Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Pertemuan (2)


__ADS_3

Foto bersama menjadi akhir inti acara penting itu. Terhitung malam ini Akhtar resmi menjadi ketua yayasan Bina Insani Kamil milik keluarganya.


Didampingi Ayah dan Ibu sambungnya, adik serta seorang wanita yang digadang-gadang menjadi calon istrinya, mereka berjejer untuk melakukan foto keluarga dan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


Akhtar terlihat tidak nyaman saat Raina berpindah posisi ke sampingnya. Ia tampak menunjukkan wajah kurang bersahabat.


Entahlah hatinya belum bisa menerima kenyataan ini. Seseorang yang selalu ada dalam hatinya semakin sulit ia lupakan.


Ia turun lebih dulu dari atas panggung, diiringi Raina dan keluarganya.


Berjalan menuju toilet untuk sedikit menyegarkan wajah mengabaikan seseorang yang hendak menyapa di belakangnya.


Selama di atas panggung tadi Akhtar tidak sedikit pun melirik Raina, bahkan saat gadis itu mendekatinya hanya mendapat sambutan dingin, Akhtar sedikit mengambil jarak saat berfoto.


Membasuh muka dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya Akhtar lakukan, berharap dengan melakukannya sesuatu yang terasa sesak di dadanya terlepas.


Merogoh saku jas, Akhtar mengambil gawai yang sejak tadi ia silent. Mencari nama seseorang dan segera menghubunginya.


“Wa’alaikumsalam”, ucapnya menjawab salam orang di seberang telepon.


“Dimana?”, Akhtar menanyakan keberadaan orang yang ia hubungi.


“….”


“Aku butuh kamu, aku tunggu di taman samping aula”, ucapnya lagi.


“…”


“Wa’alaikumsalam”, pungkasnya mengakhiri panggilan.


Akhtar menyugar rambutnya, ditatap bayangan dirinya dalam cermin yang berada di toilet itu.


Alunan musik mulai terdengar mengisi setiap sudut gedung. Pertanda acara hiburan sudah dimulai.


Akhtar beranjak dari posisinya, berjalan menuju taman yang berada di samping aula.


Sebuah lagu yang dinyanyikan band yang didaulat untuk mengisi acara hiburan malam ini sayup-sayup terdengar oleh Akhtar,


Hm hm…


Andai aku bisa memutar waktu


Aku tak ingin mengenalmu


Mengapa ada pertemuan itu


Yang membuat aku mencintaimu


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja


Terus mengingatmu


Memikirkanmu


Semua tentang dirimu


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja


Tak seperti kamu


Yang mampu tanpaku


Bagaimana


Mungkin kini kau bersama yang lain


Walau hatimu untukku


Adakah kesempatan untuk cintaku


Bahagia walau kita berbeda


Uh oh uh oh uh oh


Hu uh oh uh oh


Mungkin kamu bukan untukku


Tapi kau selalu di hatiku


Oh uh oh


Bagaimana


Oh oh


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja

__ADS_1


Terus mengingatmu


Memikirkanmu


Semua tentang dirimu


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja


Tak seperti kamu


Yang mampu tanpaku


Tak seperti kamu


Bagaimana


(Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-Baik Saja (Judika)


Hatinya berdesir… setiap lirik lagu itu seakan mewakili perasaannya saat ini. Akhtar mendongakkan kepalanya, menahan sesuatu yang hendak jatuh dari sudut matanya.


“Istighfar!”, seru seseorang mengusik kesendiriannya.


“Bro..”, balas Akhtar.


“Kendalikan dirimu, Brother. Perlahan keadaan akan menjadi obat, dan kita dituntut untuk sembuh dengan sendirinya.” Ahsan datang duduk di samping Akhtar, dia memahami keadaan yang dihadapi sepupunya itu saat ini.


“Apabila apa yang di depan membuatmu takut dan di belakang membuatmu luka, lihatlah ke atas Allah tidak pernah gagal menolong kita”, Ahsan kembali menasehati sepupunya.


“Sesingkat apapun kisahnya, melupakan bukanlah hal yang mudah”, sahut Akhtar.


Ahsan merangkul bahu sepupunya erat, berusaha memberi dukungan. Meyakinkan bahwa dirinya akan ada untuk sepupunya itu.


“Puncak dari kenikmatan hidup adalah ikhlas dengan ketetapan Allah. Puncak dari kegalauan hidup adalah tidak menerima ketetapan Allah. Hidup itu pilihan, Bro.” mengakhiri nasehatnya.


“Lebih baik sekarang kita ke dalam, Ayah pasti menunggumu.” Ajak Ahsan.


Akhtar mengangguk, ia menarik nafas dalam berupaya berstabilkan kembali perasaannya.


Mereka beranjak meninggalkan kursi taman itu kembali ke aula.


Sesampainya di aula Akhtar lagi-lagi menunjukkan wajah dinginnya, ia tak peduli walau menjadi pusat perhatian.


Akhtar hanya menganggukkan kepala dengan sedikit senyum saat para tamu menyapanya. Memilih duduk di meja terpisah dengan keluarganya, ia masih kurang nyaman harus dekat dengan Raina.


Raina mendekat, ia menyapa Akhtar yang sedang asik mengobrol dengan sahabat-sahabatnya sambil menikmati makan malamnya.


“Mas Akhtar….” Seru Raina. Akhtar menoleh, dia menghentikan aktivitas makannya.


“Bisa kita bicara?” tanya Raina.


“Aku sedang makan, bisakah kau menunggu?” jawab Akhtar.


“Oh iya, maaf…..aku akan menunggu”, Raina kembali ke tempat duduknya bersama keluarga Akhtar.


Melihat hal itu Ayah Akhtar hanya menarik nafasnya panjang. Sebenarnya beliau pun tidak ingin memaksakan kehendaknya terhadap Akhtar. Ia tahu bagaimana rasanya ada di posisi Akhtar. Hal yang sama pernah ia alami beberapa tahun silam.


Kejadian yang dilihatnya mengingatkannya kepada seseorang yang sangat ia cintai namun akhirnya ia tinggalkan, dan memilih pernikahan keduanya.


Melihat Akhtar sudah selesai, Raina kembali menemui Akhtar. Karena merasa tidak enak, Akhtar akhirnya berdiri dan mengajak Raina menjauh dari meja itu mencari tempat yang lebih tenang.


“Ada apa?”, tanya Akhtar datar.


“Aku hanya ingin menyapa calon suamiku, tidak salahkan?” jawab raina dengan nada sedikit manja.


Akhtar merinding mendengarnya, sungguh merasa aneh mendengar panggilan Raina yang disematkan padanya, calon suamiku.


“Aku rasa kita belum sejauh itu, masih ada banyak waktu untuk saling berproses”, tukas Akhtar.


“Aku mengerti, makanya aku ingin mengajak Mas berbicara agar kita bisa lebih dekat dan saling mengenal” Raina masih berusaha mendekati Akhtar.


“Baiklah, aku rasa perkenalan kita malam ini cukup. Aku mau kembali, teman-temanku sedang menunggu. Assalamu’alakum”, Akhtar berlalu setelah mengucap salam.


Melihat Raina masih bergeming di tempatnya, Akhtar kembali menengok ke belakang.


“Aku duluan” ucapnya, berlalu meninggalkan Raina yang berwajah muram menahan kesal.


“Aku tidak akan menyerah, Mas Akhtar. Menjadi pendampingmu adalah visi hidupku, kini kesempatan itu semakin lebar. Keluarga kitapun sudah sangat mendukung. Tidak ada alasan untukmu menolakku lagi.” Raina berbicara sendiri setelah kepergian Akhtar.


Raina adalah adik tingkat Akhtar saat kuliah di Yogya, dia adalah anak dari sahabat Ibu sambungnya. Dulu dia sempat menyatakan cintanya pada Akhtar melalui surat yang ia kirim. Tapi Akhtar bahkan mengabaikan surat itu tanpa pernah membacanya.


Akhtar kembali ke mejanya, mendapati sepupunya sudah berada di atas pentas. Dia tersenyum ke arah Ahsan yang melambaikan tangan ke arahnya dan memintanya untuk bergabung.


Akhtar hanya menggelengkan kepalanya, kembali duduk bersama sahabat-sahabatnya yang lain. Turut menikmati lagu yang Ahsan nyanyikan.


“Alhamdulillah, Bro ...akhirnya salah satu dari kita otewe sold out”, Rahman yang merupakan salah satu sahabat Akhtar memulai obrolan.


“Kita turut berbahagia, semoga kita juga sebentar lagi nyusul”, Yusuf turut menimpali.

__ADS_1


Akhtar hanya tersenyum kecut menanggapi obrolan teman-temannya.


Melihat ke arah panggung, Akhtar mengacungkan jempolnya saat Ahsan mengakhiri pentasnya dan lagi-lagi dia mendengar Ahsan membuat baper para penonton perempuan dengan kata-katanya sebelum turun panggung.


Setelah berhigh five dan memuji Ahsan, Akhtar pamit ke toilet.


Dia berjalan ke samping aula. Di saat bersamaan, dia melihat seorang perempuan dengan jilbab mocca menunjukkan kalau dia adalah panitia acara ini berjalan ke arah yang sama, jarak mereka cukup jauh tapi Akhtar dapat melihatnya karena dia berjalan seorang diri.


Akhtar tidak mempedulikannya, dia berjalan lurus ke tempat tujuannya. Hingga terdengar seseorang memanggil nama yang tak asing baginya.


deg....


Sontak dia berhenti, jantungnya berdegup, menoleh ke sumber suara. Memperhatikan orang yang berlari menuju perempuan yang ia lihat tadi.


Interaksi kedua perempuan itu tak luput dari perhatiannya. Ia penasaran dengan gadis yang dipanggil Shanum itu. Ia mengikuti mereka berdua dan …


“Assalamu’alaikum,” ucapnya.


“Wa’alaikumsalam”, Jawab Shanum dan Liani kompak.


Mereka menengok ke sumber suara, tampak seorang pria nan gagah dan tampan tengah berdiri di hadapan mereka.


Liani bahkan membulatkan matanya dengan mulut terbuka, karena tahu siapa orang yang di ada di hadapan mereka.


Akhtar tak melepas pandangannya dari gadis yang ia yakini bernama Shanum, ditelitinya setiap lekuk wajah gadis dihadapannya itu dengan seksama. Ia semakin yakin bahwa ia tak salah orang.


Gadis yang berada di hadapannya adalah orang yang selama ini dia rindukan, gadis yang masih menempati tempat teristimewa di hatinya. Walaupun dia tahu kini semua rasa yang ia miliki adalah kesalahan, kesalahan indah dalam hidupnya. Mencintai orang yang telah menjadi milik orang lain.


“Boleh saya bergabung?”, Akhtar memecah keheningan.


“Pa…Pa…Pak Akhtar!”, ucap Liani terbata, saking kagetnya didatangi orang sepenting Akhtar. Sementara Shanum masih membisu.


“Iya, perkenalkan saya Akhtar.” Akhtar menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Liani menyambutnya dengan melakukan hal yang sama, dia menyikut Shanum karena masih tak bereaksi. Shanum melirik Liani kemudian melakukan hal sama.


“Apa kabar?”, Akhtar menatap Shanum lebih dalam, melontarkan pertanyaan khusus untuknya.


Orang yang ditanya membisu, bingung harus menjawab atau tidak. Shanum beralih memandang Liani, yang ditatap sama bingungnya dengan keadaan saat ini.


Akhtar tak membiarkan keadaan ini berlarut. Dia beralih menatap Liani.


“Ibu, bisa tinggalkan kami berdua?”, pinta Akhtar pada Liani.


Liani hanya bisa mengangguk patuh, ia melangkah menjauhi Shanum dan Akhtar tanpa kata.


“Apa kabar?”, Akhtar mengulangi pertanyaannya.


Shanum menghembuskan napasnya kasar.


“Baik” , jawab Shanum singkat. Dia menunduk menyembunyikan wajahnya karena Akhtar terus menatapnya. Shanum membalikkan badan membelakangi Akhtar.


“Aku tak menyangka takdir mempertemukan kita kembali dengan cara seperti ini, ternyata kamu begitu dekat.” Akhtar kembali berbicara sambil melangkah mensejajarkan dirinya dengan Shanum.


“Maaf, aku terlambat.” Ucapnya lagi.


“Untuk apa?”, tanya Shanum tanpa menoleh.


“Untuk waktu yang membuatmu lelah menunggu, hingga akhirnya memilih menyerah.” Jawab Akhtar.


“Kukira kau cukup tangguh untuk itu, mampu seperti ikan yang menjaga terumbu karangnya dan seekor lebah yang menjaga sarangnya. Tapi aku sadar, kadang memang kita harus menerima dengan lapang dada bahwa bagi sebagian orang memang kita tidak penting untuk mereka.” Lanjut Akhtar penuh penekanan sekaligus penyesalan.


Shanum menautkan alisnya, sekilas melihat ekspresi Akhtar saat mengatakan kalimat itu. Ia belum dapat menangkap maksud ucapan Akhtar. Segera ia kembali palingkan wajahnya menatap lurus ke depan.


“Ekspektasiku terlalu tinggi, saat mengharapkan bahagia dari manusia maka sisakan satu ruang untuk menyimpan kecewa adalah benar adanya, karena ternyata hilangku tak dicari, hadirku pun tak dinanti dan kembaliku pun tak diharapkan. Ternyata mencintai sendirian rasanya semenyakitkan ini.” Akhtar masih terus berbicara tanpa memberi jeda.


Shanum masih membisu, ia meresapi setiap kata yang terucap dari lisan Akhtar. Hatinya bergemuruh, setiap kata-kata yang ia dengar seakan memojokkannya. Shanum menarik napasnya panjang sebelum akhirnya berbicara.


“Jangan kembali dengan alasan menanyakan kabar. Satu yang pasti, aku akan tetap baik-baik saja meski pernah kau tinggalkan tanpa kabar. Semoga kau tidak pura-pura lupa perihal rasa yang aku berikan sepenuhnya, namun hanya kau balas seperlunya.” Telak Shanum.


Akhtar terdiam, kata-kata Shanum begitu menohok ia tak tahu harus menjawab apa.


“Menunggu itu ada seninya. Menunggu memerlukan kesabaran, menunggu memerlukan kepiawaian mengelola waktu dan menunggu memerlukan keberanian untuk menolak sesiapa yang datang…. dan aku cukup terampil untuk itu. Hingga apa yang aku lihat hari ini adalah kenyataan yang membangunkanku dari mimpi yang melenakan. Aku lega, setidaknya pernah berjuang dengan penuh kesabaran. Lalu dipukul mundur dengan penuh kesadaran” tutur Shanum tak kalah tegas.


Akhtar masih membisu dia masih setia menyimak penuturan Shanum, semua yang Shanum katakan seolah menyerangnya balik.


“Sudahlah.... semuanya sudah menjadi masa lalu. Terima kasih karena pernah singgah dengan meninggalkan pelajaran. Bahwa tujuan dalam kehidupan harusnya diperjuangkan dengan cara terlatih. Bukan hanya dibiarkan, lalu ditenggelamkan.”


"Darimu aku belajar, perihnya menunggu dan sakitnya bersabar."


“Aku tak mau lagi berandai-andai, karena sudah lelah dengan ekspektasiku. Aku hanya berusaha, biar Allah yang mengatur jalanku.” Pungkasnya.


Shanum beralih menghadap Akhtar dengan tenang dan tegar ia berkata,


“Selamat atas pertunangannya dan selamat atas jabatan barunya, Bapak Akhtar Farzan Wijaya. Saya turut berbahagia”, ucap Shanum tulus.


“Maaf, acara akan segera berakhir saya pamit ke dalam. Assalamu’alaikum” Shanum berlalu meninggalkan Akhtar yang masih tak bergeming di posisinya.

__ADS_1


Akhtar diselimuti rasa penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi selama ini. Hatinya gusar, menatap kepergian Shanum yang kian menjauh.


Ia terpaku, bahkan mengabaikan gawai yang terus bergetar di saku bajunya...


__ADS_2