
Tidak ada obat yang paling ampuh untuk dua orang yang saling mencintai selain pernikahan.
"Kamu sungguh mau menikah denganku?" Akhtar berdiri di antara Shanum dan Liani. Dia masih memastikan jawaban Shanum. shock teraphy yang diberikan Shanum masih membekas, pikirannya belum membulat, semua masih serasa mimpi untuknya.
Shanum mengurai pelukannya dengan Liani, dia beralih menatap Akhtar, tersenyum dengan senyuman manis yang selalu meneduhkan untuk Akhtar.
"Bagiku, tidak ada pembuktian cinta yang paling masuk akal selain pernikahan, selebihnya hanya omong kosong dan hawa nafsu" ucap Shanum mantap.
Sorot mata penuh harap itu pun mengendur, matanya berkaca, akhirnya satu tetesan bening berhasil jatuh dari sudut matanya, dia pun memalingkan wajahnya. Menghindar dari tatapan Shanum yang masih tertuju padanya dengan senyum merekah di bibirnya.
"Terima kasih" ucapnya lirih. Dia pun mendongakkan kepalanya, menahan sesuatu yang kembali hampir jatuh dari sudut matanya
Acara lamaran yang mengandung shock teraphy pun berakhir tepat saat kumandang adzan ashar bergema. Keluarga besar Akhtar sudah pulang lebih dulu, disusul bu Fatimah yang berpamitan setelah mengobrol cukup lama dengan Bu Hana.
Tinggallah enam orang yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Duduk melingkar di sebuah meja bundar. Selepas shalat ashar memutuskan untuk kembali berbincang. Asik dengan berbagai topik sambil menikmati beberapa makanan ringan yang tersaji di atas meja.
Akhtar dan Shanum duduk berdampingan, sementara di samping Shanum ada Hasna adik iparnya, tepatnya mantan adik iparnya. Di hadapan Shanum ada Liani yang juga bersebelahan dengan Ahsan, sementara Ghifar duduk di antara Akhtar dan Ahsan dan langsung berhadapan dengan Hasna.
Hasna dan Bu Ratna memutuskan untuk menginap, mereka datang semalam ke Garut dan beristirahat di hotel yang sudah disiapkan oleh Fauzan.
"Jadi kapan rencananya dihalalin nih?" Ahsan membuka perbincangan, menyeruput kopi yang baru terhidang dengan asap yang masih mengepul.
"Secepatnya" jawab Akhtar cepat. Sejak awal dia memang menginginkan untuk langsung menikah, namun Bu Fatimah dan keluarga besar dari pihak ibu menyarankan untuk melakukan lamaran terlebih dahulu sebagai ajang perkenalan kedua keluarga.
"Kalau untuk itu kita serahkan ke para orang tua aja" Shanum melirik sekilas Akhtar yang duduk di sampingnya yang menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau menurut aku sih secepatnya ya Teh, biar aku cepet ketularan, hehe..." ceplos Hasna yang di akhiri dengan kekehan. Dia pun bersembunyi di balik punggung Shanum merasa malu sendiri dengan perkataannya. Lupa jika orang-orang di hadapannya belum mengenalnya.
"Ciee....yang udah gak kuat pingin jadi manten" Liani yang sudah tahu tentang siapa Hasna dan sudah berkenalan dengannya semakin menggodanya. Semua pun tertawa, sementara Hasna terus menyusup di balik punggung Shanum karena malu.
Shanum hanya tersenyum menanggapinya, dia membiarkan Hasna bergelayut manja di lengan kanannya. Hasna memang selalu bermanja-manja pada Shanum, kehadiran Shanum menjadi sosok yang sangat diharapkan oleh Hasna. Dia memperlakukan Shanum seperti kakak kandungnya sendiri begitu pun sebaliknya.
"Oya, kenalin ini Hasna. Dia adik dari Almarhum Bang Haqi" Shanum melirik Akhtar dengan sudut matanya, ingin tahu seperti apa responnya. Biasa saja, Akhtar tidak terpengaruh sama sekali.
"Dek, kalau mau tahu tentang mereka kenalan sendiri aja ya. Ini Kak Liani, Kak Ahsan, Ka Ghifar dan Kak Akhtar" Shanum menunjuk satu-satu, dan disambut anggukan kepala dan senyum ramah dari Hasna.
"Terima kasih sudah mau menerima aku, semoga selanjutnya kita bisa menjalin silaturahmi" ucap Hasna ramah.
"Kalau Pak Akhtar aku sudah kenal, kita pernah jadi rekan bisnis bahkan kemarin kita sempat ketemu di bandara" jelas Hasna.
"Oya!" seru Shanum. Akhtar mendongak dari gawainya, menoleh ke arah Shanum ingin mengetahui ekspresi wajah kekasihnya mendengar ucapan Hasna.
Hasna menceritakan pertemuannya dengan Akhtar saat di bandara. Dia tidak menyangka jika kakak iparnya itu akan menikah dengan orang yang pernah berbisnis dengannya yang saat ini dilanjutkan oleh asistennya. Akhtar hanya tersenyum datar meresponnya.
"Aku juga sudah mengenal Pak Ghifar, dia yang sekarang melanjutkan kerja sama dengan perusahaan kita, Teh" lanjut Hasna. Shanum mengernyit, dengan kalimat terakhir yang diucapkan Hasna, perusahaan kita. Hasna mengerti dengan reaksi Shanum.
"Perusahaan yang aku pegang adalah perusahaan keluarga, semua aset peninggalan papi sudah diubah atas nama Abang dan aku. Aku yang memegang perusahaan setelah papi tiada karena abang bersikukuh dengan keinginannya untuk bermain di belakang layar saja. Dia memilih bekerja di perkebunan di Bogor. Eh taunya karena ada bidadari ini di sana" Hasna kembali memeluk Shanum dari samping. Shanum semakin mengernyitkan keningnya baru tahu tentang kenyataan itu. Sementara Akhtar dan yang lainnya hanya diam mendengarkan cerita Hasna.
"Dan sekarang semua aset atas nama almarhum abang sudah dialihkan jadi atas nama teteh sesuai amanat Abang, makanya kedatangan aku ke sini selain untuk menghadiri acara lamaran aku juga mau menyampaikan hal ini. Dan aku harap teteh bisa bergabung membesarkan perusahan peninggalan papi bareng aku" Shanum terhenyak, dia tidak menyangka jika Haqi sudah menyiapkan semuanya sejauh itu.
"Kalau Kak Ahsan, aku sudah lumayan tahu juga. Dulu Abang sering cerita, dia bahkan menyimpan foto kalian berdua di album kenangan miliknya"
"Benarkah?" seru Ahsan, tidak menyangka jika Haqi menganggap pertemanan mereka sedekat itu.
"Kak Liani juga aku sudah tahu, teteh sering cerita juga ya, Teh?" Hasna meminta persetujuan Shanum dan dijawab anggukan kepala oleh Shanum tanda mengiyakan.
"Jadi kamu sudah tahu dengan kita-kita sejak lama?" tanya Ahsan kembali memastikan.
"Heum.." jawab Hasna dengan menganggukan kepalanya.
"Tapi ko aku baru tahu ya, Haqi punya adik secantik ini?" Ahsan menggoda Hasna dengan wajah jenakanya,
"Uhuukk" Ghifar yang sedang menikmati kopinya tiba tiba terbatuk.
Akhtar yang berada di sampingnya langsung menyodorkan air putih yang ada di hadapannya pada Ghifar. "Kenapa lo?" tanya Akhtar heran.
"Kenapa, Bro?" susul Ahsan yang memegang tengkuk Ghifar membantu menghentikan batuk-batuknya.
"Gak apa-apa" jawab Ghifar panik. Dia memegang tenggorokannya yang sedikit sakit karena tersedak.
Hasna hanya nyengir melihat reaksi Ghifar, dia meyakini jika Ghifar tersedak karena mendengar Ahsan yang memujinya cantik. Semenjak kerja sama perusahaannya dengan perusahaan milik ayah Akhtar dilanjutkan olehnya, mereka memang jadi sering bertemu. Bahkan Ghifar sering mengiriminya pesan dengan dalih menanyakan tentang pekerjaan. Beberapa kali Ghifar terlihat seperti cemburu ketika dia dijemput Bima kekasihnya selepas pertemuan perusahaan namun Hasna tidak mau terlalu percaya diri apalagi dia pun sudah mempunyai kekasih yang sebentar lagi akan melamarnya.
Obrolan mereka semakin seru, suasana kebersamaan, suasana kekeluargaan semakin terasa di antara mereka hingga adzan maghrib pun tidak terasa akhirnya berkumandang.
Para pria itu pun bersiap untuk ke mesjid bersama Pak Imran dan Fauzan, sementara Hasna dan Liani mengikuti Shanum ke kamarnya untuk membersihkan diri dan shalat magrib berjamaah di rumah.
Setelah shalat magrib, semua bersiap untuk pamit. Liani yang awalnya akan menginap di rumah Shanum tidak jadi karena Bu Fatimah menelepon dan memintanya untuk menginap di rumahnya. Hasna dan Bu Ratna pun bersiap untuk kembali ke hotel yang berada di area Cipanas. Besok pagi Shanum berjanji akan membawa semua pegawai dan anggota keluarganya berenang ke wisata air Cipanas Garut. Mereka pun janjian untuk bertemu di sana.
Ahsan dan Liani sudah lebih dulu pamit dan meninggalkan rumah Shanum di susul Hasna bersama sang ibu yang pamit diiringi tatapan Ghifar yang terus mengikuti langkahnya. Ghifar pun pamit untuk menunggu Akhtar di mobil. Tinggallah Akhtar dan Shanum berdua, masih berdiri di teras rumah.
"Aku pulang ya" ucap Akhtar namun masih bergeming di tempatnya berdiri.
Shanum pun mengangguk "Iya, fii amanillah" ucapnya tapi Akhtar belum juga beranjak, sorot matanya menyiratkan jika dia sungguh enggan meninggalkan rumah itu, tidak mau berpisah dari Shanum. Andai rencananya untuk langsung menghalalkan Shanum tidak dicegah oleh ibu dan keluarga besarnya mungkin saat ini dia tidak pulang dan kembali berpisah dengan kekasih hatinya itu. Dua minggu menahan rindu, bersabar menahan diri untuk tidak menghubunginya sungguh sangat menyiksanya.
"Kenapa?" tanya Shanum yang heran karena Akhtar tak kunjung pergi padahal sudah pamit.
"Kenapa?" Akhtar balik bertanya, membuat Shanum semakin heran.
"Iya, kenapa kamu masih di sini, kan sudah pamit, kasihan Pak Ghifar udah nunggu" jelas Shanum, dia menunjuk dengan dagunya ke arah Ghifar yang sudah menyalakan mobilnya.
"Kamu ngusir aku? gak kangen gitu? dua minggu lho kita gak ketemu, gak saling kasih kabar juga. Aku masih kangen tahu" Akhtar merajuk, dia tidak terima Shanum mengusirnya.
"Eummhh...jangan boong, beneran gak tahu kabar aku selama dua minggu kemarin? gak percaya" sela Shanum sambil mencebikkan bibirnya,
Ahsan terhenyak, dia kaget dengan pertanyaan Shanum yang seperti mengejeknya.
"Iya, kan kita emang gak saling berkabar selama itu" elak Akhtar tak mau kalah.
"Iya, tapi tiap hari neleponin Fauzan, adek lagi apa? udah makan belum? ujung-ujungnya teteh lagi apa ya? udah makan belum dia ya?" ejek Shanum telak, membuat Akhtar seketika garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Hhe...." hanya wajah nyengir yang dia tampilkan, malu ketahuan jika selama dua minggu kemarin jadi stalker Shanum melalui Fauzan. Shanum geleng-geleng kepala melihat kelakuan Akhtar.
"Iya, iya maaf. Habisnya kamu ngangeninnya kebangetan bikin aku susah move on, jadinya kepaksa stalking kabar kamu via Fauzan, aku butuh moodbooster, hehe..." ungkapnya diakhiri kekehan yang membuat Shanum semakin menggeleng-gelengkan kepala.
"Sabar, bukankah selama bertahun-tahun kamu mampu melewatinya. Bukankah sejak dulu kita sudah terbiasa tidak saling mencari tapi saling merindukan, tidak saling mengabari tapi saling mendo'akan"
Nyesssss.........seakan seperti air yang menyirami tanah gersang, perkataan Shanum berhasil menyejukkan hati Akhtar. Shanum mengulum senyum melihat Akhtar memejamkan mata seolah meresapi kata-kata yang diucapkannya begitu dalam.
"Sudah ah pulang, kasian Pak Ghifar" Shanum berbalik hendak meninggalkan Akhtar yang tak kunjung pulang.
"Eith....mau kemana?" Akhtar melangkah segera menghadang langkah Shanum dengan membentangkan tangannya.
"Tunggu dulu, kan aku belum pulang. Harus nganterin sampe gak kelihatan dong" sergah Akhtar.
"Idih..." protes Shanum dengan wajah memberenggut, dia menghentikan langkahnya.
"Oke, aku akan pulang tapi dengan syarat" nego Akhtar
"Syarat apa? kenapa mau pulang harus bersyarat juga?" Shanum mulai kesal dengan tingkah Akhtar,
"Aku akan pulang kalau kamu sudah jawab salam aku dengan panggilan khusus buatku, sama seperti aku" jelas Akhtar membuat Shanum bingung.
"Panggilan khusus?" Shanum tidak mengerti maksud Akhtar.
"Iya, mulai sekarang aku manggil kamu seperti ini. Sayang aku pamit ya" bisik Akhtar yang sedikit memajukan wajahnya mendekati telinga Shanum membuat Shanum mundur dua langkah dari tempat semula.
__ADS_1
"Idih apaan sih" elak Shanum, dia tak cukup keberanian untuk memanggil Akhtar dengan panggilan yang seperti Akhtar lakukan.
"Kalo gitu aku gak bakalan pulang" ancam Akhtar.
"Eyy...biarin" Shanum mengambil langkah ke arah lain, menghindar dari bentangan tangan Akhtar.
"Neng...!" panggil Akhtar dengan nada manja.
"Iihh, apaan sih" Shanum terus berusaha menghindar.
"Plis atuh neng, sekali aja" Akhtar memaksa
"Enggak!" ucap Shanum tegas.
"Plisssss" Akhtar masih memohon,
"Enggak, lidahnya kelu kalau bilang itu" alasan Shanum.
"Neng"
"Enggak"
"Neng"
"Atuh..."
"Sekali aja"
"Enggak"
Tiiiinnn.........
Suara klakson mobil yang dibunyikan panjang menghentikan perdebatan mereka.
"Tuh, Pak Ghifar udah manggil"
"Ckkk" ...Akhtar berdecak, kesal dengan gangguan Ghifar.
"Oke, kali ini aku ngalah. Kalau gitu aku pulang ya" pamit Akhtar dengan wajah sendu, Shanum pun mengangguk dengan senyum tertahan.
"Assalamu'alaikum" ucap Akhtar lesu, jarak mereka saat ini cukup jauh, Akhtar pun membalikkan badannya.
"Wa'alaikumsalam, Yang" jawab Shanum pelan namun masih terdengar jelas oleh Akhtar. Sontak, Akhtar menghentikan memutar badannya kembali menghadap ke arah Shanum namun sayang orang yang dituju sudah menghilang di balik pintu.
Senyum kembali terbit di bibir Akhtar, moodnya kembali membaik. Panggilan mesra Shanum kembali membangkitkan semangatnya.
Dia pun berjalan menuju mobil, membuka pintunya, duduk di samping kemudi dengan senyum terus mengembang di bibirnya. Membuat Ghifar bergidik, memperhatikan keanehan sahabatnya itu.
*
*
Hasil obrolan dua keluarga memutuskan pernikahan Shanum dan Akhtar akan dilaksanakan dua minggu yang akan datang, tepat hari Sabtu di salah satu ballroom hotel yang ada di wilayah Cipanas Garut.
Beberapa persiapan langsung ditangani Bu Fatimah seperti urusan mahar, hantaran dan juga seragam keluarga. Sementara yang lainnya kedua keluarga sudah sepakat untuk menyerahkan semua urusannya ke pihak wedding organizer terpercaya di Garut yang juga masih kenalan Bu Fatimah.
Tidak lupa Bu Fatimah pun mengingatkan Akhtar untuk memberi tahu berita baik ini kepada ayahnya. Walau bagaimana pun Akhtar masih punya keluarga lain yaitu keluarga baru ayahnya. Akhtar pun menurut, dia berencana akan pergi ke Bandung setelah menyelesaikan proyeknya di Garut. Setelah selesai proyek di Bali Akhtar kembali menerima permintaan dari salah satu perusahaan di Garut untuk melengkapi furniture kantor baru mereka.
Bu Hana sempat protes karena bingung harus membantu apa, biasanya jika hajatan pernikahan keluarga perempuanlah yang lebih sibuk. Pengalamannya menikahkan putri keduanya membuat Bu Hana merasakan sendiri kesibukan menjelang hajatan. Tapi kali ini tidak, semua sudah ada yang menangani.
"Teh, kita harus nyiapin apa?" tanya Bu Fatimah bingung. Saat ini mereka sedang melihat-lihat desain undangan yang dikirim WO utusan Bu Fatimah.
"Terserah ibu, ibu maunya gimana?" Shanum balik bertanya.
"Karena semuanya sudah ada yang menangani, paling ibu mau bikin bingkisan buat hampers keluarga dan tetangga aja ya?" usul Bu Fatimah, salah satu kebiasaan menjelang hajat di Garut adalah membagi idangan (nasi kotak) atau bingkisan kepada keluarga dan tetangga dekat beberapa hari menjelang hari pernikahan biasanya.
*
*
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, pukul enam pagi Shanum dan keluarga sudah berangkat ke hotel. Acara ijab qabul akan dilaksanakan tepat pukul delapan tiga puluh dan dilanjutkan dengan resepsi mulai pukul sebelas.
Sekitar seribu undangan sudah disebar ke semua rekan dan handai taulan. Kedua keluarga besar pun sudah bersiap ke lokasi acara sesuai intruksi si empunya hajat.
"Teh, Nak Akhtar bilang enggak mas kawinnya mau apa?" Pak Imran bertanya di sela-sela Shanum dirias oleh MUA yang sudah disiapkan Bu Fatimah di salah satu kamar hotel yang khusus disiapkan untuk merias pengantin. Saat ini Pak Imran tengah menemani sang putri karena istrinya sedang dirias di kamar lain, begitupun dengan adik dan teman-teman Shanum.
Mata Pak Imran tiba-tiba mengembun, melihat putri sulungnya untuk kedua kalinya berhias pengantin namun kali ini raut wajahnya terlihat segar dan bahagia, tidak seperti ketika pernikahan sebelumnya tersembunyi luka yang selalu berusaha dia tutupi. Namun naluri seorang ayah ternyata tidak menyalahi saat itu. Sekarang Pak Imran tenang dan turut bahagia akhirnya putri sulungnya bertemu kembali dengan cinta sejatinya.
"Kalau kata Aa sih katanya seperangkat alat shalat dan perhiasan aja Pak, gitu bilangnya" jawab Shanum dia resmi mengubah panggilannya pada Akhtar dengan panggilan Aa secara terang-terangan. Sebelumnya dia hanya berani menyebut Akhtar dengan panggilan Aa jika hanya sedang berdua saja.
Sesuai informasi yang dia dapatkan saat Akhtar jika dia sudah menyiapkan seperangkat alat shalat dan perhiasan emas sebagai maskawinnya.
'Sayang, kamu mau aku siapkan maskawin apa?' potongan chat dengan Akhtar beberapa hari yang lalu.
'Terserah Aa saja' jawab Shanum
'Ibu menyuruhku untuk menanyakannya, barangkali neng sayang ada permintaan khusus'
'Enggak ada A, yang penting maskawin itu tidak memberatkan Aa namun juga tidak merendahkan aku' balas Shanum jujur.
'Baiklah, Aa sudah menyiapkan seperangkat alat shalat dan perhiasan emas ya, mudah-mudahan kamu suka' jelas Akhtar, Bu Fatimah sudah menyiapkan semuanya dengan baik.
'Insyaa Allah A' pungkas Shanum.
"Bapak harus mengetahuinya, mau dicatat takut salah ucap" Pak Imran memberi tahu alasan kenapa dia menanyakan perihal mas kawin diakhiri kekehan.
Bu Hana yang sudah selesai di rias di kamar lain pun masuk, disusul oleh Liani, Hasna Indri dan Rida dengan perut yang sudah mulai terlihat, berdasarkan hasil USG usia kandungannya kini sudah empat bulan. Ibu pun berencana akan mengadakan syukuran empat bulanan Rida setelah acara Shanum selesai.
"Wa, tamunya sudah datang" tiba-tiba Indri melongokkan kepalanya dari pintu memberitahu jika mempelai calon pengantin pria beserta rombongan keluarganya sudah datang.
Pak Imran dan Bu Hana pun bergegas keluar, mereka berpesan pada Shanum agar bersiap-siap membuat jantung Shanum bertalu semakin kencang.
Sang MC pun membuka acara, dari mulai pembukaan, pembacaan ayat suci Al-quran, sambutan silaturahmi oleh perwakilan keluarga besar Shanum dilanjutkan sambutan penyerahan oleh perwakilan keluarga calon mempelai pria yang saat ini diwakili oleh Ustadz Zaki. Ustadz Zaki yang selama ini menjadi guru spiritual Akhtar di Bandung, beliau sangat antusias saat menerima kabar jika murid kebanggaannya akan menikah.
Dilanjutkan dengan sambutan penerimaan oleh wakil atas nama keluarga calon mempelai wanita yang kemudian dilakukan simbolis penyerahan hantaran oleh bu Fatimah kepada Bu Hana. Hantaran yang mengular pun akhirnya selesai dievakuasi ke kamar yang telah disiapkan dengan memakan waktu hampir setengah jam saking banyaknya hantaran.
Acara inti pun akan segera dijelang. Saat ijab qabul Shanum sengaja tidak dihadirkan sesuai permintaannya.
"Petugas KUA menyampaikan prolognya, dilanjutkan dengan pemeriksaan kebenaran data administrasi dan menanyakan kesiapan Pak Imran sebagai wali dan juga Akhtar sebagai calon mempelai pria. Petugas KUA pun mempersilahkan Ustadz Zaki untuk menyampaikan khutbah nikah.
Tidak hanya Akhtar yang dengan seksama mendengarkan khutbah nikah yang disampaikan Ustadz Zaki namun Shanum pun yang berada di kamar rias turut larut untaian nasihat pernikahan itu.
Ustadz Zaki memulai khutbah nikahnya dengan salam dan untaian do'a untuk kedua calon mempelai. Suasana semakin hening saat beliau mengatakan, "Pernikahan bukan sekedar menuruti naluriah manusiawi dan terpenuhinya kebutuhan biologis, namun dalam syariat Islam pernikahan merupakan "perjanjian agung" berdimensi ibadah makanya harus sesuai dengan tuntunan Allah Ta'ala dan contoh Rasulullah"
"Menikah itu bukan ajang perlombaan apalagi percobaan. Menikah itu butuh kesiapan dan keyakinan, siap karena setiap hari akan melihat dan bertemu dengan orang yang sama, siap untuk memahami sikapnya yang tidak sesuai dengan keinginan kita, siap bahagia, menangis dan kecewa. Yakinkan diri bahwa kita siap menerima pasangan kita dengan segala kekurangannya, karena menikah itu bukan untuk dicoba tapi untuk dibina hingga tutup usia"
"Menikah bukanlah akhir dari segalanya, namun awal dari kisah baru yang dimulai atas dasar cinta kepada-Nya dengan tujuan ibadah. Ibadah terlama adalah berumah tangga, maka jadilah kalian pasangan yang siap untuk selalu belajar dan berbenah. Menikah bukanlah hal yang mudah namun jika diniatkan untuk ibadah maka semua akan Allah permudah. Menikah itu bukan dijalani saja seperti air mengalir, tapi diusahakan agar bahagianya yang selalu mengalir. Jika telah dipersatukan jagalah cinta kalian tidak hanya di dunia saja, tapi setia hingga Jannah-Nya" pungkas Ustadz Zaki diakhiri do'a dan salam yang aminkan semua hadirin.
Khutbah nikah yang penuh nasihat itu pun berakhir. Petugas KUA kembali memandu prosesi akad. Pak Imran sempat mengernyitkan keningnya saat membaca maskawin yang tertulis di catatan yang diterimanya dari penghulu. Merasa tidak percaya karena yang dia ketahui maskawin hanya seperangkat alat shalat dan perhiasan emas
Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Akhtar Farzan Wijaya bin Furqan Wijaya dengan anak saya yang bernama Shanum Najua Azzahra binti Muhammad Imran dengan maskawin berupa seperangkat alat shalat, ditambah satu set perhiasan emas seberat dua ratus lima puluh gram dan satu buah mobil Honda Jazz tipe xxxx, tunai.”
Saya terima nikahnya dan kawinnya Shanum Najua Azzahra binti Muhammad Imran dengan maskawin yang tersebut, tunai.”
Hampir semua yang hadir terhenyak mendengar maskawin yang disebutkan Pak Imran, Shanum yang mendengar dari kamarnya pun seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
"Wowww, Honda Jazz keluaran terbaru. Harganya itu lho...amazing!" pekik Liani dalam kamar. Hasna hanya tersenyum menanggapinya, sementara Shanum hanya diam tak bersuara.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu kepada kedua saksi dan semua yang hadir.
"Saaahhh" semua orang antusias serempak menjawab sah.
"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"
Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.
Do'apun dipanjatkan untuk kedua mempelai yang dipimpin oleh penghulu. Akhtar menarik napas lega, dia pun terlihat lebih rileks seakan beban berat yang ada di pundaknya telah terbang begitu saja. Wajah tegangnya pun berangsur berubah lebih bersahabat.
Sementara Shanum yang mendengar teriakan kata sah pun bernapas lega, namun degup jantungnya masih begitu kencang bertalu. Hingga tiba saatnya petugas KUA memanggil mempelai pengantin wanita untuk duduk di samping mempelai pengantin pria yang kini telah sah sebagai suaminya.
Shanum pun berjalan diapit oleh Liani dan Hasna, diirringi Indri, Rida dan pengiring pengantin lainnya memasuki gedung tempat ijab qabul berlangsung.
"Bismillahirrahmanirrahim" ucapnya dalam hati.
Iringan musik romantis pun mengiringi langkah Shanum yang berjalan di red carpet, Akhtar berbalik tatkala suara MC mengajak para hadirin untuk bertepuk tangan menyambut kedatangan Shanum. Dia terkesiap saat melihat pujaan hatinya berjalan ke arahnya. Mata Akhtar tak putus menatap ke arahnya, dia tidak menyangka gadis pujaannya kini telah sah secara agama dan hukum negara menjadi miliknya.
Balutan gaun pengantin putih bertabur swarovski senada dengan jilbab bertahtakan siger sempurna melekat di tubuh Shanum. Riasan minimalis yang melukis wajahnya fiks membuat Shanum pangling. Aura kecantikan pengantin terpancar jelas di wajahnya, bibir yang melengkung melemparkan senyum manis kepada semua orang yang menatapnya kagum dan haru membuatnya tampil semakin sempurna.
Akhtar semakin terpesona saat Shanum datang kian mendekat. Senyuman Shanum semakin menghipnotis dirinya, hingga dia tak sadar saat MC memanggil namanya sampai dua kali agar mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Shanum. Akhtar yang tidak fokus berhasil membuat tawa semua orang pecah, hingga teriakan ketiga MC barulah menyadarkannya.
Shanum sudah berada di hadapannya, sesuai arahan MC dia akhirnya mengulurkan tangannya, sungkem pada Akhtar yang kini telah resmi menjadi suaminya. Akhtar menerima uluran tangan Shanum, dengan takzim untuk pertama kalinya Shanum mencium tangan Akhtar. Terasa ada desiran halus yang merambah dadanya saat merasakan bibir Shanum menyentuh punggung telapak tangannya.
Ustadz Zaki yang masih berada di sana karena menjadi saksi pernikahan meminta Akhtar untuk menyimpan tangannya tepat di ubun-ubun Shanum dia pun membimbing Akhtar untuk berdo'a.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
"Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya. Aamiin"
Ucapan amin Akhtar pun diiringi dengan ucapan amin dari semua yang hadir. Selanjutnya sang MC dengan usilnya meneriaki agar Akhtar mencium Shanum.
"Cium, cium, cium...." teriakan MC otomatis mengundang yang lainnya untuk turut menggoda kedua pengantin baru itu.
Akhirnya dengan malu-malu Akhtar menangkup kedua pipi Shanum yang sudah memerah karena menahan malu, dia layangkan kecupan hangat di kening Shanum begitu lama, seakan mengalirkan rasa cinta yang begitu besar untuk wanita yang kini telah halal untuknya. Shanum pun memejamkan kedua matanya menerima ciuman Akhtar yang tiba-tiba menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya saat benda kenyal itu menyentuh keningnya.
Semua orang bersorak bahagia menyaksikan kedua insan yang kini telah sah menjadi sepasang suami istri.
"Woy sudah woy kelamaan nyiumnya" teriakan Ahsan menyadarkan Akhtar dan dia pun melepas ciumannya menjauh dari kening Shanum, sementara Shanum semakin menundukkan kepalanya karena malu.
Acara pun kembali dilanjutkan, penandatangan berkas-berkas telah usai dilaksanakan. Dua buku berwarna hijau dan coklat kini berada di tangan Akhtar dan Shanum. Buku sakti yang mengukir nama mereka berdua yang menyatakan mereka sah menjadi suami istri di mata hukum negara.
Acara pun berlanjut pada pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Kebahagiaan terpancar jelas di wajah semua orang hari ini, kedua orang tua Shanum dan Akhtar bahkan tak kuasa menahan air mata bahagia karena melihat putra putri mereka akhirnya bersatu setelah melewati perjuangan panjang dengan berbagai ujian cinta mereka. Pak Furqan yang turut hadir pun tak kuasa menahan air mata yang akhirnya jebol dari tanggulnya.
Hatinya begitu bahagia melihat kebahagiaan putranya hari ini, penyesalan pun semakin menyelimuti hatinya. Namun hanya dia sendiri dan Tuhan yang tahu akan penyesalannya. Kehadiran Pak Furqan sendirian di pesta pernikahan putranya jujur membuat Bu Fatimah bertanya-tanya dalam hati namun dia pun tak berani mengungkapkannya.
Shanum dan Akhtar berdiri di atas pelaminan, menerima ucapan selamat dari seluruh anggota keluarga yang hadir. Akhtar sama sekali tidak membiarkan Shanum jauh darinya, tangannya sesekali terulur meraih pinggang sang istri agar tetap dekat dengannya.
Liani dan Hasna yang disusul Ahsan dan Ghifar menjadi orang terakhir yang berbaris untuk menyalami pengantin. Saat tiba gilirannya Liani pun berteriak histeris memeluk Shanum.
"Aaaa.......neng Zahra sahabat aku yang paling baik di seluruh dunia akhirnya sah juga...." teriaknya sambil berhambur memeluk Shanum, membuat beberapa orang bahkan mengalihkan perhatiannya pada dua sahabat yang sedang berpelukan itu.
"Selamat ya, Neng. Aku bahagia banget akhirnya kamu bersama kembali dengan cinta sejatimu. Semoga jadi keluarga SAMARA PECIN ya.." ucap Liani dengan sedikit keras karena alunan musik penghibur mulai menghangatkan suasana.
"Idih apaan itu samara pecin" Hasna yang berada di belakang Liani pun menyela obrolan mereka, dia pun berhambur memeluk Shanum mantan kakak ipar yang kini serasa menjadi kakak kandungnya.
Liani terkekeh mendengar Hasna yang penasaran dengan apa itu samara pecin.
"Keluarga samara pecin artinya, sakinah, mawaddah, warahmah, penuh cinta...." ucap Liani lantang, dia pun kembali memeluk sahabatnya dan akhirnya mereka bertiga pun berpelukan bersama membuat Akhtar sedikit geram karena mereka berpelukan cukup lama.
"Sudah-sudah pelukannya. Enak aja lama-lama. Aku aja suaminya belum meluk" ucap Akhtar tegas, keposesifannya mulai muncul membuat Liani dan Hasna pun tergelak. Mereka pun beralih memberikan selamat kepada Akhtar disusul oleh Ahsan dan Ghifar.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya halal juga jangan lupa langsung tancap gas, inget umur lo udah gak muda lagi. Si Rahman dan Yusup udah mau tiga noh anaknya" bisik Ahsan di telinga Akhtar.
"Siap! gak perlu dikomando kalau urusan itu mah. Gue udah prepare sejak lama" balas Akhtar tak kalah absurd. Mereka tertawa berdua.
"Selamat ya Boss, semoga mulai sekarang kebahagiaan selalu menyertai kalian. Udah cukup sedih-sedihannya selama ini, sekarang semoga bahagia selalu ya" do'a ghifar tulus. Dia menjadi orang yang paling tahu bagaimana perjuangan hidup Akhtar selama ini.
"Makasih bro, lo emang yang terbaik. Kalian berdua adalah yang terbaik. Thanks, Brothers" mereka bertiga pun berpelukan, Shanum, Liani dan Hasna tersenyum bahagia, salut dengan persahabatan mereka yang selalu saling berkorban, saling menjaga dan saling ada untuk satu sama lainnya.
"Oke sekarang waktunya kita berfoto" Liani memecah keharuan tiga sahabat itu. Mereka pun berfoto dengan berbagai gaya.
Semua tamu keluarga tampak sedang menikmati hidangan dengan suasana yang gembira. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum dimulai acara resepsi. Saat ini mereka hanya berdua di pelaminan, Bu Hana, Bu Fatimah, Pak Imran dan Pak Furqan masih mengobrol di meja VIP sambil menikmati santap siang mereka bersama keluarga lainnya.
Akhtar kembali meraih pinggang Shanum yang sedikit menjauh karena malu menjadi pusat perhatian beberapa orang. Namun Akhtar tidak peduli dia kembali merekatkan tubuh Shanum ke tubuhnya.
"Sini dong Yang, jangan jauh-jauh" ucapnya sambil meraih pinggang Shanum agar mengikis jarak mereka.
"Malu A, lihat orang-orang ngeliatin kita" sahut Shanum menunjuk dengan dagunya ke arah beberapa orang yang sedang menikmati hidangan namun matanya mengarah pada mereka berdua sambil berbisik-bisik dengan senyum merekah di wajah setiap orang turut merasakan kebahagiaan kedua pengantin baru itu.
"Biarin, mereka iri aja" bisik Akhtar di telinga Shanum, membuat Shanum merasakan sapuan napas Akhtar di wajahnya.
"Sayang, terima kasih...." Akhtar mulai berbicara serius, posisinya kini memeluk Shanum dari samping dia pun sedikit menyenderkan kepalanya di bahu Shanum.
"Terima kasih sudah menjadi wanita kuat, terima kasih telah sabar, terima kasih telah berjuang. Bagaimana mengikhlaskan sebuah kepergian, bagaimana melepaskan tanpa harus membenci, dan bagaimana menerima ketetapan-ketetapan yang telah Allah gariskan untuk kita" Akhtar berbicara lirih, kata-katanya penuh makna. Menggambarkan kekaguman untuk sosok wanita yang selalu menjadi pujaan hatinya yang begitu tegar menjalani hari-hari dalam hidupnya dengan segala onak dan cabaran hingga Allah kembali menyatukan mereka.
Ahsan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Shanum. Shanum tertegun, terharu mendengar apa yang Akhtar katakan. Laki-laki pertama yang memberinya pengalaman merasakan indahnya cinta monyet yang kini telah berubah menjadi cinta sejati.
"Tenang aja, kita sama-sama mengimani takdir Allah, jika sudah waktunya Allah telah mempertemukan kita di titik terbaik-Nya. Semua masih sama, masih tentangmu. Aku hanya berhenti menunjukkannya. Semua ada waktunya, ada waktu untuk berharap, ada waktu untuk berhenti. Ada waktu untuk memperjuangkan, hingga ada waktu untuk akhirnya mengikhlaskan" Shanum mengusap pipi Akhtar yang kini bersandar di bahunya dengan tangan kirinya,
"Mulai saat ini, Bismillah .... mari kita melangkah bersama. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita, sehingga apapun yang kita kita lakukan menjadi berkah dan apapun yang kita usahakan berbuah indah" pangkas Shanum kembali mengusap pipi Akhtar.
Akhtar pun mendongak, mengubah posisinya. Dia memiringkan badan Shanum agar berhadapan dengan ya.
"Aamiin, terima kasih Shanum Najua Azzahra, aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Teruslah bersamaku, hingga surga-Nya." Akhtar kembali mengecup kening Shanum, kemudian memeluknya erat.
Semua aktivitas mereka tidak lepas dari bidikan sang fotografer yang diam-diam mengabadikan setiap momen keintiman mereka.
Tamat!!
*
*
*
*
*
Alhamdulillah Akhir novel perdana "Senja di Ujung Harap Ini" tamat.
Terima kasih yang sudah menjadi pembacanya, semoga Allah limpahkan kebaikan dan keberkahan dalam hidupnya.
Pesan dari novel ini: pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa tidak setiap hal bisa didapat dengan mudah, beberapa diantaranya perlu perjuangan dan air mata untuk mendapatkannya. Namun Allah sudah memfasilitasi kita dengan kekuatan do'a dan usaha untuk meraih apa yang kita harapkan. Di saat lelah dan hampir menyerah namun Allah selalu jadi tujuan, Insyaa Allah tak ada usaha yang sia-sia dan tak akan ada do'a yang percuma. Semuanya Allah jawab tepat pada waktu terbaik versi-Nya.
*
*
*
__ADS_1
Ada yang penasaran dengan malam pertama Akhtar dan Shanum?..🤭🤭🤭