponnya, dia pun pernah beberapa kali mengingatkan Shanum agar membuka hati untuk pria lain, Shanum masih muda harus melanjutkan hidup dengan orang baru. Tapi Shanum selalu meresponnya dingin.
"Tidak ada istilah terlalu cepat atau lambat teh, semua sudah Allah atur dan terjadi pada waktu yang tepat. Jangan menolak perasaaan dan kenyataan, jalanilah apa adanya. Ikuti alurnya dan nikmati setiap prosesnya. Jangan lupa sertakan selalu Allah dalam setiap langkah kita. Selama Allah yang menjadi tujuan, tidak akan ada perjuangan yang sia-sia. Selama Allah yang menjadi pengharapan tidak akan ada do'a yang percuma. Semuanya akan bahagia pada waktunya" Pak Imran menasehati putri sulungnya dengan penuh kelembutan, terasa meneduhkan untuk Shanum. Do'a kedua orang tua selalu menyertainya dan memberi kekuatan hati untuk semakin mantap melangkah.
Dua minggu berlalu....
Akhtar benar-benar menepati janjinya untuk tidak menghubungi Shanum selama berada di Bali. Dua minggu itu dia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya, selain agar cepat selesai dia pun berusaha mengalihkan pikiran dan hatinya dari memikirkan Shanum yang selalu membayanginya. Hanya berbekal foto yang dia ambil secara diam-diam sedikit mengobati kerinduannya pada wanita pujaan hatinya itu.
Jumat sore Akhtar sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Satu hari lebih cepat dari yang dijadwalkan, cafe pun siap dibuka hari minggu. Bram sebagai pemilik cafe merasa puas dengan hasil kerja Akhtar. Diapun meminta agar Akhtar hadir pada acara grand opening cafenya itu, Bram bermaksud mengenalkannya pada istri dan rekan-rekan bisnisnya. Namun Akhtar menolak dengan halus, dia beralasan jika sudah mempunyai janji pada hari itu.
Bram pun memakluminya dan mengantar langsung kepulangan Akhtar ke bandara pada jumat malam. Melihat jika masih ada jadwal penerbangan ba'da maghrib Bali-Jakarta, dia pun memutuskan untuk pulang malam itu juga. Akhtar bermaksud akan menginap di rumah pamannya di Jakarta yang tak lain adalah orang tua Ahsan, dan melanjutkan perjalanan ke Garut ba'da subuh.
Penerbangan Bali-Jakarta kurang dari lebih selama dua jam Akhtar lalui dengan tidur. Selama dua minggu berada di Bali dia sangat kurang beristirahat karena mengejar deadline pekerjaannya.
Pukul sembilan tepat Akhtar turun dari pesawat, dia menunggu jemputan di kursi tunggu bandara, pamannya mengirim pesan jika sopirnya akan menjemput Akhtar di bandara.
Akhtar menghidupkan gawainya dan tampak banyak pesan masuk, hati kecilnya berharap semoga ada pesan masuk dari Shanum, dua minggu menahan diri untuk tidak menghubungi wanita itu sungguh membuatnya tersiksa. Hampir saja dia melanggar janjinya untuk tidak menghubungi Shanum. Namun nihil, Shanum sama sekali tidak pernah menghubunginya.
Akhtar yang sedang asik dengan gawainya sambil menunggu jemputan tidak menyadari jika seseorang tengah memperhatikannya sejak tadi. Dan orang itu pun mendekat ke arah Akhtar.
"Pak Akhtar?" sapanya lembut membuat Akhtar yang anteng menatap gawainya pun mendongak. Dia memperhatikan wanita cantik berhijab merah muda yang ada di hadapannya.
"Ya, saya?" tanya Akhtar bingung, dia merasa tidak mengenali wanita itu.
"Benar pak Akhtar kan?" ulang wanita itu.
"Iya, saya Akhtar. Maaf anda siapa?" tanya Akhtar balik, dia benar-benar tidak mengingat siapa wanita itu.
"Saya Hasna Pak, setahun yang lalu perusahaan kita bekerja sama, saya dari PT. Dua Bersaudara. Perusahaan saya yang menyediakan pengadaan barang di hotel baru milik perusahaan Bapa" Hasna pun menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Akhtar menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanda menerima uluran tangan Hasna.
__ADS_1
"Ouh, maaf" Hasna pun menarik kembali uluran tangannya.
"Maaf, saya sudah tidak di perusahaan itu" jelas Akhtar,
"Iya Pak, saya tahu. Sekarang asisten Bapak yang melanjutkan kerja sama dengan perusahaan saya. Terakhir saya mendapat informasi jika Bapak mengalami kecelakaan dan harus menjalani pengobatan ke luar negeri. Sekarang Bapak tampaknya sudah sehat dan kembali beraktivitas, syukurlah saya turut senang" Hasna berbicara panjang lebar, senyum ramah mengembang di bibir pengusaha cantik itu.
"Terima kasih" jawab Akhtar datar, dia sama sekali tidak membalas senyuman yang ditampilkan Hasna padanya.
"Maaf, jemputan saya sudah datang. Saya duluan, Assalamu'alaikum" Akhtar memilih menunggu di luar area ruang tunggu, dia menghindar dengan mengatakan jika jemputannya sudah datang. Dia pun berlalu dari hadapan Hasna tanpa menunggu jawaban gadis itu.
"Wa'alaikumsalam" jawab Hasna pelan seiring dengan Akhtar yang hanya terlihat punggungnya semakin menjauh.
**
Shanum mendapat pesan dari Indri jika hari Minggu ini warung nasinya di booking oleh seseorang karena akan ada acara keluarga yang diadakan di warungnya. Dengan senang hati Shanum pun menyetujuinya. Dia pun membantu mempersiapkan semuanya setelah mengecek langsung permintaan pelanggannya.
Warung akan digunakan, tepat saat makan siang. Shanum tetap membuka warungnya dari pagi tapi dia hanya melayani take away saja, warungnya sedang disiapkan oleh Yogi yang setiap Sabtu Minggu membantu Shanum di warungnya karena kuliahnya libur. Dibantu yang lainnya Yogi pun mulai menghias warung dengan dekorasi sesuai permintaan pelanggannya.
Tepat pukul dua belas siang semuanya sudah siap, warung sudah disulap menjadi ruang pesta sederhana namun sangat indah dan nyaman. Hidangan makanan pun sudah tersedia lengkap dengan nasi tumpeng yang menjulang di atas nampan sesuai pesanan pelanggan.
Shanum menyiapkan salad buah, salad sayur dan risol dengan aneka isian sebagai menu appetizer . Nasi tumpeng dan nasi liwet lengkap dengan lauk pauk khas dua menu utama itu sebagai pilihan menu main course pada acara keluarga pelanggannya. Sementara untuk dessert dia menyiapkan puding, es krim dan pai buah sebagai pilihan menu yang pas dinikmati seusai santap siang dalam suasana cukup cerah hari ini.
"Perpect!" ucapnya setelah menata pai buah di meja khusus dessert yang diletakkan di paling ujung, berjarak sekitar dua meter dari meja menu main course.
Shanum sudah membagi tugas untuk melayani tamunya hari ini, dia pun meminta Indri untuk menyambut tamunya seperti biasa. Beberapa kali pernah di booking warungnya untuk sebuah acara, Shanum hanya muncul menemui pelanggannya saat acara berakhir atau ketika ada pelanggan yang meminta bertemu dengannya. Setelah memastikan semua persiapannya sempurna, Shanum memilih bermain bersama Humairah di kamarnya.
Begitu pun hari ini, dia membawa Humairah yang sejak pagi bersama sepupunya di rumah bibinya, dia membawanya ke kamar karena Humairah terlihat sudah mengantuk. Saat ini memang biasanya jadwal Humairah tidur siang, seperti biasa saat bermain dengan Humairah Shanum selalu menghubungi Rida sang adik yang saat ini berada di Bogor. Kehamilan Rida sudah menginjak empat bulan. Dia pun mengatakan akan datang ke Garut karena sudah tidak mual-mual lagi.
"Assalamu'alaikum, anak mamah" sapa Rida saat menerima panggilan video dari kakaknya.
"Wa'alaikumcalam" jawab Shanum menirukan suara Humairah yang malah anteng dengan mainan baru yang dibelikan Shanum saat pergi ke Jakarta. Dua hari yang lalu Shanum baru kembali dari Jakarta, dia menginap semalam di rumah mertuanya. Pagi harinya dia ditemani Ibu mertua dan adik iparnya mengunjungi makam almarhum suaminya.
Keharuan meliputi hati Shanum saat mengunjungi makam Haqi, tidak terasa kepergian suaminya sudah setahun berlalu. Banyak do'a yang diucapkan Shanum dalam hatinya, meminta kebahagiaan abadi untuk sang suami dengan ditempatkan di Jannatunna'im, surga yang penuh kenikmatan.
Shanum pergi ke Jakarta ditemani Fauzan yang sudah setuju akan tinggal di Garut. Dia akan membantu sang kakak mengembangkan usaha kulinernya sambil kuliah di Garut. Beberapa universitas swasta di Garut memberikan pilihan untuknya melanjutkan pendidikan, dan pilihannya jatuh pada fakultas farmasi di Universitas Garut.
Selama perjalanan pulang dari Jakarta mereka berdua saling bercerita dengan urusan pribadinya masing-masing. Fauzan yang sudah mulai melirik seorang gadis dia ceritakan pada kakak sulungnya itu, termasuk tentang Akhtar yang masih berhubungan baik dengannya. Mereka memulai kembali komunikasi saat Akhtar memutuskan tinggal di Garut, saat ada pertemuan di Bogor dengan kliennya Akhtar mampir ke rumah lama Shanum dan bertemu Fauzan.
Sejak saat itulah komunikasi mereka kembali terjalin dan semakin intens saat Akhtar mengatakan jika dirinya sudah melamar Shanum. Akhtar pun sempat marah pada Fauzan yang tidak memberi tahu tentang keadaan Shanum yang sebenarnya, namun Fauzan beralasan jika semua itu bukan haknya. Dia hanya ingin menghargai apa yang sudah menjadi keputusan kakaknya, dan Akhtar pun mengerti. Shanum tidak menyangka jika sang adik ternyata begitu dekat dengan Akhtar selama ini. Bahkan selama dua minggu dia tidak menghubunginya, tapi dengan Fauzan dia aktif berkomunikasi. Menyebalkan, batin Shanum.
"Lho ko bunda belum ganti baju sih?" Rida kembali bersuara di layar gawai Shanum. Panggilannya berubah semenjak Humairah tinggal bersama Shanum. Dia heran melihat kakaknya yang masih memakai baju rumahan malah asik bermain dengan putrinya.
"Emangnya kenapa?" tanya Shanum yang tetap fokus membantu Humairah menata mainan barunya di atas meja plastik kecil khusus milik Humairah.
"Kata ibu sekarang tamunya adalah teman ibu, masa teteh enggak menyambutnya?" jelas Rida yang tampak merapikan jilbabnya dengan bercermin pada layar gawai miliknya.
"Enggak ah, sekarang waktunya kita tidur ya moy, mairah moy moy kesayangan Bunda..." gemas Shanum menyiumi keponakannya yang sedang anteng bermain membuat Humairah berteriak, " nda.....eli, nda....eli" ucapnya dengan suara yang masih cadel saat berkata membuat Shanum semakin gemas dan melanjutkan aksinya menggelitiki Humairah. Mereka berdua asik tertawa, sementara Rida hanya tersenyum bahagia menatap putri sulungnya tampak bahagia dengan bundanya, kakak sulung yang selalu menjadi andalan dan kebanggaannya.
"Teteh, semoga kebahagiaan segera menghampiri teteh secepatnya, aku sayang teteh" Rida membatin dalam diamnya ketika memperhatikan keakraban mereka berdua.
Tok...tok...tok....
Ketukan di pintu kamar Shanum menghentikan aksinya menggoda Humairah, gawainya masih terhubung dengan sang adik yang berteriak-teriak memanggil putrinya yang malah anteng kembali bermain dengan mainan barunya.
"Bu?" Shanum kaget mendapati sang ibu yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan menenteng gaun yang masih terbungkus rapi di tangannya, ibunya sendiri sudah terlihat rapi memakai gaun resmi dengan warna yang senada dengan jilbabnya.
"Ibu mau kemana?" tanya Shanum heran, dia membantu membawakan gaun yang kesulitan dibawa sang ibu.
"Teteh siap-siap sekarang, ganti baju teteh dengan ini" Bu Hana menunjuk gaun yang sudah diserahkannya pada Shanum. "Cepetan ya, tamunya sudah pada datang" lanjut Bu Fatimah.
"Tamu siapa Bu? emangnya siapa yang akan datang?" tanya Shanum bingung, dia sama sekali tidak tahu jika akan ada tamu yang datang ke rumahnya.
"Yang menyewa warung kita, dia adalah teman baik ibu. Dia meminta sekalian bertemu dengan semua anggota keluarga kita, jadi teteh cepatlah ganti baju. Ini baju khusus keluarga kita acaranya sudah dimulai" sayup-sayup memang terdengar jika di bawah seseorang yang diperkirakan sebagai pemandu acara sudah mulai berbicara membuka acara, Shanum tidak tahu apa-apa dia pun hanya menurut saja.
Bu Hana pun membawa Humairah pergi dari kamar Shanum, dia menyuruh Shanum agar secepatnya bersiap dan turun ke bawah untuk menemui para tamu.
Dengan sedikit enggan Shanum membersihkan diri dan mengganti bajunya, sebuah gaun yang sangat indah berwarna biru langit melekat pas di tubuh Shanum, jilbab dengan warna senada pun sudah disiapkan lengkap dengan gaun itu. Dia pun memoles tipis wajahnya dengan bedak dan mengoleskan lipstik berwarna bibir yang memang sebelumnya sudah berwarna pink alami.
Shanum keluar dari kamarnya menuruni tangga, membawa gawai di tangan kanannya dia menapaki setiap anak tangga perlahan tidak menyadari jika dari bawah sang adik Fauzan sedang merekamnya.
"Dek, rame banget. Banyakan ya tamunya?" tanya Shanum saat dia sudah sampai di lantai bawah dia sedikit menyondongkan kepala melihat dari jendela rumahnya beberapa mobil yang terparkir memenuhi halaman warung dan rumahnya.
"Lumayan Teh parkiran penuh sebagian diarahkan ke pabrik" jawab Fauzan yang mulai mengetik sesuatu di gawainya.
"Terus kita kemana? malu ah nanti aja nemuin tamunya kalau acaranya sudah selesai" elak Shanum, dia berjalan menuju sofa di ruang tengah namun dicegah oleh Fauzan.
"Eh teteh mau kemana? ayo ikut aku, semua sudah menunggu" ajak Fauzan, dia menggenggam erat tangan Shanum seakan takut Shanum kabur.
"Malu Dek, nanti aja" Shanum masih enggan berjalan mengikuti Fauzan yang berjalan setengah menyeretnya.
Sesampainya di pintu yang menjadi akses antara rumah dan warung, Shanum terperanjat, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh area warung yang sudah disulap menjadi tempat pesta itu. Dia melihat banyak orang yang dikenalnya, bahkan seluruh anggota keluarganya pun berada di sana. Rida, sang adik yang baru beberapa menit yang lalu bervideo call dengannya turut hadir di sana.
Bu Fatimah, Liani, Ahsan, Ghifar dan beberapa teman Ahsan dan Akhtar yang dia kenal juga berada di sana. Keluarga besar Akhtar dari pihak ibu yang dia temui saat acara grand opening mebel FDF pun lengkap berada di sana. Perhatiannya kemudian teralihkan pada seseorang berbalut jas formal yang membuatnya semakin terlihat tampan dan gagah tengah berdiri di pusat suara dengan mic digenggamannya.
Semua tersenyum menyambut kehadiran Shanum, suasana menjadi hening. Iringan musik tiba-tiba memecah keheningan, sebuah suara merdu yang tak asing di telinga Shanum menghangatkan suasana yang justru membuat Shanum merasakan panas yang luar biasa, pipinya sudah memerah menahan kaget, bingung dan malu bercampur padu.
Mungkin sudah saatnya
'Kan kuakhiri masa kesendirian
Mempersiapkan hati 'tuk melamarmu
Terimalah diriku
Akhtar menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan, tatapannya tak lepas dari gadis berkerudung biru langit yang berdiri bersebrangan dengannya juga tengah menatapnya dengan wajah bingung.
Mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku
'Kan kupersunting dirimu
Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
__ADS_1
Semua orang terhanyut dengan suara merdu Akhtar, tidak menyangka dibalik penampilannya yang tampak selalu serius dan dingin tersembunyi jiwa romantis yang hanya dia tunjukkan untuk seseorang yang spesial di hatinya.
Mungkin sudah saatnya
'Kan kuakhiri masa kesendirian
Mempersiapkan hati 'tuk melamarmu
Terimalah cintaku, hu-uh-oh-oh
Mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku
'Kan kupersunting dirimu
Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
Uh-oh-oh-oh, wo-wo-wo
Wo-uh-hu-uh
Mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku
'Kan kupersunting dirimu
Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku
Akhtar berjalan ke arah Shanum, dengan mic masih di genggamannya dia melangkah mantap mendekati Shanum yang masih berdiri dengan wajah yang merona saat melihat Akhtar semakin mendekat ke arahnya.
Oh, mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku
'Kan kupersunting dirimu
Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
Sumber: Musixmatch
Penulis lagu: Tri Suaka
Seiring berakhirnya musik, Akhtar berhenti tepat di hadapan Shanum. Mic yang digenggamnya dialihkan ke tangan kiri, tangan kanannya merogoh saku jasnya, dikeluarkannya sebuah kotak beludru berwarna hitam dari sakunya, dia buka dan ditunjukkan ke arah Shanum, sebuah cincin bertahtakan berlian kini menjadi fokus tatapan Shanum.
"Bertemu denganmu bukan sebuah keberuntungan, namun sebuah keberkahan yang diberikan Allah untuk melengkapiku. Izinkan aku untuk membahagiakanmu juga hingga akhir waktu kita. Aku bersyukur kepada Allah karena sudah diberikan satu hati untuk mencintaimu, satu otak untuk selalu memikirkanmu dan satu mulut yang tak pernah berhenti untuk selalu mendoakanmu. Yang kulakukan semua ini hanya tentangmu. Kamu yang menjadi sumber semangatku. Dan untuk mu-lah aku bermimpi sukses di sepanjang hari. Jangan buat aku merana, dengan menolak pinangan ini. Jadilah pembawa cahaya kebaikan di rumah kita nanti. Maukah jadi istriku?" Akhtar berbicara panjang lebar, semua kalimat yang keluar dari lisannya begitu runut penuh makna, semua yang menyaksikan pun turut larut dalam kata-kata romantis itu.
Shanum masih tak bergeming, dia menatap orang-orang di sekitarnya. Pak Imran dan Bu Hana tampak berkaca-kaca menyaksikan semuanya, mereka menganggukkan kepala saat Shanum menatap seolah meminta persetujuan. Pandangan Shanum pun beralih pada dua perempuan yang berkostum dengan warna senada dengannya, Bu Ratna Ibunda Haqi dan Hasna adik iparnya turut hadir di sana, mereka pun terharu dan menganggukan kepalanya saat Shanum menatap mereka berdua dengan mata yang sudah berembun. Diliriknya pula Bu Fatimah yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Terimalah cincin ini dan pakailah jika kamu bersedia menjadi istriku, ibu dari anak-anakku. Namun jika kamu masih perlu waktu untuk berpikir, izinkan aku kembali membawa cincin ini, dan aku akan menunggu sampai kamu siap menyematkan cincin ini di jari manismu" Akhtar kembali berkata dengan lirih kali ini, ada harapan dan kekhawatiran di wajahnya ketika mengucapkan kata-kata itu. Penuh diplomasi, tidak ada paksaan, dia memberi pilihan Shanum untuk memutuskan.
Shanum menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan melalui hidung, dia mengatupkan bibirnya menahan rasa yang tak biasa yang kini meliputinya. Semua orang ikut tegang, tak ada yang bersuara menyaksikan adegan menegangkan di hadapan mereka.
Perlahan tangan Shanum terulur mengambil kotak beludru hitam di tangan Akhtar. Senyum mulai mengembang di bibir Akhtar termasuk semua orang yang menyaksikannya. Namun seketika senyuman itu memudar saat Shanum menutup kotak beludru hitam itu dan menyerahkannya kembali pada Akhtar.
Akhtar terhenyak, dengan wajah kecewa dia menerima kembali kotak itu. Semua orang oun tampak kecewa menyayangkan tindakan Shanum, namun tak ada yang berani bersuara. Semua menghargai keputusan Shanum.
Akhtar menundukkan kepalanya, menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya. Dia genggam erat kotak beludru yang baru dia terima kembali dari Shanum.
Shanum berjalan ke arah Bu Fatimah yang sudah tak kuasa menahan air mata yang akhirnya lolos begitu saja dari kubangannya saat melihat sang putra tertunduk lesu. Shanum melewati Akhtar begitu saja tidak peduli dengan ekspresi kekecewaan pria itu.
Suasana hening, semua larut dalam pikirannya masing-masing. Shanum semakin mendekat, dia berdiri tepat di hadapan Bu Fatimah. Perlahan tangannya terulur, dia mengusap air mata yang membasahi pipi wanita yang tak lagi muda namun masih terlihat segar dan cantik itu. Semua orang pun semakin larut dalam keharuan melihat apa yang Shanum lakukan.
"Ibu, tolong pasangkan cincin ini di jari manisku" Shanum membuka genggaman tangan kanannya terdapat cincin berlian yang tadi diberikan Akhtar di atas telapak tangannya. Dia pun mengulurkan tangan kirinya, memberi kode agar Bu Fatimah memakaikan cincin itu di jari manis tangan kirinya.
Semua orang dibuat terkesima menyaksikan aksi Shanum, tidak menyangka Shanum akan membuat kejutan menerima pinangan Akhtar dengan cara yang unik. Dia berhasil memutar balik keadaan menjadi satu sama, dirinya yang kaget dengan kejutan lamaran tanpa sepengetahuannya kini berhasil membuat semua kaget dengan caranya menerima lamaran Akhtar.
Akhtar mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Shanum, dia membalikkan badannya menatap Shanum yang tengah mengulurkan tangan kirinya untuk dipasangi cincin pemberiannya oleh sang Ibu. Bu Fatimah pun tersenyum haru, air mata masih tak berhenti membasahi pipinya namun kesedihannya telah berubah menjadi keharuan dan senyuman bahagia.
Dia mengambil cincin di telapak tangan kanan Shanum dan memakaikannya. Sementara Akhtar kembali membuka kotak beludru hitam yang ada di genggamannya, dan ternyata kosong.
"Arggh...., Shanum Najua Azzahra" pekik Ahsan geram dengan aksi Shanum. Beberapa orang tergelak melihat kelakuan Akhtar.
Shanum berbalik menghadap Akhtar, dia tersenyum lebar sambil memperlihatkan cincin yang sudah terpasang pas di jari manis tangan kirinya. Tangannya terulur meminta mic pada sang pemandu acara,
"Eheumm.." Shanum berdehem menarik perhatian sebelum melanjutkan bicaranya.
"Akhtar Farzan Wijaya..." Shanum menyebut Akhtar dengan nama lengkapnya. Semua orang masih terdiam terhipnotis dengan adegan-adegan di hadapan mereka.
"Sebelum mencintaiku, aku tanyakan sekali lagi. Siapkah kamu menghadapiku?" Shanum bertanya dengan tegas namun dengan tatapan lembut ke arah Akhtar. Tanpa banyak berpikir lagi Akhtar menganggukkan kepala mantap sebagai jawaban, senyum mulai kembali terukir di bibirnya.
"Kamu masih menjadi alasan terbesarku, untuk tidak menerima orang baru dalam hidupku. Dengan ridha Allah dan restu orang-orang yang menyayangiku..." Shanum melihat ke arah kedua orang tuanya dan ibu mertuanya yang tengah tersenyum menatapnya.
"Akhtar Farzan Wijaya, aku bersedia menjalani sisa hidupku denganmu" pungkas Shanum,
tik...tik...tik....suasana hening, namun sedetik kemudian ucapan syukur menggema memenuhi ruangan.
"Alhamdulillah" teriak semua orang yang mulai mengurai ketegangan dan keharuan di hati masing-masinh karena adegan yang mereka saksikan.
"Aarrrgghhhh....Shanuuuum, gila lo ya, hampir aja bikin semua jantungan" teriakan Liani mengundang tawa semua orang. Tanpa sadar sikap aslinya keluar, diapun berhambur memeluk sahabatnya dengan tawa semua orang yang masih menggema mengisi setiap sudut ruangan itu di hari yang penuh bahagia ini.
*
*
*
*
*
Episode terpanjang sepanjang perjalanan cinta Akhtar dan Shanum. 🤩🤩🤩
Panik gak dengan cara Shanum nerima pinangan Akhtar? panik dong, masa enggak😂😂😂maksa!
__ADS_1
next...siap-siap menuju ending!🥰