
"Hari kemarin sudah berlalu, biarkan masa-masa kelam terkubur sedalam mungkin. Sesekali boleh menyesali, tapi tidak untuk diratapi. Hidup kita terlalu berharga untuk meratapi kenyataan yang tak sesuai dengan keinginan kita" perlahan Bu Fatimah mencoba menyelami keadaan hati putranya dengan berkata dari hati ke hati.
Sudah sebulan sejak kembalinya Akhtar dari luar negeri, dia masih belum berubah. Akhtar hanya berbicara hanya saat-saat tertentu dan seperlunya. Tak jarang Pak Furqan atau Bu Sopia pulang dengan wajah menahan marah karena tak mendapat sambutan baik dari Akhtar.
Hingga saat ini Akhtar sangat menjaga jarak dengan sang ayah. Sejak kesadarannya kembali Akhtar menganggap bahwa sang ayahlah yang menyebabkan dirinya kehilangan segalanya. Setelah cukup lama Akhtar kehilangan ibu kandungnya, kini Akhtar kehilangan satu-satunya wanita yang sangat dia cintai yaitu Shanum karena perjodohan yang dilakukan ayahnya.
Pak Furqan menyadari kesalahan fatal yang sudah dia lakukan pada putranya, dia pun tidak akan memaksa Akhtar untuk memaafkannya.
Akhtar hanya menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan saat mendengar sang ibu berbicara. Dia masih tampak enggan untuk menanggapi dan masih asik dengan aktivitas barunya yaitu melukis.
"Ibu tahu, tidak ada orang yang benar-benar kuat. Namun tidak sedikit mereka yang bersedih dengan cara tersenyum. Ajari hatimu agar menerima kenyataan, karena ada banyak hal yang hanya bisa diterima tanpa bisa dirubah" Bu Fatimah kembali berbicara dengan lugas dan tegas. Kali ini dia benar-benar ingin putranya sadar bahwa waktunya terlalu berharga jika hanya digunakan untuk meratapi masa lalu, masa depannya masih panjang.
Mendengar nada bicara ibunya yang tidak seperti biasanya Akhtar pun menghentikan aktivitas melukisnya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju Bu Fatimah.
Selama sebulan ini Akhtar mengikuti terapi dengan baik dan sekarang dia sudah tidak lagi menggunakan kursi roda. Akhtar mulai kembali bisa berjalan seperti sebelumnya, walaupun dia masih harus pelan-pelan saat berjalan.
"Ibu...." ucapnya pelan, dia merengkuh tubuh Bu Fatimah yang kini terasanlebih ringkih dan membawanya ke dalam pelukannya. Tubuhnya semakin berguncang saat telah berada di pelukan Akhtar.
"Maafkan aku Bu, maaf..." Akhtar berkata penuh penyesalan, dia membelai Bu Fatimah penuh rasa sayang. Setelah sekian lama dia baru menyadari jika keadaan ibunya pun tidak baik-baik saja. Akhtar mengira jika itu pasti karena ibunya terlalu memikirkannya.
Merasakan pelukan sang putra yang begitu erat dan mendengar permohonan maafnya yamg terdengar tulus membuat Bu Fatimah semakin larut dalam tangisnya.
"Maafkan aku Bu, aku sudah membuat ibu sedih. Harusnya aku sadar bahwa ibu jauh lebih sedih saat aku sedih, ibu jauh lebih terluka saat aku merasa menjadi orang yang paling terluka. Maafkan aku bu, maafkan aku" Akhtar semakin mengeratkan pelukannya saat mengatakan itu. Air matanya pun berderai membasahi pipi.
"Ibu adalah wanita nomor satu di hidupku, wanita yang memiliki senyuman paling indah untukku. Ibu adalah wanita yang memiliki pelukan paling hangat untukku, yang mempunyai tulang dan hati yang begitu kokoh"
"Untukku ibu sangat berharga dari apapun, ibu adalah wanita yang sangat hebat. Aku tahu Bu, dunia begitu kejam. Banyak luka dan penderitaan yang ibu hadapi selama ini. Tapi yang ibu lakukan adalah selalu memberikan senyuman terbaik agar hariku tetap baik-baik saja"
"Aku tahu, selama ini banyak hal mungkin membuat ibu kecewa atas sikapku. Maaf belum bisa membanggakanmu, Bu. Setiap hari adalah harimu, hari bagaimana cara membahagiakanmu. Aku akan berusaha lebih keras lagi Bu, membuatmu bahagia dan membuat semua mimpimu terwujud. Bantu aku bu, jangan pernah lelah membantu aku dengan do'amu"
Akhtar berkata dengan suara parau, tangisnya tak tertahankan saat dia mengungkapkan semua isi hatinya. Begitu pun dengan Bu Fatimah, keharuan menyeruak dalam dadanya. Membuat air mata semakin deras mengalir membasahi jilbabnya. Dia bahagia mendengar sang putra kembali berbicara panjang lebar dengannya. Merekapun berpelukan semakin erat, larut dalam suasana yang penuh haru.
"Aku janji mulai sekarang aku akan bangkit, aku akan seperti dulu menjadi Akhtar yang selalu ibu banggakan. Aku mau ikut ibu ke Garut" ucap Akhtar saat tangisnya mereda dan perlahan mengurai pelukannya.
Bu Fatimah hanya menganggukkan kepala tanda jawaban, binar bahagia terpancar dari wajahnya melihat sang putra perlahan mulai kembali seperti dulu.
Sementara di yayasan...
Ahsan tampak sibuk dengan gawainya. Berkali-kali dia menelepon seseorang namun sepertinya masih belum terhubung. Barulah setelah panggilan yang ke enam orang yang dihubunginya menerima teleponnya.
"Assalamu'alaikum, maaf Pak tadi saya sedang shalat. Gawai saya tinggal di ruang guru. Ada yang bisa saya bantu Pak? suara seorang wanita yang dihubungi Ahsan menyapanya dengan ucapan salam dan menanyakan keperluan si penelepon.
"Wa'alaikumsalam. Oh iya, maaf aku jadi mengganggumu. Aku pikir kamu sedang istirahat" jawab Ahsan berbasa basi.
"Ada apa ya, Pak?" wanita yang tak lain adalah Liani menanyakan kembali maksud Ahsan menghubunginya.
"Ada yang ingin sampaikan sama kamu, bisa kita bertemu?"
"Maaf Pak, saya masih ada kelas siang ini jadi sepertinya tidak bisa"
"Sepulang sekolah bagaimana? saya tunggu kamu di kantin"
"Eumhhh....." Liani tampak berpikir.
"Ini tentang Shanum" Ahsan menjelaskan tujuannya.
"Oya, benarkah? baiklah Pak saya akan menemui Bapak di kantin sepulang sekolah. Terima kasih Pa, Assalamu'alaikum" Liani terlebih dahulu memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Ahsan. Dia merasa segan jika terlalu lama bertelepon dengan Ahsan.
__ADS_1
"Isshhh..." Ahsan mendesis mengetahui Liani sudah menutup teleponnya.
Dua jam berlalu, dan di sinilah mereka berada. Duduk berhadapan terhalang meja bundar dengan diameter kurang dari satu meter.
Liani tampak menunduk menghindari beradu tatap dengan Ahsan. Setelah mengetahui skandal tentang Suraya dia turut prihatin pada nasib seniornya itu. Liani tahu dulu Ahsan begitu sabar memperjuangkan perasaannya pada Shanum sahabatnya. Namun tidak berjalan sesuai keinginannya. Dia dihadapkan pada pilihan yang sulit sehingga harus merelakan Shanum. Dan kini dia pun membatalkan pertunangannya dengan Suraya karena ternyata wanita itu tidak sebaik yang dia pikirkan. Sungguh kisah percintaan yang tragis menurutnya.
Semenjak pertunangannya dengan Suraya berakhir, Ahsan memang lebih sering menghubungi Liani. Dia selalu menceritakan apa yang dialaminya pada Liani, sepertinya tiada hari tanpa mereka saling berkirim pesan. Awalnya Liani biasa saja. Dari dulu dia terbiasa berkomunikasi dengan Ahsan tentang Shanum, perasaannya biasa saja.
Tapi kedekatan mereka saat ini dirasakan lain oleh Liani. Tak jarang Liani mendapatkan perhatian berlebih dari Ahsan meskipun hanya melalui sebuah pesan. Sebagai perempuan dewasa, Liani bisa membedakan perhatian Ahsan yang berbeda terhadapnya saat ini. Namun Liani tidak mau menyalah artikan semua kebaikan dan perhatian Ahsan padanya. Dia cukup tahu diri sedang berhadapan dengan siapa.
"Mau pesan apa?" Ahsan memulai percakapan. Dia tahu Liani terlihat bersikap canggung saat ini.
"Saya sudah makan Pak" jawab Liani. Di bawah meja tangannya sedang memainkan ujung kerudung untuk mengusir kecanggungan yang dia rasakan
"Minuman?" Ahsan kembali bertanya.
"Eumh, terserah Bapak saja"
"Oke!"
" Mang, dua jus alpukat tanpa es ya" teriak Ahsan kepada pelayan kantin dan dijawab dengan acungan dua jempol oleh mang pelayan itu.
"Gimana Pak, ada kabar tentang Shanum?" tanya Liani langsung pada pokok pembicaraan yang menjadi alasan pertemuan mereka saat ini.
Ahsan menarik napasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya ini.
"Li, bisa gak kalau di luar jam kerja kamu gak manggil aku Pak?" Ahsan malah balik bertanya dengan pertanyaan yang tidak sedikit pun ada hubungannya dengan apa yang Liani tanyakan.
"Hah?" pertanyaan Ahsan sontak membuat Liani melongo. Membuat Liani heran ada apa dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini.
"Hey!" Ahsan melambaikan tangannya di hadapan wajah Liani.
"Heumm....saya mana berani Pak, Bapak jangan bercanda. Kita langsung saja, ada apa sebenarnya? apa yang mau Bapak sampaikan tentang Shanum?" Liani kembali menodong Ahsan dengan wajah datarnya.
Selama sebulan ini Liani memang tidak berada di yayasan. Dia ditugaskan pihak sekolah untuk membimbing siswa yang praktek lapangan di luar kota selama satu bulan ini dan baru kemarin dia kembali. Liani pun baru tahu jika Akhtar sudah sadar dan sudah kembali ke yayasan saat dia pulang dari luar kota karena dua hari setelah lebaran Liani dan tim langsung berangkat ke lokasi praktek. Sebenarnya Ahsan ingin memberi tahu kabar tentang Shanum pada Liani sejak sebulan yang lalu. Tapi dia menunda sampai Liani kembali karena ingin mengatakannya langsung.
Mereka memang menjalin komunikasi dengan baik, Ahsan selalu menanyakan tentang keadaan Liani di tempatnya saat itu, namun hanya sesekali di balas Liani karena memang kesibukannya sangat padat. Selama ini topik obrolan mereka hanya seputar Shanum. Ahsan selalu membuka obrolannya dengan menanyakan tentang kabar Shanum pada sahabatnya itu, Liani pun sudah terbiasa dengan itu.
'Assalamu'alaikum. Apa kabar Bu Liani?'
'Ganggu gak? gimana sudah dapat kabar tentang Shanum?'
'Shanum sudah membalas pesannya belum?'
Adalah pesan yang sering Ahsan kirim untuk mengawali obrolan mereka. Liani menanggapinya biasa, dia tahu jika Ahsan masih sangat mencintai Shanum. Apalagi semenjak Ahsan tidak lagi bersama Suraya, komunikasi mereka pun kian intens.
Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang menggelitik hati Liani. Awal-awal pesan yang diterima Liani dari Ahsan memang menanyakan hal tentang Shanum. Namun akhirnya berlanjut dengan bahasan tentang dirinya. Kamu sedang apa, dengan siapa, sudah makan belum dan serentetan pertanyaan yang mengarah ke hal pribadinya.
Saat pertama kali Ahsan mengiriminya pesan seperti itu Liani masih biasa saja, namun semakin sering bahkan seminggu terakhir perhatian Ahsan itu semakin intens membuat Liani takut menyalah artikan perubahan sikap Ahsan tersebut. Dia selalu menyugesti dirinya agar tidak berpikiran lebih tentang Ahsan yang seolah-olah mengkhawatirkan dirinya lebih dari sekedar teman.
"Ck..." Ahsan berdecak, dia memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat Liani berbicara dengan ekspresi datar seolah tidak nyaman duduk bersamanya. Perubahan raut wajah Ahsan terlihat jelas oleh Liani membuat Liani semakin bertanya-tanya, namun dia berusaha tetap bersikap seperti biasa.
"Aku bertemu Shanum?" jawab Ahsan dengan nada sedikit ketus
"Oya? kapan?" Liani begitu antusias mendapat kabar tentang Shanum.
"Sebulan yang lalu" jawab Ahsan lesu
__ADS_1
"Hah, sebulan yang lalu? kenapa Bapak baru bilang kalau sudah bertemu Shanum? Dimana Bapak bertemu Shanum? bagaimana keadaannya? Saya kan juga mau tahu kabarnya. Selama ini dia sangat sulit dihubungi. Bahkan pesan terakhir saya tidak dia balas, saya jadi sungkan mau mengiriminya lagi pesan. Takut suaminya kurang berkenan, jadi selama ini saya menahan diri untuk tidak menghubunginya. Nomor telepon ibunya juga sepertinya diganti, setiap saya coba hubungi selalu di luar jangkauan" cerocos Liani panjang lebar. Membuat Ahsan hanya fokus pada wajah Liani saat berbicara tanpa peduli dengan apa yang di bicarakannya.
"Pak, Pak Ahsan!" kini giliran Liani yang menyadarkan Ahsan dari lamunannya.
"Bapak dengar saya tidak?" jntonasi Liani sedikit meninggi karena menyadari dari tadi Ahsan sepertinya tidak mendengarkan apa yang dibicarakannya
"Iya, iya saya dengar. Lagian pertanyaan kamu banyak banget jadi kan saya bingung mau jawab yang mana dulu" jawab Ahsan beralasan yang dibalas Liani dengan wajah nyengir karena menyadari dirinya yang terlalu banyak bicara.
"Hee... maaf Pak saya terlalu excited kalau berurusan dengan Shanum. Jadi dimana Bapak bertemu Shanum?" Liani kembali mengulangi pertanyaannya.
"Aku bertemu Shanum di Garut waktu mengantar Bu Fatimah pulang. Dia sekarang jadi pengusaha kuliner di sana" jawab Ahsan
"Hah, pengusaha kuliner? di Garut? kenapa bisa jadi di Garut dia?" tanpa sadar Liani kembali memberondong Ahsan dengan banyak pertanyaan.
"Mana aku tahu" jawab Ahsan dengan mengangkat bahunya.
"Sama suaminya?" tanya Liani lagi.
"Waktu itu mah sih aku gak ketemu Haqi, Shanum bilang jika dia masih di Jakarta" jawab Ahsan sesuai dengan penjelasan Shanum.
"Terus Bapak udah ke sana lagi?"
"Ngapain?" tanya Ahsan sewot.
"Ya...barangkali aja buat melepas kangen" jawab Liani santai.
"Heh, dia sudah nikah ya" seru Ahsan
"Sejak Shanum menikah aku sudah membatasi diri buat tidak menghubungi dia lagi, aku gak mau merusak rumah tangga Shanum apalagi dia menikah dengan teman baikku. Aku cukup tahu batasan dan ternyata sebuah rasa perlahan memudar ketika sering diabaikan" Ahsan menjawabnya dengan senyuman terlukis di bibirnya.
"Bapak sudah move on?" ledek Liani.
"Yess" jawab Ahsan mantap.
Liani mencebikkan bibirnya seolah tak percaya.
"Kamu ragu?" Liani mengangguk.
"Terserah, hanya yang pasti saat ini akhirnya aku sampai pada fase yang saat mengingatnya sudah tak ada lagi luka, dan saat menyebut namanya hatiku biasa saja. Benar kata pepatah, di antara musibah terbesar adalah kamu jatuh cinta, tapi orang itu tidak cinta padamu" ujar Ahsan dengan santainya. Dia benar-benar sudah mulai melupakan semua rasanya pada Shanum. Semudah itu memang Allah membolak balikan hati manusia.
"Justru aku sekarang sangat khawatir pada Akhtar" ucap Ahsan lesu saat berbicara tentang sepupunya itu. Dia benar-benar tidak tega melihat keadaannya yang seakan mati enggan hidup tak mau. Dia tahu jika pengkhianatan Raina memberi luka batin yang dalam pada sepupunya itu. Bukan karena Akhtar mencintai Raina, tetapi karena menyesal telah melepas Shanum demi perempuan itu.
"Kenapa dengan Pak Akhtar, Pa? aku dengar dia sekarang sudah sehat kan? sudah balik dari luar negeri. Sebenarnya aku ingin menengok beliau tapi malu, sepertinya masih banyak tamu yang menengoknya ya Pak?"
"Sekarang sudah tidak terlalu, kamu mau menengok Akhtar?"
"Mau sih tapi malu kalau sendiri, lagian kayaknya Pak Akhtar sudah lupa sama aku Pak"
"Siapa bilang? kenapa harus malu?"
"Idih Bapak kayak yang gak tahu aja, aku kan cuman rakyat biasa di sini, perlu keberanian dan alasan yang kuat untuk bisa menemui orang sepenting beliau kan? daripada nanti gak diterima karena beliau sibuk ya mending do'ain ajalah dari kejauhan. Bukankah hadiah yang paling berharga yang bisa kita berikan pada seseorang adalah dengan menyebut namanya dalam do'a kita!"
"Benarkah?" Ahsan memicingkan matanya menatap Liani,
"Iya dong" Liani menjawabnya sambil menyeruput jus alpukat yang ada di hadapannya.
"Lalu kamu suka menyebut nama aku gak dalam do'amu?
__ADS_1
Blusssshhh.....seketika pipi Liani merona, berubah warna bagaikan kepiting rebus.