Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Saling Mendo'akan


__ADS_3

Pagi yang cerah di kota Bogor. Akhtar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Perjalanan Bandung Bogor dia lalui dalam keadaan ramai lancar. Sesuai perintahnya kepada Ghifar agar sang asisten mengatur keberangkatannya ke Bogor dan hari ini asistennya itu mengosongkan jadwal Akhtar dari berbagai pertemuan.


Pekerjaan-pekerjaannya di perusahaan maupun yayasan dia percayakan kepada asisten dan orang-orang kepercayaannya.


Setelah mengetahui tentang keterlibatan Raina dan Suraya dalam peristiwa hilangnya Shanum dari informasi dan bukti yang didapat dari orang kepercayaannya, hal itu membuat Akhtar marah besar kepada Raina sekaligus semakin merasa bersalah pada Shanum. Dia meminta sang asisten untuk mengurus masalah Raina, dia tidak ingin Raina kembali menyakiti Shanum.


Dengan berbekal alamat Shanum dari bagian kepegawaian di yayasan, Akhtar lebih memilih untuk pergi ke Bogor. Dia memutuskan pergi sendiri agar lebih leluasa menemui Shanum. Sementara urusan Raina dia serahkan kepada sang asisten.


Akhtar sudah tidak sabar untuk bertemu Shanum, dia hanya ingin meminta maaf karena semua yang terjadi pada Shanum adalah karenanya. Akhtar juga ingin memastikan jika keadaan Shanum baik-baik saja.


Akhtar berharap Shanum bisa kembali ke yayasan, dia akan berusaha menebus kesalahannya pada Shanum. Dia tidak ingin rasa bersalah terhadap Shanum terus menghantuinya. Entah dirinya berjodoh atau tidak dengan Shanum, Akhtar berharap mereka bisa tetap menjalin hubungan baik. Bukankah mencintai tidak selalu harus memiliki?pikirnya. Biarlah cinta itu tetap ada dalam hatinya, diam-diam nama Shanum selalu terucap di setiap penghujung sujudnya.


"Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan sesungguhnya untukku", batin Akhtar.


Sekitar pukul sepuluh Akhtar sudah sampai di alamat yang dituju. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang dia yakini di sanalah tempat Shanum tinggal saat ini.


Keadaan rumah tampak sepi. Akhtar berkali-kali mengucapkan salam namun tak kunjung ada jawaban.


"Wa'alaikumsalam, mau ke siapa, Den?" seorang laki-laki paruh baya menyapa Akhtar saat dia berkali-kali mengucap salam.


"Ahh...maaf, apakah ini benar rumahnya Bapak Imran?" tanya Ahsan, Pak Imran adalah nama ayah Shanum.


"Iya, betul Den" jawab laki-laki paruh baya itu.


"Tapi kalau jam segini, Pak Imran masih di peternakan, Den. Dia kerja di sana, biasanya dzuhur sudah pulang" jelasnya.


"Kalau Ibunya, Pa?" tanya Ahsan lagi.


"Kalau Bu Hana biasanya masih ngajar Den di TK sebelah sana" tunjuk Bapak itu ke arah sebrang jalan.


"Baik Pa, terima kasih atas informasinya. Saya akan menunggu saja di sini." Akhtar mengucapkan terima kasih pada orang tua yang sudah memberinya informasi itu.


"Sama-sama, Den" Bapak itu pun melanjutkan perjalanannya.


Kurang dari satu jam Akhtar menunggu. Dia memainkan gawainya untuk mengusir kebosanannya. Tiba-tiba, sebuah mobil yang tidak asing untuk Akhtar berhenti tepat di samping mobilnya yang terparkir di depan pagar rumah Shanum.


Dan benar saja dugaannya bahwa pemilik mobil itu adalah orang yang dia kenal yang tak lain adalah Ahsan. Akhtar memalingkan wajahnya saat Ahsan dan Shanum bersamaan turun dari mobil tersebut dan berjalan ke arahnya.


Shanum belum menyadari keberadaan Akhtar di depan rumahnya, dia masih bersikap biasa saja. Sedikit menjauh dari Ahsan yang seperti ingin menggandengnya. Ahsan pun tertegun ketika melihat Akhtar sudah berdiri tegak di teras rumah Shanum.


Shanum yang masih merasa lemas dan malu karena tidak bisa mengontrol dirinya di hadapan Ahsan terus menundukkan kepalanya. Dalam hatinya dia terus merutuki dirinya, saat di villa kenapa dia bisa selemah itu sampai harus tidak sadarkan diri.


Ketika di villa...

__ADS_1


Ahsan sangat panik, karena saat dia mendekati Shanum yang terjadi Shanum malah pingsan tepat di pangkuannya. Ahsan yang panik langsung berteriak memanggil Bi Ijah. Bi Ijah adalah orang kepercayaan Ahsan yang bertugas menjaga dan mengurus villa ini.


Bi Ijah pun membopong Shanum ke sofa yang ada di villa yang dibantu oleh Ahsan. Bi Ijah merawat Shanum dengan penuh perhatian. Bi Ijah tahu kalau gadis yang saat ini sedang tidak sadarkan diri ini adalah gadis pujaan majikannya karena di salah satu kamar yang ditempati Ahsan kalau berkunjung ke villa itu dipenuhi dengan foto Shanum yang diambil secara diam-diam oleh Ahsan. Foto-foto Shanum sejak kuliah sampai dia sedang mengajar di kelas ada di kamar itu.


Sebenarnya Ahsan sudah lama membeli villa di Bogor. Sejak dia tertarik pada Shanum dan menyatakan cintanya namun Shanum menolaknya, tetapi hal justru membuat Ahsan menjadi stalker Shanum.


Bi Ijah menempelkan minyak kayu putih ke ujung hidung Shanum. Tanpa menunggu lama, Shanum pun mulai tersadar. Dia tersentak menyadari keberadaannya saat ini. Shanum ingat dia sedang berada di tempat orang lain. Dia buru-buru bangun, namun Bi Ijah menahannya.


"Neng, tenang dulu" ucap Bi Ijah mengagetkan Shanum.


"Hah...Ibu siapa?" tanya Shanum kaget.


"Saya Bi Ijah, penjaga villa ini" jawab Bi Ijah jujur.


"Saya....." ucapan Shanum terjeda saat mendengar suara pintu terbuka dan seseorang muncul membawa kantong kresek yang entah apa isinya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Ahsan yang baru saja datang, dia membawa kantong kresek yang ternyata berisi sarapan untuk Shanum.


"Aku belikan bubur ayam buat kamu sarapan. Bibi, tolong disiapkan ya?" pinta Ahsan pada Bi Ijah. Bi Ijah pun beranjak ke dapur menyiapkan sarapan untuk Shanum dan Ahsan juga dirinya.


"Sudah merasa lebih baik?" Ahsan menatap lekat Shanum, kecemasan dan kekhawatiran begitu kentara di wajah Ahsan.


"Alhamdulillah, maaf aku jadi merepotkan Kakak" ucap Shanum lirih.


Shanum hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Ahsan. Dia pun tidak tahu kenapa bisa sampai tak sadarkan diri. Ingatannya kembali ke peristiwa yang membuatnya seperti ini, dia bergidik sendiri sambil terus mengucapkan kalimah istighfar.


"Maaf, aku kira kejadian waktu itu tidak membuatmu trauma separah ini. Waktu aku tahu kamu sudah kembali ke yayasan dan terlihat baik-baik saja aku lega. Awalnya aku akan segera menemuimu, tetapi aku lupa hari itu aku harus berangkat ke Cianjur untuk mengisi seminar di sana. Maaf..." Ahsan terlihat sangat menyesal.


"Tidak apa-apa Kak, aku juga baru menyadari jika mengingat peristiwa itu aku jadi parno sendiri. Pikiranku suka melayang kemana-mana, membayangkan sesuatu yang tidak terjadi. Aku juga heran saat pikiran-pikiran seperti itu datang tiba-tiba saja badanku merespon seperti itu" jelas Shanum


Ahsan hanya memandangi Shanum, saat dia berbicara.


"Jadi aku mohon Kak, jangan seperti ini lagi. Mungkin sebaiknya kita menganggap bahwa kita tidak pernah saling mengenal. Aku tidak mau karena perbuatanku orang lain ikut terkena akibatnya. Kalau pun suatu saat keadaan ternyata mempertemukan kita, mari kita berpura-pura untuk tidak saling mengenal."


"Setelah pertemuan kita hari ini pun, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kak Suraya sangat mencintai Kakak, dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan cintanya. Baginya Kakak adalah miliknya masa depannya. Jadi mulai saat ini tolong jangan menemuiku lagi",


Deg....sesuatu tiba-tiba terasa menghantam dada Ahsan.


"Aku sadar manusia memang berhak untuk memilih, tapi jangan lupa Allah yang berhak menentukan apa yang pantas untuk kita. Manusia boleh berikhtiyar tapi tidak berkuasa untuk berkehendak. Aku selalu belajar untuk menyadari, bahwa tidak semua yang diinginkan dapat dimiliki"


"Sejujurnya, dengan semua yang telah Kakak lakukan untukku, Kakak yang selalu ada di setiap momen penting dalam hidupku membuat pikiranku terbuka. Mungkin bukanlah hal yang sulit untukku jatuh cinta padamu, Kakak terlalu baik jika disia-siakan. Tetapi, lagi-lagi aku kembali dipukul mundur oleh kenyataan dan dengan penuh kesadaran aku akan mundur."


"Terkadang pergi memang menjadi pilihan yang tepat. Bukan untuk ego tapi untuk harga diri. Semua akan ikhlas pada waktunya."

__ADS_1


"Aku tahu kebahagiaan itu harus diciptakan. Berbahagialah dengan banyak cara, tapi aku ingin menggapai kebahagiaan dengan tidak merusak kebahagiaan orang lain. Jika orang lain melakukan itu padaku, biarlah itu menjadi urusan dirinya dengan Tuhannya"


"Aku yakin selama Allah yang menjadi pengharapan, tidak akan ada do'a yang sia-sia. Semua akan bahagia pada waktunya. Seburuk apapun halaman sebelumnya, akan selalu tersedia halaman selanjutnya dan semoga coretan-coretan yang kita lukiskan selanjutnya penuh dengan kebahagiaan."


"Mulai sekarang mari kita saling mendo'akan. Walaupun sulit, karena do'a yang paling membuat terluka adalah saling do'a untuk saling melupakan. Tetapi tidak mengapa, aku bersyukur diberi hati dan tulang yang kuat, walau terkadang ada bisikan aku harus menyerah''.


Shanum mengungkapkan semua isi hatinya pada Ahsan, tak ada lagi yang ditutup-tutupi. Ahsan memandangi Shanum tanpa teralihkan sedikitpun. Semua kata -kata Shanum terrekam jelas di memorinya.


Dia merasa Shanum sudah mulai mencintainya, tapi kenyataannya tak seindah ekspektasi. Terlihat jelas oleh Ahsan wajah lelah Shanum. Ahsan merasakan sakit ketika mengingat semua perlakuan Suraya pada Shanum terjadi karenanya.


Ahsan menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Jadi, kamu maunya aku harus gimana?" tanya Ahsan dengan tatapan sendu,


"Kembalilah pada Kak Suraya, perlakukanlah dia dengan baik. Aku percaya dia akan lebih baik setelah bersama Kakak" ucap Shanum tenang, diiringi senyuman merekah seakan menutupi lukanya.


"Kamu mau aku melakukannya? heumm?" Ahsan kembali memastikan, dia terus memandangi wajah Shanum.


"Heummm" Shanum hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya.


Ahsan semakin dalam menatap Shanum, matanya kian menghangat. Sesuatu yang berusaha dia tahan akhirnya menetes juga di pipinya. Dia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Shanum yang pasti melihat air matanya saat terjatuh.


"Huuhh....."Ahsan mengeluarkan napasnya kasar, dia mengusap wajahnya.


"Baiklah aku akan melakukannya untuk kamu. Aku akan memberi kesempatan Suraya untuk bisa mendapatkan hatiku kembali. Tapi dengan satu syarat....." Ahsan menjeda kata-katanya. Shanum menautkan kedua alisnya, penasaran dengan syarat yang akan diajukam Ahsan.


"Syaratnya.....kamu harus lebih dulu menikah sebelum aku. Selama kamu masih sendiri aku tidak akan mundur selangkah pun." ucap Ahsan tegas.


Shanum menarik napasnya dalam, dia tidak habis pikir dengan syarat yang Ahsan ajukan. Dia bingung, jangankan untuk menikah dan menerima orang yang baru. hatinya saja masih porak poranda.


Ahsan masih memandangi Shanum, jarak mereka bahkan begitu dekat. Setiap kali Shanum berbicara, Ahsan tampak mencoba mengikis jarak di antara mereka. Sejak dulu Ahsan memang selalu terpesona ketika melihat Shanum berbicara. Ahsan bisa melihat dengan jelas raut wajah Shanum yang kebingungan ketika dia mengajukan syarat itu. Dalam hatinya dia tersenyum senang, dia yakin syarat yang dia ajukan bukanlah hal yang mudah untuk Shanum.


Shanum yang merasa Ahsan semakin mendekat segera mengalihkan pandangannya badannya sedikit mundur agar menjauh dari Ahsan.


"Kenapa?" goda Ahsan.


"Enggak apa-apa, aku sudah lebih baik Kak, aku mau pulang" Shanum mengalihkan pembahasan.


Ahsan tersenyum tipis melihat Shanum yang salah tingkah, merasa lucu sendiri di hatinya seperti ada bunga yang bermekaran. Ahsan yakin jika Shanum sudah mulai mencintainya.


Pembicaraan mereka berakhir dengan kesepakatan, Ahsan akan menjauh dari Shanum dan memberikan Suraya kesempatan jika Shanum sudah sudah menikah.


Sekarang mereka sudah berada di halaman rumah Shanum. Betapa terkejutnya Shanum melihat Akhtar sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia memandang Ahsan dan Akhtar bergantian, situasi seperti ini sungguh tidak diharapkan oleh Shanum.

__ADS_1


"Aa....."


__ADS_2