
Liani duduk seorang diri di kursi yang ada di lobi sebuah hotel di Bandung. Waktu sudah menunjukkan pukul enam belas tiga puluh, artinya sudah tiga puluh menit dia duduk di sana sejak seminar yang diikutinya berakhir tepat pukul enam belas.
Ahsan berjanji akan menjemputnya, padahal Liani sudah menolak namun Ahsan memaksa. Tadi pagi mereka berangkat bersama, Ahsan terlebih dahulu mengantarnya sebelum dia pergi ke tempat pertemuannya. Kedudukannya saat ini membuat dia lebih banyak menghabiskan waktu kerja di luar area yayasan. Ahsan didaulat menjadi ketua yayasan setelah beberapa bulan terjadi kekosongan karena ditinggalkan oleh Akhtar.
Dengan banyak pertimbangan dan sepengetahuan Akhtar, akhirnya Ahsan menerima amanah itu. Akhtar adalah orang yang paling banyak memotivasinya, dia tahu jika sang ayah sudah cukup sepuh untuk mengurus semuanya sendiri, tapi dia enggan jika harus kembali terlibat langsung seperti sebelumnya. Kejadian di masa lalu masih membekas di hatinya, masih butuh waktu untuk Akhtar kembali memperoleh ketenangan hati dan pikirannya setelah banyak hal yang terjadi semenjak dirinya masuk ke dalam keluarga sang ayah.
Selama ini sebenarnya Akhtar sangat mengkhawatirkan keadaan sang ayah, diam-diam dia pun memantau keadaannya melalui dua sahabatnya, Ahsan dan Ghifar. Apalagi sejak sang ayah yang datang ke pernikahannya seorang diri menimbulkan kecurigaan di hati Akhtar, pasti ada sesuatu yang terjadi di keluarga ayahnya itu. Sebelumnya Yasmin dan Naura adik sambungnya begitu dekat dengan dirinya. Jika hanya karena ada urusan lain mereka tidak hadir di pernikahannya, menurutnya sangat mencurigakan. Akhtar yakin kedua adik sambungnya akan lebih memilih menghadiri pernikahannya jika memang tidak ada masalah serius di antara mereka.
Adzan maghrib berkumandang, Liani masih berada di tempatnya menunggu Ahsan. Beberapa kali dia mencoba menghubungi nomor Ahsan, tapi hasilnya nihil. Gawainya aktif tapi panggilan Liani sama sekali tidak pernah diangkat. Pesan yang dikirim untuk ketiga kalinya pun hanya bercentang dua warna abu. Menandakan jika pesannya telah sampai namun si empunya gawai tak kunjung membacanya.
Liani beranggapan jika mungkin Ahsan masih ada pertemuan penting, hingga tak sempat untuk mengecek gawainya. Liani memutuskan untuk shalat maghrib terlebih dahulu. Jika selesai shalat Ahsan tidak kunjung datang dia akan pulang sendiri ke yayasan.
Kurang dari satu jam Liani sudah sampai di gerbang yayasan. Dia memutuskan pulang dengan menggunakan mobil online yang dipesannya melalui aplikasi di gawainya. Liani turun di gerbang yayasan, dia memilih berjalan dari gerbang utama menuju rumah dinasnya. Sekalian ingin mengecek apakah Ahsan sudah kembali atau benar dugaannya jika Ahsan masih berada di luar.
Perasaan Liani tiba-tiba tak menentu saat melihat mobil Ahsan terparkir di depan rumah dinasnya, dia yakin itu adalah mobil yang Ahsan kendarai ketika mengantarnya tadi pagi. Jika mobil itu sudah berada di sana berarti Ahsan pun sudah ada di rumah. Liani memelankan langkahnya, dia sengaja ingin memantau pergerakan di rumah dinas Ahsan.
Deg....Liani menghentikan langkahnya, dia melipir ke belakang pohon palem yang berada di sebrang rumah dinas Ahsan. Liani bisa melihat dengan jelas dari rumah itu keluar seorang wanita yang tak asing untuknya, dia tahu pasti jika wanita yang keluar bersama Ahsan dari rumah itu adalah Suraya. Mantan tunangan Ahsan. Terlihat Suraya yang pamit dan diantar langsung oleh Ahsan, Ahsan bahkan membukakan pintu mobil Suraya. Ahsan pun melambaikan tangannya saat suraya membunyikan klakson mobilnya dan melaju perlahan keluar dari halaman rumah dinas Ahsan.
Ada sesuatu yang terasa sakit di dada Liani. Kakinya tiba-tiba lemas, mendapati kenyataan jika laki-laki yang berjanji akan menjemputnya ternyata sedang berdua dengan mantan tunangannya. Lama Liani berdiri di balik pohon palem itu, dia berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya agar bisa kembali melangkah menuju rumahnya. Tidak terasa pipinya kini sudah basah karena air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya dan sulit untuk dihentikan.
"Mas Ahsan, apa maksudnya ini? selama ini ternyata kamu hanya singgah untuk merawat sayapmu yang patah, tanpa berniat membawaku terbang bersamamu" gumam Liani lirih, isak tangis tertahan dari balik pohon palem itu.
Derrrttt.....Derrrtt.....Derrt
Getaran gawai yang berada di saku blazernya menghentikan tangis Liani. Dia menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan, mencoba menetralkan kembali keadaan hatinya yang terasa menganga karena luka yang tak terlihat.
__ADS_1
Liani melihat layar gawainya, Pak Ahsan Calling. Liani bingung harus menjawab atau mengabaikannya. Jika menjawab dia belum siap karena kondisi hatinya saat ini benar-benar tidak siap untuk berbicara dengan laki-laki itu. Cemburu tapi tidak punya hak, sakitnya dalem banget.
Akhirnya Liani pun memilih untuk mengabaikan panggilan itu. Dia segera keluar dari balik pohon palem yang tepat berada di seberang rumah dinas Ahsan dan melanjutkan langkah menuju rumah dinasnya.
"Huuhh.." Liani menghembuskan napasnya kasar. Dia memasuki rumah dinasnya, setelah sebelum melihat ke belakang. Khawatir jika Ahsan mendatanginya.
"Mengapa aku harus stres memikirkan orang yang bahkan tidak bertanya apakah kamu baik-baik saja, Liani? Be strong, tetap nikmati harimu, meski dewasa tak seindah mimpi di waktu kecil" Liani memotivasi dirinya sendiri, selama ini dia adalah gadis yang selalu ceria, terbebas dari masalah dengan makhluk yang bernama lelaki. Tidak pernah terlibat hubungan lebih dari sekedar teman dengan lelaki manapun dan kali ini pun pantang untuknya mengakui jika dirinya saat ini cemburu, kecewa dan sakit hati karena seorang lelaki.
Liani pun memasuki rumah dinasnya, dia membiarkan seluruh lampu di rumah dinasnya itu padam. Ahsan pasti akan datang mencarinya Liani menggunakan penerangan dari gawainya, langsung menuju kamar tidur. Shalat Isya dan tidur adalah keinginannya saat ini, berharap seiring terlelapnya dirinya, seiring itu pula semua hal menyakitkan yang dialaminya hari ini tenggelam dalam gelapnya malam.
"Ya Allah tidurkan aku dalam ketenangan dan bangunkan aku dengan kebahagiaan" ucapnya lirih, Liani pun mengubah gawainya digem aw
AcaIngin tidur dengan tenang tanpa siapa pun yang mengganggu.
Sementara di rumah dinas Ahsan, dia memasuki kamarnya setelah mengantar Suraya pulang. Selepas shalat Ashar Ahsan berniat untuk menuju hotel tempat Liani mengikuti seminar pendidikan hari ini. Liani datang sebagai utusan dari SMA Bina Insani untuk menjadi peserta seminar itu. Ahsan baru saja kembali dari mesjid selepas shalat ashar berjamaah.
Ahsan yang hendak menghindar pun tidak jadi ketika ayahnya menelepon, meminta dengan sangat agar dia bersedia menerima kedatangan Suraya yang ingin meminta maaf. Ahsan pun mempersilahkan Suraya masuk ke dalam rumah dinasnya dengan pintu yang sengaja dia buka lebar-lebar.
Banyak hal yang disampaikan Suraya terkait masalah mereka di masa lalu. Suraya mengatakan jika dia pun akan segera menikah. Kedua orang tua mereka pun sudah berbaikan dan kembali menjalin silaturahmi setelah saling memaafkan. Semua akhirnya terkuak jika selama ini masalah yang terjadi antara mereka berdua hanya salah faham. Adzan maghrib pun berkumandang, menjeda obrolan mereka berdua yaang tampak semakin asik. Ahsan lupa jika hari ini dia berjanji akan menjemput Liani di hotel tempatnya mengikuti seminar.
Alarm di gawai Liani yang disetting pada jam tiga pagi pun berbunyi, membangunkan Liani dari mimpinya. Dia pun mengecek gawai, mendapati waktu yang menunjukkan tepat pukul tiga. Dia kembali mengerjapkan mata, mengumpulkan nyawanya sebelum bangun dan beranjak ke kamar mandi setelah sebelumnya menyalakan lampu rumah dinasnya yang gelap gulita.
Liani menumpahkan semua keresahannya dalam shalat di sepertiga malam. Dia pun meminta petunjuk dari sang pemilik kehidupan dan kematian agar diberikan kemantapan hati dalam menjalani setiap ketentuan yang tertakdir untuknya.
"Shadaqallahul 'adziim" Liani mengakhiri tadarusnya.
__ADS_1
Menunggu waktu shalat subuh, Liani mengambil gawainya Dia pun kembali menonaktifkan mode pesawat. Rentetan pesan memasuki ruang pesan masuk di aplikasi whattappsnya. Liani pun mengeceknya. Terdapat banyak sekali panggilan tak terjawab
dari Ahsan. Beralih pada room chat Ahsan.
Ahsan,
'Li maaf aku lupa kalau hari ini aku janji mau menjemput kami. Sekarang kamu di mana?'
'Li, kamu di mana?'
'Tolong angkat teleponnya, aku khawatir'
'Li....,maafin aku'
'Li...'
'Li...'
'*Li, aku nyari kamu. Kamu di mana?'
'Liani*?
Liani hanya tersenyum getir membaca pesan dari Ahsan. Ingin sekali dia mengabaikan pesan itu. Rasa kesal masih menyelimuti hatinya. Namun Liani sadar, dirinya tidak cukup berhak itu.
'Gak apa-apa' singkat Liani membalas rentetan pesan Ahsan.
__ADS_1
Dia kemudian tertarik dengan pesan dari Shanum yang mengirimnya sebuah foto alat test kehamilan yang menunjukkan garis dua. Liani turut senang mendapat kabar itu.
'Alhamdulillah, hari ini aku otewe ke Garut. Calon ponakan, I'm coming' Liani membalas pesan yang dikirim Shanum. Dirinya turut berbahagia atas kebahagiaan sahabatnya itu.