
Shanum Najua Azzahra
Dia selalu mampu tersenyum di pagi hari, padahal semalam bantalnya basah oleh air mata. Dia selalu mampu menyembunyikan tangis di balik tawanya. Dia berusaha menampilkan bahagia untuk menutupi lukanya.
Dia menyembunyikan sisi lemahnya, berusaha untuk kuat sebab dia tahu jatuhnya air mata tanda dia harus sanggup bangkit lagi.
Hari yang dinanti seantero yayasan pun telah tiba. Hari pertunangan ketua yayasan sekaligus CEO muda Bina Insani Gruop dengan putri orang yang paling berpengaruh di kota Bandung. Pertunangan mereka menjadi hot topic di setiap berita online. Bahkan hampir semua orang yang berada di yayasan pun pernah menjadi sasaran para wartawan lokal yang mencari berita tentang putra mahkota itu.
Shanum sudah siap dengan kostum panitianya, dia dengan profesional menjalankan amanah yang diembannya sebagai bagian dari event organizer acara pertunangan mantan kekasihnya itu. Mengabaikan kesakitan yang dia rasakan setiap kali mengingat bahwa acara yang sedang ia tangani adalah pertunangan mantan kekasihnya. Kekasih yang pergi tanpa kabar meninggalkannya dalam kerinduan yang mendalam dan kembali tanpa kata dan membawakannya luka.
Shanum keluar dari rumah dinasnya, berjalan menuju rumah dinas Liani sahabatnya. Mereka akan berangkat bersama. Acara akan berlangsung dua jam lagi tapi masih banyak yang harus Shanum koordinasikan dengan banyak pihak yang mendukung acara ini.
Acara pertunangan dilaksanakan di aula yayasan sesuai permintaan sang pemilik yayasan. Kapasitas gedung yang mampu menampung sampai seribu orang, area parkir yang luas dan lokasi yang strategis di pusat kota menjadi alasan acara akbar ini dilaksanakan di sini.
Awalnya, pihak perempuan menginginkan acara di Lembang dengan konsep outdor, tapi sang pria menolak. Akhirnya keputusan jatuh pada pilihan sang pria, dan di sinilah sekarang panitia yang berkolaborasi dengan WO sudah siap mengeksekusi setiap rinci acara yang sudah disusun bersama.
Shanum dan Liani berdiri di barisan yang sama. Siap mendengarkan arahan pada briefing terakhir yang berakhir dengan teriakan Yess sebagai penyemangat kerja mereka hari ini. Mereka tidak menyangka mengikuti seleksi untuk menjadi bagian di yayasan ini sebagai Guru, namun kini mereka malah sering terlibat dalam urusan manajerial yayasan.
Ahsan sebagai penanggungjawab seluruh rangkaian acara, datang menghampiri Shanum dan Liani setelah memberikan kata-kata motivasi di akhir briefing.
"Kamu sudah siap?" Ahsan menyapa Shanum dengan penuh perhatian. Liani yang melihat Ahsan mendekat dan sekilas menatapnya seakan mengerti kalau Ahsan ingin lebih private berbicara dengan Shanum. Diam-diam dia mundur menuju posisi tempatnya bertugas bersama panitia lainnya.
Di ruangan yang digunakan semua panitia dan WO untuk briefing kini tinggal ada mereka berdua. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum acaranya dimulai.
"Kamu baik-baik sajakan?" Ahsan melihat Shanum sedikit berbeda, ada kekhawatiran di hatinya. Sejak briefing dimulai Ahsan berdiri di depan sebagai penanggung jawab yang siap menyampaikan arahannya kepada semua tim yang terlibat dalam acara ini. Dia pun tidak lepas pandangan memantau keadaan Shanum dari jauh.
Wajah manis yang selalu tampil sederhana itu kini tampak berbeda karena riasan tipis yang terlukis di wajahnya. Di saat mereka semakin dekat Ahsan menatap lekat wajah itu, sementara yang ditatap tampak malu dan menundukkan pandangannya. Ahsan menangkap gurat kesedihan di wajah Shanum yang berusaha ditutupinya, namun mata sembab itu masih terlihat oleh Ahsan.
__ADS_1
"Iya Kak, aku baik-baik saja", jawab Shanum dengan tersenyum lebar, berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Setelah ini giliran kita" ucap Ahsan bersemangat, berharap apa yang akan dia katakan mampu menjadi moodboster untuk Shanum sama seperti dirinya.
"Maksud Kakak?" Shanum tampak tidak mengerti dengan maksud ucapan Ahsan.
"Setelah ini aku akan segera menemui orang tuamu di Bogor untuk memintamu secara resmi menjadi pendampingku. Sebenarnya aku tidak mau ada acara-acara tunangan aku mau kita langsung nikah saja. Tetapi jika kamu mau kita bertunangan terlebih dahulu, it's oke aku ikut aja", Ahsan berbicara dengan antusias, matanya memancarkan binar kebahagiaan.
Shanum memandang Ahsan begitu dalam, dalam hatinya dia berucap syukur telah dipertemukan dengan lelaki baik yang selama ini tanpa dia sadari selalu ada untuknya. Setiap perlakuan Ahsan selalu membuatnya terharu. Hatinya telah bulat, akan menerima Ahsan sebagai calon imamnya. Biarlah kenangannya bersama Akhtar menjadi bagian dari proses kehidupannya. Ia akan menyimpannya dalam ruang hati yang paling dalam, dan Ahsan akan memiliki tempat tersendiri di hatinya. Semua ada fasenya, yang ada akan tiada, yang hilang akan tergantikan dan yang sudah ditakdirkan dalam genggaman tidak akan lupa kemana harus pulang.
'Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kita bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tidak bisa merencanakan cinta kita untuk siapa', bisik Shanum lirih dalam hatinya.
Shanum hanya mengangguk mendengar penuturan Ahsan tentang semua rencananya dan dibalas dengan senyum bahagia oleh Ahsan. Mereka berjalan beriringan menuju ruang utama tempat acara berlangsung.
Acara akbar itu pun akan segera dimulai. Semua panitia sudah siap di posisinya masing-masing. Shanum yang bertugas mengontrol acara, berdiri di belakang Master Of Ceremony yang sudah bersiap membuka acara. Namun tiba-tiba gawai mereka serempak berbunyi. Grup Panitia dihebohkan dengan warning dari bagian humas bahwa sang pria yang akan bertunangan sampai detik ini belum juga menampakkan batang hidungnya.
Shanum yang mengetahui kabar itu pun menjadi resah. Ada apa dengan Akhtar? apa yang terjadi padanya?, deretan pertanyaan mengisi pikiran Shanum. Sejak dua minggu yang lalu dia memang sudah tidak bertemu bahkan tidak melihat Akhtar lagi. Shanum yang disibukkan dengan kegiatan kesiswaan di awal tahun pelajaran baru membuatnya mampu sedikit menghindar dari pikiran tentang Akhtar.
Semua orang yang mengetahui berita ini berada dalam ketegangan. Pak Furqan Ayah Akhtar pun sudah mulai terpancing emosinya dengan keterlambatan kehadiran putranya itu. Dia terlihat terus memainkan gawainya menelepon berulang-ulang dari tadi.
Tanpa diduga orang yang sejak tadi ditunggu pun hadir dengan menggandeng perempuan paruh baya yang masih tampak muda itu. Semua orang dibuat penasaran, mereka semua bertanya-tanya siapa gerangan perempuan berhijab navy yang digandeng Akhtar memasuki gedung aula senada dengan stelan jas yang dipakainya. Tidak terkecuali Ayah Akhtar, dia pun tampak pucat melihat putranya membawa perempuan itu.
Akhtar menempatkan perempuan yang dibawanya itu di meja VIP kemudian dia pun duduk di samping perempuan itu dengan tidak melepas tautan tangan mereka. Tidak ada yang berani berbicara, semua tampak serius memerhatikan apa yang terjadi di hadapan mereka. Akhtar duduk dengan santainya melempar senyum kepada perempuan di sampingnya seolah memberinya kekuatan.
Ghifar asisten Akhtar yang datang bersama dengan bosnya itu memberi kode kepada MC untuk memulai acara. MC pun paham dengan kode itu, dia menoleh ke arah Shanum yang ada di belakangnya. Shanum pun menganggukkan kepalanya.
Di antara semua orang yang hadir, tak ada yang berani bertanya siapa perempuan yang di bawa Akhtar. Hingga tiba acara pada sesi sambutan tuan rumah yang langsung disampaikan oleh Ayah Akhtar. Dalam sambutannya beliau pun akhirnya menyampaikan bahwa perempuan yang dibawa putranya adalah ibu kandung putranya. Sontak apa yang dilakukan sang ayah membuatnya kaget semua orang, pasalnya selama ini yang mereka tahu Ibu Akhtar adalah perempuan yang menjadi Ibu sambungnya saat ini.
__ADS_1
Akhtar tampak menyunggingkan sedikit senyumnya, perjanjian dengan sang Ayah tentang keinginannya membawa sang Ibu kandung dan harus diperkenalkan di khalayak umum akhirnya terwujud. Akhtar mengajukan syarat untuk berlangsungnya pertunangan ini yaitu membawa ibu kandungnya dan mengenalkannya kepada seluruh dunia. Sementara sang Ibu Sambung tampak menunjukkan raut wajah yang datar sulit untuk diartikan.
Selama dua minggu ini Akhtar bekerja keras mencari keberadaan Ibunya, berdasarkan informasi yang dia dapat dari Kakek dan Neneknya di Garut, sang Ibu bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Semenjak mengetahui mantan suaminya membatasi bahkan melarang dirinya bertemu dengan putra semata wayangnya beliau memutuskan untuk pergi menjauh agar dapat sedikit melupakan semua kenangan pahitnya.
Akhtar sangat bahagia saat menemukan Ibu kandungnya dan berhasil membawanya hari ini. Dia ingin Ibunya kembali bersamanya untuk mengganti waktu-waktu yang telah lama terlewatkan oleh mereka berdua. Tidak hanya Akhtar yang turut berbahagia dengan kehadiran ibu kandungnya. Ahsan yang sejak kecil diurus oleh ibunya Akhtar pun sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan perempuan yang sudah mengisi kekosongan dalam hidupnya karena dia berjauhan dengan orang tua kandungnya. Begitupun dengan Shanum, dia turut berbahagia melihat momen yang terjadi di hadapannya.
Shanum tahu sejak dulu keinginan Akhtar adalah membahagiakan ibunya dan menjamin semua kebutuhan hidup ibunya, sehingga ibunya tidak perlu lagi bersusah payah bekerja dan bisa kembali tinggal bersama Akhtar. Cerita masa remaja yang sering menjadi topik saat mereka menghabiskan waktu libur sekolah di pematang sawah dekat rumah Shanum.
Shanum tampak tersenyum melihat Akhtar yang tampak bahagia karena kehadiran ibunya, walaupun hatinya kembali teriris mengingat bahwa keharuan ini terjadi di momen pertunangan Akhtar dan bukan dirinya yang akan dipasangkan cincin oleh Ibunya Akhtar sesuai cita-cita mereka di masa remaja.
Acara berlangsung kondusif, semua pihak sepertinya dapat menahan dirinya masing-masing. Tidak ingin acara besar ini hancur hanya karena keegoisan mereka. Hingga tiba pada acara inti yaitu pemasangan cincin pertunangan.
Akhtar dan Raina maju ke depan dan berdiri di podium sesuai arahan MC, mereka di dampingi oleh orang tua mereka masing-masing. Akhtar meminta Ibu kandungnya untuk memasangkan cincin itu pada jari Raina, dia sangat menjaga diri untuk tidak bersentuhan dengan Raina.
Selama prosesi itu pandangannya tak lepas dari Shanum yang posisinya bersebrangan dengannya, posisi Shanum yang berada di belakang MC otomatis membuat Akhtar bisa menatapnya dengan jelas.
Hatinya kembali bergemuruh, ingin sekali membatalkan acara ini, menyingkirkan Raina dan menarik Shanum untuk dipasangkan cincin berlian di jari manisnya sebagai tanda kepemilikan Akhtar atas Shanum. Namun sayang semuanya hanya sebatas halusinasi Akhtar.
Shanum menyadari jika Akhtar dari tadi terus menatapnya, dia menunduk menahan sesuatu yang tak mampu dia ucapkan melalui lisannya, tapi kini dua bola matanya yang berbicara. Matanya menghangat tak mampu lagi menahan desakan air mata yang tiba-tiba jatuh saat prosesi pasang cincin itu berlangsung. Dia secepat kilat menghapus air mata yang menetes di pipinya. Akhtar melihatnya, hatinya turut sakit melihat Shanum seperti itu.
'Maaf, Num...maaf...! Lagi-lagi aku tidak bisa menolak keinginan Ayah. Berbahagialah bersama Ahsan, aku percaya dia akan mampu memberi kebahagiaan untukmu, tidak seperti aku yang hanya memberi luka dan kepedihan kepadamu.'
Shanum, pagi adalah tentang pajar, sore adalah tentang senja, malam adalah tentang bintang. Dan tengah malam adalah tentangmu yang selalu kusebut dalam do'a.'
'Shanum, izinkan aku tetap menyayangimu.' Akhtar bermonolog dalam hatinya.
Shanum semakin tidak mampu mengontrol dirinya, sejujurnya dia tidak ingin berada dalam situasi seperti ini, dia sudah berusaha untuk kuat. Tapi tetap saja menyaksikan sang mantan bersanding dengan perempuan lain membuat napasnya sesak dadanya seakan menjadi sempit. Dia berbisik pada MC yang masih anteng memandu prosesi pemasangan cincin itu. Shanum membalikkan badannya, tak kuasa menahan air mata yang semakin mendesak untuk keluar. Dia berjalan menuju arah toilet.
__ADS_1
'Akhtar, aku berhasil untuk terbiasa tanpamu. Tapi ternyata aku gagal untuk berhenti mencintaimu' batinnya.