
"Harusnya gue tidak usah pergi ke Bandung hari ini" Akhtar menggerutu. Panik, menyesal dan khawatir berbaur, terlihat jelas dari raut wajahnya saat ini. Dia duduk dengan gelisah di samping kemudi, Ghifar yang mengemudi. Kejadian di masa lalu membuat Ghifar tidak berani membiarkan Akhtar mengendarai mobilnya sendiri di saat keadaannya seperti itu.
"Cepatlah Ghif, lo tambah kecepatannya" Akhtar kembali memerintah menyuruh Ghifar agar menambah kecepatan.
"Iya, ini juga udah cepet" jawab Ghifar singkat, dia menambah sedikit kecepatannya saat memasuki jalan tol.
"Kenapa Shanum bisa pingsan, memangnya apa yang dilakukannya sampai dia pingsan? padahal tadi pas gue mau berangkat dia baik-baik saja, malahan dia yang ngewanti-,wanti gue buat jaga kesehatan. Sebelumnya dia gak pernah kayak gini, lo tahu Ghif, gue gak bisa bayangin apa yang harus gue lakuin kalau sampai terjadi sesuatu sama Shanum" Akhtar mendongak, menahan sesuatu yang hampir jatuh dari kelopak matanya. Pikirannya saat ini sungguh kacau, berbagai kemungkinan terburuk terlintas di benaknya
"Sudahlah jangan berpikiran macam-macam, Insya Allah Teh Shanum gak bakalan apa-apa" Ghifar berusaha meyakinkan Akhtar, berharap Akhtar lebih tenang. Sangat terlihat kekhawatirannya, bagi Akhtar Shanum adalah bagian dari jiwanya. Tiga bulan menjalani rumah tangga sudah membuatnya sangat bergantung pada sang istri. Shanum tidak pernah membiarkannya kekurangan satu apapun. Dari bangun tidur sampai mau tidur Shanum selalu memastikan semua kebutuhannya terpenuhi, tidak kurang satu apapun.
Terlintas kembali semua hal yang telah mereka lalui selama tiga bulan hidup bersama, setiap hal yang dilakukan istrinya itu tersimpan jelas di memorinya dan saat ini di benar-benar dia putar ulang untuk menghilangkan segala kekhawatirannya.
Akhtar kembali merogoh saku jasnya, dia menelepon beberapa kali namun nihil tak ada jawaban saat dia kembali menghubungi nomor sang istri begitu pun ibu mertua dan adik iparnya. Selanjutnya Akhtar pun menghubungi sang ibu, tadi sebelum kembali ke Garut dia sempat menghubungi ibu Fatimah memberitahukan tentang keadaan Shanum dan keberadaannya saat ini.
"Assalamu'alaikum, Bu" sambungan telepon pun terhubung setelah panggilan ketiga kalinya.
"wa'alaikumsalam, Nak" jawab Bu Fatimah diseberang telepon sana.
"Ibu sudah sampai?"
"Belum Nak, sebentar lagi ibu sampai. Kamu yang tenang di jalan fokus bawa mobilnya, Insya Allah istrimu akan baik-baik saja" Bu Fatimah menenangkan putranya. Bayangan kejadian di masa lalu kembali menghantuinya,
"Ibu tenang saja, aku sama Ghifar ko dia yang bawa mobil" terang Akhtar.
"Oh syukurlah, hati-hati di jalan ya. Nanti ibu kabari kalau sudah sampai"
"iya, Bu. Ibu juga hati-hati. Assalamu'alaikum" Akhtar mengakhiri percakapan dengan sang ibu, dia mulai sedikit lebih tenang.
Sementara di Garut, suasana di warung nasi menjadi heboh ketika Shanum yang hendak berdiri dari tempatnya duduk tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri. Sontak semua perhatian orang-orang pun tertuju padanya.
Indri yang saat itu berada tepat di samping Shanum pun panik bukan kepalang, baru kali ini dia mendapati kakak sepupunya pingsan. Sejak dulu sebanyak apapun Shanum beraktivitas dia tidak pernah sampai pingsan.
"Astaghfirullah .....A Ozan, teh Neng pingsan" Indri berteriak memanggil Fauzan yang saat itu sedang membantu Ceu Imas membawakan pesanan catering dari dapur ke mobil konsumen. Dengan sigap Fauzan yang mendengar teriakan Indri pun segera datang menghampiri, dilihatnya Shanum sudah terbaring dilantai beralaskan pangkuan Indri.
Tanpa banyak bertanya Fauzan mengangkat tubuh kakaknya dan membawanya ke sofa. Shanum tak kunjung sadar, seorang pengunjung warung mengusulkan untuk membawa Shanum ke puskesmas terdekat. Dia bahkan menawarkan diri untuk mengantarnya menggunakan mobilnya.
Tanpa pikir panjang Fauzan pun menyetujuinya, kebetulan dia pun mengenal tamu di warungnya tersebut. Beberapa saat sebelumnya Shanum mengenalkan orang itu sebagai temannya waktu SMP. Pak Imran dan Bu Hana saat itu sedang tidak berada di rumah, mereka sedang pergi ke Bogor mengunjungi putri kedua mereka.
Di perjalanan Fauzan bingung saat akan menghubungi Akhtar, gawainya ketinggalan. Dia panik saat melihat kakaknya tak sadarkan diri sehingga melupakan benda itu. Fauzan pun berinisiatif untuk meminjam gawai pada teman Shanum yang mengantarnya, dengan senang hati laki-laki itu pun menyerahkan gawainya pada Fauzan.
'A, teteh pingsan. Sekarang mau dibawa ke puskesmas terdekat' pesan pun terkirim ke nomor Akhtar yang dia ingat di luar kepala.
Sesampainya di puskesmas, Shanum pun langsung ditangani oleh tenaga medis yang bertugas. Dipasangkannya infusan setelah dokter jaga memeriksa keadaannya. Diagnosa sementara dokter Shanum kelelahan dan kekurangan cairan, wajahnya pucat sehingga mengharuskan dirinya diinfus.
Shanum sudah sadarkan diri, saat ini dia masih berada di ruang tindakan.
"Gimana teh sudah lebih baik?" tanya dokter jaga, Shanum sedikit menganggukan kepalanya. Fauzan setia menemani sang kakak, dia tidak beranjak sedikit pun dari sisinya. Indri sudah kembali ke warung, Fauzan menyuruhnya agar menutup warung dan membawa beberapa kebutuhan Shanum dari rumah termasuk gawainya yang ketinggalan. Di luar ruang pemeriksaan, tamu warung yang mengantar mereka pun masih menunggu
__ADS_1
"Masih terasa pusing?" dokter kembali memastikan keadaan pasiennya dan kembali dijawab anggukan oleh Shanum. Sejenak dia memejamkan mata merasakan kepalanya yang masih terasa pusing.
"Tekanan darah teteh rendah, jadi harus diinfus. Untuk selanjutnya teteh harus melakukan pemeriksaan dengan bidan ya. Saya memprediksi sepertinya teteh sedang hamil. Tapi untuk lebih jelasnya sebaiknya teteh diperiksa langsung oleh bidan ya" dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya,
"Hamil dok?" tanya Shanum dengan nada kaget, dia mengingat jika bulan ini dia memang belum mengalami haid, biasanya setiap bulan Shanum akan mengalaminya secara rutin, tapi bulan ini dia ingat jika sudah telat dua minggu dari jadwal seharusnya.
"Iya, tapi teteh harus cek ulang juga ya" dokter kembali menegaskan.
"Iya dok, bisa sekalian di sini?" tanya Shanum antusias, dia berharap prediksi dokter itu benar. Beberapa hari ke belakang dia sempat mendiskusikan perihal anak dengan suaminya, Shanum tahu jika Akhtar sangat berharap segera hadir Akhtar junior di rahimnya.
"Bisa teh, nanti kalau teteh sudah kuat teteh bisa melakukan pemeriksaan selanjutnya" jelas dokter.
"Kuat dok, saya kuat" Shanum antusias, dia bangun perlahan dari tidurnya dan duduk bersandar. Dokter wanita yang memeriksa Shanum hanya tersenyum melihat tingkah Shanum.
"Baiklah teh, nanti saya akan minta bidan untuk membantu teteh ya" dokter pamit dari ruang itu. Shanum menarik napasnya dalam, dia mengusap perutnya yang masih rata berharap dirinya benar-benar hamil.
Tepat saat adzan isya berkumandang, Ghifar memarkirkan mobil Akhtar yang dibawanya. Beberapa menit yang lalu Akhtar sudah terhubung dengan Fauzan, Fauzan mengirim lokasi puskesmas tempat kakaknya dirawat. Tanpa menunggu lagi Akhtar keluar dan langsung berlari menuju pintu utama puskesmas itu. Dia melihat Fauzan yang sedang duduk di kursi tunggu di lorong yang menghubungkan ruang tindakan dan ruang perawatan.
"Assalamu'alaikum, Dek" Akhtar menghampiri Fauzan dengan wajah yang terlihat masih sangat panik. Fauzan pun mendongak, dia menghentikan aktivitasnya yang sedang berkirim pesan dengan sang ibu yang ada di Bogor.
"Wa'alaikumsalam, Aa sudah sampai? teteh ada di dalam A, ada Ibu Fatimah dan Indri. Ibu dan Bapak belum bisa pulang, Insya Allah besok katanya" Fauzan meminta Akhtar mengikutinya.
Tok..tok...
Fauzan membuka pintu ruang rawat Shanum, dia pun mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk lebih dulu.
"Sayang, apa yang sakit? kenapa kamu bisa pingsan?" Akhtar langsung menodong Shanum dengan pertanyaan, ditatapnya lekat wajah sang istri yang tampak masih pucat itu.
Dia pun menghujani Shanum dengan ciuman di kening, dua pipi, hidung, dagu dan terakhir di bibirnya. Shanum yang menyadari jika di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua, sempat menghindar dari perlakuan suaminya.
"A.." Shanum mencoba mengingatkan Akhtar, berharap suaminya menyadari keberadaan mereka saat ini dan keberadaan orang lain di sekitar mereka. Tapi tangan Akhtar yang menangkup kedua pipinya membuat Shanum tidak bisa mengelak. Kini wajahnya sudah merona merah karena malu dengan apa yang dilakukan suaminya di hadapan ibu mertua dan adik sepupunya.
"Duuh...jiwa jombloku meronta-ronta" pekik Indri yang membuat kesadaran Akhtar pun kembali. Dia pun melihat ke sekitar, dan betapa kagetnya Akhtar jika sang ibu dan Indri tengah memperhatikan dirinya.
Bu Fatimah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ekspresi sang putra yang terlihat kaget. Sudah diduga, jika putranya tidak menyadari keberadaan orang lain di ruangan itu. Sementara Indri tengah menatapnya sambil menutup mulut dengan telapak tangan, menahan tawa karena melihat Akhtar yang tampak kaget.
"Ibu? Indri? maaf aku kira tidak ada kalian di sini" Akhtar nyengir, mengusap tengkuknya salah tingkah untung saja Fauzan tidak ikut ke dalam, pikirnya. Akhtar pun menuju sang ibu yang duduk bersama Indri tidak jauh dari tempat Shanum berada.
"Kamu ya" Bu Fatimah mengusap kepala sang putra gemas saat Akhtar menyalami dan mencium punggung tangannya.
"Maaf Bu, kebiasaan. Selama di perjalanan aku gak tenang" Akhtar meringis melihat ekspresi sang ibu saat beradu tatap dengannya. Bu Fatimah memukul pelan bahu Akhtar, gemas dengan kelakuan putranya yang tidak tahu tempat.
Namun sejujurnya di hatinya dia senang, senang melihat Akhtar yang memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Apa yang dilakukan Akhtar sama persis dengan yang dilakukan mantan suaminya dulu di awal-awal pernikahan mereka, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Bu Fatimah berharap Akhtar bisa mempertahankan sikap seperti itu hingga akhir dan hanya kematian yang memisahkan mereka. Kandasnya rumah tangga, cukup dia saja yang mengalami.
Akhtar pun beralih pada Indri yang berada di samping Bu Fatimah.
"Maaf ya, Indri" Akhtar menangkupkan kedua tangannya di depan dada memberi salam sekaligus meminta maaf pada indri.
__ADS_1
"Gak apa-apa A, dimaklum ko pengantin baru, hhe..." jawab Indri diakhiri kekehan.
Akhtar segera kembali ke ranjang tempat istrinya berada. Dia memindai ruangan dan fasilitas yang ada di sana, memastikan semua kebutuhan sang istri selama di sana terpenuhi dengan nyaman.
"Sayang, sekarang apa yang kamu rasakan?" Akhtar kembali mengusap kepala Shanum yang berbalut hijab. Sebelumnya dia sudah mendapat kabar dari Fauzan jika kakaknya hanya kelelahan karena tekanan darahnya rendah.
"Sekarang aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa" jawab Shanum dengan senyum lebar, matanya menunjukkan binar bahagia.
"Oya? benarkah?" Akhtar kembali mengelus pipi sang istri, saat ini dia tengah duduk di kursi samping tempat tidur Shanum, menghadap sang istri dan menggenggam erat tangannya.
"Ini sakit?" Akhtar mengusap pelan lengan yang terdapat jarum infus, dia kecup lengan itu hati-hati.
"Sedikit, tapi sekarang udah enakan" Shanum membelai kepala sang suami yang menunduk di pangkuannya. Semua adegan itu tak luput dari perhatian Bu Fatimah dan Indri yang masih setia berada di sana.
"Aa gak nanya kenapa aku bahagia?" Shanum kembali memutar topik pembicaraannya.
"Kenapa, Yang?" Akhtar mendongak menunggu sang istri menjawab pertanyaannya. Tangannya terus menggenggam tangan Shanum, sesekali dia kembali mengecup tangan itu.
"Sebentar" Shanum menarik tangan kanannya dari genggaman Akhtar, dia mengambil sesuatu dari laci meja kecil yang ada di samping ranjang.
"Ini" Shanum menunjukkan sesuatu yang terbungkus kotak kecil persegi panjang di tangannya. Akhtar melihat kotak itu dengan sekilas, dia kembali menatap wajah Shanum yang terlihat semakin bersinar menurutnya.
"Aa yang buka" Shanum menyerahkan kotak itu pada Akhtar. Akhtar pun mengubah posisinya dia duduk tegak, melepas genggaman tangannya dari tangan Shanum beralih meraih kotak itu penasaran.
Dibukanya kotak itu dengan hati-hati, Akhtar tertegun melihat sesuatu yang berada di dalamnya. Otaknya berpikir, mencerna apa yang dilihatnya. Sebuah alat test kehamilan yang menunjukkan dua garis merah begitu jelas.
Akhtar mendongak menatap Shanum yang sedang tersenyum manis menatapnya. Lidahnya kelu, seakan sulit untuk berucap, lama dia memandangi wajah Shanum, kemudian pandangannya kembali diarahkan pada alat yang masih di tangannya lalu beralih lagi menatap wajah istrinya. Shanum sampai gemas dibuatnya, dia menunggu respon suaminya saat mengetahui kabar ini.
"Sayang......kamu.....ini..ini punya kamu kan?" Akhtar mengacungkan alat itu di hadapan Shanum dan dijawab Shanum dengan menganggukan kepala mantap.
"Kamu...kamu hamil sayang?" tanya Akhtar terbata, suaranya gemetar, matanya sudah mulai berembun. Shanum kembali menganggukan kepalanya.
Tes.....air mata pun akhirnya jebol dari kubangannya, tak ada kata yang keluar dari mulut Akhtar. Dia berdiri dan langsung memeluk Shanum dengan erat, bahunya tampak berguncang menandakan jika dia menangis dalam diam.
Bu Fatimah dan Indri ikut terharu melihat respon Akhtar, air mata mereka pun turut mengalir seiring dengan Akhtar yang memeluk Shanum dengan bahu berguncang. Shanum memeluk sang suami tak kalah erat, harapannya terwujud. Hatinya berbunga, mengandung adalah hal istimewa yang hanya dialami perempuan. Ucapan syukur tak henti dia lafazkan dalam hati atas semua nikmat Allah atas dirinya yang datang bertubi-tubi.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Alhamdulillah" Akhtar mulai bisa menguasai dirinya, dia melonggarkan pelukannya, beralih menghujani wajah Shanum dengan ciuman.
"Terima kasih sayang, terima kasih" ucapnya penuh haru, dia kembali memeluk Shanum dan berakhir dengan mengecup pucuk kepalanya.
Akhtar mengurai pelukannya, dia tersenyum menatap Shanum penuh cinta. Dia lalu berbalik menatap sang ibu yang tepat berada di belakangnya. Kakinya melangkah menuju Bu Fatimah yang berdiri menyambut kedatangannya, Akhtar berhambur memeluk sang ibu, kembali air matanya mengalir di pelukan bu Fatimah.
"Ibu, aku mau jadi ayah Bu" ucapnya di sela isak tangis yang tertahan." Terima kasih bu, terima kasih untuk do'a-do'a ibu, jangan pernah lelah mendo'akan Akhtar dan keluarga kecil Akhtar Bu. Do'a ibu adalah kunci semua kebahagiaan ini, terima kasih Bu" Akhtar memeluk erat Bu Fatimah, yang dibalas dengan elusan sayang di punggungnya.
"Tentu Nak, do'a ibu akan selalu menyertai setiap langkahmu. Jadilah orang tua yang baik untuk anak-anakmu, kamu selalu membuat ibu bangga karena telah melahirkanmu" Bu Fatimah menyeka air mata yang terus mengalir, dia pun mengajak Akhtar berjalan menuju tempat tidur Shanum. Bu Fatimah memeluk erat menantu dan anaknya,
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah menjadi sumber kebahagiaan anak ibu, jadilah selalu cahaya dalam hidupnya" ucap Bu Fatimah tulus, membuat suasana semakin haru. Semua momen dari awal Shanum menyampaikan berita kehamilannya pada Akhtar hingga saat ini tidak lepas dari tangkapan video dari kamera gawai Indri.
__ADS_1