Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 12: Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Mungkin aku menaruh namanya terlalu dalam, hingga saat aku ingin menghapusnya aku seperti menyakiti diriku sendiri" terdengar ada isak dan kesal saat Liani mengatakan kalimat itu di ujung telepon kepada Shanum. Shanum pun menghela nafas, mengusir rasa sesak yang turut dia rasakan.


Shanum tahu cinta Liani pada Ahsan sangatlah besar, ini kali pertama dia jatuh cinta pada lawan jenis. Berharap cinta pertamanya adalah pelabuhan hatinya yang berakhir dengan hidup sakinah, mawaddah warahmah, sehidup sesurga. Namun ternyata cinta tak sesederhana itu.


"Aku harap kamu bisa merubah semua rasa sakit itu menjadi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukankah Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan makhluknya? aku yakin kamu lebih memahaminya" balas Shanum di ujung telepon.


Saat ini mereka sedang mengobrol melalui telepon, Liani tidak bisa menemani Shanum selama Akhtar pergi ke luar negeri. Dia harus menyelesaikan beberapa administrasi menjelang keberangkatannya melanjutkan pendidikan melalui beasiswa ke luar negeri.


"Kamu sekarang dimana?" tanya Shanum, dia ingat jika beberapa hari yang lalu Liani mengatakan jika dirinya sudah memasukkan surat pengunduran diri ke pihak yayasan.


"Aku masih di yayasan, kata Pak Arif aku masih boleh tinggal di rumah dinas selama surat pengajuan pengunduran diriku belum di acc. Sebagian barang-barangku sudah aku paketkan ke Surabaya" jawab Liani menjelaskan kondisinya saat ini, Pak Arif adalah kepala sekolah tempatnya mengajar.


"Pokoknya sebelum aku berangkat aku ingin melihat dulu kehadiran keponakan-keponakanku, pasti menggemaskan" terdengar sura kekehan Liani di ujung telepon, seperti biasa Liani adalah gadis yang selalu ceria dia tidak pernah melarutkan dirinya dalam kubangan kesedihan. Shanum yakin dengan kepergiannya melanjutkan pendidikan ke luar negeri Liani perlahan akan melupakan rasa sakitnya karena Ahsan.


Hasil pemeriksaan terakhir, Shanum dinyatakan mengandung bayi kembar. Dirinya dan Akhtar masih menyembunyikan kabar gembira itu dari keluarga besar mereka. Biarlah hal itu menjadi kejutan untuk mereka semua, berharap kedua anaknya dapat terlahir dengan selamat dan sehat. Walau pun Bu Fatimah maupun Bu Hana sering memperhatikan lebih inten kandungan Shanum yang menurut mereka berbeda dari orang hamil biasanya, sepertinya para calon nenek itu sudah menaruh curiga.


"Tentu, aunty gak boleh pergi sebelum bertemu kami" jawab Shanum dengan meniru suara anak kecil. Liani sudah mengetahui jika Shanum mengandung anak kembar, dia mengetahuinya saat tak sengaja menemukan foto USG Shanum di kamarnya dan Shanum pun menyatakan kebenarannya.


"Bagaimana sekarang si kembar, apakah sudah ada tanda-tanda ingin segera bertemu denganku?" Liani kembali bertanya dengan nada suara ceria,


"Semalam ada sedikit mules-mules, tapi sepertinya itu hanya kontraksi palsu. Jangan khawatir, mereka akan menunggu Yandanya pulang" jawab Shanum dengan mata berbinar, namum sayang Liani tidak melihat itu karena saat ini mereka sedang bertelepon.


"Tentu, anak-anakmu pasti akan menjadi anak-anak hebat. Mereka terlahir dari ibu yang cerdas dan ayah yang hebat, aku yakin mereka akan membanggakanmu" do'a tulus Liani terdengar nyaman di telinga Shanum, memberikan energi positif dalam jiwanya menjelang persalinan.


Obrolan mereka pun terus mengalir dengan aneka topik, cuaca masih sangat pas untuk Shanum berjemur sambil menikmati camilan yang sudah disediakan sang ibu khusus untuknya.


*


*

__ADS_1


*


Sementara di Malaysia, Akhtar sudah berkali-kali menghubungi Shanum namun keterangan di gawainya tertulis jika nomor sang istri tengah berada dalam panggilan lain. Dia pun memasukan kembali gawainya ke saku jas dan kembali ke kumpulan rekan-rekan sesama pengusaha. Selang tiga puluh menit Akhtar pun kembali menghubungi sang istri namun masih tetap sama. Sempat ada kekhawatiran di hatinya dengan siapa dia melakukan panggilan selama itu, entah khawatir atau cemburu namun dia berusaha menetralkan hatinya bersu'udzan jika sang istri baik-baik saja.


"Hai......kita bertemu lagi" seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya dan duduk di samping Akhtar yang sedang anteng dengan gawainya mencoba mengirim pesan pada sang istri.


Merasa seseorang terdengar akrab menyapanya Akhtar pun menoleh. Keningnya berkerut, mengingat orang yang duduk dengan santai di sampingnya. Saat ini mereka sama-sama menghadiri pertemuan para pengusaha yang diadakan salah satu komunitas pengusaha muda tingkat internasional.


"Maaf, siapa ya?" tanya Akhtar yang tak juga ingat dengan orang di hadapannya.


"Lupa?" tanya laki-laki yang berpakaian jas formal lengkap dengan dasi yang serasi dengan kemejanya sama seperti Akhtar, menunjukkan jika dirinya pun adalah seorang pengusaha


"Kita pertama bertemu saat di Garut kalian sedang makan bubur, kamu dan Shanum Najua Azzahra" ucapnya tanpa sungkan.


Deg....sekarang Akhtar ingat laki-laki di hadapannya itu adalah laki-laki yang sepertinya sangat mengenal istrinya. Pertemuan pertama mereka cukup membuat pikiran Akhtar kacau, dia bahkan menyebutkan tentang Shanum banyak hal. Menandakan jika laki-laki itu sangat mengenal istrinya. Namun kekhawatirannya itu terbantahkan dengan sikap sang istri yang meyakinkan dirinya bahwa Shanum tidak mengenal laki-laki itu.


"Jangan khawatir, hanya aku yang tahu banyak tentang istrimu. Dia benar, percayalah kalau dia bilang lupa atau bahkan tidak mengenalku, aku memang tidak terkenal, hehe... Kami teman satu organisasi, tergabung dalam komunitas karya ilmiah remaja. Kita berbeda sekolah, tapi aku cukup tahu banyak tentang dia karena dia cukup terkenal di komunitas itu" laki-laki itu sejenak menghentikan kalimatnya, menoleh ke arah Akhtar yang masih menatapnya tajam. Dia pun mengulurkan tangannya,


"Boleh aku lanjutkan ceritaku, supaya tidak ada kesalahfahaman ke depannya?" tanya Tama dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia tahu jika Akhtar cemburu dan menaruh curiga padanya.


"Silahkan!" jawab Akhtar datar,


"Shanum adalah gadis yang supel, mudah bersosialisasi dengan siapapun. Tapi dia ternyata sangat membatasi diri dengan lawan jenis. Aku mulai tahu setelah aku berusaha mendekatinya secara pribadi, tanggapannya sangat berbeda dengan ketika aku berbicara padanya di forum. Sikapnya bahkan berubah seratus delapan puluh derajat. Salah seorang teman bilang jika dia sudah ada pemiliknya" Tama terkekeh di akhir ucapannya, mengingat bagaimana dia dulu mencari momen agat bisa dekat dengan Shanum.


"Sebagai remaja yang lagi bersemangat dalam segala hal, saat itu kami kelas dua SMA dan aku tidak menyerah. Menurutku cinta remaja hanyalah sesaat dan saat itu aku termasuk laki-laki dengan banyak pemuja. Cukup membuat aku percaya diri jika seorang Shanum Najua Azzahra pun akan luluh dengan pesonaku. Aku terus berusaha mendekatinya dalam jangka waktu yang tidak sebentar, tapi prediksiku salah lagi-lagi dia sangat sulit didekati. Dia tidak pernah sama sekali melirikku bahkan semakin membangun tembok yang tinggi untuk membatasi dirinya hingga aku akhirnya kesulitan untuk manjat, haha..." lagi-lagi tawa Tama terdengar saat bercerita tentang dirinya yang memuja Shanum sejak dulu.


"Secret Admirer, mungkin julukan itu tepat untukku saat itu bahkan sampai kuliah. Namun lagi-lagi aku dengar jika ketua senat pun sedang berusaha mendekatinya namun nihil, Shanum lagi-lagi tak meliriknya, haha..." Tama mengambil gelas minuman yang terhidang di hadapannya, meneguk hampir setengahnya untuk kembali membasahi tenggorokannya yang kekeringan karena sudah bercerita panjang lebar.


"Dan sekarang aku tahu, jika sainganku ternyata seorang Akhtar Farzan Wijaya. Pengusaha muda dengan banyak prestasi dan pemuda berprestasi sejak remaja juga dikelilingi banyak gadis, haha...." Akhtar menatap tajam saat Tama mengatakan kalimat terakhirnya,

__ADS_1


"Hey bung, aku tidak seburuk itu" bantah Akhtar sambil meninju pelan bahu Tama yang masih berguncang karena menertawakannya.


"Sorry, sorry, maksudku dikagumi banyak wanita" ralatnya, menyadari kesalahan ucapannya.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Aku tahu jika tidak mudah untuk kalian bersama, congratulation karena akhirnya kamu bisa bersama Shanum Najua Azzahra," lagi-lagi Tama mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat pada Akhtar dan disambut Akhtar dengan senyum yang lebar seolah bangga dengan pencapaiannya.


"Tapi kalau kamu membuatnya terluka, aku pastikan dia akan berada di tanganku" Ancam Tama lagi-lagi mengakhiri kalimatnya dengan tawa.


"Sialan, jangan harap" tukas Akhtar


"Percaya, dasar bucin!" ejek Tama


"Untuknya apapun akan kulakukan" balas Akhtar dengan bangga, dia pun menunjukkan layar gawainya yang bergetar karena ada panggilan dari sang istri, dia beranjak sambil memberi kode pada Tama meminta izin untuk mengangkat panggilan itu.


Tama sempat melihat foto dan nama penelepon di layar gawai Akhtar, tertera my lovely wife calling. Dia pun menyunggingkan senyumnya membayangkan jika itu ada di layar gawainya.


"Kamu beruntung Akhtar, dan sekarang aku akan berusaha mengejarnya. Seseorang yang mirip dengan kamu Shanum Najua Azzahra..." gumam Tama pelan.


*


*


*


*


*


Teman-teman, kisah tentang Pratama Ardan ada di novel Belenggu Akad ya..jangan lupa vote nya...hhe...

__ADS_1


Barakallahu fiikum!


__ADS_2