Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 13: Penyesalan


__ADS_3

Akhtar menarik nafasnya panjang, setelah mengakhiri teleponnya dengan Shanum dia kembali ke tempat duduknya. Ada sesuatu yang menghangat di hatinya setelah bertelepon dengan sang istri, mendengar suara Shanum menjadi moodbooster untuk Akhtar. Setiap yang dikatakan Shanum menjadi penyemangat untuk dirinya, Akhtar tenang istri dan calon anaknya sekarang sedang baik-baik saja.


Dia pun mengedarkan pandangannya, tidak lagi mendapati Tama di meja tempatnya berada. Terlihat jika Tama tengah mengobrol dengan seseorang yang terlihat akrab dengannya di meja yang lain Akhtar pun kembali bergabung dengan teman-temannya dan mengikuti acara yang sudah dimulai beberapa menit yang lalu.


Hari kedua berada di Malaysia, Akhtar bersiap untuk menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan beberapa perusahaan yang tertarik dengan produk mebelernya, Akhtar sudah memperhitungkan semuanya. Ghifar pun turut sibuk menyiapkan semuanya, dan Alhamdulillah semua berakhir sesuai dengan yang diinginkan.


Ada tiga perusahaan di luar negeri yang akan bekerja sama dengannya, memercayakan pengadaan mebeler di perusahaannya dan di hotelnya kepada Akhtar.


"Masya Allah, luar biasa rezeki dede bayi" gumamnya pelan setelah selesai menandatangani semua berkas-berkas kerja sama itu. Sehari lagi dia berada di sana, rencananya setelah selesai urusannya besok dia akan langsung meluncur kembali ke Indonesia.


"Iya Boss, luar biasa berkah" sahut Ghifar, sambil membereskan berkas-berkas di atas meja.


"Congratulation Bro, kamu memang keren" Tama kembali menghampirinya, dia duduk di kursi kosong di samping Akhtar. Sekilas menatap Ghifar yang sedang merapihkan berkas-berkas kerja sama yang baru saja mereka tanda tangani.


"Sesampainya di Indonesia aku akan mengunjungi mebelmu, aku juga tertarik untuk bekerja sama denganmu. Di Garut aku punya yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, sepertinya kantor yayasanku perlu ditata ulang dan aku ingin kamu yang langsung menanganinya" Tama menjelaskan keinginannya dan disambut dengan senyum ramah oleh Akhtar, mereka kini berteman. Akhtar yakin Tama laki-laki yang baik.


"Aku menunggu saat itu" jawab Akhtar dengan tersenyum.


Mereka pun melanjutkan obrolan seputar bisnis dan usaha mereka. Tidak ada lagi kecemburuan di hari Akhtar, mengingat semua perkataan Tama tentang istrinya membuatnya bahagia bahwa sejak dulu hanya dirinya yang ada di hati Shanum. Dia pun merasa berbangga memiliki wanita seperti Shanum, istiqamah dalam sikapnya.


"Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Sayang, kamu membuat aku jatuh cinta berkali-kali, padamu hanya padamu wanita hebatku, Shanum Najua Azzahra" Akhtar bermonolog dalam hatinya.


*


*


*


Sementara di Indonesia, tepatnya di Bandung. Pak Furqan tengah duduk sendiri, Ayah dari Akhtar Farzan Wijaya ini tengah menikmati kesendiriannya di sebuah rumah sederhana yang tampak asri. Rumah dengan model lama namun terlihat masih sangat terawat. Rumah itu adalah rumah pertama yang dia beli dari hasil jeri payahnya saat memutuskan pindah ke Bandung bersama mantan istrinya, Fatimah.


Pak Furqan menyusuri setiap sudut rumah ini tanpa ada yang terlewat, di setiap langkah yang dilaluinya terputar kenangannya bersama Bu Fatimah. Semuanya masih terekam jelas di ingatannya, bagaimana Bu Fatimah bermanja padanya saat usia kehamilannya semakin besar dan semua itu membuat Pak Furqan semakin merasakan dadanya sesak oleh penyesalan yang tak berujung.


"Mas, mau makan dulu atau?" suara Bu Fatimah tiba-tiba terngiang di telinganya, itu adalah pertanyaan yang selalu dilayangkan sang istri saat menyajikan secangkir teh hangat sepulang dirinya bekerja.


Pak Furqan terhenti di pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur. Dia pun teringat bagaimana Bu Fatimah berdiri di tempat itu melihat bagaimana dirinya dengan Sopia berciuman di dapur itu, saat mengira jika Bu Fatimah masih berada di luar rumah mengantar putra mereka pergi mengaji.


Saat itu adalah dimulainya petaka dalam rumah tangganya. Dia dapat membayangkan betapa bu Fatimah perempuan yang sudah dia ikat dengan ikatan suci pernikahan akhirnya harus merasakan sakitnya dikhianati oleh suami dan sahabatnya sekaligus. Air mata menetes membasahi pipinya, hingga Pak Furqan akhirnya tak kuasa dia tersedu di ambang pintu menyesali semua perbuatannya pada perempuan yang telah ia janjikan kebahagiaan namun nyatanya penderitaan dan luka yang ia torehkan.


"Fatimah, maafkan aku ...." Pak Furqan terus tersedu, menangis dengan isakan yang tak lagi pelan dia mengeluarkan semua sesak di dadanya karena penyesalan yang semakin terasa atas perbuatan di masa lalunya.


Saat ini Pak Furqan tengah menuai apa yang dulu ditanamnya, mengikuti nafsu yang ternyata hanya indah sesaat. Pada akhirnya penyesalan yang dirasakannya, menyesakan dada tak mampu untuk protes, dirinya sudah menerima jika telah salah langkah dalam haluan hidupnya.


Derrrttt....Derrtt.....Derrrttt....


Getaran gawai di saku bajunya membuat tangisan Pak Furqan terhenti, dia pun mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya kemudian berdehem untuk menormalkan suaranya.


"Hallo...." Pak Furqan menjawab teleponnya setelah mengucapkan salam


"Ayah, ini aku" ucap seseorang di ujung telepon, terdengar suara perempuan yang tak asing di telinganya


"Ada apa?" tanyanya dengan datar.

__ADS_1


"Ibu masuk rumah sakit Yah, dia ditemukan sudah tidak sadarkan diri di kamar mandi. Sepertinya ibu jatuh, aku sekarang sudah di rumah sakit. Aku harap ayah bisa datang untuk menjenguk ibu" Naura, putri kedua Pak Furqan dari Sopia menyampaikan berita itu dengan isakan tangis yang tak tertahankan, dia sangat berharap jika ayahnya bersedia datang untuk menemui ibunya.


"Jagalah ibumu, insya Allah nanti ayah akan menjenguk" Pak Furqan tampak akan mengakhiri teleponnya namun suara Naura menghentikan niatnya.


"Ayah...." Naura menjeda ucapannya,


"Ada apa lagi?" tanya Pak Furqan dengan nada yang lembut.


"Tidak bisakah ayah memaafkan ibu?" tanya Naura dengan hati-hati, yang kemudian di sambut dengan helaan nafas panjang yang terdengar oleh Naura di ujung telepon.


"Ayah sudah memaafkan ibumu, nak. Tapi untuk melupakan semua yang dilakukannya pada ayah masih sulit untuk ayah" jawab Pak Furqan jujur,


"Kalau begitu, bisakah ayah menjenguk ibu di sini sekarang?"


"Insya Allah Nak, Insya Allah ayah akan menjenguk ibumu tapi tidak sekarang, saat ini ayah sedang berada di luar cukup jauh dari rumah. Nanti ayah kabari jika akan ke rumah sakit, sekarang jagalah ibumu baik-baik" jelas Pak Furqan pada Naura, hasil test DNA yang dilakukannya terhadap Naura menunjukkan jika Naura memang putrinya dari Sopia.


"Baik ayah, aku tunggu kedatangan ayah" pungkasnya di ujung telepon. Pak Furqan pun melakukan hal yang sama, menutup teleponnya.


Pak Furqan kembali menikmati kesendiriannya di rumah itu ditemani kenangan indah saat bersama bu Fatimah yang membuatnya semakin menyesal dan menyadari kesalahannya. Dia pun meraih selembar kertas di atas meja yang baru saja diterimanya dari seorang kurir. Pengadilan Agama Negeri Kota Bandung, dari amplof surat yang diterimanya dia yakin jika itu adalah surat panggilan sidang atas gugatan perceraian yang diajukannya beberapa hari yang lalu.


Pak Furqan menarik nafas panjang, mengisi setiap relung alveolusnya dengan oksigen, menghilangkan segala sesuatu yang menyesakkan dada. Dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit melihat perkembangan istrinya yang secara agama sudah menjadi mantan, proses perceraian mereka hanya tinggal dilegalkan secara hukum negara. Beberapa bulan yang sejak mengetahui kenyataan yang menyakitkan jika Yasmin bukanlah putrinya, beberapa hari kemudian Pak Furqan menjatuhkan talaq pada Bu Sopia setelah dengan pemikiran panjang dan istikharah tentunya, mungkin hal itu yang membuat kesehatan bu Sopia semakin memburuk.


Satu jam berlalu, Pak Furqan sudah sampai di rumah sakit tempat mantan istrinya itu dirawat, ruang VVIP menjadi tujuannya dengan berbagai tambahan fasilitas lain tentunya karena rumah sakit ini adalah rumah sakit milik Wijaya Grup.


Tok...tok...tok...


Setelah mengetuk pintu Pak Furqan pun perlahan membuka pintu, di dapatinya sang putri Naura tengah tertidur dengan posisi duduk di kursi samping bed tempat ibunya dirawat. Pak Furqan melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sopia berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit itu. Berbagai alat terpasang ditubuhnya, wajah cantik yang biasanya dipolesi make up tebal kini sudah tak ada lagi hanya tersisa wajah yang semakin pucat dengan kerutan yang mulai terlihat.


"Heummm..." perlahan Naura menggeliat, dia menatap ke arah orang yang mengusik tidurnya..."Ayah.." Naura pun bangun dan segera memeluk Pak Furqan yang sudah beberapa minggu ini pergi tanpa kabar.


"Ayah kemana saja? aku takut Yah" ucapnya dalam dekapan Pak Furqan dengan isak tangis yang sudah tidak tertahankan.


"Ayah di sini, kamu tenanglah"


"Ibu Yah, Ibu dari kemarin tidak sadarkan diri" ucapnya lagi dengan isakan tangis yang semakin menjadi.


"Suuuuttt...sudahlah, sebaiknya kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhan ibumu" Pak Furqan masih mendekap sang putri dan mengusap kepalanya, mengalirkan ketenangan.


"Ayah jangan pergi lagi, aku takut...." Naura kembali meminta dalam tangisnya.


"Iya, ayah akan ada bersama Naura, tenang ya" Pak Furqan kembali memberikan ketenangan.


"Sudah makan?" tanya Pak Furqan dengan perlahan mengurai pelukannya dan dijawab gelengan kepala oleh Naura.


"Kalau begitu kamu harus segera makan, jangan abaikan hak tubuhmu" nasihat Pak Furqan, Naura pun mengangguk


Pak Furqan tampak menelepon seseorang, tak lama seorang pria yang merupakan orang kepercayaannya datang membawakan makanan sesuai pesanannya dan segera ia berikan pada sang putri agar segera disantap selagi hangat.


"Makanlah" Pak Furqan menyerahkan semua makanan siap santap itu pada sang putri.


Cukup lama Pak Furqan berada di ruang rawat Bu Sopia, menatap mantan istrinya terbaring tak berdaya. Semua keangkuhannya hilang ditelan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Hasil pemeriksaan dokter mengatakan jika Sopia terkena kanker Rahim, keputusan sementara semua sepakat untuk dilakukan operasi namun karena kondisi tubuh Bu Sopia yang belum siap maka operasi pun belum bisa dilaksanakan.

__ADS_1


Dering gawai di saku baju Pak Furqan membuat dirinya tersentak dari lamunannya. Dia pun pamit pada Naura yang masih menikmati makanannya untuk mengangkat telepon di luar.


"Apa?" setelah mengucapkan salam, terlihat wajah kaget Pak Furqan setelah menerima kabar dari sang penelepon.


"Kalian awasi terus Yasmin, jangan sampai lengah. Saya tidak mau terjadi apa-apa padanya" titahnya di ujung gawai, beliau pun menutup sambungan telepon itu.


"Rupanya dia sudah menunjukkan siapa dirinya" gumam Pak Furqan pelan, beberapa hari ini dia mendapat laporan jika Yasmin dihubungi seseorang yang mengaku ayah biologisnya. Dengan segala keingintahuannya Yasmin pun mengikuti semua arahan si penelepon. Sebagai orang yang sudah membesarkan Yasmin dengan penuh kasih sayang, Pak Furqan tidak bisa melepas kasih sayangnya begitu saja terhadap Yasmin. Baginya Yasmin tidak bersalah, dia bertekad akan terus menyayanginya sebagai putrinya.


Pak Furqan tak menyangka setelah laki-laki yang menemuinya beberapa bulan yang lalu dan mengaku sebagai ayah biologi Yasmin itu menemuinya dan mengatakan semua kebenaran tentang hubungannya dengan Sopia, kini dia pun menemui Yasmin. Entahlah apa yang akan dilakukannya, Pak Furqan hanya mengkhawatirkan Yasmin. Dia pun menyuruh anak buahnya untuk terus mengawasi dan melindungi Yasmin.


Pak Furqan hendak kembali ke kamar dimana Bu Sopia dirawat, namun tiba-tiba netra matanya menangkap bayangan seseorang yang tak asing baginya, pasalnya akhir-akhir ini semua tentang orang itu selalu menari-nari di pikiran Pak Furqan,


"Fatimah..." gumamnya pelan, Pak Furqan segera melangkah, mengikuti seseorang yang diyakininya adalah ibu Fatimah.


Langkahnya pun terhenti ketika mendapati wanita itu tengah berdiri memunggunginya, tampak sedang menunggu seseorang. Dengan pelan dan debaran hati yang tak menentu, Pak Furqan memberanikan diri melangkah mendekatinya.


"Fatimah..." ucapnya lirih namun terdengar jelas oleh wanita yang kini ada di hadapannya, orang yang dimaksud pun menolah dan seketika ada binar bahagia di mata Pak Furqan saat melihat dengan jelas wanita di hadapannya adalah benar Bu Fatimah.


"Akang ...?" Bu Fatimah pun menyapa, tampak biasa saja.


"Akang di sini? siapa yang sakit?" tanyanya penasaran.


"Sopia" refleks Pak Furqan menjawab.


"Oh, semoga lekas sembuh" tanpa ingin tahu sakit apa yang diderita mantan madunya itu, Bu Fatimah hanya mengucapkan do'a tulus untuk mantan sahabatnya itu. Dia tidak ingin bertanya lebih lanjut karena takut salah faham, buka pula Bu Fatimah tak ingin menjenguknya tapi dia lebih takut jika Bu Sopia tak mau menerimanya. Pertemuan terakhir mereka tidak menyamankan, dengan terang-terangan Bu Sopia meminta Bu Fatimah untuk menjauh. Oleh karenanya, apapun momen yang mengharuskan mereka bertemu Bu Fatimah sellau berusaha menghindar.


"Aamiin, kamu dari mana? sama siapa?" Pak Furqan bertanya penasaran.


"Saya habis menjenguk teman, dia dirawat di sini. Ke sini dengan teman juga sekarang lagi ke toilet" jawab Bu Fatimah jujur,


"Fatimah, aku mau minta maaf" Pak Furqan tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia tidak tahu kapan lagi ada kesempatan berdua dengan bu Fatimah.


"Untuk?"


"Untuk semua yang telah aku lakukan padamu di masa lalu, sekarang aku tengah menerima hasil dari kelakuanku di masa lalu. Maafkan aku Fatimah, aku menyesal" Pak Furqan menunduk, menghindari tatapan Bu Fatimah yang heran dengan perilaku mantan suaminya itu.


"Saya sudah memaafkan akang, sudah memaafkan Sopia juga. Jangan khawatir, sekarang saya baik-baik saja. Akang berbahagialah selalu dengan Sopia" ucap Bu Fatimah tulus diiringi senyum manis yang membuat Pak Furqan semakin merasakan kesakitan yang begitu dalam.


"Aku benar-benar manusia bodoh, sudah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu" Pak Furqan kembali mengungkapkan isi hatinya, dia benar-benar tak ingin kehilangan kesempatan,


"Sudahlah Kang, itu sudah menjadi masa lalu. Akang"


Tin..tin.. klakson mobil menghentikan ucapan Bu Fatimah, dia pun menoleh. Seorang perempuan yang masih tampak muda keluar dari mobil itu dan menyapanya.


"Kita pulang sekarang Bu" ucapnya, Pak Furqan pun melirik, melihat dengan jelas di dalam mobil ada seorang pria yang hampir seusia dengannya namun masih tampak gagah dan berwibawa.


"Baiklah, sebentar ya Ibu pamit dulu" Bu Fatimah pun kembali menoleh ke arah Pak Furqan, "Saya pamit, Kang. Semoga Sopia lekas sembuh" tanpa menunggu jawaban Bu Fatimah pun berbalik melangkah, pintu mobil sudah terbuka dia pun masuk dan duduk di samping laki-laki yang membuat Pak Furqan penasaran itu disusul oleh perempuan muda yang duduk di kursi samping kemudi.


"Assalamu'alaikum" ucapnya dengan lambaian tangan, pamit pada Pak Furqan.


"Wa'alaikumsalam" ucap Pak Furqan pelan seiring dengan melajunya mobil yang dinaiki Bu Fatimah bersama orang-orang yang misterius di mata Pak Furqan.

__ADS_1


"Fatimah, kamu sudah menikah lagi? benarkah?" ucapnya pelan, diliputi rasa penasaran yang menggunung. Ada rasa tidak rela saat mengetahui jika itu benar-benar terjadi.


__ADS_2