
Senyumannya hilang seketika, pandangannya nanar, tubuhnya terpaku. Melihat adegan di depannya membuat dadanya terasa sesak. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya.
Akhtar dengan jelas melihat Ahsan menyambut kedatangan Shanum dia bahkan membawakan tas bawaannya, sungguh manis.
Akhtar membalikkan badannya, tak mampu lebih lama melihat adegan di depannya. Dia langkahkan kaki menuju tangga, kembali ke ruangannya.
Sesampainya di sana, Akhtar menjatuhkan bokongnya di atas kursi kebesarannya. Matanya terpejam, tangannya memegang erat pegangan kursi menahan rasa sesak di dadanya, aura kemarahan, kekecewaan dan penyesalan bercampur menjadi satu.
Perlahan pegangan tangannya mengendor, memijat pelipis pelan tiba-tiba merasakan pusing luar biasa. Akhtar mengusap dadanya, rasa sakit itu masih ada bahkan semakin kuat ketika pikirannya mereka adegan yang baru saja dilihatnya.
"Shanum, bolehkan kali ini aku lebih egois lagi? Untuk saat ini aku hanya ingin mempertahankan apa yang membuatku bahagia, selebihnya aku tidak peduli.", gumamnya lirih.
***
Sementara di pintu gerbang, Shanum terkaget mendapati Ahsan menunggunya dengan senyum bahagia. Ahsan bahkan membawakan tas bawaannya. Berulang kali Shanum menolak, karena merasa tak enak melihat Ahsan membawakan tasnya.
"Aku tidak menerima penolakan!" seru Ahsan tegas.
Shanum hanya bisa pasrah, dia berjalan mengikuti Ahsan yang mulai menjauh darinya.
"Terima kasih Kak, lain kali jangan melakukannya lagi". Ucap Shanum saat tiba di rumah dinasnya.
"Aku senang melakukannya, dan aku mau terus melakukannya." Jawab Ahsan dengan santainya.
Shanum dan Ahsan masih berdiri di teras, untuk sejenak mereka saling terdiam.
"Kamu tidak mengajakku masuk, Num?" tanya Ahsan memecah keheningan.
"Eh...apa?", Shanum terkaget dengan pertanyaan Ahsan.
"Kakak, maaf di dalam tidak ada siapa-siapa." tukas Shanum.
"hhihihi....", Ahsan terkekeh melihat ekspresi Shanum. Dia tahu Shanum tidak mungkin mengajaknya masuk, walaupun di yayasan tidak ada aturan khusus untuk itu. Tapi Ahsan tahu kalau Shanum sangat menjaga batasan.
"Kakak pulang aja ya, terima kasih sudah membantu aku", pinta Shanum.
"Kamu ngusir aku, Num?" Ahsan memberengut kecewa.
"Iya" jawab Shanum tegas.
"Kamu tega, Num" rengek Ahsan
"Harus, daripada jadi fitnah" tegas Shanum.
"Aku di sini tinggal sendiri Kak, Kakak juga. Kita sama-sama pendidik di sini, jadi rasanya kurang pantas kita terlihat berduaan seperti ini. Apalagi sekarang kan hari libur, Kakak dan aku juga enggak Selevel Kakak dosen dan aku Guru SMA, jadi tidak ada alasan tentang pekerja untuk kita saling berhubungan. Kalau pun ada tentang pekerjaan atau kegiatan bisa kita diskusikan di tempat lain. Bukan di rumah dinas aku. Nanti disangkanya Kakak lagi ngapel lagi, hhe.....", Shanum menjelaskan dengan panjang lebar dengan diakhiri kekehan.
Ahsan tidak peduli dengan apa yang dikatakan Shanum, dia malah fokus menatap wajah Shanum. Memperhatikan dengan seksama setiap gerak bibir yang sedang berucap itu. Ahsan semakin terpesona kalau melihat Shanum sedang berbicara panjang lebar begini.
"Kakak.....Kakak!" Shanum mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ahsan.
"Eh...iya, apa?" tanya Ahsan dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Aku dari tadi bicara, Kakak dengar gak?", Shanum jadi kesal melihat kelakuan Ahsan yang mengacuhkannya.
"Iya aku denger, Num. Jangan ngambek dong calon Makmum", jawab Ahsan kembali menggoda Shanum. Sementara Shanum hanya mencebikkan bibirnya, dia sudah tidak aneh lagi dengan gombalan Ahsan yang sudah sering dia dengar.
"Justru karena kita masih sama-sama sendiri gapapa dong kita sering kelihatan bersama, kalau aku main ke rumah Bu Rahma yang tinggal jauh dari suaminya baru itu bahaya. Bisa-bisa digerebeg Pak Satpam dikiranya aku pebinor Hahaha...." Ahsan berkilah. Shanum menatap tajam Ahsan, dia semakin geram dengan alibi Ahsan.
"Hhee....pisss Num" Ahsan terkekeh sambil mengacungkan dua jarinya,
telunjuk dan jari tengah ke arah Shanum.
"Kakak cuma mau memastikan kamu baik-baik saja dan siap berangkat ke Pangandaran nanti malam",
"Semua persiapan sudah oke, tinggal acara di sana yang jadi tanggung jawab kamu. Sekarang istirahatlah dulu nanti ba'da Dzuhur Kakak tunggu kamu di ruang sekretariat panitia."
"Kakak pamit ya", pungkas Ahsan mengakhiri penjelasannya pada Shanum.
Shanum menganggukkan kepalanya, dan beranjak mengantar Ahsan ke depan pintu pagar rumah dinasnya.
"Terima kasih, Kak" ucap Shanum mengakhiri pertemuan mereka siang ini.
Ahsan hanya tersenyum ramah dan mengacungkan jempolnya.
"Shanuuuu.........mmmm",
Sepeninggal Ahsan tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namanya. Shanum yang hendak menutup pintu pagar, menoleh ke arah suara yang tak asing itu. Dia merentangkan tangannya menyambut kedatangan Liani yang setengah berlari.
"Kamu tega ya Num, menjadikan aku tumbal jadi sasaran teror Pak Ahsan", ucap Liani mengawali pertemuan mereka dengan wajah cemberut.
"Assalamu'alaikum, Li. Apa kabar?", balas Shanum dengan wajah setengah mengejek Liani yang selalu saja tidak bisa mengontrol diri ketika mereka berdua.
"Kamu tahu, Num.......?"
"Enggak, hahaha...." Shanum tiba-tiba memotong perkataan Liani sambil tertawa.
"Isshhhh....kamu tuh, aku belum selesai ngomongnya",
"Sejak kamu berangkat ke Bogor, Pak Ahsan itu terus ngirim pesan ke aku. Aku sampai pusing tiap hari dikirimi pesan terus dengan topik yang sama. Bu Liani, sudah ada kabar dari Shanum? Lama-lama bisa heng Hp ku, aku harus minta ganti nih ke Pak Ahsan kalau sampai itu terjadi", terang Liani dengan ekspresi lebaynya.
"Tapi gak jadi heng kan?" tanya Shanum.
"Ya enggak lah kamu pikir Hp aku Hp apaan, gitu aja ngeheng, tapi kalau Pak Ahsan mau ganti Hp yang baru dan lebih canggih sih It's Oke aku mah." jawab Liani dengan wajah polosnya.
"Hahahaa......kamu tuh ya", Shanum menarik tangan Liani agar segera masuk ke rumah dinasnya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan interaksi mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Akhtar bernapas lega, akhirnya Ahsan pergi juga dari rumah dinas Shanum. Setelah lama merenung di ruangannya Akhtar segera kembali turun mengikuti Ahsan dan Shanum sampai ke rumah dinasnya.
Dia semakin tak rela melihat Ahsan dan Shanum terlihat begitu akrab. Apalagi ketika mendengar Ahsan memanggil Shanum dengan calon makmum, hatinya bergemuruh, tangannya terkepal, tatapannya semakin tajam ke arah Ahsan dan Shanum yang berdiri di teras rumah dinas Shanum.
***
__ADS_1
Shanum mengambil oleh-oleh titipan ibunya untuk Liani, setahun bersama mengabdi di yayasan itu, Shanum dan Liani semakin akrab. Mereka sudah sering saling mengunjungi rumah orang tua masing-masing.
Bahkan Liani pernah beberapa kali menginap di Bogor. Itulah sebabnya, keluarga Shanum sudah cukup dekat dengan Liani. Ibu Shanum sudah menganggap Liani seperti anaknya sendiri.
"Ini titipan dari Ibu" Shanum mengulurkan tangannya yang memegang bungkusan besar.
Liani mengambilnya dengan mata yang berbinar.
"Asiiiikkkkk....keripik talas Bogor, I like it." Ucap Liani sambil memeluk erat bungkusan keripik itu.
"Ibu emang paling tahu kesukaan aku"... Liani terus memeluk erat bungkusan keripik itu.
"Alhamdulillah, kalau kamu senang" ucap Shanum yang mengabadikan momen Liani memeluk erat bungkusan keripiknya dan ....
Ting...
Balasan pesan dari Ibu setelah Shanum Mengirimkan foto Liani.
*Syukur Teh kalau Neng Liani resepeun (suka)" pesan balasan Ibu.
"Alhamdulillah, Bu makasih katanya" balas Shanum.
"Eta ulah dikeukeupean kitu kiripikna bisi bubuk (itu jangan dipeluk gitu keripiknya nanti ancur)", Ibu kembali mengirim pesan.
Shanum hanya tertawa kecil membaca pesan ibunya.
Liani yang memperhatikan Shanum senyum-senyum sendiri jadi kepo. Sejenak dia berhenti mengunyah keripiknya dan beralih ke sisi Shanum.
"Siapa sih?" tanyanya kepo
"Merinding aku lihat kamu ketawa-ketawa sendiri, mengalihkan fokusku aja menikmati keripik talas Ibu" , lanjut Liani. Shanum memperlihatkan layar gawainya.
"Ibu?" sentak Liani, Shanum mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu yah, kalo mau kirim foto bilang-bilang dong, gaya aku gitu amat gak ada cantik-cantiknya, mana merem lagi." protes Liani saat melihat hasil jepretan Shanum dan langsung mengambil alih gawai itu.
"Haahahaaha...." Shanum tertawa melihat ekspresi Liani. Dia memilih beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap shalat dzuhur. Membiarkan Liani yang asik berswafoto di gawainya dan mengirimkannya ke Ibu.
Liani asik berkirim pesan dengan Ibu menggunakan gawai Shanum.
Tiba-tiba .....
Ting....
Ada pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar sebagai kontak Shanum. Liani pun tak sengaja membuka pesan itu.
"Num......ini ada pesan masuk dari nomor baru, sorry aku gak sengaja buka tapi aku belum sempat baca ko....", teriak Liani.
Shanum yang baru saja keluar dari toilet segera berlari ke ruang tamu dia curiga itu dari seseorang.
Shanum buru-buru merebut gawainya dari tangan Liani, Liani pun sampai terkaget.
__ADS_1
"Maaf-maaf...kaget ya?!..hhe" Shanum hanya nyengir melihat Liani yang melebarkan matanya karena kaget.
Dia pun segera menjauh dari Liani diiringi tatapan penuh curiga dari sahabatnya itu.