Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Move On (2)


__ADS_3

Semburat jingga telah nampak melukis langit senja itu. Dengan hati-hati Akhtar merapikan kembali peralatan melukisnya. Sampai saat ini dia masih enggan kembali dengan urusan perusahaan dan yayasan. Dia asik dengan dunia barunya yaitu melukis.


Berkali-kali Pak Furqan memintanya untuk kembali mengurus perusahaan dan yayasan tapi jawaban Akhtar tetap tidak. Puncaknya adalah kemarin, secara resmi dia melayangkan surat pengunduran dirinya sebagai ketua yayasan dan CEO dari Bina Insani Grup. Jelas hal ini membuat para investor heran dan ketar ketir. Pasalnya semenjak perusahaan dipimpin oleh Akhtar terjadi perkembangan yang sangat signifikan. Kemampuannya dalam manajemen bisnis dan diplomasi tidak diragukan lagi.


Meskipun usianya masih terbilang muda tapi dedikasi dan kharisma Akhtar mampu membuat investor percaya dan semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap perusahaan. Sedikitnya tiga cabang perusahaan yang sudah berdiri selama satu tahun kepemimpinan Akhtar. Selain itu ekspansi pun dilakukan olehnya, Bina Insani Grup yang selama ini hanya bergerak dalam bidang properti dan fasilitas kesehatan kini telah melebarkan sayapnya ke bidang perhotelan.


Berbagai inovasi pun Akhtar lakukan di yayasan, peningkatan sumber daya manusia menjadi sasarannya saat itu. Tujuan utama menjadikan pengembangan Sumber Daya Manusia sebagai inovasi pertama di masa kepemimpinannya adalah karena Akhtar meyakini bahwa pendidik yang berkualitas akan mampu menghasilkan peserta didik yang berkualitas pula.


Pengembangan Sumber Daya Manusia itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan kualitas para pendidik atau tenaga kependidikan yang ada di yayasan melalui program pendidikan dan pelatihan agar dapat menciptakan dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas serta mampu memajukan yayasan.


Yang menjadi fokus Akhtar dalam pengembangan sumber daya manusia ini adalah pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki setiap individu pendidik dan tenaga kependidikan harus mumpuni dan hasil pekerjaan setiap individu dan kelompok harus diperhatikan untuk mencapai potensi kerja secara maksimal.


Dalam melakukan pengembangan sumber daya manusia yang baik pastilah Akhtar sudah memiliki strategi yang tepat. Beberapa strategi pengembangan sumber daya manusia yang sudah Akhtar lakukan saat itu adalah dengan memberi kesempatan kepada semua pendidik dan tenaga kependidikan untuk menyalurkan ide dan gagasan yang mereka miliki. Akhtar percaya jika pendidik dan tenaga kependidikan yang ada adalah orang-orang terpilih yang sebelumnya telah melewati tahapan seleksi untuk bisa bergabung di sana.


Dan saatnya Akhtar memotivasi mereka untuk benar-benar berkontribusi dalam mengembangkan yayasan. Mau tidak mau setelah mereka bergabung dengan yayasan maka mereka berperan sebagai roda penggerak yayasan. Sehingga Akhtar pikir ide dan gagasan setiap pendidik dan tenaga kependidikan juga perlu didengarkan dan dipertimbangkan.


Selain itu Akhtar pun senantiasa memberikan apresiasi atas setiap pencapaian pendidik dan tenaga kependidikan sekecil apapun. Memberi penghargaan jelas memiliki tujuan untuk membuat pendidik dan tenaga kependidikan lainnya termotivasi untuk menjadi lebih baik.


Strategi lain yang Akhtar lakukan dalam pengembangan sumber daya manusia yang ada di yayasan itu adalah dengan mengadakan pelatihan diantaranya dengan mengadakan skill training, retraining atau pelatihan ulang, cross functional training, team training dan creativity training.


Dan semua inovasi itu terbukti dalam jangka waktu satu tahun kepemimpinan Akhtar menjadi ketua yayasan semakin banyak prestasi yang ditorehkan oleh peserta didik, pendidik maupun tenaga kependidikan yang membuat masyarakat dalam hal ini orang tua peserta didik semakin meningkatkan kepercayaannya untuk memercayakan. pendidikan putra-putrinya ke sekolah yang berada di bawah naungan yayasan yang Akhtar pimpin.


Pengunduran diri Akhtar sebagai ketua yayasan pun tak kalah menghebohkan seantero yayasan. Mereka berharap setelah Akhtar sembuh bisa kembali memimpin yayasan. Semua pihak sempat melayangkan protes akan keputusan Akhtar, namun Pak Furqan sebagai pimpinan tertinggi baik di yayasan maupun perusahaan tidak bisa berbuat banyak. Kali ini dia benar-benar tidak mau lagi memaksakan kehendak kepada putranya.


Beberapa peristiwa yang sudah beliau lewati telah memberinya banyak pelajaran. Pak Furqan menyadari betul setiap kesalahan yang dia lakukan di masa lalu telah membuatnya kehilangan banyak hal dan kali ini dia tidak ingin mengulang hal yang sama.


Tiga buah koper besar telah berbaris rapi di teras rumah itu. Keadaan Akhtar kini sudah lebih baik, dia dan Bu Fatimah tengah bersiap menunggu seseorang yang akan menjemput dan mengantarkan mereka ke kampung halaman Bu Fatimah, Garut. Awalnya Akhtar akan menyetir sendiri mobilnya, namun Bu Fatimah melarang dia masih khawatir dengan keadaan putranya


Tekad Akhtar sudah bulat untuk memulai hidup baru di kota kecil itu. Baginya Garut menjadi harapan baru untuk menjalani hidup yang lebih baik. Cukup selama ini sang ayah mengintervensi hidupnya, kini dia ingin benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri dan melangkah sesuai kata hatinya.


Pak Furqan tidak bisa berbuat banyak, setelah memohon pun Akhtar tidak merubah keputusannya. Bu Fatimah hanya menjadi pendengar saat ayah dan anak itu beradu argumen yang berakhir dengan keputusan sang putra yang tidak bisa diganggu gugat lagi.


Pagi ini Pak Furqan hanya bisa melihat dari kejauhan sang putra dan mantan istrinya tengah bersiap untuk pergi. Dengan berat hati Pak Furqan melepas kepergian orang-orang yang memiliki kedudukan istimewa di hatinya. Hatinya teriris saat melihat mereka akhirnya memasuki mobil dan melaju hingga tak terlihat lagi.


Keheningan tercipta sejak mobil melaju dan meninggalkan yayasan. Sesekali Ahsan melirik ke samping kirinya dimana Akhtar tepat berada di sampingnya. Dia tidak berani membuka percakapan karena takut merusak suasana hati sepupu sekaligus sahabatnya itu. Namun bukan Ahsan namanya jika tidak mampu mencairkan suasana.


"Bu, boleh memutar musik?" Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya Ahsan memberanikan diri memecah keheningan dengan bertanya pada Bu Fatimah yang saat ini duduk di kursi penumpang.

__ADS_1


Bu Fatimah pun menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Boleh, kamu hati-hati ya bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut" pesan Bu Fatimah pada Ahsan.


"Iya Bu, tenang saja" jawab Ahsan


"Bro, boleh?" dia pun bertanya pada Akhtar, satu tangannya menyentuh layar kecil yang ada di depannya mencari-cari musik yang pas untuk menemani perjalanan mereka. Akhtar pun mengangguk menyetujui permintaan Ahsan.


Bu Fatimah tampak lelap selama perjalanan. Ahsan melihat ke kursi penumpang yang diduduki Bu Fatimah melalui kaca spion yang ada di depannya, dia memastikan keadaan wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya pun baik-baik saja dan nyaman selama perjalanan. Melihat situasi kondusif, Ahsan pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan Akhtar.


"Bro, lo yakin mau tinggal di Garut selamanya?" Ahsan sedikit mengurangi kecepatan mobilnya saat berbicara dengan Akhtar.


"Heumm" Akhtar hanya menjawab dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya tetap lurus ke depan.


"Bukan untuk mendekati lagi Shanum kan?" tanya Akhtar hati-hati. Dia takut pertanyaannya membuat Akhtar tersinggung dan marah.


"Maksud lo?" Akhtar balik bertanya dengan menunjukkan ekspresi wajah herannya.


"Iya, kali aja lo masih penasaran" jawab Ahsan masih terdengar ambigu di telinga Akhtar.


"Bicara yang jelas, Bro. Apa maksud lo? Bukankah Shanum di Jakarta?" Akhtar merasa punya celah untuk mengorek informasi tentang Shanum, selama ini dia benar-benar memendam semua perasaannya sendiri.


"Enggak, ibu gak pernah bercerita apa-apa tentang Shanum. Memangnya ibu tahu?"


"Iya, Bro. Ibu yang menjadi perantara pertemuan gue dengan Shanum" Ahsan pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Shanum sejak di rest area saat dia berada di Jakarta dan pertemuan keduanya di Garut ketika dia membersamai Bu Fatimah mengambil pesanan cateringnya dari warung nasi Shanum.


"Sudah dua kali gue mencoba mau ngasih kabar tentang lo ke dia, tapi selalu saja ada halangan yang membuat gue gak jadi bercerita sama dia. Kemarin gue sempat berencana kalau akhir pekan ini mau mengajak Liani untuk menemui Shanum. Selama ini doi benar-benar menutup akses dengan siapapun bahkan Liani sahabatnya sendiri tidak tahu kabarnya semenjak dia menikah. Makanya pas gue bilang kalau gue bertemu Shanum dia antusias untuk segera menemuinya sebelum kembali kehilangan jejak katanya" Ahsan bercerita panjang lebar, sesekali dia menjedanya dengan mengalihkan channel musik yang tengah didengarkannya.


Akhtar mendengarkan dengan seksama semua cerita Ahsan, dia masih mencerna informasi yang diterimanya saat ini. Belum ada tanda-tanda jika dia akan menanggapi.


"Gue kira ibu bilang ke lo kalau beliau sudah bertemu Shanum" Ahsan kembali berbicara dengan nada pelan. Beberapa saat kemudian dia menepikan mobilnya ke tepi jalan.


Derrrttt.....Derrrtt...Derrrt...


Getaran gawai di saku celananya membuatnya terpaksa menghentikan laju mobil. Perjalanan tinggal beberapa kilometer lagi menuju rumah orang tua Bu Fatimah. Setelah berdiskusi Akhtar dan Bu Fatimah sepakat untuk tinggal bersama nenek dan kakek Akhtar yang tak lain merupakan orang tua Bu Fatimah.


Senyuman bahagia terbit di wajah Ahsan saat dia menatap layar gawainya. Segera dia menekan icon berwarna hijau untuk menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum manis" sapaan Ahsan sontak berhasil mengalihkan fokus Akhtar. Dia mengernyitkan keningnya, menatap heran sepupunya yang menerima telepon dengan romantis dan wajah yang berseri-seri


"Wa'alaikumsalam, bapak seriusan berangkat ke Garut? kenapa gak bilang dari awal aku kan bisa siap-siap, mau ikut menemui Shanum aku kan ....." cerocos seorang wanita yang tak lain adalah Liani terdengar nyaring di ujung telepon sana tiba tiba terhenti karena Ahsan langsung menyelanya.


Bapak?" sela Ahsan dengan intonasi sedikit meninggi.


Akhtar semakin menautkan alisnya saat terdengar jika yang menelepon adalah benar seorang wanita seperti dugaannya. Keheranannya bertambah karena mendengar Ahsan terlihat kesal saat orang yang menelepon menyebutnya bapak.


"Eh...iya, maaf Mas" Liani terdengar mengubah panggilannya seperti yang Ahsan inginkan.


Sejak Ahsan kembali ke yayasan, komunikasi dirinya dengan Liani memang lebih intens, berawal dari membahas tentang Shanum hingga perpisahannya dengan Suraya menjadi hal bahagia yang sering Ahsan ceritakan kepada Liani. Ahsan merasa nyaman saat bersama dengan Liani, dia pun semakin posesif dengan sering menelepon ketika pesannya tidak segera dibalas oleh Liani.


Meskipun dia belum menyatakan cinta pada Liani tapi dengan terang-terangan Ahsan meminta agar Liani mengubah panggilannya. Dia tidak suka jika Liani memanggilnya Bapak, Liani pun akhirnya menyanggupi untuk memanggil Ahsan dengan panggilan Mas jika hanya berdua saja. Begitu pun dengan Ahsan yang memanggil Liani dengan sebutan manis yang selalu berhasil membuat wajah Liani merona di saat mereka sedang berdua atau saat bertelepon seperti saat ini.


"Maaf manis, aku juga enggak tahu jika ibu dan tuan besar akan pergi ke Garut hari ini. Aku diberitahunya juga mendadak, makanya baru ngasih tahu kamu pas udah di jalan" Ahsan berkata jujur memberikan alasan kepada Liani perihal keberangkatannya ke Garut. Tangan kanannya mengalihkan gawai ke telinga sebelah kanan, dia mengecilkan volume musik yang sedang diputar dengan tangan kirinya. Ahsan tidak menyadari jika seseorang yang ada di sampingnya tengah menatapnya tajam dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Terus aku gimana? aku nyusul aja ke sana sendiri gitu? eh tapi enggak ah Mas ke sananya sama Pak Akhtar kan ya, gak mau aku bareng dia malu ah" Liani yang awalnya merajuk kini berbicara dengan tenang. Dia sadar jika saat ini dia nekad ke Garut pasti akan bertemu Akhtar dan ibunya betapa malunya dia.


"Oke! Kamu kan sekarang masih kerja, sesuai rencana awal, kita akan menemui Shanum akhir pekan. Jadi Jumat siang aku jemput kamu ke sana ya. Kita temui Shanum bersama" Ahsan kembali mengingatkan rencana mereka yang akan menemui Shanum akhir pekan saat Liani libur mengajar.


"Jangan lupa ya" Liani memastikan


"Iya manis, aku gak akan lupa kok. Setiap waktu aku selalu ingat kamu" Ahsan menyelipkan gombalan dengan diakhiri kekehan di akhir ucapannya. Dia membayangkan wajah Liani saat ini sedang merona karena mendengar gombalannya yang dibalas dengan ucapan salam dan sambungan yang langsung diputus sepihak oleh Liani.


"Sudah ah, assalamu'alaikum" ucap Liani mengakhiri teleponnya. Ahsan semakin tergelak mendengar jawaban Liani.


Akhtar masih menatap sepupunya itu dengan tajam, posisi duduknya kini sudah tidak lurus ke depan. Dia duduk menyamping memperhatikan semua tingkah laku Ahsan.


Ahsan yang baru menyadari jika Akhtar memperhatikannya sontak menghentikan gerakannya yang sudah menyalakan mobil. Dia menatap Ahsan dengan wajah polosnya


"Apa?" tanyanya acuh. Akhtar hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Liani?" Akhtar balik bertanya.


"Iya, makanya move on dong" sindirnya.


Akhtar kembali merubah posisi duduknya. Pandangannya lurus ke depan, pikirannya melayang memikirkan seseorang tak pernah bisa dia hilangkan dari hati dan ingatannya.

__ADS_1


"Shanum, bolehkah aku egois? Keadaan tersulit dalam hidupku ternyata bukanlah ketika tidak ada seorang pun yang mengerti diriku, namun saat aku tidak mengerti dengan diriku sendiri" batinnya.


__ADS_2