Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Lampu Hijau


__ADS_3

Memasuki Kota Banjar bis pun beriringan mengikuti penunjuk arah ke Pangandaran yang sangat jelas.


Kondisi jalan Banjar-Pangandaran bervariasi, meskipun mayoritas kondisinya baik. Tetapi ada ruas-ruas tertentu yang kondisi jalanannya bergelombang. Sepuluh kilometer terakhir menjelang Pangandaran bis pun dihadang oleh kondisi jalan yang sangat keriting dan berkontur naik-turun serta berlika-liku. Cukup membuat sport jantung.


Finally, Touch Down!!!


Tepat pukul 04.30 rombongan yayasan sampai di Gerbang Masuk kawasan Pantai Pangandaran dan langsung menuju hotel yang sudah dibooking jauh-jauh hari.


Hotel yang dipilih tidak tanggung-tanggung memiliki fasilitas VVIP yang akan memanjakan pengunjungnya. Keunikan hotel ini adalah rooftop ikonik yang bisa untuk melihat view Pantai Pangandaran terutama saat sunset.


Suasananya cozy dan sangat worth it menjadi pilihan menginap di sana, panitia memilih hotel ini karena sangat cocok untuk kegiatan gathering seperti ini.


Semua orang sudah mendapatkan kamar, setiap kamar yang dipesan memiliki kapasitas untuk dua orang. Sengaja menyesuaikan dengan banyaknya peserta yang ikut dengan pasangannya masing-masing.


Masing-masing kamar memiliki vibes yang unik dan berbeda. Fasilitas hotel ini benar-benar memberikan pengalaman otentik dan cozy tentang keindahan dan budaya Jawa yang menakjubkan.


Shanum bersama Liani berada di kamar yang sama, berada di lantai tiga memudahkan aksesnya menuju aula hotel tempat acara gathering berlangsung uang berada di lantai yang sama. Sementara para pimpinan dan karyawan yayasan berada di lantai empat.


Pangandaran adalah sebuah kota kecamatan dari Kabupaten Pangandaran, Propinsi Jawa Barat. Ibukotanya adalah Parigi. Terletak di pantai selatan Pulau Jawa. Pantainya yang terkenal sebagai salah satu tempat berselancar menjadikan Pangandaran banyak dikunjungi wisatawan.


Pangandaran adalah salah satu pantai terbaik di Pulau Jawa. Nuansa ketenangan yang mungkin berbeda dengan pantai lainnya. Pada akhir pekan banyak pengunjung datang dari luar kota sehingga kawasan Pangandaran bisa penuh ramai, terlebih lagi pada saat libur nasional.


Pangandaran sendiri berbentuk sebuah Tanjung atau daratan yang menjorok ke laut, dengan adanya dua pantai berpasir vulkanik. Sisi timur pantai lebih tenang, lebih nampak sebagai kawasan nelayan.


Sangat tepat jika berada di daerah ini pada waktu makan malam, di mana berbagai restoran hidangan laut mengolah hasil tangkapannya di hari tersebut, seperti kepiting, ikan-ikan, udang, dan cumi-cumi. Suasana dan hidangan lautnya sangat layak dinikmati.


Sedangkan di ujung selatan tanjung terdapat Taman Nasional Pangandaran, yang melewati Hutan Pananjung. Kawasan ini dihuni berbagai satwa liar, dan ada Bunga Rafflesia yang tergolong spesies langka, dengan waktu mekar antara Bulan Juni – Juli.


Banyak terdapat sarana akomodasi dan restoran di kawasan Pantai Pangandaran. Festival Internasional Layang-layang Pangandaran pun kerap diselenggarakan dari sejak Tahun 1985.


Setelah dipastikan semua peserta gathering mendapatkan kamar. Shanum pun beranjak menuju kamarnya membersihkan diri dan melaksanakan shalat Subuh. Liani sudah lebih dahulu ke kamar membawa barang-barang mereka.


Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Menurut rundown acara saat ini adalah waktunya menyelesaikan keperluan pribadi dan sarapan. Jam sembilan acara inti baru akan dimulai.


Shanum dan Liani tidak kalah antusias menyambut terbitnya matahari. Kurang dari jam enam mereka sudah berada di tepi pantai timur Pangandaran untuk turut menyaksikan indahnya kekuasaan Allah melalu fenomena matahari terbit.


Shanum sedang berdiri sendiri karena Liani sibuk mengabadikan view indah dari berbagai arah. Dia memejamkan matanya, menikmati udara segar pantai di pagi hari.


Dia tidak menyadari jika seseorang sudah berada di sampingnya dari tadi dan dengan seksama memperhatikan semua tingkahnya. Setelah selesai melaksanakan shalat subuh Ahsan langsung mencari keberadaan Shanum.


"Kamu suka saat matahari terbit?", ucap Ahsan mengagetkan Shanum.


"Hah..." Shanum tersontak kaget mendengar suara Ahsan.


"Kakaaakk....bikin kaget aja", sentak Shanum sambil memegangi dadanya.


"Hahaha......", Ahsan tertawa melihat ekspresi Shanum.

__ADS_1


"Habis kamu anteng banget sih, pake merem segala, kalau ngantuk tidur sana...haha", ejek Ahsan yang masih belum berhenti tertawa.


"Untung aku yang datang, kalau orang lain dan berniat jahat gimana coba?" tanya Ahsan menakut-nakuti Shanum.


Shanum mencebik kesal mendengar ucapan Ahsan.


"Kamu suka?" Ahsan mengulang pertanyaannya.


"Suka apa?", Shanum balik bertanya.


"Saat matahari terbit?" jelas Ahsan.


"Tentu", Shanum tersenyum menjawab pertanyaan Ahsan.


"Menyaksikan matahari terbit di pagi hari, bagi sebagian orang sanggup memompa semangat optimisme untuk menjalani hari. Pancaran cahaya kuning seakan menebar semangat, bahwa kehidupan harus terus berjalan menapaki alurnya. Terbit pagi hari lalu tenggelam di sore hari", lanjut Shanum memberikan alasannya.


"Namun untuk menyaksikan matahari terbit tentu harus berada di tempat yang tepat. Salah satunya adalah di kawasan pantai Timur Pangandaran ini, Kak", jelasnya lagi.


"Lihat Kak, itu keren kan?", Shanum menunjuk bentangan langit yang mulai berwarna kuning terang.


"Enggak", Ahsan menjawab cuek.


"Enggak gimana?", protes Shanum heran.


"Ada yang lebih indah dari bentangan langit berwarna kuning itu, ada yang lebih menarik untuk dinikmati dari matahari terbit", jawab Ahsan puitis.


"Kamu!", jawab Ahsan sambil merubah posisinya jadi menghadap Shanum menatapnya sambil melemparkan senyum manis yang membuat banyak kaum hawa terpesona.


"Beuhh...." Shanum menepok jidatnya.


"Kenapa?" Akhtar mengerutkan kening.


"Basi Kak, aku udah enggak bakalan mempan sama rayuan maut Kakak, udah keseringan aku digombalin Kakak..hahaha.." Jelas Shanum sambil tertawa mengejek.


"Ah kamu Num, gak bisa apa diajak romantis dikit, mumpung kita di tepi pantai nih kan pas banget buat romantis-romantisan..." protes Ahsan, dia mengatakannya dengan ekspresi mengiba.


"Hahaha...." , Shanum semakin tertawa keras mendengar pembelaan diri Ahsan.


Posisi Ahsan dan Shanum saat ini sangat indah dipandang dari lensa kamera, tanpa sepengetahuan mereka dari kejauhan Liani membidikan kameranya dan mengabadikan momen kebersamaan mereka.


"Lumayan, bisa dijadiin tiket naik honor nih, hihi..." ucapnya sambil terkekeh.


Ahsan dan Shanum masih asik mengobrol sambil menikmati matahari terbit. Sesekali mereka tergelak bersama.


"Teng ...teng..teng...permisi, maaf maaf mengganggu waktunya.." Liani datang dengan bergaya seperti seorang pedagang.


Shanum dan Ahsan pun menengok ke arah Liani yang datang membawa sebuah tikar di tangan kirinya dan kantong kresek besar di tangan kanannya, sementara kamera tergantung di lehernya.

__ADS_1


"Duuh.....kasian, rempong ya Bu?" sahut Shanum melihat Liani kerepotan membawa barang-barang bawaannya. Shanum segera memburu Liani dan membantunya.


"Terima kasih" , ucap Liani dengan wajah manisnya.


"Apa itu?", tanya Shanum menunjuk kantong kresek yang Liani bawa.


"Ini makanan, Nona. Kalau enggak seperti ini mana ingat Nona dengan sarapan. Udah kayak emak kamu aja aku tuh, ngingetin kamu mulu kalau urusan makan", Liani menjawab pertanyaan Shanum dengan gaya seperti assisten rumah tangga sembari mengeluarkan makanan dari kantong kresek.


"Cerewet sekali emak," tukas Shanum.


"Isshhhhh...." Liani hanya berdesis melirik ke arah Shanum.


Ahsan yang melihat interaksi mereka, tertarik untuk bergabung duduk di karpet yang di bawa Liani.


"Boleh gabung?" tanyanya.


Keduanya mengangguk bersamaan. Liani memilih susu dan roti kemudian memberikannya pada Shanum.


"Pak Ahsan, silahkan pilih sendiri mau sarapan apa? ini mah buat ganjeul aja sarapan yang aslinya kan nanti di hotel. Maaf ya Pak aku riweuh soalnya Shanum suka kebablasan kalau gak diingetin. Dia kalau udah fokus kegiatan suka lupa makan. Nanti aja ya lihat geura pas sarapan, dia bakalan sibuk ngabsen orang lain buat sarapan dianya sendiri kelupaan." Liani mengoceh tentang Shanum.


Ahsan tersenyum mendengar ocehan Liani yang penuh perhatian pada Shanum. Dia senang Shanum memiliki sahabat yang baik seperti Liani. Ahsan mengambil roti yang sama dengan Shanum. Mereka menikmati matahari terbit dengan duduk bersama beralaskan karpet plastik di tepi pantai. Canda tawa menjadi pengiring kebersamaan mereka bertiga.


Derrrttt ... Derrrttt ... Derrrttt ...


Di tengah perbincangan mereka gawai Ahsan bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ahsan merogoh saku kemejanya dilihat nama Akhtar memanggilnya.


"Maaf ya, aku terima telepon dulu", ujarnya pada Shanum dan Liani. Mereka berdua hanya mengangguk dan Ahsan beranjak menjauh dari Shanum dan Liani.


Sepeninggalnya Ahsan mereka berdua kembali menikmati sarapan dan melanjutkan obrolannya.


"Num, kesempatan tidak selamanya datang dua kali lho...", sindir Liani.


"Aku pernah bilang, jangan sampai kamu menyesal ketika dia memilih menyerah. Pak Akhtar adalah masa lalumu dan kini biarlah Pak Ahsan yang menjadi masa depanmu. Jangan kamu menyadari saat yang lain telah menjadi pilihannya. Ada saatnya yang mengejar akan berhenti dan yang dikejar akan mengerti. Tidak akan ada yang benar-benar kuat, terkadang seseorang bersedih dengan cara tersenyum dan kamu adalah salah satunya. Butuh waktu berapa lama lagi? tidakkah semua yang Pak Ahsan lakukan menyentuh hatimu? Aku sebagai sahabatmu ingin yang terbaik untukmu", tutur Liani panjang lebar.


Shanum menghela napasnya dalam. Dia pun sudah memikirkannya, menghindar dari Akhtar tidak mungkin dapat selalu dia lakukan mengingat mereka kini terhubung melalui pekerjaan. Mungkin dengan cara bersama Ahsan dapat perlahan memupus semua rasa yang pernah ada untuk Akhtar.


Dia mengingat kembali kata-kata Akhtar semalam, jika Raina tahu betapa terlukanya dia dan betapa kecewanya keluarga Akhtar. Shanum tidak mau membuat Akhtar berada dalam pilihan yang sulit. Selama ini Akhtar adalah kebanggaan dan andalan keluarga dan Shanum harap selamanya akan seperti itu.


"Baiklah, aku akan menerima Kak Ahsan dan aku akan memberinya jawaban setelah kita pulang dari sini" ucap Shanum mantap.


'Walau satu yang pergi tidak sama dengan seribu yang datang. Akhtar, aku akan melupakanmu seperti siput, pelan-pelan tapi pasti.' lanjutnya dalam hati.


Liani tersenyum senang dengan keputusan Shanum.


*Lampu hijau sudah menyala, good luck Pak!*


**pesan terkirim.

__ADS_1


'


__ADS_2