Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Secret Mission


__ADS_3

Adzan Ashar berkumandang, cuaca yang cerah sangat mendukung untuk beraktivitas di luar rumah. Jalan-jalan sore menjadi salah satu aktivitas pilihan yang dilakukan banyak orang di penghujung pekan ini. Setelah pagi hari menikmati car free day, suasana grand opening mebel FDF yang masih ramai menjadi pusat perhatian mereka karena kemeriahannya. Menjelang sore masih banyak pengunjung yang datang.


Acara resmi telah usai, para tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan tempat. Tidak sedikit dari mereka yang tertarik dengan produk furniture mebel FDF yang menurut mereka memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dari yang lainnya. Para tamu pun pulang setelah berbelanja.


Akhtar tersenyum lebar saat mendapat bisikan dari Ghifar jika penjualan hari ini sudah melebihi target. Dia tidak menyangka jika produknya akan terjual laris dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Karyawan yang berjumlah dua puluh orang dengan tugas awal yang berbeda-beda hari ini kompak bertugas di bagian pemasaran. Pelayanan yang ramah dan cepat menjadi salah satu hal yang Akhtar wanti-wantikan kepada semua karyawannya.


Akhtar yang sedang menemani tamunya yang sedang berpamitan kembali mengalihkan perhatiannya pada perbincangan mereka yang sempat terputus karena kedatangan Ghifar. Dia mengantar kepergian tamunya sampai ke luar gedung.


Saat akan kembali ke dalam, sekilas Akhtar melihat seseorang yang dia kenal. Akhtar pun menghentikan langkahnya, dia memantau dari kejauhan apa yang dilakukan orang itu.


"Ngapain dia masih di sini, bukankah tadi dia sudah pamit?" gumam Akhtar yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Dia terus mengamati apa yang akan dilakukan laki-laki yang tidak lain adalah Aditya, direktur bank BRI cabang Garut.


Aditya terlihat berjalan menjauh dari mobilnya. Akhtar tak mau kehilangan jejak, pandangannya mengikuti kemana kaki Aditya melangkah. Dan benar saja, kekhawatirannya terbukti. Aditya berjalan ke arah mobilio putih yang terparkir di samping gedung, parkiran khusus owner dan karyawan yang Akhtar yakini adalah milik Shanum. Dia hafal betul flat nomor mobil itu B 54 NUM.


Aditya terlihat mengetuk kaca pintu depan mobil itu dan sang empunya mobil yang tak lain adalah Shanum pun keluar. Mereka tampak berbincang serius, entah apa yang mereka bincangkan karena jarak yang jauh Akhtar tidak bisa mendengarnya. Cukup lama Akhtar memerhatikan mereka, dari yang dia lihat jelas Aditya menghalangi Shanum tiap kali dia akan berpamitan. Akhtar tidak bisa menahan diri lagi melihat aksi Aditya yang semakin terlihat modusnya. Dia pun berjalan ke arah dimana Shanum dan Aditya berdiri.


"Shanum, kamu sedang apa di sini? dan anda Pak Aditya bukankah tadi anda bilang akan ada rapat siang ini?" suara Akhtar yang tiba-tiba membuat Shanum dan Aditya serempak menoleh dengan wajah sedikit kaget, tidak menyadari sama sekali kehadiran Akhtar di antara mereka. Akhtar menatap tajam mereka berdua.


"Aku mau shalat dulu ke luar, mushala di dalam penuh tadi....." ucapan Shanum terhenti karena Aditya tiba-tiba menyambar.


"Maaf Pak Akhtar saya mengganggu Teh Shanum. Saya hanya mau mengajaknya untuk bekerja sama. Kebetulan bank kami punya beberapa program menarik bulan ini. Saya rasa warung nasi milik Teh Shanum cukup potensial, sayang jika hanya tetap sekedar warung nasi" Aditya menjelaskan panjang lebar tentang isi pembicaraannya dengan Shanum.


"Saya rasa itu bisa dibicarakan di kesempatan lain yang lebih layak, bukan di tempat terbuka dengan kondisi seperti ini" ujar Akhtar dengan ekspresi wajah yang datar.


"Tentu, tentu saja. Saya pun berencana akan mengajak Teh Shanum untuk berbicara lebih jauh lagi tentang hal ini. Ajakan saya tadi masih berlaku setiap saat ya!" Aditya menjawab tak kalah cepat dan kalimat terakhir dia khususkan untuk Shanum dengan mengerlingkan sebelah matanya menatap Shanum.


Melihat hal itu Akhtar semakin kesal dibuatnya. Dia memilih mengabaikan Aditya dan menoleh ke Shanum.


"Bukankah kamu belum shalat?" tanyanya ketus, dan hanya di jawab anggukan oleh Shanum. Dia masih heran melihat respon Akhtar yang berlebihan menurutnya.


"Kalau begitu, ayo! Kami permisi Pak Aditya" Akhtar meraih lengan Shanum yang masih memegang kunci mobil, tanpa basa-basi dia pergi meninggalkan Aditya yang masih berdiri di sana dan menggandeng Shanum untuk ikut dengannya.


Shanum tak kuasa menolak, dia mengikuti Akhtar menuju gedung mebel melalui pintu samping. Shanum hanya menganggukkan kepala pamit pada Aditya, merasa tak enak dengan pemuda itu namun dia pun tak kuasa menolak Akhtar yang menariknya paksa untuk berjalan mengikutinya. Aura kecemburuan jelas terlihat di mata Akhtar.


"Lepas! Shanum berusaha melepaskan genggaman tangan Akhtar di lengannya saat sudah memasuki pintu samping gedung dan langsung menuju tangga menuju lantai dua gedung itu.


Akhtar menghentikan langkahnya. Sejenak dia melirik tangannya yang memegang pergelangan tangan Shanum cukup erat. Sedetik dia tatap wajah pemilik lengan itu, namun kembali dia memalingkan wajahnya dan terus berjalan menuju lantai atas tanpa mempedulikan permintaan Shanum.


Shanum pasrah, dia mengikuti kemana Akhtar akan membawanya.


Akhtar menghentikan langkahnya saat sampai di lantai dua. Memasuki pintu yang hanya berjarak beberapa langkah dari tangga. Setelah pintu terbuka, tampaklah sebuah ruangan yang luas. Terdapat satu set sofa, televisi dengan layar besar menempel di dinding. Sebuah mini bar yang berhadapan langsung dengan dapur kecil yang tertata rapi dan bersih di samping dapur terdapat pintu toilet. Sebelah timur dinding ruangan itu terbuat dari kaca dengan ukuran yang tebal, terlihat balkon yang nyaman dengan taman mini yang menyejukkan mata. Ayunan dan meja kecil terdapat di teras balkon. Di bagian barat ruangan itu terdapat dua pintu yang diperkirakan Shanum adalah kamar tidur.


Akhtar melepaskan genggaman tangannya dari lengan Shanum. Dia menatap Shanum yang masih berdiri mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


"Duduklah, aku akan memberi tahu Liani kalau kamu ada di sini. Ibu menyimpan alat shalat di sana, wudhunya di sebelah sana. Jika kamu membutuhkan toilet, toiletnya ada di sebelah sana" Akhtar menunjukkan bagian-bagian ruangan yang ada di lantai dua yang akan dibutuhkan oleh Shanum.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Shanum, dia membalikkan badannya melangkah menuju pintu keluar untuk kembali turun ke lantai satu.


"A...." panggilan Shanum menghentikan langkahnya tepat ketika tangan kanannya sudah memegangi pegangan pintu. Akhtar pun tak jadi membuka pintu, dia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Shanum, menatapnya dan menunggu Shanum melanjutkan ucapannya.


"Terima kasih" ucap Shanum dengan sedikit menganggukan kepalanya. Suasana hening seketika, Akhtar masih menatap Shanum dari tempatnya berdiri tanpa bersuara. Shanum pun dibuat salah tingkah oleh sikapnya. Menyadari Shanum yang salah tingkah, Akhtar pun akhirnya bersuara.


"Sama-sama" jawabnya, masih dengan ekspresi yang sama saat berbicara dengan Aditya tadi di bawah, datar. Dia pun kembali membalikkan badannya, membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangan itu. Shanum menghela napas panjang, merasa tidak enak melihat sikap Akhtar yang berubah seratus delapan puluh derajat terhadapnya. Sepertinya Akhtar marah karena melihat dirinya mengobrol dengan Aditya di saat tugasnya sebagai penanggung jawab catering belum selesai, pikir Shanum.


Berbeda dengan Shanum yang merasa bersalah karena telah lalai dalam pekerjaannya. Akhtar saat ini sedang menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping pintu keluar ruangan lantai dua yang di dalamnya terdapat Shanum. Dia memegang dadanya, berusaha menghilangkan gemuruh yang semakin menyeruak dalam dadanya membuat jantungnya berdebar cepat karena harus berduaan di ruang tertutup dengan wanita yang masih sangat dicintainya itu.


Hatinya tidak suka jika ada lelaki yang mendekati Shanum dengan modus ingin memesan catering. Dari perilaku Aditya, Akhtar melihat dengan jelas jika ada ketertarikan di mata pemuda itu pada Shanum. Pikirannya berkata agar dia melindungi Shanum dari kejahatan-kejahatan pria bermodus. Ya melindungi, dia harus melindungi Shanum. Apalagi kini mereka berteman, Shanum juga putri dari sahabat ibunya. Ikatan emosional dan kekeluargaan mereka semakin dekat, tidak salah dong kalau dia melindungi Shanum.


Pikiran Akhtar terus mencari pembenaran dari apa yang baru saja dilakukannya. Dia hanya ingin melindungi Shanum, dia tahu ada suaminya yang lebih berhak. Tetapi keberadaan Haqi yang jauh dari Shanum, menurutnya membuat Shanum tidak selalu bisa mengandalkan suaminya. Tidak mau membuat Shanum salah paham, dia bukan bermaksud menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Shanum. Tetapi sebagai sahabat sudah sepantasnya untuk saling menjaga dan melindungi.


Derrtt...Derrrtt....Derrtt.....


Getaran gawai di saku celana membuyarkan lamunan Akhtar. Dia segera merogoh gawainya. Terlihat jika Ahsan menelepon.


"Assalamu'alaikum" sapanya saat panggilan terhubung.


"Wa'alaikumsalam, dimana lo? gue nyariin di gedung gak" pekik Ahsan saat menjawab ucapan salam dan langsung bertanya keberadaan Akhtar. Keadaan gedung yang berisik karena grup musik masih menghibur para pengunjung mebel, ditambah pengunjung yang masih ramai membuat Ahsan harus berteriak.


"Gue di atas, sebentar lagi turun" jawab Akhtar, dia pun mematikan sambungan teleponnya sepihak dan langsung melangkah menuju tangga.


Menyadari Akhtar berjalan ke arah mereka, mereka bertiga pun menghentikan perbincangannya. Suasana seketika hening saat Akhtar tiba di meja itu. Dia pun menatap ketiga wanita itu bergiliran merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Apalagi saat beradu tatap dengan Liani, matanya terlihat sembab seperti sudah menangis.


"Ibu, sudah makan?" tanya Akhtar memecah keheningan. Akhtar menggeser kursi di samping sang ibu untuk didudukinya. Kemudian menoleh ke arah Bu Hana, dan Liani menyapanya dengan tak kalah ramah.


"Sudah makan, sudah shalat, sudah curhat juga" sahut Bu Fatimah penuh makna.


Akhtar mengernyitkan keningnya, heran dengan jawaban sang ibu. Tidak biasanya ibunya itu curhat ke sembarang orang apalagi yang dia tahu mereka baru saja bertemu. Bu Fatimah tersenyum saat melihat ekspresi sang putra yang kebingungan.


"Ibu Hana ini sahabat baik ibu waktu di PGA, di reuni ramadhan kemarin kami sempat bertemu tapi hanya sebentar karena ibu harus kembali ke Pameungpeuk saat itu. Dan hari ini ibu baru tahu kalau ternyata dia adalah ibunya Neng Zahra" Bu Fatimah menjelaskan kembali informasi tentang Bu Hana yang sebelumnya sudah Akhtar dengar sekilas dari Ghifar beberapa waktu yang lalu.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu lagi. Ibu senang?" tanya Akhtar dengan tersenyum karena melihat sang ibu begitu bahagia saat menceritakan tentang Bu Hana.


"Tentu saja, bahkan ibu berharap silaturahmi kami terus berlanjut dan tidak akan pernah terputus lagi" Bu Fatimah melirik penuh arti kepada Bu Hana dan Liani yang disambut dengan anggukan mantap dari mereka berdua. Terutama Liani yang terus menatap Akhtar sejak Ahsan berjalan dan bergabung dengan ketiga wanita itu.


Sejak Akhtar berjalan ke arahnya duduk, Liani memang terus memandangi Akhtar bahkan Akhtar menangkap Liani menatapnya sambil senyum-senyum sendiri. Akhtar sampai melihat penampilannya sendiri, beberapa kali mengusap wajahnya khawatir ada sesuatu yang menarik perhatian Liani hingga menertawakannya.


Liani semakin mengembangkan senyumnya ketika mendapat isyarat dari Bu Fatimah saat mengatakan akan melanjutkan silaturahmi dengan Bu Hana dan tidak pernak terputus lagi. Dia tidak bisa menghentikan tatapannya kepada mantan atasannya itu dengan senyum terus mengembang di bibirnya.


flashback


Liani mencari Shanum yang sudah lama pergi untuk melaksanakan shalat ashar. Karena pengunjung mebel masih banyak dan beberapa tamu juga masih berdatangan yang langsung dipersilahkan menikmati hidangan membuat Shanum dan tim bergiliran untuk melaksanakan shalat.

__ADS_1


Liani menyuruh Shanum lebih dulu shalat sementara dia menggantikan posisi Shanum bersiaga mengawasi semua stand. Memastikan semua hidangan masih ready di setiap stand dan petugas memberi pelayanan prima kepada setiap tamu yang datang.


Namun setelah beberapa pekerja kembali dari shalatnya, Shanum belum juga kembali. Dia pun meminta Indri untuk menggantikan posisinya, Liani berjalan menuju mushala untuk melaksanakan shalat Ashar.


Selesai shalat Liani belum mendapati Shanum kembali ke mebel, dia pun berinisiatif untuk menanyakannya pada Bu Hana. Tak menyangka kedatangannya ke sanamalah membuatnya mendapat kejutan yang luar biasa.


"Tapi... seminggu setelah putriku tinggal di Jakarta, kami menerima kabar jika suaminya kecelakaan dan koma" Bu Hana tersedu menahan tangis. Dia kembali membayangkan nasib putrinya yang menyedihkan.


"Siapa yang meninggal Bu?" sahut Liani yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Bu Hana yang sedang menangis di pelukan Bu Fatimah. Bu Hana amengurai pelukan saat mendengar suara yang tak asing di telinganya, Liani sudah berdiri di belakangnya. Bu Hana menoleh, melihat ke arah Liani dengan air mata yang masih berurai air mata.


"Liani..." panggil Bu Hana, dia merentangkan tangannya meminta Liani datang ke pelukannya. Liani pun berhambur ke pelukan Bu Hana yang semakin tersedu di pelukan Liani.


Selang beberapa menit Bu Hana sudah lebih tenang. Dia pun menceritakan kembali kisah hidup putri sulungnya kepada Liani, tidak ada satu hal pun yang Bu Hana lewatkan. Termasuk saat ini Shanum yang selalu menghindar jika membicarakan tentang pernikahan. Dia sangat tidak percaya diri dengan statusnya saat ini. Selalu merasa tidak pantas untuk siapapun.


Liani tak kuasa menahan air matanya saat mengetahui kenyataan jika Shanum kini kembali hidup sendiri. Liani tahu betul bagaimana Haqi berusaha menjadi laki-laki yang layak untuk Shanum cintai. Dia memperlakukan Shanum begitu istimewa. Apalagi mendengar kisahnya dari Ahsan yang sudah menaruh hati pada Shanum namun dia memilih mencintai salam diam saat mengetahui jika Ahsan pun sedang memperjuangkan cinta Shanum.


Kini, keinginan Haqi terkabul. Dia berhasil menjadikan Shanum sebagai cinta terakhirnya, wanita yang selama ini dia harapkan menjadi pendampingnya hingga menutup mata dan hanya kematian yang memisahkan mereka berdua.


Liani kembali teringat Shanum, sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri. Sejak dulu Shanum selalu mampu menyembunyikan kesedihannya, dia selalu tersenyum di balik luka hatinya. Hidupnya santai terlihat tanpa beban padahal mentalnya sedang dibantai habis-habisan.


"Neng...kenapa kamu gak jujur ke aku?" gumamnya lirih, kini dia yang tak mampu menahan tangisnya mengingat takdir hidup yang dijalani sahabat baiknya. Sungguh hatinya teriris, dia tak bisa membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Shanum.


Setelah semua tenang Bu Fatimah kembali membuka percakapan.


"Sepertinya sekarang sudah saatnya mereka berdua bahagia. Aku yakin sampai saat ini putraku masih sangat mencintai putrimu, Han" Bu Fatimah mengambil gelas yang airnya tinggal setengah dan memberikannya pada Bu Hana agar lebih tenang.


"Aku akan memberi tahu Akhtar tentang kenyataan yang sebenarnya. Selama ini dia mengira jika Neng Zahra masih bersuami. Aku harap Neng Zahra bisa secepatnya bangkit kembali dari keterpurukannya. Dia pun harus tahu jika Akhtar masih sangat mencintainya" lanjut Bu Fatimah.


"Tapi aku gak berani jika harus mengatakan hal itu pada Shanum, aku sudah berjanji pada kang Imran jika aku tidak akan memaksa lagi Shanum untuk menikah. Apalagi yang Shanum tahu anakmu juga sudah menikah. Kami sepakat untuk membiarkan dia menyembuhkan lukanya sendiri, dan tetap berada di sampingnya sebagai bentuk dukungan kami yang sangat menyayanginya" ucap Bu Hana yang berucap masih dengan nada sendu.


"Shanum sudah tahu jika Pak Akhtar belum menikah" sela Liani, dia pun meraih botol air mineral yang masih bersegel untuk diminumnya, berusaha mengembalikan energinya dengan meminum air putih. Ternyata menangis juga menguras tenaga, pikirnya.


"Serius kamu?" Bu Hana dan Bu Fatimah kompak bertanya, mereka berdua menatap Liani yang tampak santai meminum air mineral yang baru saja dia buka. Bu Fatimah dan Bu Hana tak sabar menunggu jawaban.


"Iya Bu, aku sudah mengatakannya saat aku datang ke rumah ibu kemarin lusa. Dan yang bikin aku kesal dia sama sekali tidak mengatakan jika suaminya sudah meninggal" Liani cemberut, mengerucutkan bibirnya di hadapan Bu Hana dan Bu Fatimah membuat kedua wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tergelak melihat tingkahnya.


"Baiklah kalau begitu, sekarang tugas kamu untuk meyakinkan Neng Zahra, beri dia pengertian dan semangat agar kembali bangkit dan membuka diri untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya. Yakinkan dia jika dirinya sangat berharga, dan katakan jika Akhtar masih sangat mencintainya dan pasti akan menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya" jelas Bu Fatimah panjang dengan semangat dan penuh harap saat memberikan tugas pada Liani.


"Dan kamu, tolong didiskusikan hal ini dengan Kang Imran siapa tahu dia punya solusi untuk kita bisa menyatukan kembali mereka" ucap Bu Fatimah beralih menatap Bu Hana.


"Aku pun secepatnya akan memberitahukan Akhtar tentang berita bahagia ini, saat ini harapannya terbuka lebar. Aku tidak akan membiarkan dia kembali kehilangan kesempatan, aku yakin dia akan punya strategi sendiri untuk bisa menaklukkan kembali putrimu, Han. Kita sepakat menyatukan mereka kembali?" tanya Bu Fatimah kepada dua wanita di hadapannya.


"Setuju!" keduanya pun menjawab mantap.


"Sukses untuk secret mission kita!" seru Liani, dia mengacungkan kedua tangannya yang terkepal ke udara sebagai tanda semangat dan diikuti oleh kedua wanita paruh baya itu. Hingga akhirnya ketiganya pun tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2