Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Dipinang


__ADS_3

"Maaf Dek mau tanya, tahu tempat tinggalnya Ibu Shanum tidak?" sebuah mobil yang bertuliskan cerita selebritis terparkir di depan bengkel motor. Seseorang turun dari mobil tersebut dan menanyakan tempat tinggal Shanum.


Fauzan yang kebetulan sedang berada di sana segera menghampiri temannya yang ditanya oleh orang itu.


"Mbak siapa?" sela Fauzan penasaran sebelum temannya menjawab pertanyaan orang itu.


"Saya wartawati dari cerita selebritis sedang mencari alamat guru SMA Bina Insani Bandung yang mengundurkan diri dan sekarang katanya tinggal di daerah sini, Dek. Adek mengenalnya?" tanya orang tersebut yang ternyata seorang wartawati sebuah acara yang suka menceritakan berbagai kabar selebritis.


Fauzan mengerti maksud kedatangan orang tersebut. Dia berpikir bagaimana caranya supaya orang tersebut pergi dari sana dan tidak berhasil menemukan Shanum. Fauzan yakin kedatangan mereka pasti karena pemberitaan tentang kakaknya yang menyebar di beberapa media berita online.


"Sepertinya Mbak salah tempat deh, di sini enggak ada guru yang ngajar di Bandung Mbak paling juga guru yang ngajar di sekolah sekitar kampung sini. Coba Mbak cari ke kampung lain, barangkali ada" jelas Fauzan penuh diplomasi.


"Begitu ya Dek, baiklah kalau begitu saya permisi" ucap wartawati itu setelah mendengar penjelasan Fauzan.


"Zan, bukankah Teteh kamu ngajar di sekolah elit itu?" tanya teman Fauzan yang tadi ditanya.


"Enggak, teteh aku mah ngajarnya di TK yang sama dengan ibu" jawab Fauzan jujur, dia tidak berbohong karena Shanum sekarang memang mengajar di TK yang sama dengan ibunya, bahkan sekarang dia sudah resmi menggantikan ibu mengajar sehingga ibu bisa leluasa di Garut seperti sekarang ini.


Sudah satu minggu Bapak dan Ibunya di Garut. Rumah yang dulu mereka tinggali di Garut memang sempat disewakan dan sekarang masa sewanya sudah selesai. Karena itu Bapak dan Ibu Shanum memilih tinggal di sana lebih lama untuk merenovasi beberapa bagian rumah yang sempat tidak terurus beberapa bulan ini.


Melihat mobil yang tadi mencari Kakaknya sudah menjauh. Fauzan bergegas membereskan barang-barangnya di bengkel tempat dia bekerja. Setelah mendapat penolakan lamaran ke rumah sakit di Bandung, Fauzan memutuskan menerima ajakan temannya untuk bekerja di bengkel milik temannya itu.


Dia bekerja dari pagi sampai siang dan sorenya dia pun membantu temannya di coffee shop yang juga tidak jauh dari bengkel karena memang daerah itu selalu ramai dari pagi sampai malam.


"Mau kemana, Zan?" tanya temannya.


"Aku izin pulang cepet ya hari ini, kerjaan aku juga udah selesai. Ada yang harus aku urus di rumah. Boleh ya?" jawab Fauzan kepada teman sekaligus owner bengkel itu.


"Ouh, oke bolehlah" jawabnya mengizinkan Fauzan.


Setelah mendapatkan izin Fauzan pun segera menghidupkan sepeda motornya dan melaju menuju rumahnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di halaman rumahnya betapa kagetnya Fauzan karena melihat beberapa orang dengan penampilan khas yang Fauzan yakini mereka adalah para wartawan sedang berkeliling di sekitar rumahnya.


Fauzan yang berhenti cukup jauh dari rumahnya kemudian memarkirkan motornya di tempat yang aman. Dia mengendap-ngendap menuju jalan belakang agar kedatangannya tidak terlihat oleh wartawan-wartawan itu.


Sesampainya di pintu belakang dia segera membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci itu. Shanum, Rida dan Adam ternyata berada di dapur tampak kaget melihat kedatangan Fauzan.


"Dek, kamu bikin kaget aja" sentak Rida sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit kram karena kaget saat melihat Fauzan datang secara tiba-tiba.


"Darimana, Dek? kamu gak kerja?" tanya Shanum penasaran melihat jam segini adiknya sudah berada di rumah, biasanya Fauzan memang pulang ke rumah sekitar pukul sepuluh malam, setelah pekerjaannya di Coffee shop selesai.

__ADS_1


"Adek dari bengkel Teh, tadi ada mobil wartawan yang berhenti di sana dan menanyakan tempat tinggal teteh. Adek sudah berhasil membuatnya pergi dan mau ngasih tahu teteh supaya jangan keluar rumah. Tapi ternyata di sini sudah lebih banyak lagi wartawan" jawab Fauzan setengah berbisik-bisik karena takut ketahuan wartawan-wartawan itu jika rumah ternyata ada penghuninya.


Akhirnya mereka berempat hanya berdiam diri di dalam rumah. Mengunci rapat semua pintu dan tidak melakukan aktivitas apapun yang mengundang kecurigaan orang-orang yang berada di luar rumah. Mereka berharap wartawan-wartawan itu segera pergi dan tidak pernah kembali.


Beberapa hari berlalu seperti itu. Fauzan sudah jengah dengan keadaan ini. Tidak hanya kakaknya Shanum yang tidak bisa bebas beraktivitas. Dia dan kakak keduanya Rida juga suaminya benar-benar tidak bisa beraktivitas seperti biasa karena wartawan-wartawan itu terus bergantian mendatangi rumah mereka. Untung saja kedua orang tua mereka sedang berada di Garut, sehingga hal ini tidak akan mengganggu pikiran mereka. Shanum berharap masalah ini segera selesai sebelum kedua orang tua mereka kembali ke Bogor


"Teh, sepertinya kalau sembunyi terus kita enggak akan ada habisnya deh" ucap Rida. Saat ini mereka sedang duduk bertiga menikmati sarapan yang Shanum masak pagi-pagi sekali. Adam suaminya sudah pergi semalam dengan diam-diam karena harus bekerja.


"Iya, kamu benar Dek. Kakak harus menghadapinya" ujar Shanum mantap dengan keputusannya.


"Teteh yakin bisa menghadapi dan menghentikan mereka?" tanya Fauzan ragu.


"Insyaa Allah, Dek" jawab Shanum mantap.


"Dan satu lagi, Dek...." Shanum menjeda ucapannya dan beralih menatap Farida adik perempuannya.


"Katakan pada suamimu agar meminta laki-laki itu datang secara resmi menemui Bapak dan Ibu. Insya Allah teteh siap untuk ta'aruf" lanjut Shanum. Farida dan Fauzan saling beradu tatap mendengar penuturan kakak mereka yang menurutnya sangat tiba-tiba.


"Teteh yakin?" Fauzan kembali memastikan ucapan Shanum.


"Insya Allah, Dek" jawab Shanum menganggukan kepalanya.


Mendengar berita itu wajah Rida berubah sumringah, dia bahagia akhirnya kakak satu-satunya itu move on juga. Dia berharap Bang Haqi akan bisa membahagiakan Shanum. Mendengar cerita tentang laki-laki itu dari suaminya, Rida yakin jika dia adalah laki-laki yang pantas untuk membimbing Kakaknya ke surga melalui ikatan pernikahan.


Sementara Fauzan dia justru menampilkan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Tidak ada senyum bahagia di wajahnya seperti pada wajah Rida. Fauzan menatap lekat wajah Shanum berusaha menelisik ketulusan dari ucapan kakaknya itu.


Hari yang dinanti pun tiba.


Sebuah mobil sedan berwarna putih terparkir di halaman rumah Shanum. Dua hari yang lalu Adam mengabarkan jika Baihaqi Abdillah akan datang untuk memperkenalkan diri kepada Shanum dan keluarganya.


Shanum yang sudah memantapkan hati memberi tahu kedua orang tuanya bahwa akan ada laki-laki yang datang untuk berta'aruf dengannya. Shanum pun meminta kedua orang tuanya untuk kembali ke Bogor menerima kedatangan Baihaqi.


Seorang laki-laki berkemeja formal dengan lengan panjang yang didesain simpel, terlihat di buat dari bahan berkualitas dan warna yang menarik sehingga penampilannya kian kekinian membuat sang pria terlihat semakin gagah dan tampan keluar dari mobil itu dengan menenteng paper bag di tangan kanannya.


Rida yang penasaran dengan saudara jauh suaminya itu pun mengintip di balik tirai jendela kamarnya. Adam memintanya untuk bersiap dan memberi tahu kakaknya bahwa laki-laki yang akan berta'aruf dengannya sudah tiba. Dia menjemput Baihaqi di teras rumah sesuai permintaannya.


"Assalamu'alaikum" ucapnya lantang saat melihat Adam sepupunya sudah berdiri di teras untuk menyambut kedatangannya.


"Wa'alaikumsalam" tidak hanya Adam yang menjawab karena di saat bersamaan dengan usainya ucapan salam Baihaqi Bapak dan Ibu mertuanya pun keluar dari rumah dan sama-sama berdiri di teras.


Pemuda yang bernama lengkap Baihaqi Abdillah itu pun beralih menyalami Bapak dan Ibu Shanum setelah ber-tos ria dengan sepupunya. Dia menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Ibu Hana, Ibunya Shanum.

__ADS_1


"Ini, Bu....maaf saya tidak bisa membawa apa-apa" ucap Haqi dengan sopan.


"Terima kasih, Nak. Ini sudah cukup, jadi merepotkan ya?" balas Ibu Hana dengan senyum merekah di bibirnya.


Sejujurnya saat mendengar kabar dari putri sulung mereka bahwa ada yang mengajaknya berta'aruf dan putrinya bersedia mereka sangatlah bahagia. Tanpa memedulikan apapun mereka langsung bersiap menuju Bogor untuk menyambut kedatangan calon menantunya.


"Mari masuk dan silahkan duduk" Ibu Hana mempersilahkan Haqi untuk duduk dibersamai suami dan menantunya Adam.


Pembicaraan mereka pun dimulai dengan Haqi yang memperkenalkan diri dan keluarganya. Dia juga meminta maaf jika baru bisa datang sendiri. Ibu dan adiknya tinggal di Jakarta tidak bisa datang dalam waktu dekat karena kegiatan sang adik yang masih kuliah.


Setelah cukup lama kedua orang tua Shanum berbincang dengan Haqi, Pak Imran pun meminta istrinya untuk memanggil Shanum.


"Assalamu'alaikum" Shanum menyapa semua yang ada di ruang tamu dengan ucapan salam.


"Wa'alaikumsalam" semuanya pun serempak menjawab.


Haqi tersenyum ramah saat tatapannya bertemu dengan tatapan Shanum dan hanya dibalas oleh Shanum dengan anggukan kecil. Shanum pun kembali menundukkan pandangannya saat sudah duduk di samping Pak Imran dan diapit oleh Bu Hana yang disusul oleh Rida.


"Silahkan Nak, sampaikan maksud dan tujuan Nak Haqi jauh-jauh datang ke sini langsung di hadapan putri kami, Shanum" Pak Imran mempersilahkan Haqi untuk menyampaikan maksudnya.


"Terima kasih, Pak, Bu terima kasih sudah bersedia menerima kedatangan saya dengan baik di rumah ini. Tujuan saya ke sini ingin meminta izin kepada Bapak dan Ibu untuk saya bisa berta'aruf dengan putri Bapak dan Ibu yang bernama Shanum Najua Azzahra. Jika Dek Shanum berkenan, saya tidak ingin lama-lama mari kita lanjutkan proses ta'aruf itu dalam ikatan yang halal yaitu pernikahan." Haqi menjeda ucapannya, dia menatap ke arah Shanum yang masih setia menundukkan pandangannya.


"Saya tahu saya tidak cukup ilmu untuk bisa membimbing Dek Shanum. Bahkan saya yakin secara keilmuan Dek Shanum jauh lebih unggul dari saya. Tapi percayalah, saya akan terus belajar dan mari kita melangkah bersama hingga surgaNya"


"Sejujurnya selama ini saya sudah mengagumi Dek Shanum. Tetapi hanya mampu sebatas mengagumi dalam diam dan berjuang dalam do'a"


"Saya percaya bahwasanya do'a adalah penyampai pesan terbaik karena mendo'akan adalah cara mencintai yang paling rahasia"


"Sekarang izinkan saya bertanya dan silahkan Dek Shanum jawab sejujur-jujurnya, setulus-tulusnya sesuai dengan apa yang hati Dek Shanum katakan" Haqi memberikan pilihan dengan bijak kepada Shanum.


"Bismillahirahmanirrahim.... bersediakah Dek Shanum untuk saya pinang menjadi calon pendamping saya dan kita akan meraih ridha Illahi dengan sehidup sesurga?" Ucap Haqi mantap.


Shanum menarik napasnya dalam sebelum menyampaikan jawabannya. Dia berusaha menghilangkan sesak yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya. Ada rasa yang tak biasa saat mendengar Haqi menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah. Ingatannya sejenak pada masa lalu yang masih membayanginya.


Bayangan wajah Akhtar dan Ahsan tiba-tiba melintas di benaknya. Dia menggelengkan kecil kepalanya berusaha menghilangkan bayangan dua orang itu dari pikirannya.


Hatinya terus beristighfar agar diberikan kemantapan dalam memutuskan sesuatu yang tidak mudah untuk Shanum.


Shanum pun mengangguk tanda menyetujui dan menerima pinangan Haqi.


"Alhamdulillah, Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih Dek sudah memberikan kesempatan berharga ini kepada Abang. Insya Allah Abang tidak akan menyia-nyiakannya" ucap Haqi mengutarakan kebahagiaannya atas jawaban yang sudah diberikan Shanum padanya.

__ADS_1


__ADS_2