Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 16: Akhirnya Kumenemukanmu (1)


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Akhtar bersama Fauzan masih berputar-butar di sekitar alun-alun dan pengkolan. Menanyai setiap orang yang masih membuka mata dan beraktivitas mengais rezekinya, berharap mereka pernah melihat Shanum di daerah itu. Setelah sebelumnya memasuki setiap toko yang masih buka dan menanyakan barang kali istrinya itu pernah datang ke toko itu. Tidak lupa penjual aneka jajanan di area jalan ceplak yang beroperasi sejak sore hingga sepanjang malam pun tak luput dari introgasinya.


Ghifar dan Liani yang langsung datang dari Bandung setelah mendapat informasi dari Akhtar jika Shanum menghilang pun tak kalah panik, mereka menyisir jalan Garut kota-Bayongbong dengan memelankan laju mobilnya, berhenti setiap terlihat ada orang yang beraktivitas dan bertanya dengan menunjukkan foto Shanum. Berharap mereka pernah melihatnya seharian tadi.


Angkutan kota yang masih beroperasi pun dihentikan dihentikan Fauzan, menunjukkan foto Shanum barangkali pernah menaiki angkutan kota yang mereka kemudikan.


Sementara Ahsan yang mendapat kabar dari Ghifar malam itu juga meluncur ke Garut bersama Pak Furqan yang saat itu juga sedang bersamanya. Pak Furqan membawa dua orang kepercayaannya untuk membantu pencarian Shanum.


"Wa'alaikumsalam, dimana Bro?" Ahsan menghubungi Akhtar saat mereka masih dalam perjalanan. Menjawab salam dan langsung menanyakan keberadaan Akhtar setelah panggilannya terhubung dan mendapat jawaban dari seberang telepon dengan sapaan salam dengan suara lesu dan terdengar putus asa.


"Akhtar di depan masjid agung Garut, Ayah" Ahsan pun menaikan kecepatan kendaraannya, diikuti mobil pajero hitam milik Pak Furqan yang dikendarai dua orang kepercayaannya.


Mereka akhirnya bertemu, Akhtar tampak sangat kacau.


"Bro, belum ada kabar?" tanya Ahsan saat turun dari mobil yang diparkir tepat di samping mobil Akhtar yang bersender di pintu mobil dengan tatapan fokus pada layar gawainya, berharap Shanum segera meneleponnya.


Akhtar menjawab pertanyaan Ahsan dengan gelengan kepala lesu, beralih dari gawainya dan menerima pelukan sang ayah yang berjalan di depan Ahsan.


"Tenanglah, kita pasti akan segera menemukan istrimu" bisik Pak Furqan di telinga Akhtar saat mereka berpelukan,


Akhtar kembali mengangguk lemah, air mata yang sejak tadi ditahannya tak mampu dia bendung lagi. Bahunya terguncang, dia menyembunyikan tangisnya di balik pelukan sang ayah. Pak Furqan membiarkan Akhtar meluapkan emosinya, dia tahu sebesar apa cinta anaknya untuk Shanum. Pak Furqan mengusap-usap punggung Akhtar memberikan ketenangan pada putra satu-satunya itu.


"Assalamu'alaikum" Akhtar dan Pak Furqan mengurai pelukan mereka ketika seseorang datang dengan mengucapkan salam,


"Wa'alaikumsalam" serempak semua menjawab dan menoleh ke sumber suara, kecuali Akhtar yang masih tertunduk berusaha menghilangkan jejak-jejak air mata di pipinya.


"Bro, gue turut prihatin. Belum ada kabar juga?" Tama, laki-laki yang baru datang itu adalah Tama. Dia sedang berada di Garut, Tama pulang satu hari sebelum Akhtar dari Malaysia langsung menuju ke Garut karena ada acara yayasan yang harus dihadirinya. Awalnya mengirim pesan pada Akhtar menanyakan perihal kepulangannya, Akhtar pun menjelaskan keberadaan dirinya yang saat ini sedang mencari istrinya. Tama kaget dan turut khawatir mendengar perihal menghilangnya Shanum, apalagi dia tahu jika gadis yang dulu pernah ditaksirnya itu tengah hamil besar.


"Sudah lapor polisi?" tanyanya pada Akhtar,


"Polisi gak bisa bertindak, hilangnya istriku baru dalam hitungan jam. Jadi laporan belum bisa diterima" jawab Akhtar dengan suara yang sedikit parau.


"Gimana kronologinya? lo punya bayangan biasanya tempat yang sering dikunjunginya? mungkin dia sedang berada di tempat itu" Tama kembali bertanya, mencoba menganalisis kejadian,


Akhtar pun menceritakan kejadian perginya Shanum berdasarkan informasi yang didengarnya dari Indri, sepupu Shanum.


"Lu punya musuh? saingan bisnis mungkin?" tanya Tama menghentakkan pikiran semua orang yang berada di sana, Pak Furqan sampai menghentikan aktivitasnya yang sedang menghubungi kenalannya di pihak kepolisian. Dia teringat dengan Sopia, mungkinkan dia dalang di balik hilangnya Shanum, pikir Pak Furqan.


"Maksud lu?" Akhtar mendongak,


"Ya, barangkali aja ada saingan bisnis lu yang iri karena perkembangan usaha lu yang pesat, tidak aneh kan di dunia bisnis jika ada sebagian orang yang menghalalkan segala cara" jelas Tama,


"Bro" sela Ahsan yang sejak tadi hanya menyimak, menatap ke arah Akhtar. Pandangan semua orang tertuju padanya.


"Raina" Ahsan yang tiba-tiba teringat kembali kejadian penculikan Shanum beberapa tahun silam pun refleks menyebut nama Raina.


Akhtar dan semua orang yang berada di sana pun serempak menatap ke arah Ahsan. Di saat yang bersamaan, sebuah mobilio putih yang dikendarai Ghifar bersama Liani pun berhenti.


Liani keluar lebih dulu, diiringi Ghifar di belakangnya. Pandangan Ahsan bahkan beralih ke arah Liani yang datang bersama Ghifar. Heran, melihat gadis itu berada di sini dan bersama Ghifar.


"Sorry Boss, pencarian kita nihil. Tak ada satu pun orang yang kita tanyai di sepanjang jalan itu pernah melihat Teh Shanum" Ghifar memberi laporan, berdiri di hadapan Akhtar sesaat setelah menyalami semua orang yang berada di sana. Sementara Liani hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mengangguk ke arah Pak Furqan dan Akhtar. Begitu pun pada Ahsan, Liani melakukan hal yang sama namun dia menghindari beradu kontak mata dengan laki-laki itu. Liani mampu menguasai diri, menjaga jarak dari laki-laki yang sudah menjungkir balikkan perasaannya beberapa bulan ini.


Ahsan merasakan jika ada sesuatu yang berbeda dari Liani, sudah beberapa bulan ini mereka memang jarang bertemu bahkan berkirim pesan pun jarang. Kesibukan Ahsan karena urusan yayasan dan perusahaan benar-benar menyita seluruh perhatian dan waktunya, sehingga tak ada waktu atau kesempatan walau pun hanya untuk sekedar menanyakan kabar melalui aplikasi whatsapp.


Beberapa bulan ini Ahsan memang sangat sibuk, dia punya target yang harus dicapainya dalam hitungan bulan. Kepercayaan yang diberikan Pak Furqan padanya sungguh tidak ingin dia sia-siakan, dengan segala potensi dan semangat yang dimilikinya Ahsan benar-benar bertekad untuk membuat yayasan dan perusahaan itu lebih maju. Namun sayang rencananya itu hanya dirinya yang tahu, dia bahkan tidak menyadari beberapa hal yang biasa Liani tampilkan untuk Ahsan kini sudah benar-benar menghilang.

__ADS_1


Ahsan menatap tajam pada Liani, semua orang masih berdiskusi mengenai strategi yang akan ditempuh dalam pencarian Shanum selanjutnya. Semua orang menyampaikan setiap spekulasi yang ada dipikiran mereka.


Banyak kemungkinan yang bisa menjadi penyebab hilangnya Shanum, Liani pun turut bersuara menyampaikan semua data yang berhasil dikumpulkannya dari berbagai kejadian. Komunikasi terakhir mereka saat Akhtar masih berada di Malaysia. Topik yang dibicarakan antara Liani dan Shanum salah satunya adalah tentang adanya nomor baru yang masuk ke nomor Shanum meninggalkan jejak panggilan tak terjawab.


Shanum memang mengabaikan nomor itu, tidak menghubunginya kembali dan benar-benar mengabaikannya. Namun Liani pikir bisa saja itu adalah nomor milik seseorang yang terlibat dalam penculikan Shanum saat ini.


Semua orang pun tampak berargumen, memberikan ide dan masukan agar langkah yang ditempuh tidak menyalahi. Namun tidak dengan Ahsan, pikirannya terpecah. Perubahan sikap gadis yang kini ada dihadapannya pun berhasil mengalihkan fokusnya. Dia lebih tertarik mengamati setiap gerak gerik Liani, menelaah sebenarnya apa yang berubah dari diri gadis itu.


"Gimana menurut lu, Bro?" pertanyaan Akhtar berhasil membuat Ahsan gelagapan,


"Hah?" Ahsan tampak bingung harus menjawab apa, pasalnya dirinya sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan karena perhatiannya hanya terfokus pada Liani.


"Ckk.." Akhtar pun berdecak melihat respon sahabat sekaligus sepupunya itu, Akhtar tahu jika sejak tadi Ahsan hanya memandangi Liani. Hatinya pun bergumam "dasar labil", ucapnya dalam hati.


Ahsan masih tak bisa menguasai dirinya, pikirannya kini dipenuhi tentang perubahan sikap Liani padanya, heran kenapa tidak sehangat dulu. Bahkan sampai mereka akan kembali ke rumah pun Liani masih tetao dengan mode jaimnya pada Ahsan. Menciptakan jarak yang nyata dengan laki-laki itu, dan Ahsan merasakannya.


Menjelang tengah malam, geliat kehidupan bahkan sudah tak nampak di sepanjang jalanan. Setelah membujuk Akhtar yang masih ingin terus mencari Shanum, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Pak Imran sambil menunggu informasi orang suruhan Pak Furqan untuk tetap mencari keberadaan menantunya itu.


Lelah, resah, khawatir dan sedih menghiasi wajah Akhtar, dia berjalan gontai mengitari mobil untuk duduk di samping kemudi karena mobil.akan dibawa oleh Fauzan, adik iparnya.


Derrrt......getaran gawai yang berada di genggamannya menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu mobil. Matanya membulat mendapati nama my lovely wife menghiasi layar gawainya,


"Hallo, sayang. Kamu dimana?" bahkan lupa untuk menjawab sapaan salam dari ujung telepon, dengan wajah panim Akhtar to the point menanyakan keberadaan Shanum yang disinyalir sebagai orang yang meneleponnya.


Semua orang akan memasuki mobil mereka masing-masing, namun terhenti dengan teriakan Akhtar yang cukup memekik di telinga karena suasana sepi di tengah malam saat menerima panggilan telepon. Mereka pun mengurungkan niatnya untuk masuk mobil, Pak Furqan yang sudah duduk manis di mobilnya kembali membuka pintu dan keluar menghampiri putranya.


As..Assalamu'alaikum" suara seorang perempuan mengucap salam di sebrang telepon, namun kening Akhtar mengerut merasa jika itu bukan suara istrinya.


"Kakak, ini aku Yasmin. Kak Shanum sekarang sedang bersamaku. Kami di rumah sakit di daerah Wanaraja, sepertinya kak Shanum mau melahirkan" si penelepon meneruskan bicaranya, dia menjelaskan siapa dirinya saat tidak terdengar suara dari ujung telepon seolah mengerti jika Akhtar tengah menganalisis suaranya.


Yasmin bahkan berbicara dengan cepat, panik dan takut bercampur menjadi satu membuat suaranya bergetar. Dia tidak peduli dengan kemarahan Akhtar karena perbuatannya, yang penting saat ini kakak ipar dan bayinya itu selamat.


"Maafkan aku kakak, aku bisa menjelaskannya. Sekarang Kak Shanum sedang sangat membutuhkan kakak, sebaiknya kakak cepat datang dan bawa semua perlengkapan melahirkannya. Aku akan share lokasinya" dengan cepat Yasmin menyela bicara Akhtar, dia lebih mengkhawatirkan keadaan Shanum saat ini. Perihal Akhtar yang akan marah atau bahkan membencinya setelah ini dia hanya akan pasrah karena menyadari itu kesalahannya.


"Cepat!" teriak Akhtar di ujung telepon tanpa bertanya lebih lanjut kronologis keberadaan istrinya bersama Yasmin di rumah sakit itu, membuat Yasmin memutuskan panggilannya dan segera mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini.


"Shanum ada di rumah sakit, aku ke sana sekarang" ucap Akhtar cepat setelah sambungan telepon terputus, dia berjalan mengitari mobil hendak masuk dan duduk di belakang kemudi dengan wajah tegangnya.


"Bro" Ghifar, Ahsan dan Tama serempak memanggilnya, hendak mengingatkan agar dirinya tidak membawa mobil melihat kondisinya yang kacau mengkhawatirkan.


"Aa, sebaiknya Aa masuk dan duduk dengan tenang, biar aku yang bawa mobil" melihat Akhtar, Fauzan segera mengambil inisiatif. Dia memegangi lengan kakak iparnya itu yang hendak melangkah dan kembali menuntunnya ke arah sebelumnya.


"Tenanglah, Nak" Pak Furqan turut menimpali.


Ting...notifikasi pesan masuk kembali menghentikan langkah Akhtar, lokasi rumah sakit tempat Shanum berada pun sudah dikantonginya.


"Ini" Akhtar menyodorkan gawainya, memperlihatkan layar yang terdapat lokasi rumah sakit tempat Shanum berada.


"Aku tahu rumah sakit itu A, di Wanaraja" Fauzan menjadi orang pertama yang merespon, dia tahu letak rumah sakit itu dengan baik, temannya bahkan ada yang bekerja di sana.


Berada di Garut sudah hampir satu tahun, membuat Fauzan bertambah teman dan saudara, dia adalah orang yang supel, mudah bergaul dan asik di ajak bicara. Tak heran jika keberadaanya yang belum lama di Garut, membuatnya sudah memiliki banyak teman dan kenalan.


"Ayah juga tahu tempat itu" timpal Pak Furqan kemudian setelah melihat dengan jelas lokasi yang dikirim Yasmin. Akhtar pun berlalu dan segera memasuki mobilnya, duduk di samping kemudi. Di sampingnya Fauzan sudah siap menyalakan mobil.


"Ghifar" Akhtar kembali membuka mobilnya dan turun,

__ADS_1


"Ya Boss" Ghifar yang sudah membuka pintu mobil pun kembali menutupnya dan segera menghampiri Akhtar.


"Lu sebaiknya ke mebel, tolong bawakan semua perlengkapan melahirkan. Gue gak tahu apa aja itu, seingat gue Shanum sudah menyiapkan semuanya di kamar kami" Akhtar pun merogoh dompetnya, mengeluarkan sebuah kunci berbentuk kartu yang selalu dia pegang sebagai cadangan dan menyerahkannya pada Ghifar. Hingga saat ini Akhtar dan Shanum masih tinggal di lantai dua mebel atas keinginan Shanum.


"Oya" ucapan Akhtar kembali menghentikan Ghifar yang sudah berbalik.


"Ya boss?" tanyanya memastikan apa yang diinginkan Akhtar.


"Lo bisa pergi dengan Liani, mungkin dia lebih tahu apa yang dibutuhkan ketika akan melahirkan dan juga perlengkapan bayinya. Liani, bisa membantu kan?" beralih ke arah Liani,


"Iya, Pak. Insya Allah bisa" jawab Liani dengan anggukan kepala.


Mereka berdua pun berlalu, memasuki mobil yang dikendarai Ghifar, begitu pun Akhtar menaiki mobil yang dikemudikan Fauzan. Sementara Pak Furqan dan Ahsan sudah sejak tadi berada dalam mobil dan menunggu.


Ahsan memerhatikan semua gerak-gerik Liani, hingga gadis itu memasuki mobil dan duduk di samping kemudi bersama Ghifar, berlalu berlawanan arah dengan mobil Akhtar dan Ahsan. Terlihat jelas olehnya Liani tersenyum terlihat bahagia setelah mengobrol bersama Ghifar sebelum memasuki mobil. Entah apa yang diobrolkan kedua orang itu.


Pandangan Ahsan masih tak lepas dari mobil yang dikemudikan Ghifar, dia masih melihatnya dari spion mobil yang berada di samping kemudi hingga tak tampak lagi karena mobil yang mereka tumpangi masing-masing semakin saling menjauh.


Kurang dari tiga puluh menit dua mobil yang dinaiki Akhtar dan Pak Furqan sudah terparkir di pelataran parkir rumah sakit.


Akhtar segera keluar dari mobil, dia berlari ke arah UGD diikuti Fauzan dan Pak Furqan juga Ahsan. Mengedarkan pandangan mencari sosok yang dia kenali namun tak menemukannya.


Akhtar kemudian berjalan cepat menuju meja informasi yang berada di ruangan itu. Bertanya tentang pasien yang akan melahirkan atas nama Shanum. Dia pun berlari ke arah yang ditunjukan oleh petugas rumah sakit, diikuti Fauzan, Pak Furqan dan Ahsan.


Lorong rumah sakit menjadi saksi betapa calon ayah itu terlihat sangat khawatir, baru kali ini semua orang yang dekat dengan Akhtar melihat wajah tegang dan penuh kekhawatiran.


Selama ini Akhtar adalah orang yang paling pandai mengelola emosi, wajahnya selalu tampak tenang seberat apapun masalah yang sedang dihadapinya. Merenung mencari solusi untuk setiap masalah yang dihadapinya hingga menghasilkan keputusan yang tepat. Tapi tidak untuk kali ini, semuanya sirna yang ada tinggallah wajah tegang dan cemas. Dia bahkan tidak dapat berpikir dengan jernih.


Akhtar berjalan ke arah empat orang gadis yang terlihat juga sangat cemas, Akhtar mengenali salah satu dari mereka. Yasmin, adik sambungnya


"Aa" Yasmin berseru saat melihat Akhtar semakin mendekat ke arahnya. Wajahnya semakin terlihat pias melihat Akhtar yang bergeming dengan wajah datarnya.


"Dimana istriku?" tanya Akhtar dingin, menatap tajam adik sambungnya itu. Akhtar yakin jika telah terjadi sesuatu pada istrinya karena mereka,


"Te..teh...Shanum di dalam, dokter masih memeriksanya" Yasmin terbata menjawab pertanyaan Akhtar. Tubuhnya bahkan bergetar, hatinya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya dirinya mendapati sang kakak menunjukkan kemarahannya.


"Ghifar..." Akhtar memanggil sahabat sekaligus asistennya,


"Ya Boss" Ghifar menyahut dan mendekat ke arah Akhtar,


"Urus mereka!" titah Akhtar tegas, semakin membuat ciut nyali siapapun yang mendengarnya, terutama Yasmin dan teman-temannya.


"Mbak Yasmin dan teman-temannya silahkan ikut saya" Ghifar mengerti maksud bosnya, dia pun menggiring keempat gadis itu keluar dari ruang tunggu.


"Ayah" mata Yasmin berkaca-kaca saat mereka berpapasan dengan Pak Furqan,


"Yasmin?" Pak Furqan kaget melihat keberadaan Yasmin di rumah sakit,


"Kenapa ada di sini?" tanyanya,


"Ayah, aku....." Yasmin tak bisa menjawab, rasa takut semakin menjalar ke seluruh tubuhnya saat melihat laki-laki yang dianggap ayah terbaik itu kini berada di hadapannya.


"Silahkan Mbak Yasmin, ikut saya" Ghifar kembali mengintruksi, meminta izin kepada Pak Furqan dengan sorot matanya.


Pak Furqan pun tampak mengangguk kecil, dia memegang bahu Yasmin dan menganggukan kepalanya agar mau mengikuti Ghifar.

__ADS_1


"Ayah, maafkan aku...hiks...." Yasmin berhambur ke pelukan Pak Furqan dengan tangis yang tak tertahankan lagi.


"Ikutlah dengan Ghifar, selesaikan semuanya dengan baik, kamu sudah dewasa sekarang" Pak Furqan mengurai pelukannya dan mengusap kepala Yasmin penuh sayang.


__ADS_2