
Ibu Fatimah menceritakan semuanya tanpa terlewat. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari mata Ibu Fatimah saat menceritakan kenyataan yang terjadi pada rumah tangganya dulu. Dia tampak lebih tegar dan ikhlas menerima semua yang tertakdir untuknya. Akhtar dengan setia mendengar penuturan sang Ibu. Ekspresinya datar, sulit ditebak apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Ibu harap apa yang terjadi di masa lalu antara ibu, ayahmu dan ibu sambungmu tidak mempengaruhi sikap terutama rasa hormat dan baktimu kepada mereka. Walau bagaimanapun dia adalah ayahmu, dia laki-laki yang baik, dia sudah bertanggungjawab dengan apa yang diperbuatnya. Begitupun dengan ibu sambungmu, dia adalah wanita yang baik, dia memang lebih pantas mendampingi ayahmu."
"Dalam hal ini, mungkin hanya ibu yang tidak mampu, sehingga memilih mundur dari medan jihad rumah tangga kami", Ibu kembali mengingatkan sang putra untuk ikhlas menerima semua yang tertakdir untuk mereka.
Akhtar masih bergeming, dia tampak berusaha memaknai setiap ucapan sang Ibu. Tidak habis pikir, ayahnya setega itu. Dia bahkan mengambil alih pengasuhan dirinya yang menjadi alasan sang ibu bertahan. Hingga Ibunya memilih bekerja di luar negeri bertahun-tahun tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun lebih tepatnya lari dari kenyataan dan mengobati lukanya.
"Lalu kenapa Ibu membiarkan Ayah membawaku?" tanya Akhtar, mengungkapkan kepenasaran lain yang memenuhi hatinya selama ini.
Ibu Fatimah sudah mengira pertanyaan ini akan terlontar dari putranya, dia menatap putranya lekat, dengan tersenyum Ibu Fatimah mencoba menjelaskan alasannya membiarkan Akhtar bersama ayahnya.
"Akhtar, anak Ibu...ada orang bijak yang pernah membagi tiga jenis manusia. Pertama, manusia bodoh, yakni mereka yang selalu melalaikan dan mengenyampingkan setiap kesempatan yang ada. Kedua, manusia baik, yakni mereka yang mengambil kesempatan yang datang kepadanya. Sedangkan jenis manusia ketiga adalah manusia bijak, yakni mereka yang selalu mencari kesempatan yang memungkinkan dirinya untuk terus berkembang tanpa harus banyak menunggu." Ibu Fatimah menjeda ucapannya.
"Saat itu Ibu hanya berusaha untuk menjadi manusia baik, mengambil kesempatan yang datang kepada Ibu untuk bisa membuatmu tumbuh dan berkembang lebih baik lagi dan harapan Ibu kamulah manusia bijak itu. Mampu mencari kesempatan yang memungkinkan dirimu untuk terus tumbuh dan berkembang tanpa harus menunggu. Ibu cukup sadar diri, kemampuan Ibu sangat terbatas. Jika kamu bersama Ayahmu kamu akan mendapatkan pendidikan yang laik sesuai harapan Ibu dan juga cita-citamu, berbeda jika kamu terus bersama Ibu."
"Ck..." Akhtar berdecik mendengar perkataan ibunya, dia yakin jika bersama dengan ibunya dia pun akan baik-baik saja.
"Maaf...... bukannya waktu itu Ibu tidak mau berusaha lebih keras lagi. Tapi waktu semakin mendesak, Ibu ingin kamu memanfaatkan kesempatan besar yang diberikan Ayahmu untuk lebih mengembangkan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Toh dia adalah Ayahmu, sudah kewajibannya memberikan yang terbaik yang bisa dia berikan kepadamu.Ibu hanya perlu mengikhlaskan dan yakin kamu akan kembali pada Ibu karena kamu memang anak Ibu." ucap Ibu Fatimah mengelus bahu sang putra, dia tahu putranya itu masih kecewa dengan perpisahan mereka beberapa tahun silam.
Akhtar menengadahkan kepalanya, menatap sang Ibu yang kini berdiri di sampingnya.
"Aku sayang Ibu, untukku saat ini Ibu adalah prioritasku. Aku tidak peduli dengan apapun selama bersama Ibu, aku akan baik-baik saja", ucapnya lirih.
Ibu Fatimah hanya menganggukkan kapala sambil terus mengusap bahu sang anak. Dia senang Akhtar bisa menerima alasannya, walaupun sebenarnya dia pun menyesali keputusannya waktu itu karena semenjak itu Furqan langsung menutup aksesnya terhadap sang putra.
"Ibu tahu? jika pilihan ibu dulu, ternyata menjebak aku dalam sebuah perjodohan", melihat sang Ibu yang sudah lebih terlihat tegar dan ikhlas Akhtar mulai berani mengungkapkan isi hatinya.
"Maksudmu?, Ibu Fatimah menghentikan usapannya dan beralih menatap Akhtar dengan penasaran.
Akhtar pun menceritakan perihal perjodohannya dengan Raina, begitupun dengan kisah cintanya dengan Shanum. Dia mengatakan pada sang Ibu bahwa di hatinya perempuan itu selalu bertahta. Walau pun dia menerima perjodohannya dengan Raina, tapi hatinya tidak bisa dibohongi, di dalamnya nama Shanum masih sangat rapi terpatri.
"Aku hanya menganggap pertunanganku dengan Raina adalah kompensasi yang harus kubayar karena menjadi pimpinan perusahaan dan yayasan, tidak lebih! Aku sangat mencintai Shanum Bu....", ucapnya sendu.
Ibu Fatimah yang merasakan kegundahan sang putra pun merasa prihatin dengan keadaan ini. Sekilas dia mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ibu Fatimah memeluk Akhtar dengan erat, mengusap punggungnya memberi ketenangan melalui sentuhan tangannya. Akhtar pun tak kalah erat memeluk sang ibu, sekarang dia bisa lebih tegar menghadapi ini karena keberadaan sang ibu di sisinya.
"Maaf, maafkan Ibu dan Ayahmu Nak..., lagi-lagi kamu menjadi yang terkorban dari keegoisan kami", ada isak tangis yang tertahan saat Ibu Fatimah mengatakannya.
Akhtar mengurai pelukannya. Dia menatap sang ibu penuh selidik.
"Sekarang bersediakah Ibu mendampingi saat pertunanganku nanti?" tanyanya hati-hati. Dia masih takut jika Ibunya belum mau bertemu dengan Ayah dan Ibu sambungnya. Karena di acara pertunangan nanti sudah pasti mereka ada sebagai tuan rumah.
Fatimah mengerti keraguan putranya, dia tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan putranya.
"Insyaa Allah Ibu bersedia, Ibu akan mendampingimu. Sama sepertimu, saat ini prioritas Ibu adalah dirimu dan kebahagiaanmu, Anakku." jawabnya penuh kelembutan.
__ADS_1
Akhtar tersenyum bahagia mendengar jawaban ibunya.
***
Akhtar memarkirkan mobilnya tepat di depan aula tempat acara pertunangannya dilangsungkan. Dia keluar dari mobil dan memutarinya, membukakan pintu untuk sang ibu keluar dan menyerahkan kunci mobilnya kepada security untuk diparkirkan. Akhtar menggenggam erat tangan kiri sang ibu, dan mereka berjalan menuju pintu masuk aula.
Aula yang sudah disulap bak istana itu menyambut kedatangan Akhtar sang pemeran utama pada acara hari ini. Dekorasi bunga dan tata lampu begitu mewah memanjakan para tamu yang hadir. Deretan meja bundar berjejer rapi memenuhi aula, tampak sudah diduduki oleh tamu yang sudah hadir. Penampilan para tamu berbanding lurus dengan tema acara pertunangan spektakuler ini, mewah. Pencahayaan yang sempurna dengan iringan musik menambah kesyahduan suasana.
Semua mata tertuju pada orang yang telah ditunggu dari tadi. Tamu undangan yang sudah memenuhi aula tersita perhatiannya dengan kedatangan sang pemeran utama. Tak terkecuali Ahsan, dia tersenyum bahagia sekaligus haru melihat kehadiran Akhtar bersama perempuan yang juga sangat ia rindukan selama ini.
Akhtar berjalan santai dengan menggandeng sang ibu. Sesekali dia menoleh dan melemparkan senyum kepada sang ibu. Sedetik kemudian, pandangannya kembali lurus ke arah podium tempat sang MC memberi kata-kata sambutan untuk menyambut kedatangannya.
Akhtar berjalan lurus sesekali menganggukkan kepalanya membalas sapaan orang-orang yang menyapanya, namun pandangannya kembali fokus pada satu titik di depannya, yaitu orang yang berdiri di belakang MC. Walaupun orang itu menundukkan kepala dan tampak berusaha menghindari pandangannya, tapi Akhtar tahu Shanum sudah menyadari kedatangannya.
Tiba di depan meja yang telah disiapkan panitia, Akhtar disambut oleh adik sambungnya Yasmin dan Naura. Mereka mereka begitu euporia menyambut kedatangannya. Mereka tidak sadar dua orang di samping mereka tampak kaget dan bermuka pucat.
Akhtar tersenyum tipis saat menjabat tangan Ayahnya seolah ingin menunjukkan keberhasilannya karena sudah bisa membawa sang ibu begitupun dengan ibu sambungnya. Sementara sang ayah dan ibu sambungnya tampak berusaha bersikap biasa, namun kegugupannya tetap terlihat jelas oleh Akhtar.
Ibu Fatimah hanya menganggukan kepalanya ke arah mereka berdua dan langsung duduk di kursi kosong di samping putranya.
Akhtar pun duduk berdampingan dengan sang Ibu, dia kembali menggenggam erat tangan ibunya berusaha memberi ketenangan agar ibunya baik-baik saja. Ibu Fatimah tersenyum ke arah Akhtar dan memberi kode bahwa dirinya baik-baik saja.
Acara pun dimulai dengan khidmat, sang MC membuka acara dengan piawai sehingga mampu mengalihkan perhatian para tamu hanya tertuju padanya.
Penyematan cincin dilakukan oleh Ibu Fatimah, beliau tersenyum ramah dan memeluk Raina dengan lembut. Raina sangat senang, bibirnya terus menebar tersenyum. Dia menggandeng tangan Ibu Fatimah terlihat mengakrabkan diri. Akhtar memalingkan wajahnya saat melihat Raina melakukan hal itu, pandangannya kembali menatap seseorang yang berdiri lurus di depannya.
Semua prosesi pertunangan Akhtar disaksikan langsung oleh Shanum. Akhtar melihat setiap perubahan ekspresi Shanum, dia tahu Shanum sedang menahan dirinya untuk tidak terlihat rapuh. Akhtar melihat Shanum membalikkan badan dan beranjak dari tempatnya berdiri.
Maaf, Num...maaf...! Lagi-lagi aku tidak bisa menolak keinginan Ayah. Berbahagialah bersama Ahsan, aku percaya dia akan mampu memberi kebahagiaan untukmu, tidak seperti aku yang hanya memberi luka dan kepedihan kepadamu.'
Shanum, pagi adalah tentang pajar, sore adalah tentang senja, malam adalah tentang bintang. Dan tengah malam adalah tentangmu yang selalu kusebut dalam do'a.'
'Shanum, izinkan aku tetap menyayangimu.' Akhtar bermonolog dalam hatinya.
Acara terus berlanjut, semakin siang tamu yang datang semakin ramai. Semua panitia dan WO tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Akhtar dan Raina berdiri berdampingan menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang. Terlihat sangat serasi, orang-orang melihat mereka sebagai pasangan yang tampak saling mencintai. Shanum yang terlihat sudah lebih santai karena acara inti sudah selesai berdiri dari kejauhan menatap pasangan yang tampak berbahagia itu. Senyum tidak lepas dari bibir keduanya.
"Ikhlaskan, Num." Suara Liani tiba-tiba mengagetkannya.
"Apaan sih", elak Shanum yang mengerti dengan ucapan sahabatnya.
"Sudah ada Pak Ahsan yang Insyaa Allah yang terbaik untukmu", Liani kembali mengingatkan sahabatnya itu.
"Benar, Li...aku sudah memutuskan untuk menerima Kak Ahsan, tadi dia bilang setelah acara ini selesai akan datang ke Bogor untuk meminta izin secara resmi ke Bapak dan Ibu untuk lebih meminangku. Katanya dia pingin langsung nikah, hihi..." Shanum sudah lebih bisa mengendalikan dirinya, dia berkata pada Liani dengan leluasa bahkan diakhiri dengan kekehan.
__ADS_1
" Wah..wah..wah...kabar besar ini, patut untuk dirayakan, kemajuan yang luar biasa, sangat signifikan, prok..prok..prok" ujar Liani sambil bertepuk tangan.
"Aku turut bahagia, Num. Sudah sepantasnya kamu mendapat kebahagiaan", lanjutnya penuh haru.
"Terima kasih", ucap Shanum, mereka berpelukan sebentar dan kembali berbincang sambil menikmati makan siang di ruangan khusus panitia untuk beristirahat.
Sementara di meja utama terlihat Ibu Fatimah duduk sendiri. Yasmin dan Naura yang awalnya syok dengan pengumuman yang disampaikan Ayah mereka tentang Ibu kandung Akhtar, namun mereka memilih bersikap dewasa dengan mendekati Ibu Fatimah dan memperkenalkan diri tanpa peduli permasalahan di antara orang tua mereka.
Yasmin dan Naura tahu jika Ayahnya sudah pernah menikah sebelum menikah dengan ibu mereka, hanya kenyataan bahwa mereka berbeda ibu dengan Akhtar baru mereka ketahui sekarang. Selama ini mereka tidak pernah membahas hal itu.
Mereka bercerita tentang kedekatan mereka dengan Akhtar. Fatimah tersenyum senang menanggapi celotehan dua gadis itu. Persis seperti Ibunya, sahabatnya dulu yang selalu bercerita tentang apapun dengan antusias dan dengan setia Fatimah mendengarkannya. Rasanya seperti de javu, Fatimah melihat Sopia yang baik hati dan periang di dalam diri dua gadis yang ada di hadapannya itu.
"Tante, kami memanggil tante dengan sebutan tante tidak apa-apa kan?", tanya Naura polos.
Fatimah tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, terima kasih sudah menerima Tante dengan baik di sini", ucap Fatimah tulus.
"Kalau begitu kami pamit dulu, sepertinya para tamu sudah mulai surut. Kami izin mau pulang duluan, tante nanti ke rumah kan? kan nanti malam kita masih ada acara khusus teman-teman Kak Akhtar dan Kak Raina", ucap Yasmin ramah.
"Insyaa Allah, Tante terserah Akhtar saja mau diajak kemana", jawab Ibu Fatimah.
"Baiklah Tan, kami pamit ya, Ibu dan Ayah masih sibuk sepertinya. Assalamu'laikum", Yasmin dan Naura pamit.
Sepeninggalnya Yasmin dan Naura, Fatimah kembali sendiri. Dia melihat Akhtar tampak sibuk dengan rekan-rekan bisnisnya. Sementara Raina terlihat terus mengekori Akhtar. Fatimah hanya geleng-geleng kepala, sikap dingin Akhtar persis seperti ayahnya dulu. Tapi itu berlaku sebelum Sopia memasuki kehidupan mantan suaminya itu.
"Assalamu'alaikum, Ibu", seseorang mengucap salam dan meraih tangan Ibu Fatimah. Ibu Fatimah yang sedang asik memerhatikan sang putra pun terlonjak kaget, dia menatap orang yang memegang tangannya dan betapa senangnya dia kalau yang ada dihadapannya adalah Ahsan, anak laki-laki yang sudah dia anggap anaknya sendiri.
Ibu Fatimah dan Ahsan pun mengobrol banyak hal, mereka melepas rindu dengan saling bercerita. Fatimah bahagia, ternyata setelah kesendirian yang dialaminya dalam kurun waktu yang tak sebentar, ternyata dia masih memiliki orang-orang baik yang menyayanginya.
"Fatim", suara seseorang kembali mengejutkannya. Ahsan sudah pergi dari meja Fatimah karena salah seorang panitia memanggilnya.
Fatimah menoleh ke sumber suara, dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Hai, apa kabar?" tanya Fatimah ramah.
"Ba...baik", jawab Sopia gugup. Sebenarnya ia masih belum siap bertemu Fatimah, pertemuan terakhir mereka tidak mengenakkan. Tapi melihat Yasmin dan Naura begitu akrab dnegan Fatimah, Sopia pun berusaha bersikap biasa saja.
"Aku harap kehadiran kamu bukan untuk merebut Kang Furqan kembali dariku", ucap Sopia pelan, namun masih bisa didengar oleh Fatimah.
Deg, Fatimah kaget mendengar ucapan mantan sahabatnya itu. Dia tidak menyangka Sopia mempunyai pikiran sepicik itu.
"Kamu kira aku akan melakukannya?, tanya Fatimah santai. Sopia menatap Fatimah tajam.
"Aku pikir kamu sudah berubah, ternyata belum. Setidaknya kamu ingat umur saat mengatakan hal itu." ucap Fatimah tegas, dia menarik napasnya dalam menetralkan suasana hatinya.
"Bu", suara Akhtar menghentikan obrolan mereka yang mulai memanas. Dia melihat saat Sopia mendekati ibunya. Meskipun dia sedang bersama dengan teman-teman bisnisnya Akhtar tetap memantau keberadaan sang ibu. Perubahan ekspresi ibunya terlihat setelah Sopia datang, dia khawatir Sopia sudah membuat ibunya tidak nyaman.
__ADS_1