Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 22: Genggam Tanganku


__ADS_3

"Kamu tahu, waktu tidak akan memberi kesempatan untuk mengulangi apa yang sudah dilewati, tetapi waktu memberikan kesempatan agar kita melakukan perubahan"


Liani hanya menoleh sekilas ke arah Ghifar saat mendengar laki-laki itu mengucapkan kalimat bijak yang dibenarkan oleh akalnya. Dia menarik nafas panjang, seolah merespon jika yang dikatakan laki-laki itu benar adanya.


Saat ini mereka tengah berdiri menghadap jendela kaca yang membatasi ruangan antara mereka dengan dua bayi mungil yang tampak semakin aktif dan sehat.


"Lihatlah, tangannya melambai ke arahku" Liani mengalihkan pembicaraan menghindar dari topik yang membuat hatinya terasa sesak, dia faham ke mana arah pembicaraan laki-laki itu. Liani melihat bayi mungil itu mengangkat tangannya seolah melambai ke arahnya.


"Sepertinya dia tahu jika aunty nya sedang berduka" cibir Ghifar membuat Liani mendelik, hingga laki-laki itu tergelak saat melihatnya.


"Aku hanya ingin mengingatkan kamu untuk teguh pada apa yang sudah kamu putuskan, jangan lagi goyah hanya karena sebuah perhatian kecil yang pada akhirnya kembali membuka luka hatimu" Ghifar kembali mengucapkan kalimat yang menohok, membuat mental Liani semakin menciut karena laki-laki pendiam dan dingin di hadapannya itu sangat memahami apa yang tengah dirasakan hatinya. Entah kenapa dia merubah panggilannya menjadi aku dan kamu membuat Liani sedikit canggung,


"Pengalaman ya Pak?" Liani tidak mau larut dalam pikiran itu, dia kembali berkelakar mengusir kecanggungan di antara mereka.


Selama ini dia memang tidak mudah terbuka pada siapapun perihal urusan hati dan perasaannya. Hanya Shanum yang tahu betul bagaimana hatinya karena dia selalu bercerita hal sekecil apapun yang dirasakannya pada Shanum. Tapi entah kenapa laki-laki yang kini berdiri berdampingan dengannya seolah mengetahui semuanya.


"Menurut kamu?" Ghifar balik bertanya, dia menoleh menatap dalam gadis yang ada di sampingnya itu, membuat Liani kikuk sendiri.


"Sepertinya iya" jawab Liani kembali menetralisir keadaan hatinya,


"Baguslah kalau kamu tahu" jawab Ghifar sambil berlalu,


"Hah, hey mau kemana?" Ghifar hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.


"Hissshhh....dasar" umpat Liani yang merasa diabaikan oleh laki-laki itu.


"Kamu ikut aku" tiba-tiba laki-laki yang baru saja diumpatnya itu sudah kembali berdiri di belakangnya,

__ADS_1


"Kemana?" tanya Liani ketus, dia masih kesal karena tadi diabaikan.


"Kamu mau bersama dengan mereka di sini?" Ghifar menunjuk dengan sudut matanya ke arah dimana tiga orang tengah berjalan ke arahnya sambil mengobrol.


"Tidak, saya ikut dengan Bapak" jawab Liani cepat setelah mengetahui siapa yang sedang berjalan ke arahnya.


Akhtar, Ahsan dan Suraya kini sudah berada di pintu kaca ruang bayi itu. Ghifar sedikit menundukkan kepalanya ke arah mereka saat sudah dekat,


"Silahkan Pak, akan ada perawat yang membersamai Bapak menemui mereka" Ghifar menunjuk perawat yang akan menemani Akhtar yang akan mengadzani kedua anaknya. Dia akan selalu bersikap formal pada Akhtar dan Ahsan jika di hadapan orang lain, dalam hal ini Suraya.


"Baiklah, titip istriku" jawab Akhtar menatap ke arah Liani dan dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.


"Baik Pak, kami permisi" jawab Ghifar sambil memberi kode kepada Liani dengan sorot mata agar mengikutinya.


"Oya....Ghif," Ghifar mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat itu, dia menunggu Akhtar yang akan mengatakan sesuatu padanya.


"Baik Pak" jawab Ghifar dengan menganggukan kepalanya,


"Ayo" Ghifar pun mengajak Liani untuk pergi dari sana,


"Saya permisi Pak" Liani pamit dan segera membalikan badan mengikuti Ghifar,


"Li...." Ahsan yang sejak tadi merasakan aura dingin dari wanita yang selama ini dekat dengannya pun mencoba memanggil,


"Ahsan, kamu temani aku melihat bayi kembar Shanum ya, Akhtar kan harus ke dalam. Katanya kamu juga belum bertemu mereka" Suraya yang mengetahui jika Ahsan akan mencegah kepergian Liani segera beraksi, dengan cepat dia memotong ucapan Ahsan dan mengalihkan fokus laki-laki itu ke arah lain.


Liani yang sejenak menghentikan langkah tersenyum kecut, untunglah dia belum membalikkan badan saat dipanggil jika tidak dia kembali akan merasa gondok karena panggilan basa basi itu. Liani pun melanjutkan langkahnya mengikuti Ghifar menuju ruangan tempat Shanum dirawat.

__ADS_1


*


Tiga hari berlalu, keadaan Shanum sudah lebih baik. Saat ini dia sudah dipindahkan ke kamar perawatan yang bisa ditemui walaupun masih sangat dibatasi. Selama itu pula Akhtar tidak selangkah pun meninggalkan sang istri, dia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Shanum saat membuka matanya.


Hasil pemeriksaan dokter, keadaan Shanum sudah semakin membaik. Semua organ vitalnya berfungsi dengan baik, para dokter di rumah sakit yang ternyata merupakan milik teman Pak Furqan itu semakin intensif dalam memantau perkembangan kesehatan Shanum berharap pasien istimewanya itu segera sadar.


"Assalamu'alaikum warohmatullah....Assalamu'alaikum warohmatullah..." Akhtar baru saja mengakhiri shalat Isyanya, selama beberapa hari ini Akhtar melakukan semua aktivitasnya di ruang rawat itu.


Setelah berdzikir dan berdo'a dia kemudian beranjak, mendekati tempat sang istri terbaring dengan tubuh yang masih ditempeli beberapa peralatan medis.


"Sayang, ini sudah tiga hari....kamu belum mau bangun heumm?" Akhtar meraih tangan Shanum yang tidak diinfus dan menggenggamnya erat. Rutinitas yang selalu dilakukannya, yakni mengajak Shanum mengobrol. Akhtar yakin jika sang istri mendengar apa yang dikatakannya.


Satu tangannya mengusap lembut kepala sang istri yang berbalut hijab, dikecupnya kening Shanum dalam, seolah mengalirkan cinta dan kerinduan yang begitu besar untuk istrinya.


"Kamu tidak kangen aku, heumm?" bisiknya lirih di telinga Shanum, matanya tiba-tiba memanas merasakan desakan yang tiba-tiba,


"Kita sudah menjadi orang tua sayang, kamu sekarang sudah menjadi seorang Ibu dan aku sudah menjadi Ayah. Bangunlah sayang, kami sangat merindukanmu.....hiks..." isak tangis yang tertahan membuat Akhtar menghentikan ucapannya, dia menggenggam tangan Shanum semakin erat dan mendekapkannya di dada,


"Sayang...aku merindukanmu, semua tentangmu aku rindukan termasuk cerita tentang kita yang kemarin telah kita lewati, aku membutuhkanmu. Bangunlah, hiks...."Akhirnya dia pun tak mampu menahan diri, pertahanannya kembali runtuh, sesak yang dirasa karena kerinduan pada istri tercinta.


"Sayang, aku tahu jika sejatinya di dunia ini tidak ada yang benar-benar saling memiliki, kita semua hanya saling dititipi. Tapi aku selalu meminta pada sang Khalik agar diizinkan dititipi dirimu lebih lama lagi, sayang...."


"Sayang, aku tidak bisa membayangkan jika harus menjalani hari-hari tanpamu lebih lama lagi, rasanya aku tak sanggup" Akhtar semakin mengeratkan genggaman tangannya, kepalanya semakin merunduk di samping tempat tidur tempat Shanum terbaring lemah dengan air mata yang semakin menganak sungai,


"Bangunlah untuk aku .... dan anak-anak kita, bangunlah..." suaranya semakin parau terdengar pilu dan menyayat hati, bahunya berguncang, tangisnya semakin tak tertahankan.


Malam merangkak semakin larut, udara dingin kian mencekam memeluk tubuh orang-orang yang masih terjaga.

__ADS_1


Pembicaraannya malam ini dengan Shanum sepertinya sangat menguras energi, dia sampai terlelap dengan posisi kepala berada di samping tempat tidur Shanum. Sementara tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri yang tanpa disadarinya Shanum membalas genggaman tangannya.


__ADS_2