Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Rasa Yang Tak Terlisankan


__ADS_3

Hari raya telah tiba, semua orang bergembira menyambut hari kemenangan umat muslim di seluruh dunia. Kemenangan karena telah terlahir kembali menjadi pribadi yang suci seiring berakhirnya Ramadhan dan ditutup dengan dibayarkannya zakat fitrah.


Saat hari raya tiba harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik pun menggunung. Setelah satu bulan lamanya dididik di bulan tarbiyah yang penuh berkah berharap berhasil menjadi menjadi manusia baru dengan predikat taqwa yang merupakan capaian tertinggi dari ibadah shaum bulan Ramadhan.


Bu Hana sudah menyiapkan aneka menu khas idul fitri untuk menjadi santapan di hari raya ini. Mulai ketupat, lontong sayur, opor, pepes ikan, samber goreng kentang sudah Bu Hana siapkan. Dibantu Fauzan sang putra bungsu yang datang semalam dari Bogor karena terjebak macet Bu Hana menata semuanya di meja makan yang sengaja dipindahkan ke ruang keluarga untuk mempermudah proses parasmanan setelah bersalam-salaman nanti.


Ini adalah idul fitri pertama yang dilalui keluarga Pak Imran di Garut setelah kepindahannya beberapa tahun silam ke Bogor. Hari ini selepas melaksanakan shalat Ied Pak Imran mengundang seluruh anggota keluarganya untuk berkumpul bersama di rumahnya.


Shanum sudah mengatur semuanya dengan apik. Mulai tempat, dekorasi rumah yang sedikit dia rubah karena tambahan pernak-pernik idul fitri, menu makanan, aneka kue, uang THR dan hampers untuk seluruh anggota keluarganya sudah Shanum siapkan.


Dalam waktu dua hari dia menyiapkan semuanya dibantu oleh Indri. Para pegawai lainnya sudah terlebih dahulu libur, tepatnya dua hari sebelum lebaran bersamaan dengan ditutupnya warung nasi ibu. Shanum sudah memberikan gaji dan juga tambahannya sebagai tunjangan hari raya untuk semua pegawainya. Selain itu Shanum pun membelikan ceu imas, bi isah dan indri baju lebaran juga parcel makanan.


Shanum sangat antusias menyiapkan semuanya, Pak Imran sebagai anak tertua dan dirinya sebagai cucu pertama sudah sepantasnya memfasilitasi kumpulnya keluarga besar dari pihak bapak yang selama beberapa tahun ini hanya bertemu yang kadang-kadang pertemuan mereka pun terpisah-pisah. Kini Shanum sengaja menyiapkan segalanya agar keluarga besarnya bisa berkumpul dan semakin mengeratkan silaturahmi seperti ketika masih ada almarhum kakek dan neneknya dulu.


Tidak hanya Shanum yang antusias menyiapkan semuanya. Fauzan sang adik bungsu yang hanya tinggal beberapa tahun di Garut sebelum akhirnya pindah ke Bogor pun sangat senang bisa kembali ke kampung halamannya, tempat dia dilahirkan dan tumbuh sebelum usia remaja dia harus pindah ke Bogor. Dia semangat membantu ibunya menata makanan dan aneka kue di meja yang sudah disediakan. Sementara kedua kakaknya sedang mempersiapkan diri dan mendandani keponakan mereka satu-satunya yang sudah mulai aktif bergerak dan sangat menggemaskan.


Kadang Rida dan Adam kewalahan dengan aksi si kecil yang sangat aktif itu. Saat ini Rida sedang berdandan setelah sebelumnya menyiapkan semua keperluan suaminya. Adam menjadi orang yang paling semangat ketika diminta Shanum untuk berlebaran di Garut. Sementara Shanum yang terlebih dahulu sudah siap tampak sedang menggendong bayi Humairahnya yang sudah cantik dengan jilbab merah maroon dengan model khas bayi agar lebih nyaman serasi dengan warna baju seragam keluarga di hari raya ini.


Mereka semua sengaja berkostum dengan warna yang sama, meskipun model baju berbeda-beda namun warna yang sama membuat keluarga mereka terlihat sangat kompak. Pak Imran dan keluarga berencana akan mengikuti shalat ied di lapangan alun-alun kecamatan.


Rumah orang tua Shanum terletak di tempat yang cukup strategis, kampung tempatnya berada menjadi pusat pemerintahan tingkat kecamatan. Sehingga lokasi yang strategis tersebut tidak hanya cocok untuk dijadikan tempat usaha namun juga memudahkan akses ke tempat-tempat lainnya terutama yang berhubungan dengan fasilitas publik.


Kembali dari lapang alun-alun yang tidak terlalu jauh dari rumah sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki Shanum dan keluarga pun saling meminta maaf. Diawali dari Bu Hana yang bersimpuh meminta maaf kepada suaminya Pak Imran, diikuti Shanum, Rida, Adam suaminya Rida dan si bungsu Fauzan yang melakukan sungkem kepada orang tua dan kakak-kakaknya.


"Maafin teteh ya Bu, mohon keridhaan ibu untuk semua yang telah ibu berikan untuk teteh. Semoga ibu selalu sehat dan panjang umur" Shanum merangsek di pangkuan sang ibu dengan derai air mata yang tak tertahankan.


Bu Hana mengusap kepala Shanum, putri sulungnya yang selalu berusaha kuat itu menjadi kebanggaan semua anggota keluarga. Sejak dulu dia sudah menampilkan diri sebagai pribadi yang mandiri, tegar dan selalu ceria. Namun dibalik ketegaran dan keceriaan yang ditunjukkan putrinya itu tersimpan kekhawatiran Bu Hana untuk si sulung mengingat hingga saat ini dirinya masih tampak enggan membuka diri dan hatinya untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya setelah kepergian almarhum suaminya. Bu Hana sangat ingin melihat Shanum bahagia, bertemu laki-laki yang menyayanginya, berumah tangga dan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah warahmah. Apalagi putri keduanya kini sudah dikaruniai anak.


"Ibu selalu ridha sama teteh, terima kasih sudah menjadi anak yang membanggakan. Teteh selalu menjadi teladan yang baik untuk adik-adik teteh. Do'a ibu selalu menyertai, semoga teteh bahagia selalu, berkah kehidupan dunia dan akhiratnya" ucap Bu Hana merengkuh putri sulungnya.


Mereka sama-sama berpelukan erat dan saling berderai air mata. Larut dalam do'a dan harapan masing-masing.

__ADS_1


Hal yang sama Shanum lakukan kepada Bapaknya, diikuti Rida, Adam dan Fauzan mereka pun larut dalam tangis bahagia. Keharuan menyelimuti hati masing-masing di hari raya yang fitri ini.


Tingkah si kecil Humairah melerai tangis haru mereka. Shanum dibuat gemas dengan tingkah keponakan cantiknya itu yang kini sudah mulai belajar berjalan. Dia menggendong Humairah dengan gemas dan membawanya ke depan karena terdengar suara ketukan pintu tanda keluarga besar sudah mulai berangsur berdatangan sesuai permintaan dan undangan Pak Imran.


Keluarga besar Pak Imran pun sudah berkumpul. Ritual di hari raya pun dimulai, saling bermaaf-maafan dilanjutkan dengan menikmati hidangan khas lebaran, aneka kue, bagi-bagi THR, berfoto bersama dan saling berbagi cerita kehidupan masing-masing yang selama ini mereka lewatkan karena terhalang jarak dan kesibukan masing-masing.


Kebahagiaan terpancar di wajah semua anggota keluarga. Kini, semua orang sudah asik dengan obrolannya masing-masing. Para orang tua sudah berkumpul di ruang tamu, Pak Imran dan Bu Hana asik mengobrol dengan adik-adik dan ipar-iparnya. Sementara anak-anak mereka pun sudah berkoloni sesuai usia mereka. Terbagi menjadi dua kubu remaja dan anak-anak. Ada yang berkumpul di teras belakang, di babancong juga di teras depan. Warung pun bahkan dibuka untuk digunakan saat acara keluarga tadi. Fauzan menjadi objek yang diserbu oleh sepupu-sepupunya yang kebanyakan adalah perempuan. Pesona pemuda kota itu sudah menghipnotis gadis-gadis sejak masih berada di lapang alun-alun.


Shanum mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang rumah orang tuanya. Dia melihat binar bahagia di mata semua orang. Dia senang akhirnya keluarga besarnya di Garut bisa kembali berkumpul.


Sementara di Bandung...


Bu Fatimah sedang menyuapi seseorang yang tengah duduk di kursi roda. Akhtar sudah kembali sehari sebelum hari raya, Bu Fatimah bahkan harus kembali lagi ke Bandung keesokan harinya karena Ahsan menerima kabar jika Akhtar akan pulang ke tanah air esok hari. Padahal mereka baru sampai di Pameungpeuk, namun rasa lelah Bu Fatimah terkikis oleh kerinduannya pada sang putra.


Setelah shalat subuh Ahsan pun kembali melajukan mobilnya membawa Bu Fatimah ke Bandung.


"Makan lagi ya, Nak" Bu Fatimah tampak membujuk Akhtar agar kembali mau menerima suapannya. Semenjak sadar dari koma, Akhtar belum banyak bicara. Dia pun harus melalui serangkaian pemeriksaan sebelum diperbolehkan kembali ke tanah air. Hasil pemeriksaan terakhir menyatakan bahwa semua organ tubuhnya berfungsi dengan baik. Hanya sampai saat ini Akhtar masih kesulitan berjalan, kakinya masih terasa kaku untuk digerakkan setelah tidur yang cukup panjang yang ia lalui. Hingga kini Akhtar masih harus menggunakan kursi roda untuk bisa beraktivitas.


Bu Fatimah meraih kepala Akhtar ke dalam pelukannya, di setiap kalimat yang dia ucapan tersimpan kesedihan dan kebahagiaan yang bercampur padu. Bahagia karena Akhtar sudah sadar dan sedih karena keadaannya saat ini terlihat sangat mengkhawatirkan. Semangat hidupnya seakan hilang, tatapannya masih kosong. Dia seperti tidak punya tujuan hidup, hampa.


"Assalamu'alaikum" seseorang terdengar mengucapkan salam dan memasuki rumah tempat Akhtar dan Bu Fatimah berada saat ini. Semenjak kepulangannya dari negeri Akhtar meminta agar sang ayah membawanya ke rumah yang dia belikan untuk Bu Fatimah dulu. Rumah di kawasan perbatasan Bandung Cimahi itu pun tampak bersih terawat karena setiap ke Bandung Bu Fatimah selalu rutin mengunjungi rumah itu dan merawatnya. Bu Fatimah yang datang dari Garut pun segera menuju ke rumah itu setelah menerima kabar keberadaan Akhtar.


"Wa'alaikumsalam" jawab Bu Fatimah , dia beranjak dari tempat duduknya di kursi teras halaman belakang tempat mereka saat ini berada. Saat matahari mulai menghangatkan bumi Bu Fatimah sengaja membawa Akhtar keluar untuk menghirup udara sejuk sekaligus menghangatkan badan di bawah sinar matahari pagi yang baik untuk perkembangan kesehatan Akhtar.


Dari suaranya Bu Fatimah tahu jika itu adalah Ahsan. Dia membiarkan tamunya itu masuk sendiri dan menyambutnya di teras belakang.


"Taqabalallahu minna wa minkum, Ibu" Ahsan meraih tangan ibu fatimah dan menyalaminya dengan takzim. Dibalas dengan usapan lembut di kepala Ahsan oleh Bu Fatimah. Anak laki-laki yang dulu tinggal bersamanya karena orang tuanya yang harus berpindah-pindah tugas ternyata hari ini sudah dewasa dan bisa diandalkan.


"Taqabbal yaa Kariim" Jawab Bu Fatimah penuh haru. Setelah bersalaman dan saling meminta maaf dengan bu fatimah, Ahsan menghampiri Akhtar yang masih pada posisinya semula membelakangi Ahsan.


"Bro, taqabalallahu minna wa minkum ya" sapa Ahsan, dia berjongkok di samping kursi roda yang Akhtar duduki dan merangkul bahunya dari samping.

__ADS_1


Akhtar pun menoleh ke samping, menatap Ahsan dan menganggukkan kepalanya dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Sama seperti dengan Bu Fatimah, semenjak kepulangan Akhtar dari luar negeri Akhtar pun belum banyak berbicara dengan Ahsan.


Ahsan mengurai pelukannya dari Akhtar. Dia kemudian duduk kursi yang tadi ditempati Bu Fatimah dan menggesernya tepat berhadapan dengan Akhtar.


"Bro, gue gak tahu apa yang lo ingat saat ini. Namun gue senang akhirnya lo bangun dari koma. Gue harap lo bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Memang sulit tapi setidaknya gue udah mencoba"


"Lo tahu Bro, gue seneng akhirnya gue gak jadi menikah dengan Suraya" Ahsan tersenyum saat mengatakan kabar itu pada Akhtar. Akhtar pun menatapnya sekilas, ada kepenasaran di mata Akhtar namun sedetik kemudian dia mengalihkan lagi pandangannya lurus ke depan.


"Apa yang terjadi setelah kecelakaan?" Akhtar akhirnya bersuara. Binar bahagia terpancar di mata Ahsan, Akhtar akhirnya berbicara walau bagaimana pun dia sangat merindukan sepupu sekaligus sahabatnya itu.


"Setelah lo kecelakaan Raina dan Omm Gunawan tidak menerima jika Ayah memutuskan pernikahan lo dan Raina. Omm Gun bilang jika dia akan menyuruh Raina untuk menunggu lo sampai sembuh dan melanjutkan rencana pernikahan kalian. Namun setelah Ayah memberikan bukti yang menyebabkan lo kecelakaan, Omm Gun pun kaget. Dia tidak menyangka jika putri kebanggaannya mempunyai kelakuan bejad seperti itu"


"Omm Gun memohon agar ayah tidak mengungkap ini ke publik. Namun ternyata polisi lebih dulu menemukan gawai lo di lokasi kecelakaan. Mobil lo terbakar bro, beberapa menit setelah Ghifar dibantu orang-orang berhasil mengeluarkan lo dari dalamnya. Cukup sulit karena saat itu posisi mobil terbalik dan lo gak sadarkan diri"


"Ghifar segera membawa lo ke rumah sakit dan membuatkan polisi mengurus semuanya di TKP. Setelah beberapa hari Ghifar dan ayah dipanggil untuk dimintai keterangan. Polisi pun memberikan memori card gawai lo. Namun entah bagaimana ceritanya video Raina yang ada di hp lo tersebar di dunia maya hingga akhirnya skandal perselingkuhan Raina pun merebak dan orang menyimpulkan jika itu yang membuat lo kecelakaan tepat di hari pernikahan lo"


"Raina syok saat video dirinya dengan kekasih bulenya tersebar di jagat maya. Dia sempat sakit dan stress, omm Gun marah besar dia benar-benar kecewa dengan Raina hingga penyakit jantungnya kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dia dirawat cukup lama waktu itu"


"Gue tahu semuanya karena saat itu gue masih bersama Suraya, dia tidak melepaskan gue barang sebentar pun. Perjanjian gue dengan ayahnya yang sudah membantu Papi keluar dari kasus yang menjeratnya benar-benar membuat gue tak berdaya untuk berkata tidak"


"Gue pasrah dan gak peduli lagi dengan hidup gue. Lo kecelakaan, Shanum sudah menikah dengan teman baik gue. Pokoknya gue kacau deh saat itu. Gue gak peduli lagi dengan masa depan gue, mau menikah dengan Suraya atau siapapun gue udah gak peduli. Sejujurnya walaupun gue pernah tergila-gila dengan Suraya, namun Suraya sekarang berbeda dengan Suraya yang dulu gue kenal. Suraya sekarang menjadi wanita dengan karakter yang selama ini gue hindari. Sudah gak ada lagi cinta di hati gue buat dia. Entah karena saking sakitnya hati gue saat dulu dia memilih pergi meninggalkan gue atau entah karena kehadiran Shanum dalam hidup gue." Ahsan menjeda ucapannya, sekilas dia menatap wajah Akhtar yang semakin dingin saat dia mengatakan tentang Shanum. Ahsan menyadari jika sepupunya itu masih sangat mencintai cinta pertamanya.


"Namun ternyata Allah sangat menyayangi gue Bro, seiring dengan terungkapnya skandal Raina dengan kekasih bulenya ke publik. Ternyata kelakuan Suraya saat di luar negeri pun tidak beda jauh dari Raina. Entah siapa yang membocorkan rahasia Suraya ke wartawan. Beberapa hari setelah video Raina tersebar, foto-foto vulgar Suraya dengan seorang lelaki bule pun tersebar di media sosial. Gue jadi punya alasan untuk meninggalkan Suraya, dan gue pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengungkap kebenaran tentang Papi yang selama ini hanya dijebak oleh bokapnya Suraya demi melancarkan misi pribadinya."


"Sekarang Papi benar-benar bebas, bahkan dia mendapat promosi kenaikan jabatan. Sekarang tugasnya di kementerian di Jakarta. Gue pun bebas dari Suraya. Kabar terakhir yang gue terima, Omm Gun membawa semua keluarganya pindah ke luar negeri. Semua asetnya di sini di jual termasuk jabatannya di yayasan langsung dicoret dan diganti oleh yang lain. Bokap Suraya pun diturun jabatankan dan katanya sih memilih pensiun dini, mereka pun pindah ke luar kota tepatnya ke Sumatra tanah kelahiran nyokapnya" Ada senyum bahagia di wajah Ahsan saat menyampaikan semua itu.


Akhtar masih mendengarkan dengan seksama apa yang Ahsan sampaikan. Dia mencerna dengan baik semua hal yang sudah dia lewati selama berbulan-bulan karena koma. Tetapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati dan pikiran Akhtar. Bagaimana kabar Shanum setelah menikah?


Sejujurnya dia masih memikirkan tentang Shanum. Ingin sekali menanyakan kabarnya pada Ahsan. Tapi lidahnya seakan kelu, dia cukup tahu diri dengan status Shanum saat ini. Dia yakin Shanum akan sangat menjaga batasannya.


"Ada rasa yang tidak boleh terlisankan oleh kata, karena lebih terhormat jika tersimpan dalam hati saja. Yaa Allah, ajari aku tentang kesabaran Ibrahim dan keikhlasan Ismail, agar aku tak selalu mengeluh rentang peluh, tak selalu menyerah jika harus kalah. Maaf jika hati ini masih mencintai orang yang harusnya sudah aku lupakan." gumam Akhtar dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2