Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Nasehat Bapak


__ADS_3

Pertemuan yang tidak pernah terbayangkan. Semenjak memutuskan menikah Shanum sangat membatasi diri dengan pergaulannya, terutama dengan semua hal yang berhubungan dengan masa lalunya saat bekerja di yayasan.


Liani yang selama ini menjadi sahabat dekatnya saja sudah melayangkan protes karena sangat sulit sekali menghubungi Shanum, jangankan untuk curhat seperti dulu sekedar bertanya kabar saja Liani harus menunggu lama untuk mendapat balasan dari Shanum.


'Shanum......apa kabar?'


Esoknya...


'Num, masih di Jakarta kan?'


Esoknya lagi...


'Shanum, kamu mah ya kebiasaan. Kenapa gak dibaca-baca pesan aku? jangankan dibalas dibaca aja engga' 😠


'Jangan bilang gara-gara dia yah, kamu mah kecewanya sama satu orang tapi menutup dirinya ke semua orang, curang itu namanya, Num'


Adalah deretan pesan terakhir Liani beberapa hari yang lalu. Shanum hanya tersenyum tipis saat membacanya sampai saat ini dia pun belum membalasnya. Liani bahkan tidak tahu jika suaminya telah tiada.


Setelah kepergian suaminya, Shanum memang sangat jarang menggunakan gawainya. Jika menghubungi keluarganya pun Shanum lebih sering menggunakan telepon rumah. Bukannya Shanum memutuskan silaturahmi, tetapi dia benar-benar sedang menata hatinya.


Dan hari ini, tiba-tiba Shanum dipertemukan dengan salah satu orang yang sangat dia hindari selama ini.


"Apa kabar?" tanyanya saat mereka sudah saling berhadapan.


Shanum tidak segera menjawab pertanyaan orang itu, dia masih belum bisa menguasai dirinya. Shanum masih larut dalam pikirannya sendiri, bagaimana agar dirinya bisa segera pergi dari tempat itu secepatnya.


Fauzan yang mengerti keadaan Shanum saat ini segera mendekati kakaknya.


"Kak Ahsan apa kabar?" Fauzan menyodorkan tangan untuk bersalaman ketika Shanum tak kunjung menjawab pertanyaan orang yang ada di hadapannya yang tak lain adalah Ahsan. Fauzan pun menyikut kakaknya yang masih belum mengeluarkan suara.


Shanum yang mendengar adiknya menyebut nama orang itu pun tersadar.


"Ahh...aku baik baik, baik Kak? Kakak apa kabar?" Shanum mulai bisa menguasai dirinya, dia berusaha menampilkan wajahnya kembali senormal mungkin. Dia pun menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


"Aku baik" jawab Ahsan kembali melihat Shanum setelah bersalaman dengan Fauzan.


"Kalian dari mana? mau kemana? berdua saja? suami kamu?" Ahsan memberondong Shanum dengan banyak pertanyaan.


Sejenak Shanum terhenyak, dia memutar otak mencari jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan Ahsan.


"Iya, aku habis ada perlu sama Fauzan. Kakak dari mana? sudah lama di Jakarta?" tanya Shanum mengalihkan pembahasan tentang dirinya.


"Aku ada seminar di Jakarta, sudah tiga hari di sini dan sekarang mau mampir ke Bogor sebelum balik ke Bandung, mau ngecek vila di sana sudah lama gak ke sana sekalian mumpung udah deket. Terakhir ke sana waktu nikahan kamu" jawab Ahsan panjang lebar, dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


"Ouh..." Shanum hanya menjawab dengan membulatkan bibirnya.

__ADS_1


"Kamu gak bareng suami kamu? kemana Haqi?" Ahsan kembali bertanya tentang suaminya.


Saat kecelakaan gawai Haqi turut hancur, sehingga tidak ada teman-teman semasa kuliah di Bandung Haqi yang tahu kejadian itu. Termasuk Ahsan yang dulu satu kampus dengan Haqi tidak mengetahui jika Haqi sudah tiada. Apalagi Haqi kurang aktif di grup whatsapp alumni angkatan mereka.


"Enggak Kak, Fauzan ada perlu di Jakarta jadi aku yang nganter" Shanum berusaha menjawab selogis mungkin. Dia bahkan tidak sedikit pun menyinggung tentang suaminya sesuai pertanyaan Ahsan. Shanum berharap Ahsan tidak peka sampai ke sana.


"Oya Num, kamu tahu tentang Akhtar? dia...."


"Maaf Kak" Shanum melihat jam tangannya


"Sepertinya aku harus pamit. Kita buru-buru nih harus sampai sekitar dua puluh menit lagi ke lokasi tujuan Fauzan. Jadi maaf ya, aku duluan. Assalamu'alaikum" ucap Shanum memotong pembicaraan Ahsan. Selain untuk menghindar dari pertanyaan tentang suaminya, Shanum pun tidak mau lagi mendengar berita apapun tentang orang-orang di masa lalunya.


Dia juga merasa tidak nyaman berlama-lama mengobrol dengan Ahsan. Yang Shanum tahu Ahsan sudah bertunangan dengan Suraya, begitupun Akhtar sudah menikah dengan Raina. Begitulah kabar terakhir yang pernah dia baca di portal berita online beberapa bulan yang lalu. Sejak saat itu, Shanum mulai jarang menggunakan gawainya.


Shanum segera memalingkan tubuhnya, dia membuka pintu mobil dengan cepat dan duduk di samping kursi kemudi dengan Fauzan yang sudah siap melajukan mobilnya ke luar dari rest area.


"Wa'alaikumsalam" jawab Ahsan pelan, karena melihat Shanum sudah naik ke mobilnya, dan Fauzan pun membunyikan klakson tanda pamit pada Ahsan.


"Sepertinya ada yang berubah dari kamu, Num. Semoga kamu bahagia selalu dengan kehidupanmu sekarang. Aku yakin Haqi akan membahagiakanmu. Aku turut bahagia, kini aku hanya ingin berteman denganmu seperti dulu. Karena mencintai yang paling dewasa adalah memilih berteman denganmu. Selamat menahan diri Ahsan, termasuk menjaga hati" gumam Ahsan, dia mengusap dadanya dan berbicara pada dirinya yang hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri.


Ahsan pun kembali ke parkiran tempat mobilnya berada, dia melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan Shanum.


Akhirnya Shanum dan Fauzan sampai di Bogor. Mereka sampai hampir dua jam lebih lambat dari seharusnya karena saat keluar dari rest area Shanum menyuruh Fauzan untuk putar balik kembali ke arah Jakarta. Tujuannya satu untuk menghilangkan jejak dari Ahsan yang sama-sama akan menuju kota Bogor.


Saat ini Shanum benar-benar belum siap kembali bertemu dengan orang-orang yang telah susah payah dia hindari. Bahkan keputusannya untuk menikah pun awalnya untuk menghindar dari mereka.


"Jam berapa dari Jakarta, Teh? tanya Bu Hana saat mereka sudah menyelesaikan makan malam bersama.


"Sebelum ashar, Bu. Cuman tadi kita kejebak macet" jawab Shanum berbohong. Dia pun melirik sang adik yang sedang menatapnya sambil mengacungkan jempolnya.


"Teteh sekarang harus belajar mobil biar Bapak dan Ibu ada yang nganterin kalau ke Garut" celetuk Fauzan mengalihkan pembahasan.


"Iya Teh, sekarang teteh harus bisa bawa mobil sendiri. Eh tapi kalau ke Garut mah kan ada Bang Adam, iyakan Bang?" sambung Rida menimpali obrolan Fauzan dan diangguki oleh Adam suaminya.


Saat ini formasi keluarga Shanum sedang lengkap. Bapak dan Ibu yang biasanya berada di Garut mendadak pulang saat mendengar Shanum akan kembali ke Bogor ditambah kabar bahwa anak kedua mereka sudah mulai ada tanda-tanda akan segera melahirkan. Mereka tentu ingin mendampingi sang putri saat melahirkan nanti dan menyambut kehadiran cucu pertama mereka yang menurut hasil USG berjenis kelamin perempuan. Begitu pun Rida dan suaminya mereka sengaja menginap ketika tahu kakaknya akan datang.


"Iya, Insya Allah nanti teteh belajar. Kamu siap jadi tutornya kan Dek?" tanya Shanum pada Fauzan.


"Ashiyaappp.....off course Teteh...but, wani piro?"....ledek Fauzan dengan mengusap-usapkan ibu jari dan telunjuknya ke arah Shanum, disusul gelak tawa semua karena terhibur dengan candaan Fauzan.


"Ishhhh......dasar!" balas Shanum sambil melempar tissue yang sudah dia gunakan untuk mengelap tangannya sehabis cuci tangan.


"Siap, Teh. Pokoknya buat Teteh mah apa sih yang enggak, always pokoknya" goda Fauzan lagi yang dibalas dengan senyum mengembang di bibir Shanum.


Obrolan mereka pun berlanjut dengan berbagai topik. Mereka saling berbagi cerita tentang semua yang mereka alami masing-masing selama tidak bertemu. Shanum terlihat lebih banyak diam, dia memilih menjadi pendengar yang baik dan hanya sesekali menimpali ketika ditanya atau dimintai pendapat.

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Adam terlihat sudah beberapa kali menguap namun dia masih setia mendampingi sang istri yang masih antusias menceritakan semua hal yang dialaminya selama kehamilan.


"Neng, sudah malam waktunya istirahat" Bapak akhirnya mengambil alih obrolan.


"Iya, istirahat gih enggak baik bumil tidur terlalu malam. Harus istirahat yang cukup, apalagi sebentar lagi akan melahirkan" timpal Shanum. Dia pun melirik adik iparnya agar mengajak Rida untuk beristirahat.


"Yuk Dek kita istirahat, Abang juga udah ngantuk nih" ajak Adam kepada Rida.


Rida pun menurut, dia berdiri dipapah suaminya. Dia sudah kesulitan ketika hendak berdiri karena usia kandungannya yang sudah sembilan bulan. Mereka pun pamit menuju kamarnya untuk beristirahat.


Pak Imran dan Bu Hana pun beranjak dari tempat duduknya.


"Teteh juga segera istirahat" ucap Bapa sebelum pergi menuju kamarnya.


"Iya, Pak. Bapak dan Ibu juga istirahat ya" balas Shanum lembut, Shanum pun berlalu meninggalkan mereka menuju kamarnya.


Hingga waktu hampir di penghujung malam, Shanum masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang ke masa-masa yang sudah dia lewati. Film perjalanan hidupnya kembali berputar, berkali-kali Shanum berusaha memejamkan mata namun tak kunjung lelap.


Dia beranjak dari tempat tidurnya, keluar dari kamar menuju dapur. Shanum mengambil segelas air putih dan meneguknya perlahan. Dia duduk di kursi yang ada di dapur masih memegang gelas di tangannya.


Tanpa Shanum sadari air mata tiba-tiba menetes begitu saja dari ujung matanya. Shanum pun berusaha meredam suara tangis yang semakin sulit dia tahan, dadanya terasa sesak.


"Menangislah Teh, berusaha kuat tidak berarti tidak pernah menangis. Bersedih itu wajar, karena dari sedih kita belajar hal yang tidak diajarkan oleh rasa bahagia" Pak Imran yang hendak menunaikan shalat malam, terhenyak saat mendapati putri sulungnya sedang menangis sendiri. Dia pun menghampiri Shanum dan menenangkannya dengan usapan lembut di bahu Shanum dan untaian nasihat untuk sang putri.


"Bapak..." Shanum mendongak saat Pak Imran mengusap bahunya, dia mendengarkan dengan seksama nasihat Bapak untuk dirinya.


"Jangan pernah menganggap perpisahan sebagai takdir buruk untuk teteh. Percayalah, hidup tidak sekejam itu. Kita semua akan mengalaminya, jika saat ini teteh ditinggalkan maka suatu saat teteh pun akan meninggalkan. Semua sedang antri menunggu giliran",


"Kehilangan memberikan pelajaran bahwa pada akhirnya manusia harus berdiri sendiri di atas kakinya sendiri dan tidak bergantung pada siapapun selain Allah. Akan ada masanya teteh menyadari bahwa perpisahan itulah yang membuka jalan untuk untuk hidup teteh yang baru.",


"Dalam hidup akan selalu ada masa-masa untuk tersenyum dan menangis, jalani semua dengan ikhlas dan yakinlah Allah selalu bersama teteh setiap waktu. "Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya. Melainkan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)", begitu Rasulullah bersabda dan ingat Allah tidak akan membebani manusia di luar batas kemampuannya",


"Semua yang sudah terjadi adalah Qadarullah, teteh harus sabar menerima dan ikhlas menjalankan apa yang sudah Allah takdirkan untuk teteh karena Rasul bersabda "Allah telah menuliskan atau menetapkan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan menciptakan langit dan bumi" (HR


Muslim)"


"Teteh hebat, tetap bertahan pada saat sebagian hati teteh telah hancur karena kepergiannya. Teteh hebat tetap berusaha kuat di saat luka di dalam diri teteh belum sepenuhnya terobati. Masa-masa sulit akan mengajarkan pada kita bagaimana menjadi kuat dan bagaimana agar kita terus berharap pada Allah"


"Apapun yang kita anggap sulit Allah mampu membuatnya menjadi mudah. Teruslah berdo'a, ibarat cahaya sekecil apapun ia akan bermanfaat saat dalam keadaan gelap. Seperi itulah sebuah do'a. Tetaplah memiliki harapan dan yakin bahwa keadaan akan segera membaik",


"Pada akhirnya takdir Allah selalu baik walau terkadang perlu air mata untuk menerimanya. Yakinlah teteh bisa melewatinya, percayalah semuanya akan berlalu dan setelah ini akan ada takdir baik yang sudah menunggu teteh, sekarang ambillah wudhu dan shalatnya. Ceritakan semuanya pada Allah Sang Pemilik Hati, teteh sudah berusaha untuk kuat selanjutnya tugas teteh adalah mengangkat tangan bermunajatlah pada-Nya, sisanya biarkan Allah yang turun tangan",


"Semoga untuk selanjutnya, apa yang Allah takdirkan sama seperti yang teteh harapkan. Do'a Bapak dan Ibu akan selalu menyertai teteh"


Pak Imran menasehati putri sulungnya dengan penuh kelembutan, di setiap untaian katanya terselip do'a untuk sang putri semoga Allah segera memberikan kebahagiaan untuk putri sulungnya.

__ADS_1


Shanum meresapi setiap kalimat nasehat dari Bapaknya, dia merasakan hatinya lebih tenang dari sebelumnya.


"Terima kasih, Pak. Maafkan teteh..." ucapnyaa lirih dengan suara parau karena sejak tadi tak mampu menghentikan tangisnya.


__ADS_2