Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Menduga-duga...


__ADS_3

Meja bundar dengan kursi kayu tengah di kelilingi oleh tiga orang yang masih saling diam. Dua cangkir teh hangat sudah tersaji di hadapan mereka. Namun sepertinya mereka masih berpetualang dengan pikirannya masing-masing.


Setelah saling menyapa di awal pertemuan Shanum, Akhtar dan Ahsan, mereka memutuskan untuk duduk bersama dan saling bicara mengenai masalah yang sedang mereka hadapi di teras belakang.


Shanum tampak serba salah melihat Akhtar dan Ahsan yang kini tengah duduk di hadapannya. Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka berdua karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Dia pun segera mengirimi ibunya pesan, memberitahukan jika dia sedang kedatangan tamu di rumah. Shanum berharap ibunya segera datang.


"Sorry, Bro....aku datang ke sini hanya mau meminta maaf kepada Shanum atas apa yang sudah dilakukan Raina. Aku tahu semua ini pasti ada hubungannya denganku." Akhtar merasa tidak enak karena kedatangannya menemui Shanum saat Ahsan sedang berada di sana, dia pun memulai pembicaraan.


Setelah berbicara pada Ahsan dia menatap Shanum dalam, kekhawatiran terlihat di raut wajahnya. Ingin rasanya Akhtar menanyakan kabar Shanum, memastikan dirinya baik-baik saja. Akhtar tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Shanum. Dia berusaha memendam perasaannya saat melihat Shanum bersama Ahsan.


"Eheummm..." Ahsan yang melihat Akhtar menatap Shanum dengan tatapan yang berbeda berdehem, berusaha membuyarkan fokus Akhtar.


Dia melihat dengan jelas bahwa Akhtar masih sangat mencintai Shanum. Akhtar pun memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia menyadari jika kehadiran dan sikapnya yang kurang terkontrol membuat Ahsan terganggu.


"Maafkan aku, Shanum. Aku tidak menyangka jika Raina akan berbuat seperti itu padamu", Akhtar berusaha menormalkan kembali hati dan ekspresi wajahnya. Dia tidak mau menimbulkan kesalahpahaman baru. Bagi Akhtar bisa melihat Shanum saja sudah cukup membuat hatinya tentram.


"Iya A, sama-sama" jawab Shanum singkat.


"A?" Ahsan yang mendengar Shanum memanggil Akhtar beda dari biasanya merasa heran.


"Heumm...? Eeh..Pak maksudnya. Maaf!" Shanum meralat ucapannya.


"Aku tidak akan lama, sekali lagi maafkan atas semua kejadian ini. Aku jamin ini tidak akan terjadi lagi." Akhtar mengalihkan kembali pembicaraan mereka ke topik awal.


Dia tidak mau Shanum diinvestigasi lebih jauh oleh Ahsan. Sejujurnya Akhtar sendiri sangat merindukan panggilan itu terucap dari bibir Shanum.


"Loh..mau kemana? cepet amat." ujar Ahsan heran melihat sepupunya itu sudah bersiap hendak pergi.


"Aku....."


"Assalamu'alaikum, teteh......" Suara Fauzan adik Shanum menghentikan ucapan Akhtar.


Mereka bertiga pun serempak menoleh ke pusat suara. Tampak Fauzan adik Shanum yang tiba-tiba datang dengan wajah panik.


"Wa'alaikumsalam" mereka bertiga pun kompak menjawab.


Shanum beranjak dari tempat duduknya menghampiri sang adik.


"Ada apa, Dek?" tanya Shanum tidak sabar.


"Teteh, maaf...Ade gak lolos. Ade gak diterima kerja di rumah sakit Bina Insani" jawab Fauzan lirih dengan wajah lesu, dia terlihat kecewa.


"Ouh....kirain apa, kamu tuh bikin khawatir aja tau" Shanum menoyor bahu adiknya yang dianggap berlebihan.


"Gimana aku gak panik Teh, masa temen aku yang nilainya jauh di bawah aku lolos, terus aku enggak. Yaa....wajar dong kalau aku panik, emang sebenarnya kriteria mereka apa? kan ini juga baru tahap awal masih seleksi administrasi, temen aku aja lolos kenapa aku enggak? sebelah mana salahnya coba?" Fauzan menjelaskan kegundahan hatinya pada Shanum.


Dia terduduk di lantai dengan masih memegangi surat pengumuman dari rumah sakit tempatnya melamar pekerjaan yang diterimanya dari kantor pos.

__ADS_1


Mendengar penuturan Fauzan, Shanum teringat dengan ucapan Suraya. Dia berbalik ke arah Ahsan dan menatapnya tajam.


Ting....


Bunyi pesan masuk dari gawai Ahsan memutus tatapan Shanum


'Nak, Papa sedang ada masalah. Teman Papa ada yang tersandung kasus, dalam kesaksiannya dia menyeret nama Papa dalam masalahnya padahal Papa sama sekali tidak tahu menahu masalah itu. Tolong Papa, Nak'


Sebuah pesan dari sang Mama membuat Ahsan kaget. Dia segera menelepon sang mama karena khawatir.


"Assalamu'alaikum, Ma" sapa Ahsan saat teleponnya terhubung.


"Wassalamu'alaikum" jawab Mama Ahsan dengan suara isak tangis yang terdengar jelas di telinga Ahsan.


"Gimana bisa, Ma?" Ahsan pun memastikan kembali hal yang disampaikan Mamanya melalui aplikasi whatsapp.


Sang Mama pun menceritakan kronologis penangkapan Papanya. Papa Ahsan sedang bertugas, tiba-tiba mendapat surat panggilan dari kepolisian yang menjelaskan bahwa dirinya harus ikut petugas dan mengikuti serangkaian pemeriksaan di kantor polisi.


Tidak ada alasan untuk Papa Ahsan mengelak, semua bukti-bukti mengarah kepada dirinya. Dengan sangat terpaksa beliau pun mengikuti perintah petugas kepolisian.


Papa Ahsan hanya mengabari istrinya bahwa dia harus ke kantor polisi. Hal tersebut sontak membuat mama Ahsan panik, dia pun segera menelepon Ahsan untuk menyampaikan berita ini.


Saat ini Papa Ahsan sedang bertugas di Surabaya, itu artinya Ahsan harus segera terbang menuju Surabaya.


"Baiklah Ma, Mama tenang ya...aku akan segera ke sana. Mama jangan panik, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa sama Papa. Mama tenang ya...tenang ya Ma..." Ahsan berusaha menenangkan ibunya yang tiba-tiba menangis histeris setelah mengatakan informasi tersebut.


"Bokap ada masalah, dia ada di kantor polisi sekarang. Aku harus segera.ke Surabaya" jawab Ahsan menjelaskan semuanya.


Shanum yang mendengar hal itu pun turut panik. Dia segera mendatangi Ahsan dan memberinya memotivasi.


"Kakak yang tenang ya, Insyaa Allah semua akan ada jalan keluarnya"


Mendengar suara Shanum yang berbicara dengan penuh kelembutan, tiba-tiba hati Ahsan menghangat. Dia merasa menerima asupan energi yang luar biasa. Kepanikannya pun seketika hilang. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menghempaskannya dengan kasar.


"Iya, Num. Terima kasih" jawab Ahsan.


"Kalau begitu sekarang aku pamit ya, aku mau langsung ke bandara. Mobil biar di ambil Mang Asep saja ke bandara." lanjut Ahsan


Shanum pun mengangguk dan bersiap hendak mengantar Ahsan ke luar.


"Bro, aku duluan ya" pamitnya pada Akhtar.


"Kamu yakin mau ke Bandung bawa kendaraan sendiri?" tanya Akhtar. Dia melihat sepupunya itu sedang sangat kalut.


"Kalau kamu mau kita bisa pergi bareng ke Bandung. Aku akan mengantar kamu ke bandara dan mobilmu sementara biarlah dititip di sini saja. Boleh kan, Shanum....?"


Akhtar melirik bertanya pada shanum.

__ADS_1


"Ii..i..ya" jawab Shanum terbata.


Ahsan pun mengangguk setuju.


"Kalau begitu kami pergi dulu" dia berpamitan pada Shanum dan adiknya yang masih berada di sana.


Mereka berdua pun berjalan menuju pintu depan diikuti Shanum dan Fauzan yang turut mengantar.


Ahsan menyejajarkan langkah dengan Shanum yang berada di belakangnya. Dia melirik kepada Shanum yang kini berjalan di sampingnya.


"Aku harap prediksiku kali ini salah" bisiknya pada Shanum.


Shanum menghentikan langkahnya, dia menatap Ahsan.


"Kak Suraya pernah mengatakan perihal adikku, Kak. Aku pikir tidak ada salahnya kali ini aku lebih waspada. Aku tidak ingin semakin banyak orang yang terkena imbas dari ambisi Kak Suraya. Aku harap Kakak mengerti. Setelah hari ini tolong jangan datang lagi" pinta Shanum tegas.


Melihat Ahsan dan Shanum berhenti dan berbicara serius, Akhtar memilih melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar diikuti oleh Fauzan adik Shanum.


Sesampainya di teras rumah, Akhtar mendekati Fauzan.


"Jadi kamu melamar ke rumah sakit Bina Insani di Bandung?" tanya Akhtar. Dia memilih mengobrol dengan adik Shanum sambil menunggu Ahsan sebelum memasuki mobilnya.


"Iya Kak, tapi gak keterima. Padahal baru tahap awal seleksi administrasi, tapi aku sudah gagal. Mungkin belum rezeki kali" jawabnya sambil meringis.


Akhtar tersenyum mendengar jawaban adik Shanum. Dia mengambil dompet dari saku celananya. Akhtar mengeluarkan kartu nama miliknya kemudian menyodorkannya pada Fauzan.


"Ini...terimalah, jika masih berminat untuk bekerja di sana hubungi saya, Insyaa Allah saya bantu" terang Akhtar.


"Maaf Kak kalau boleh tahu, Kakak ini siapanya Teteh?" Fauzan kembali bertanya, dia penasaran dengan Akhtar. Selama ini Shanum tidak pernah membawa teman laki-laki ke rumah. Setahunya Kakak sulungnya itu memeng belum mempunyai kekasih.


"Saya Akhtar temannya Shanum" Akhtar pun menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Akhtar?......" Fauzan tampak berpikir menyebut nama Akhtar, dia merasa sangat familiar dengan nama itu. Fauzan pun tampak berusaha mengingat-ngingat sesuatu.


"Kenapa?" tanya Akhtar yang heran dengan respon yang diberikan Fauzan.


"Kok aku berasa gak asing ya dengan nama Kakak" jawab Fauzan dengan kening mengerut tampak sedang berpikir.


"Ayo..." tiba-tiba Ahsan muncul dan diikuti Shanum.


Setelah menitipkan kunci mobilnya kepada Shanum. Ahsan dan Akhtar pun pamit. Sebelum beranjak Akhtar sempat melirik ke arah Shanum dan ternyata Shanum pun sedang menatapnya. Pandangan mereka sejenak bertemu.


Ada rasa yang tidak terungkap pada tatapan keduanya. Rasa yang berusaha mereka pendam untuk kemaslahatan bersama. Biarlah cinta itu tetap ada di hati mereka masing-masing. Hingga suatu saat sang Pemilik Hati kembali menakdirkan yang terbaik untuk mereka berdua.


"Shanum, aku mengerti masih banyak keindahan di bumi ini yang tidak aku ketahui Tetapi andai aku memilikimu, rasanya setengahnya telah kudapati", gumam Akhtar dalam hatinya.


"Jika boleh aku meminta, izinkan aku menantimu dengan baik sekali lagi. Agar kelak aku dan kamu dipertemukan di akhir penantian yang baik" batin Shanum

__ADS_1


__ADS_2