Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Mulai Terkuak


__ADS_3

Akhtar memaku di tempat. Namun kemudian dia cepat berbalik ke arah Shanum yang terus berjalan meninggalkannya. Akhtar hanya bisa menatap punggung Shanum yang terus menjauh.


Dia ingin menyusul Shanum dan melanjutkan pembicaraannya, banyak kata-kata Shanum yang masih menjadi teka-teki untuknya. Namun getaran gawai di saku jas menghentikan niatnya tersebut.


Akhtar mengangkat gawai yang sejak tadi bergetar di sakunya.


"Assalamu'alaikum."


"....."


"Iya, aku datang!" Akhtar memasukan lagi gawainya. Dia berjalan dengan cepat memasuki aula.


"Kamu darimana?" sang Ayah langsung menodongnya dengan pertanyaan saat ia tiba.


"Dari toilet Yah", jawabnya bohong. Niat awal memang mau ke toilet, tapi hal lain mengalihkannya.


Tanpa banyak kata, Akhtar kembali duduk di kursinya, mengikuti rangkaian acara terakhir sebagai penutup acara ini.


Akhtar tidak begitu menikmati acara ini. Pikirannya dipenuhi dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Pertemuannya dengan Shanum sungguh membuatnya tidak bisa kembali fokus.


Akhtar mengedarkan pandangannya, ia mencari keberadaan Shanum. Dia yakin Shanum berada di sekitarnya, karena ia termasuk rengrengan panitia.


Semua panitia sudah berkumpul. Acara diakhiri dengan bernyanyi bersama. Akhtar masih belum menemukan yang ia cari.


Momen foto bersama menjadi kesempatan untuknya bisa kembali melihat Shanum. Namun karena panitia yang berkerja cukup banyak, Akhtar tidak juga menemukannya.


Tibalah momen mushafahah, dimana Akhtar dan seluruh pimpinan yayasan berdiri berbaris di depan. Bersiap untuk menerima ucapan selamat dari seluruh panitia. Sekaligus ucapan terima kasih dari pihak yayasan atas kerja keras panitia sehingga acara berjalan sukses.


***


Berbeda dengan Akhtar yang masih terus mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang yang sangat masih ia rindukan.


Shanum justru sibuk menghindar, dia tahu Akhtar terus mencarinya. Sebisa mungkin Shanum bersembunyi ketika pandangan Akhtar mulai menemukannya.


"Num, giliran tim kamu maju!" Liani mengingatkan Shanum jika sekarang tiba giliran timnya maju ke depan menyalami para pimpinan yayasan.


Shanum memutar otak, mencari cara agar bisa menghindar. Dia tahu pasti bahwa momen ini akan kembali membuatnya berhadapan dengan Akhtar.


"Dududuh Li, perutku tiba-tiba sakit. Masuk angin kayanya, aku ke toilet dulu ya", ucap Shanum penuh drama.


Tanpa menunggu respon Liani, Shanum sudah melesat pergi ke arah toilet setelah sebelumnya memberitahukan hal yang sama pada salah satu anggota timnya.


Liani hanya berdecak melihat kelakuan. sahabatnya itu.


Tidak hanya Akhtar yang mencari-cari keberadaan Shanum. Ahsan pun terus mengedarkan pandangannya mencari dimana Shanum berada. Ketika semua tim acara sudah menyalami barisan pimpinan yayasan termasuk Ahsan sebagai ketua panitia turut serta dalam barisan itu, dia masih tidak mendapati Shanum bergabung dengan timnya.

__ADS_1


Divisi terakhir dari crew panitia yang mengucapkan selamat adalah tim dokumentasi. Saat Liani yang merupakan bagian dari tim dokumentasi melintas di hadapannya Ahsan menghentikan Liani.


"Bu Liani, dimana Shanum?" tanya Ahsan setengah berbisik.


" Tadi dia izin ke toilet, Pak. Katanya perutnya sedang tidak bisa di ajak kompromi, hhihi..." Liani menjawab jujur sambil terkekeh dan menutup mulutnya dengan tangan.


Ahsan tak membiarkan kesempatan berlalu, dia ingat kalau Shanum masih belum baik-baik saja. Selama kegiatan berlangsung Ahsan terus teringat Shanum, belum menemukan titik terang apa yang membuat Shanum tadi menangis.


Tanpa menjawab ocehan Liani, Ahsan bergegas mencari Shanum. Liani hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan atasannya itu.


Acara telah usai, seluruh jajaran pimpinan yayasan berangsur meninggalkan aula.


Sebelum meninggalkan aula, sang Ayah meminta Akhtar untuk mengantarkan Raina pulang. Dia tidak tinggal di rumah dinas seperti yang lain. Sepertinya rumah dinas terlalu sederhana untuknya.


Akhtar tidak bisa menolak, dengan terpaksa dia menganggukan kepala saat sang Ayah memintanya.


Raina sungguh terlihat sangat senang karena akan diantar pulang oleh Akhtar. Senyum terus mengembang di bibirnya.


Mereka berjalan berdampingan, keluar menuju parkiran. Langkah Akhtar terhenti karena di depannya terlihat Shanum sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Shanum berjalan berdua dengan seorang laki-laki yang sangat Akhtar kenali.


Akhtar menghentikan langkahnya, Raina yang melihat Akhtar berhenti pun turut menghentikan langkahnya. Dia terus menatap lurus ke depan, Shanum yang berjalan terus menunduk tidak menyadari jika di hadapannya kini tengah berdiri orang yang sedari tadi ia hindari.


Berbeda dengan Ahsan, yang terus mengembangkan bibirnya ketika melihat Akhtar dan Raina berjalan berlawanan dengannya.


Ahsan berhenti tepat di hadapan Akhtar. Sontak, Shanum pun menghentikan langkahnya dan melihat lurus ke depan.


Pandangan mereka bertemu dan sejenak saling mengunci.


"Mau pulang, Bro?" tanya Ahsan menyapa Akhtar saat mereka sudah berhadapan.


Suara Ahsan memutuskan pandangannya. Segera Shanum mengalihkannya, memalingkan wajah ke arah lain.


Namun tidak dengan lelaki yang ada di hadapannya, dia terus menatap Shanum dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bro?", Ahsan mengulang sapaannya.


"Eh ...iya?" Akhtar kikuk menanggapi sapaan Ahsan.


"Iya kami mau pulang, Mas Akhtar mau mengantarku", giliran Raina yang menjawab dengan senyum terus mengembang di bibirnya.


Shanum bergeming, jantungnya berdegup semakin cepat, ada rasa sakit yang menusuk ulu hatinya mendengar suara Raina mengatakan itu.


Gemuruh di dadanya semakin menjadi saat lelaki yang berada di sampingnya memperkenalkan dirinya.


"Bro, kenalin ini calon makmumku, Shanum Najua Azzahra,” dengan bangga dan tanpa ragu Ahsan memperkenalkan Shanum.

__ADS_1


Shanum menoleh pada Ahsan, dia menatap Ahsan dengan tajam. Pandangan Ahsan pun beralih pada Shanum, Ahsan tahu Shanum tampak tidak suka dengan apa yang dilakukannya sekarang tapi dia tidak peduli, mengabaikan tatapan Shanum yang tajam kepadanya.


Diiringi senyum dan sedikit kekehan Ahsan terus melanjutkan aksinya.


“Sayang, kenalin ini Akhtar, Akhtar Farzan Wijaya. Sahabat juga ketua yayasan baru kita dan ini Raina sahabatku juga sekaligus calon istri Akhtar.” Tanpa ragu, Ahsan dengan mesranya memanggil Shanum dengan panggilan sayang.


Shanum masih bergeming di posisinya, kembali ia menatap dua orang yang berdiri di hadapannya. Tampak serasi, Akhtar yang semakin memesona bersanding dengan wanita cantik berhijab maroon senada dengan kemeja yang dipakai Akhtar tengah tersenyum bahagia sambil mengulurkan tangan ke arahnya.


“Raina”, ucap wanita cantik itu.


Shanum tersadar, segera ia menerima uluran tangan Raina.


“Shanum”, balas Shanum.


Ia pun menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dan hanya sedikit mengangguk ke arah Akhtar. Sungguh ia tak mampu untuk kembali beradu tatap dengan lelaki itu.


Hatinya terlalu rapuh untuk sebuah kenyataan yang ia hadapi saat ini. Ia merasa takdir mempermainkannya. Penantian panjangnya tak berbuah manis, ia merasa telah menyia-nyiakan waktunya selama ini untuk sesuatu yang semu.


Kini ia menyadari telah mendapatkan jawaban terbaik untuk hal yang ia inginkan, walau takdir berkata sebaliknya.


Do’a-do’a yang tak hentinya ia langitkan, lagi-lagi bentuk pengabulannya tak sesuai yang ia mau. Telah banyak harapan yang Shanum lambungkan, tapi jawabannya berbanding terbalik dengan kenyataan. Dan pada akhirnya lagi dan lagi ia harus lapang dalam menerima dan memeluk keadaan.


Meski sakit tak terkira dan kecewa tiada tara, Shanum harus ikhlas. Menghargai realita yang ada sebagai pemberian istimewa dari semesta dan Penciptanya.


'Tak cuma jarak tetapi juga mimpi dan kisah-kisah di sekeliling yang memisahkan kita. Tanpa daya, kuperbanyak do’a sambil menitipkanmu pada-Nya, darimu aku belajar bahwa cinta adalah tentang rasa sabar yang benar-benar tulus.


Pelan-pelan, pasti bisa. Bukan dirinya yang harus kamu hilangkan, Shanum. Namun hatimu yang harus kamu kuatkan.


Ya Rabb, genggamlah hatiku, sesungguhnya Engkau lebih tahu orang-orang yang berhak menghuninya.' Shanum bermonolog dalam hatinya.


Shanum yakin, setiap kehilangan yang diterima dengan ikhlas, Allah pasti menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih indah. Dia berharap semoga hatinya bisa tegas memutuskan. Untuk tidak berharap kepada ketidakpastian.


Mulai melangkah ke depan. Meninggalkan semua hal yang melelahkan.


Dunia ini hanya sementara, sementara sedih, sementara senang. Dia akan berusaha bersikap sewajarnya. Bagaimanapun kondisinya saat ini, pada akhirnya semua keadaan ini akan berubah.


Shanum akan berusaha untuk hidup bahagia. Tidak membenci, tidak mengeluh. Selalu berprasangka baik terhadap semua yang tertakdir untuknya. Bersikap rendah hati dan mudah memaafkan. Menghindari permusuhan dan melebarkan jaringan pertemanan adalah jauh lebih baik yang harus ia lakukan.


Selalu tersenyum tanpa terselip sedikit pun dengki dan iri hati. Yakin bahwa Allah akan menghadirkan penyembuh bagi setiap rasa sakit, mendatangkan solusi untuk setiap masalah rumit, menemaninya dalam kondisi tersulit dan tetap berprasangka baik.


Ikhlas itu berat! Tapi harus diusahakan karena hanya itu yang bisa manusia lakukan, berusaha semampunya dan selebihnya biarkan Semesta yang mengambil alih.


Sementara Akhtar, dia masih terdiam. Tak mampu berkata-kata, dia bingung dengan keadaan yang dihadapinya sekarang.


Dibenaknya penuh tanya, mengapa tiba-tiba Ahsan memperkenalkan Shanum sebagai calon istrinya?...

__ADS_1


Bukankah Shanum.......


__ADS_2