
Setelah istirahat makan siang selesai, Shanum dan Liani kembali ke kelas masing-masing melanjutkan tugas mengajarnya yang belum tuntas. Pukul tiga sore bel tanda pulang berbunyi. Menghentikan semua aktivitas belajar mengajar yang ada di setiap kelas. Semua bersiap untuk kembali ke rumahnya masing-masing.
Adzan Ashar berkumandang, Shanum segera menuju masjid yang ada di lingkungan sekolah untuk melaksanakan shalat Ashar sebelum kembali ke rumah dinasnya. Setelah selesai shalat berjamaah barulah Shanum kembali bertemu dengan Liani. Mereka berjalan santai meninggalkan sekolah menuju rumah dinas masing-masing.
Di perjalanan...
Shanum dan Liani mampir ke taman yang berada di belakang komplek perumahan dinas guru, di taman itu biasanya Shanum suka menghabiskan waktu di kala santai. Kali ini mereka duduk berdua dan mengobrol banyak hal.
" Kamu baik-baik saja kan, Num?" tanya Liani mengawali perbincangan mereka.
"Alhamdulillah, kenapa emang? apa aku kelihatan seperti orang yang sakit?" Shanum membalikkan badannya ke arah Liani
"Enggak sih, cuman mastiin kamu baik-baik saja, aku masih khawatir sama kamu gara-gara apa yang kita lihat tadi di kantin bikin kamu gagal move on ", jawab Liani jujur.
Dia memang selalu mengkhawatirkan sahabatnya itu dia tahu sebenarnya Shanum belum baik-baik saja. Shanum tersenyum menanggapi kekhawatiran Liani.
"Aku baik-baik saja, tenanglah" ucap Shanum meyakinkan sahabatnya itu.
"Num kenapa kamu suka sekali menikmati senja?" Liani mengalihkan pembahasan.
"Dari dulu aku sangat menyukai suasana senja seperti ini, apalagi jika menikmatinya di pematang sawah. Senja seakan membisikkan pesan kepada kita bahwa kehidupan tidak selalu berjalan dengan bersinar dan cemerlang" Shanum menjawab dengan penuh filosofi. Wajahnya mendongak menatap langit yang mulai menampakkan warna jingga itu.
" Kamu memang keren Num, aku bangga menjadi sahabat kamu. Kamu benar-benar wanita tangguh, yang mampu mengedepankan akal saat semua wanita ingin perasaannya di kedepankan. Kamu benar-benar mampu menempatkan perasaan sesuai pada tempatnya. Kalau aku jadi kamu mungkin aku tidak mampu setegar itu." ucapan Liani membuat suasana menjadi haru.
"Aku hanya sedang belajar menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki. Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik yang aku bisa dalam setiap momen hidupku. Terkadang kita kita pernah tahu seberapa berartinya sebuah momen sampai ia berubah menjadi kenangan" Shanum berkata dengan wajah yang terus mendongak menatap langit senja itu, dia menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi taman dengan sesekali memejamkan matanya.
"Kenapa kamu tidak berusaha mempertahankan apa yang sudah ada digenggaman kamu Num?, menurutku kamu bisa saja mempertahankan Pak Ahsan karena dalam hal ini menurutku kamu bukanlah orang ketiga yang ada di antara hubungan mereka. Sudah jelas kan kalau dulu Bu Suraya yang meninggalkan Pak Ahsan sehari menjelang pertunangan mereka? Kalau menurutku keputusan kamu tidak adil untuk Pak Ahsan, Num",
Liani mengungkapkan unek-unek yang beberapa hari ini dia pendam sendiri. Saat ini dia berani mengungkapkannya karena melihat keadaan Shanum yang sudah lebih kondusif.
"Kamu benar Li," Shanum menjawab tanpa memandang ke arah Liani. Dia menegakkan tubuhnya duduk dengan sikap sempurna.
"Aku bisa saja mempertahankan hubunganku dengan Kak Ahsan. Aku pun ingin mempertahankannya, aku merasa aku lebih berhak atasnya, apalagi Kak Ahsan mengatakan jika dia akan segera menghalalkanku. Aku senang, setidaknya Ibu tidak akan lagi kepikiran soal anak gadis pertamanya yang didahului nikah oleh adiknya karena tak laku-laku....haha..." Shanum menjeda ucapannya dengan tawa yang cukup keras, namun terdengar lain di telinga Liani.
"Tapi.....dalam sebuah hubungan bukan hanya kesiapan dua orang yang dibutuhkan, tapi juga dukungan dari pihak lain terutama keluarga. Mereka memiliki peranan penting dalam mendukung kebahagiaan kita selanjutnya, dan Kak Suraya sudah memiliki dukungan itu. Aku tidak mau lebih jauh memaksakan sebuah perasaan jika pada akhirnya aku sendiri yang terluka."
__ADS_1
"Kamu tahu Li, aku pernah terlalu mencintai manusia sampai akhirnya Allah menegurku lewat patah hati. Hhe..." jelas Shanum diakhiri dengan kekehan. Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi taman.
"Apakah alasan ini berlaku juga untuk hubunganmu dengan Pak Akhtar? bukankan kamu sudah menunggunya bertahun-tahun? sudah terlalu banyak pengorbanan yang kamu lakukan untuk hubungan kalian, tapi apa yang kamu dapat? harusnya kamu bisa lebih tegas, setidaknya dia bertanggung jawab atas waktu yang sudah kamu habiskan untuk menunggunya." Liani semakin terang-terangan mengeluarkan unek-unek hatinya.
Shanum menarik napas panjang, dia kembali mendongakkan wajah dan sejenak memejamkan matanya.
"Hal yang aku takutkan tapi tidak bisa terelakkan adalah melihat dia bahagia dengan orang baru setelah aku. Apapun alasannya, perpisahan itu menyakitkan. Aku menghormati keputusannya, menerima keadaan ini sebagai proses pendewasaan diri."
"Seseorang pernah mengatakan jika kamu mencintai seseorang biarkan dia pergi, jika dia kembali berarti dia milikmu. Namun jika dia tidak kembali berarti dia bukan milikmu. Dia kembali namun ternyata bukan lagi aku yang dia tuju. Melihatnya bersanding dengan orang lain rasanya berat sekali. Cemburu tapi enggak punya hak haha..."
"Tapi tidak apa-apa, aku berusaha memahami situasinya. Kita pernah saling bertukar cerita, hingga akhirnya dia menghilang tanpa kabar. Harusnya sejak awal aku tahu jika kabar itu penting, karena itu menandakan jika aku masih ada untuknya."
"Aah sudahlah, Li. Kenapa jadi melow melowan begini sih.....Aku hanya berusaha menjalani setiap ketentuan yang sudah Allah tuliskan untukku. Kadang aku pun suka mikir, Allah bakal ngasih aku apa ya, kok prosesnya gini amat, haha...." ujar Shanum kembali mengiringi ucapan tawa dengan tawa.
"Num kalau aku jadi kamu kayaknya aku udah stres deh, sekarang aja aku yang cuman dengerin jadi ikut stres apalagi kamu ngalaminnya", timpal Liani sambil menepok jidatnya.
"Hahaha.....Sudah ah, ngapain harus stres mikirin orang yang bahkan tidak pernah bertanya kita baik-baik saja atau tidak. Mari kita tetap nikmati hari kita, meski ternyata menjadi dewasa tak seindah mimpi kita di waktu kecil..hhe..." sisa tawa Shanum masih mengiringi setiap ucapannya.
"Aku percaya setelah ini di depan kebahagiaan sudah menantimu, Num" Liani berkata tulus.
Mereka pun beranjak dari tempat duduk masing-masing. Baru beberapa langkah mereka hendak meninggalkan taman, tiba-tiba suara seseorang menghentikan langkah mereka.
" Shanum..." panggil seseorang yang ternyata adalah Akhtar.
Saat Shanum dan Liani meninggalkan sekolah, ternyata Akhtar berada di sana. Dia melaksanakan shalat Ashar berjamaah di mesjid yang berada di lingkungan sekolah tingkat SMA itu. Dia memang sengaja melakukannya karena ingin menemui Shanum hingga akhirnya mengikuti Shanum sampai ke taman tanpa diketahui keduanya dan mendengar semua pembicaraan mereka yang membuat Akhtar semakin merasa bersalah.
Shanum dan Liani pun membalikkan badan, mereka saling tatap saat mengetahui siapa orang yang menghentikan langkah mereka.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ahsan memohon.
"Maaf Pak, sekarang sudah di luar jam kerja, jika ada urusan pekerjaan yang tidak mendesak yang akan Bapak sampaikan sebaiknya kita bahas besok saja, permisi. ***...."
"Shanum..." sentak Akhtar menghentikan ucapan salam Shanum.
Shanum pun menghentikan ucapannya, dia menundukkan wajahnya menghindari arah pandangan Akhtar yang sejak tadi terus menatapnya.
__ADS_1
"Kita masih ada urusan pribadi yang harus dibahas. Bu Liani, bisa tolong tinggalkan kami sebentar?" pinta Akhtar dan dijawab Liani hanya dengan anggukan kepala. Diapun pergi menjauh dari mereka berdua.
Tinggallah Shanum dan Akhtar berdua di taman belakang rumah dinas guru yang memang jarang dikunjungi orang namun tampak bersih dan terawat.
"Indah ya langit senja hari ini" Akhtar mengawali perbincangan mereka, Shanum diam tidak menjawab.
"Aku kangen menikmati langit senja di pematang sawah" lanjut Akhtar, Shanum masih diam.
"Shanum, maafkan aku" Akhtar mulai berkata dengan serius.
"Andai waktu itu aku menyelidiki kebenaran kabar tentang kamu mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin kita sekarang sudah menikah dan hidup bahagia. Maafkan aku Shanum" Akhtar mencurahkan isi hatinya, dia berbicara lirih dengan penuh penyesalan.
"Benar kata Ahsan, aku memang manusia bodoh yang telah menyia-nyiakan wanita seistimewa kamu. Aku memang bodoh", Akhtar menjambak rambutnya sendiri dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih setia berada di saku celananya.
Mereka saat ini berdiri berdampingan, lewat juru matanya Shanum bisa melihat apa yang Akhtar lakukan. Suasana menjadi hening. Shanum belum mengeluarkan suaranya, dia masih menunggu apa yang akan Akhtar katakan selanjutnya.
Akhtar kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya sebentar, dia kemudian beralih menghadap Shanum. Menatap Shanum begitu dalam dari arah samping dengan kedua tangannya sudah kembali berada di saku celananya.
Shanum yang menyadari jika Akhtar sedang menatapnya menjadi serba salah. Dia berusaha mengendalikan dan menahan perasaannya agar terlihat biasa-biasa saja.
"Shanum, aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu. Haruskan aku membawamu pergi jauh dari sini?" ucapnya penuh dengan keputusasaan tanpa melepaskan pandangannya dari Shanum.
Shanum tersentak mendengarnya. Dia menoleh ke arah Akhtar hingga pandangan mereka pun bertemu.
"Istighfar, A" Shanum berkata dengan lembut dia berusaha mengingatkan Akhtar sambil kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Bersyukurlah dengan apa yang Aa miliki hari ini. Tentang kita, biarlah menjadi cerita indah yang mengisi masa remaja kita. Lupakan jika itu menghambat kebahagiaanmu saat ini dan di masa yang akan datang" lanjut Shanum.
"Aku sudah berusaha Num, tapi semakin berusaha ternyata semakin aku tidak bisa menghapus semua tentang kita. Kamu masih bertahta di hati dan pikiranku" jelas Akhtar lirih, dia sepertinya berusaha menahan tangis.
Shanum kembali menarik napasnya dalam dia seperti sedang berhadapan dengan muridnya yang curhat karena putus cinta. Imej Akhtar sebagai ketua yayasan yang begitu berwibawa dan penuh kharisma luruh di hadapan Shanum.
Tanpa mereka sadari semua interaksi mereka di taman senja itu, diabadikan oleh seseorang dan langsung terkirim ke aplikasi pesan milik orang yang menyuruhnya.
"Brengsek!", ucap si penerima pesan saat melihat pesan gambar yang baru saja masuk ke gawainya.
__ADS_1