
Untuk pertama kalinya lagi Akhtar berdiri menatap indahnya jingga di waktu senja, di rooptop gedung salah satu fakultas yang sempat beberapa purnama ia abaikan.
Hari ini Akhtar harus menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, ia diminta sang Ayah untuk mempersiapkan diri menghadapi hari istimewa esok hari.
Dibantu ibu sambung dan kedua adiknya, Akhtar melakukan fitting baju yang akan dipakainya besok. Seragam keluarga yang sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk menyambut hari istimewa itu.
Selesai mengikuti semua arahan ibu sambungnya, Akhtar pamit untuk beristirahat.
Alih-alih menuju rumah dinas tempat tinggalnya, kakinya malah melangkah menuju gedung fakultas tempatnya mengajar.
Dengan gontai ia berjalan menuju lift dan memijit nomor lantai paling atas gedung itu.
Sesampainya di rooptop, akhtar menjatuhkan bokongnya pada kursi kayu yang biasa ia duduki kala menikmati senja.
Saat sendiri seperti ini ia seakan tenggelam dalam rekaman perjalanan hidupnya.
Mengikuti keinginan sang ayah, dia rela meninggalkan sang pujaan. Menuntut ilmu setinggi mungkin, menjadi pribadi yang bisa diandalkan.
Berharap ketika kembali ia sudah menjadi imam yang laik untuk sang pujaan. Bukan bermaksud menggosthing, tetapi ia ingin fokus pada belajarnya.
Memberi kejutan saat kembali dengan membawa keberhasilan yang membanggakan.
Namun pikirannya salah, ia baru menyadari bahwa kepastian adalah sesuatu yang dibutuhkan seorang wanita untuk memutuskan.
Menunggu atau melangkah untuk melupakan.
Akhtar menyadari kekeliruannya selama ini. Banyak harapan yang tak jadi kenyataan karena dominasi keinginan.
Kini ia sedang berusaha, belajar menerima keadaan tanpa harus membenci kenyataan.
Ia percaya, seperti takdir Tuhan, sebagaimana yang telah tertakar, tidak akan pernah tertukar.
Sebuah lagu mengiringi kesendiriannya senja itu, Akhtar hanyut dalam alunannya, meresapi setiap liriknya yang seolah mewakili perasaannya.
***
Kupejamkan mata ini,
Ku coba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu
Tentang mimpiku
Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan, tolonglah diriku
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah di sana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Tak bisa aku ingkari
Engkaulah satu-satunya
Yang membuat jiwaku yang pernah mati
Menjadi berarti
Namun kini kau menghilang
Bagaikan ditelan bumi
Tak pernah kau sadari
Arti cintamu untukku
*Hampa (Ari Lasso)
****
Langit semakin menampakkan jingganya, namun keindahannya tak mampu merubah
suasana hatinya.
Dipandangnya langit senja itu dengan tatapan sendu.
“Persamaan antara menatap langit dan menatapmu adalah keduanya tak dapat kugapai”, gumamnya lirih.
Sementara di lain tempat.....
Shanum dan Liani tengah sibuk membantu persiapan acara besar yayasan.
Acara yang akan dihadiri oleh banyak orang-orang penting, selain yang bekerja di yayasan acara itu juga akan dihadiri semua karyawan dan relasi-relasi perusahaan sang pemilik yayasan.
“Katanya undangan yang akan hadir hari ini kurang lebih dua ribu orang,” ungkap Liani disela-sela kegiatannya menghias gedung.
__ADS_1
Liani dan Shanum serta beberapa teman sejawatnya turut serta menjadi panitia pelaksana mewakili SMA Bina Insani.
Bergabung dengan guru dan karyawan lainnya menjadi panitia yang akan menyukseskan acara ini.
“Wow, luar biasa!” Seru Shanum.
“Hari ini kita memakai seragam sesuai asal sekolah masing-masing, Num. Punya kamu sudah siap?” tanya Liani.
“Alhamdulillah, sudah.” Jawab Shanum.
“Pokoknya hari ini adalah hari istimewa buat yayasan kita, makanya kita harus benar-benar maksimal mempersiapkannya".
"Jangan sampai ada kekurangan sedikitpun.” Liani kembali menegaskan.
“Iya”, jawan Shanum singkat.
“Num, kamu pernah ketemu gak sama anaknya pemilik yayasan?”, Liani bertanya sambil tetap fokus menata bunga-bunga yang ia rangkai.
“Aku penasaran, katanya dia masih sangat muda, gak jauhlah dari kita."
"Kayaknya kita seangkatan dech, keren banget di usia muda udah sukses jadi CEO."
Aku pernah sekali melihatnya, tapi dari kejauhan waktu dia mau mengajar, itupun cuma punggungnya doang."
"Kata temen aku sesama dosen di sana, dia orangnya baik banget tampan lagi, ramah pula ke semua orang."
"Tapi sayang akhir-akhir ini katanya dia berubah, jadi dingin kaya kulkas. Efek dipaksa nikah kali ya, jadinya stress…hahahaha….”
Liani terus mengoceh tanpa menunggu jawaban Shanum di akhiri dengan tawa yang cukup keras, membuat beberapa panitia lain melirik ke arah mereka.
Plak, Shanum memukul tangan Liani pelan.
“Kebiasaan kamu, kalau udah ngomong susah banget ngerem”, seru Shanum.
“Adududududuh….sakit Num’, Liani memegangi tangannya sambil meringis pura-pura kesakitan.
“Lagian kamu sih, bukannya fokus kerja biar cepet selesai malah ngoceh gak jelas, bikin makin lama aja kerjaan kita.” Gerutu Shanum.
“Eh eh eh…siapa bilang aku ngoceh gak jelas. Jelas-jelas aku tuh lagi mendeskripsikan fakta menarik calon pimpinan kita."
"Siapa tahu kita kebagian kesempatan menjadi kandidat calon pendampingnya, kan keren tuh buat perbaikan keturunan, hihi…..”,
Lagi-lagi Liani mengoceh diakhiri dengan kikikan.
“Hari ini tuh, selain akan dinobatkan sebagai pemimpin yayasan, dia juga katanya akan dipertemukan dengan calon pendampingnya."
"Aahhh…..Bapak Akhtar Farzan Wijaya, andai aku yang kau pilih untuk menjadi pendampingmu, aku rela mengabdikan seluruh hidupku dengan segenap jiwa dan raga.”
Liani mengakhiri obrolannya dengan melenggang pergi.
Deg….
“Siapa, Li?” tanyanya cepat, namun sayang yang ditanya sudah berjalan menjauhinya.
Fokus Shanum benar-benar buyar sesudah mendengar nama yang tadi disebut sahabatnya itu.
Ia penasaran dengan nama itu, nama yang sama dengan orang yang selalu bertahta di hatinya bahkan sampai saat ini pun.
“Sudah waktunya istirahat, kita makan siang bareng yuk?”, tiba-tiba seseorang mengagetkannya.
“Kak Ahsan, eh Pak Ahsan…maaf”, cicit Shanum kaget meralat ucapannya.
“Kenapa? Kenapa harus berubah? Seperti biasa aja, aku lebih suka kamu panggil Kakak.” Sela laki-laki itu.
“Aku mau mengajakmu makan siang, tadi temanmu berpesan padaku untuk mengajakmu. Dia tadi sudah duluan ke kantin.” Jelas Kak Ahsan.
Saat ini kami kembali terlibat projek yang sama, Kak Ahsan menjadi ketua panitia acara yang akan digelar beberapa jam ke depan.
Aku celingak celinguk mencari Liani, tampak gedung pun sudah sepi. Semua panitia sudah pergi ke kantin untuk makan siang.
Terpaksa aku pun menerima ajakan Kak Ahsan untuk pergi bersama.
Aku berjalan di belakangnya berusaha menjaga jarak. Mengetahui aku tertinggal di belakangnya, Kak Ahsan menghentikan langkahnya.
“Kamu itu diciptakan buat jadi pendamping, makanya jalannya disampingku bukannya di belakang jadi pengikut”, ucapnya gombal.
Shanum mendadak menghentikan langkahnya sambil menatapnya tajam ke arah Ahsan.
“Hhe…. Sorry sorry, just kidding, Num.” Ahsan terkekeh tanpa merasa bersalah melihat kekesalan Shanum.
Tiba di kantin, meja-meja tampak penuh.
Shanum mengedarkan pandangannya mencari Liani, yang dicari sedang asik makan sambil bercengkrama dengan guru-guru lainnya.
Shanum berjalan menghampiri Liani tanpa menghiraukan Ahsan.
“Ibu Liani, kenapa ninggalin aku?’’ sesampainya di meja Liani Shanum langsung merajuk.
Shanum memanggil Liani dengan formal karena saat ini mereka tengah bersama guru-guru.
“Eh, Bu Shanum, maaf tadi aku gak maksud ninggalin kamu, tapi Pak Ketu ngasih kode supaya aku cepat ke kantin, hhe….sorry”, kilah Liani nyengir, melirik Ahsan sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Di sini penuh, kita ke sana yuk…masih ada meja kosong di sana.”
Tiba-tiba Ahsan sudah berada di samping Shanum setengah mengagetkannya.
“Eh….nanti aja giliran, Pak.” tolak Shanum halus.
__ADS_1
Dia tidak mau duduk berdua dengan Ahsan, tidak mau menjadi bahan gossip dan takut Ahsan menyalah artikannya.
Apalagi Ahsan mengajak Shanum ke meja VIP yang biasa dipakai para pimpinan jika makan siang di kantin.
“Udah Bu ikut aja, daripada gak makan siang sebentar lagi waktu istirahat habis lho….” Usul Liani.
“Iya Bu Shanum mendingan ibu makan sekarang, soalnya target kita semua harus selesai sebelum pukul 16.00, acara kan mau di mulai langsung ba’da Maghrib, Pak Diwan menimpali.
“Ayo”, ajak Ahsan.
Dengan berat hati akhirnya Shanum menggangguk menerima ajakan Ahsan.
Mereka tiba di meja VIP, Ahsan mulai memesan makanan tanpa bertanya pada Shanum.
Shanum hanya diam memendam kekesalannya.
“Ternyata kalau bawaannya diktator, tetep aja diktator dalam keadaan apapun", hatinya menggerutu.
Ahsan memang sangat tegas dalam memberi keputusan ketika dia menjadi ketua BEM, Shanum tahu itu. Bahkan banyak teman-temannya yang mengatakan Ahsan adalah tipe pemimpin diktator.
Di sela-sela menikmati makan siangnya, tiba-tiba gawai Ahsan berbunyi, sebentar ia melirik Shanum meminta izin mengangkatnya. Shanum sedikit menganggukan kepalanya.
“Assalamu’alaikum,” Ahsan menyapa orang yang meneleponnya.
“….”
“Iya, siap. Aku sudah menyiapkan segalanya. Pokoknya nanti malam kamu harus tampil memukau.” Ucapnya lagi.
“……”
“Sekarang aku lagi makan siang nih di kantin, di temani calon bidadariku”,
sekilas Ahsan melirik Shanum sambil melempar senyuman manisnya.
Shanum hanya mencebikkan bibirnya sambil memelototi Ahsan.
Ahsan malah tertawa lepas melihat ekspresi Shanum yang begitu menggemaskan di matanya.
“Iya, iya…pokoknya kalau mau tahu ke sini aja. Kita sekalian makan bareng. Oke aku tunggu."
Wa’alaikusalam”, pungkasnya mengakhiri teleponnya.
Selesai mengakhiri obrolannya di telepon Ahsan menyimpan kembali gawainya di tempat semula.
Ia menarik nafas dalam, memandangi Shanum yang masih tampak menampakkan kekesalannya.
“Shanum,” Ahsan tampak berbicara serius.
“Aku tahu ini kali ketiga kamu menolakku."
"Aku masih ingat pertama kali mengungkapkan perasaanku padamu saat kamu masih menempuh S1 mu."
"Aku bisa menerima alasanmu yang tidak ingin pacaran dan ingin fokus kuliah demi cita-citamu.”
“Kali kedua kembali kuungkapkan isi hatiku yang masih tetap sama, saat menjadi pembimbing penelitian tesismu."
"Bahkan dengan sengaja aku mengajukan diri menjadi pembimbingmu agar bisa dekat dengan kamu."
"Tapi, lagi-lagi kamu menolakku."
"Aku kembali mengerti mungkin kamu masih trauma karena kegagalan pernikahanmu dengan pria pilihan orang tuamu.”
Shanum tersentak mendengar penuturan Ahsan tentang pernikahannya yang gagal.
Ia mengerutkan keningnya heran, dari mana Akhtar mengetahuinya.
“Dan kembali untuk ketiga kalinya aku ungkapkan maksud hatiku untuk meminangmu, namun lagi-lagi kamu menolakku."
"Kali ini aku tidak tahu alasannya, tapi aku masih tetap akan menunggu.” Lanjut Ahsan.
Ahsan menghela nafas menjeda bicaranya…
“Jadi aku mohon biarkan aku kembali berjuang, memaksimalkan ikhtiyar untuk bisa mendapatkan tempat istimewa di hatimu."
"Aku jodohmu atau bukan, aku tidak tahu. Yang jelas hari ini, kita masih sama-sama berjuang."
"Aku berjuang untuk bisa bersamamu, walaupun aku tidak tahu kini kau berjuang untuk apa.”
“Semua hanya tentang waktu, aku akan tetap berdo’a dan tidak berubah atau menyerah."
"Aku yakin hanya do’a yang akan mampu mengubah takdir, the power of do’a itu nyata, Num."
“Mengubah pagi menjadi malam saja Allah mampu, apalagi hanya mengubah nasib cinta kita."
"Mengatur alam semesta saja mudah bagi-Nya, apalagi hanya mengatur hidup kita."
"Menerbitkan mentari saja Dia bisa, apalagi hanya menerbitkan harapanku tentangmu.”
“Mendekati-Nya kini menjadi prioritasku untuk mendapatkan hatimu."
"Aku yakin selama Allah menjadi tujuan tidak akan ada do’a yang percuma."
"Selama Allah menjadi sandaran, tak akan ada perjuangan yang sia-sia."
"Selama Allah menjadi pengharapan, tak akan ada hati yang kecewa."
"Semua akan bahagia pada waktunya.” Ahsan berbicara panjang lebar.
__ADS_1
Shanum hanya bisa melongo mendengar semua penuturan Ahsan.
Hal yang lebih membuat dia kaget adalah saat melihat seseorang telah berdiri di belakang Ahsan dan sedari tadi mendengar semua yang Ahsan katakan.